Pages

Mengapa Sosialisme?


Oleh: Albert Einstein

Apakah pantas bagi seseorang yang bukan merupakan pakar di bidang persoalan sosial dan ekonomi mengemukakan pandangannya berkaitan dengan sosialisme? Karena berbagai alasan, saya yakin hal itu pantas saja dilakukan.
Pertama-tama marilah kita menganalisa pertanyaannya dari sudut pandang ilmu pengetahuan ilmiah. Terlihat memang tidak ada perbedaan metodologi yang esensial antara astronomi dan ekonomi: ilmuwan dari kedua disiplin ilmu itu mencoba untuk menemukan hukum-hukum umum yang dapat diterima sebagai sekelompok alasan yang dapat menjelaskan suatu fenomena dalam rangka untuk menghubungkan fenomena-fenomena tersebut dengan sejelas-jelasnya. Tapi pada kenyataannya beberapa perbedaan metodologi memang ada. Penemuan hukum-hukum umum dalam bidang ekonomi disulitkan oleh keadaan dimana pengamatan gejala-gejala ekonomi sering dipengaruhi oleh banyak faktor yang juga sangat sukar untuk dievaluasi secara terpisah. Selain itu, pengalaman yang telah terakumulasi sejak awal masa yang dikenal dengan periode ‘peradaban dari sejarah umat manusia’ telah banyak dipengaruhi dan dibatasi oleh sebab-sebab yang tidak bertujuan ekonomi semata. Contohnya, sebagian negara-negara besar dalam sejarah menunjukkan eksistensinya dengan menjajah. Para penjajah tersebut mengokohkan dirinya, baik secara hukum dan ekonomi, sebagai kelas yang istimewa pada negara yang dijajahnya. Mereka menetapkan secara sepihak monopoli kepemilikan tanah dan menunjuk seorang pemuka agama dari golongan mereka sendiri. Dalam mengatur pendidikan, pemuka agama telah membuat pembagian kelas dalam masyarakat menjadi institusi permanen, dan menciptakan sebuah sistem nilai yang mana masyarakat mulai –secara tidak sadar dalam banyak hal– diatur tingkah laku sosialnya.
Tetapi apakah dalam sejarah kita benar-benar telah dapat mengatasi apa yang Thorstein Veblen katakan sebagai “fase pemangsa” dalam perkembangan manusia. Fakta ekonomi yang dapat diamati dan juga merupakan bagian dari fase tersebut, bahkan hukum-hukum yang diperoleh dari fase itu tidak dapat diterapkan untuk fase-fase lain. Karena tujuan utama dari sosialisme tepatnya adalah untuk mengatasi dan jauh melampaui “fase pemangsa” dalam perkembangan manusia, ilmu ekonomi dalam perkembangannya kini dapat memberikan sedikit penerangan bagi masyarakat sosialis di masa mendatang.
Kedua, sosialisme diarahkan untuk mencapai etika-sosial (social-ethical) sebagai tujuan akhir. Walau bagaimanapun ilmu pengetahuan tidak dapat membuat tujuan akhir, dan bahkan, hanya dapat digunakan manusia secara bertahap: ilmu pengetahuan, utamanya, dapat memberikan cara bagaimana mencapai tujuan akhir tertentu. Tetapi tujuan akhir itu sendiri berada dalam pikiran seseorang yang memiliki etika idealis tinggi dan –jika tujuan akhir ini belum dikembangkan lebih jauh, akan tetapi penting dan kuat– diadopsi dan dikembangkan oleh banyak manusia yang, setengah sadar, menentukan evolusi masyarakat secara lambat.
Dengan alasan tersebut, kita harus tetap waspada untuk tidak terlalu berharap lebih pada ilmu pengetahuan dan metode ilmiah manakala pertanyaan tersebut berkaitan dengan persoalan manusia: dan kitapun seharusnya tidak menganggap para pakar sebagai satu-satunya yang berhak untuk mengemukakan tentang pertanyaan seputar organisasi sosial dalam masyarakat.
Banyak suara yang menyatakan beberapa saat ini bahwa masyarakat sedang melalui krisis, dimana stabilitasnya secara serius telah terganggu. Ini merupakan karakteristik dari suatu situasi dimana seseorang merasa tidak peduli atau bahkan menjadi tidak ramah apabila berada di dalam grup, besar atau kecil, dimana mereka bergabung. Dalam rangka untuk menggambarkan maksud saya, maka saya berikan pengalam pribadi saya. Baru-baru ini saya berdiskusi dengan seorang pria yang sangat pandai dan ramah, tentang ancaman adanya perang, yang menurut saya akan sangat membahayakan keberadaan umat manusia, juga saya tegaskan bahwa hanya sebuah organisasi supra-nasional yang dapat memberikan perlindungan dari bahaya tersebut. Kemudian rekan saya itu menjawab dengan santai dan tenang, bahwa: “mengapa kamu begitu menentang pemusnahan umat manusia?” Saya yakin bahwa berabad-abad yang lampau tidak ada seorangpun yang akan membuat pernyataan semacam ini. Ini merupakan pernyataan dari seseorang yang telah berjuang keras namun sia-sia untuk memperoleh keseimbangan dalam dirinya sendiri dan kurang lebih menjadi putus asa. Ini mrupakan ekspresi dari kesendirian yang menyedihkan dan terasing dari masyarakat banyak yang saat ini sedang menderita. Apa sebabnya? Adakah jalan keluarnya?
Memang mudah untuk memunculkan pertanyaan semacam itu, tetapi sulit untuk menjawabnya dengan jaminan apapun. Saya harus mencoba, biar bagaimanapun, semampu saya, walaupun saya sadar akan fakta bahwa perasaan dan kemampuan kita kadangkala bertentang dan tidak mudah dipahami, hal tersebut tidak dapat diungkapkan dengan cara yang singkat dan mudah.
Manusia, pada satu keadaan dan waktu yang sama, adalah seorang mahluk penyendiri dan mahluk sosial. Sebagai mahluk penyendiri ia berusaha untuk melindungi keberadaannya dan yang terpenting untuknya adalah memuaskan keinginan pribadinya, dan untuk mengembangkan bakatnya. Sebagai mahluk sosial, ia berusaha untuk memperoleh pengakuan dan dicintai oleh sesama manusia, untuk membagi kebahagiaan, untuk membuat nyaman mereka di kala sedih, dan untuk meningkatkan taraf hidup. Hanya saja eksistensi dari hal-hal tersebut sangat bergantung, kadang bertentangan, bergantung pada karakter pribadi manusia tersebut dan kombinasi khusus tersebut menentukan sampai sejauh mana seseorang dapat mencapai keseimbangan pribadi dan dapat memberikan sumbangan bagi kehidupan masyarakat. Sangat dimungkinkan bahwa kedua kekuatan ini, terutama digabungkan karena memang melekat padanya. Akan tetapi kepribadian yang pada akhirnya muncul sebagian besar terbentuk: oleh pengaruh lingkungan dimana manusia tersebut mengalaminya sendiri selama proses perkembangannya, oleh struktur masyarakat dimana ia dibesarkan, oleh budaya dari masyarakat, dan oleh penghargaan yang diperolehnya atas tingkah laku tertentunya. Konsepsi abstrak “masyarakat” bagi manusia perseorangan adalah keseluruhan hubungan langsung maupun tidak langsung atas masyarakat yang hidup pada masa yang sama atau pada masa sebelumnya. Individu tertentu dapat berpikir, merasakan, berjuang dan bekerja bagi dirinya sendiri, akan tetapi ia sebenarnya bergantung pula pada masyarakat –baik secara fisik, intelektual, dan emosional– sehingga sangat mustahil memikirkannya atau memahaminya di luar kerangka masyarakat. Adalah masyarakat yang menyediakan manusia dengan makanan, pakaian, rumah, perkakas, bahasa, pola pikir dan hampir sebagian isi dari pemikirannya: hidupnya menjadi nyata setelah bekerja dan berhasil sukses sejak jutaan tahun lampau dan hingga kini dimana semua hal tersebut tersembunyi di balik sebuah kata “masyarakat”.
Itu adalah bukti, karenanya, ketergantungan seseorang terhadap masyarakat adalah fakta alamiah yang tidak dapat dihilangkan–sama seperti kasus semut dan kumbang. Walau demikian, ketika seluruh proses kehidupan semut dan kumbang telah ditetapkan hingga sampai detil terkecil secara kaku, pola masyarakat dan hubungan satu sama lain dari umat manusia sangat beragam dan sangat mungkin berubah. Ingatan, kapasitas untuk membuat kombinasi baru, suatu anugrah berupa kemampuan komunikasi oral telah memungkinkan suatu perkembangan umat manusia dimana hal ini tidak ditentukan oleh kebutuhan biologis. Beberapa perkembangan ditunjukkan dalam tradisi, institusi dan organisasi, dalam literatur, keberhasilan penelitian dan rekayasa, dalam hasil-hasil kesenian. Ini menunjukkan bagaimana hal tersebut dapat terjadi bahwa, dalam keadaan tertentu, manusia dapat dipengaruhi hidupnya oleh tingkah lakunya sendiri, dan dimana dalam proses ini kesadaran berpikir dan keinginannya dapat pula ikut berperan.
Manusia sejak lahir memiliki, melalui keturunan, suatu struktur biologis yang mana harus kita pandang sebagai hak yang melekat dan tidak dapat dicabut, termasuk kebutuhan alamiah sebagaimana layaknya manusia pada umumnya. Selain itu, selama hidupnya, ia memiliki suatu struktur kebudayaan yang ia peroleh dari masyarakat melalui komunikasi dan melalui pengaruh-pengaruh dalam bentuk-bentuk lain. Struktur kebudayaan ini, seiring dengan perjalanan waktu, dapat berubah dan sangat ditentukan oleh hubungan antara seseorang dengan masyarakatnya. Antropologi modern, mengajarkan kita, melalui penelitian perbandingan atas kebudayaan primitif, bahwa tingkah laku sosial manusia dapat dibedakan, tergantung pada pola-pola budaya yang berlaku pada umumnya dan bentuk-bentuk organisasi yang mendominasi di masyarakat. Berdasarkan hal ini maka mereka berupaya untuk membantu bahwa banyak manusia yang mendasarkan harapannya: bahwa karena struktur biologisnya, manusia tidaklah bersalah, untuk membinasakan sesamanya atau berada di bawah kekejaman kekuasaan, adalah merupakan keyakinan pribadinya.
Bila kita bertanya pada diri kita sendiri bagaimana struktur masyarakat dan tingkah laku budaya manusia seharusnya diubah untuk membuat kehidupan manusia lebih memuaskan, kita harus selalu sadar bahwa terdapat kondisi-kondisi tertentu yang tidak dapat kita ubah. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sifat alamiah manusia adalah, untuk kepentingan praktis, tidak dapat dirubah. Selain itu, teknologi dan perkembangan demografi pada beberapa abad terakhir telah menciptakan kondisi-kondisi yang saat ini telah ada. Pada dasarnya perbandingan kepadatan populasi yang menetap dengan jumlah barang yang tidak dapat digantikan guna kelangsungan hidupnya, jumlah pembagian distribusi tenaga kerja dan tingginya jumlah aparat yang produktif adalah suatu keharusan. Saat –dimana pada masa lalu tampaknya begitu damai– telah hilang untuk selamanya ketika individu atau kelompok-kelompok kecil dapat sepenuhnya mandiri. Ini hanya sedikit membesar-besarkan bahwa umat manusia membentuk suatu komunitas kehidupan dari produksi dan konsumsi.
Saat ini saya telah mencapai suatu titik dimana dapat saya indikasikan secara jelas bagi saya apa yang menjadi esensi dari krisis saat ini. Hal itu berkaitan dengan hubungan antara indivisu dengan masyarakat. Individu menjadi lebih sadar daripada sebelumnya akan ketergantungan kepada masyarakat. Tetapi ia tidak menyadari bahwa ketergantungan ini sebagai suatu aset berharga, suatu ikatan organik, suatu tenaga pelindung, tetapi lebih cenderung sebagai ancaman terhadap hal-hal alamiahnya, atau bahkan atas kondisi ekonominya. Lebih jauh, posisinya dalam masyarakat lebih ditekankan terus-menerus dalam bentuknya dimana lebih ditentukan oleh sifat egoisnya, ketimbang ditentukan oleh alur sosialnya, yang mana secara alamiah memang lebih lemah, yang terus menerus mengalami pembusukan. Seluruh umat manusia, apapun posisinya di masyarakat, mengalami penderitaan dalam proses pembusukan. Tanpa disadari mereka terpenjara dalam egoismenya sendiri, perasaan takut, kesendirian dan secara naif takut kehilangan, sederhana dan tidak rumit menjalani hidup. Menusia dapat menemukan arti dalam kehidupan, pendek dan berisiko sebagaimana layaknya, hanya melalui pengabdian dirinya dalam masyarakat.
Anarki ekonomi dari masyarakat kapitalis sebagaimana yang terjadi saat ini, menurut pendapat saya adalah sumber utama dari kejahatan. Kita lihat sebelumnya terdapat komunitas besar dari suatu produsen suatu anggota yang terus berupaya agar dapat memperoleh buah dari hasil kerja samanya, tanpa adanya paksaan, tetapi secara keseluruhan berada dalam jaminan hukum yang berlaku. Dalam kaitan ini, penting untuk disadari bahwa tujuan produksi -sebagaimana disebut, seluruh kemampuan produktif yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang kebutuhan utama sebagaimana pentingnya pula membuat barang-barang penting lainnya- menurut pendapat saya adalah kepemilikan pribadi dari para individu.
Untuk memudahkan, dalam diskusi selanjutnya saya akan menyebut “pekerja” kepada semua yang tidak ikut memiliki apa yang menjadi tujuan-tujuan produksi walaupun hal ini tidak cukup berhubungan dengan pengertian dalam bentuk umum. Pemilik dari tujuan-tujuan produksi berada dalam posisi untuk membeli tenaga kerja dari para pekerja. Dengan menggunakan tujuan-tujuan produksi, para pekerja menciptakan barang-barang baru yang menjadi milik para kapitalis. Hal utama dari proses ini adalah hubungan antara apa yang pekerja telah hasilkan dengan apa yang telah ia peroleh (upah), dua hal ini menjadi ukuran dalam kaitannya dengan nilai sesungguhnya. Sepanjang kontrak kerja adalah ‘bebas’, apa yang diperoleh pekerja tidak ditentukan oleh nilai sesungguhnya dari barang-barang yang dihasilkannya, tetapi oleh kebutuhan minimum dan oleh kebutuhan kapitalis akan tenaga kerja dalam kaitannya dengan jumlah pekerja yang bersaing untuk bekerja. Hal ini penting untuk dipahami bahwa walaupun pada tataran teori pembayaran para pekerja tidak ditentukan oleh nilai dari hasil produksinya.
Modal swasta cenderung untuk terus terkonsentrasi pada beberapa tangan, terutama karena kompetisi di antara para kapitalis, dan terutama karena perkembangan teknologi dan pertumbuhan pembagian kerja menumbuhkan formasi unit-unit yang lebih besar dengan pengeluaran semakin kecil. Hasil dari perkembangan-perkembangan ini adalah oligarki dari modal swasta sebagai kekuatan besar yang tidak dapat diawasi secara efektif walau oleh mayarakat politik yang terorganisir secara demokratis sekalipun. Hal ini benar, sebab anggota dari badan-badan legislatif merupakan pilihan dari partai-partai politik, yang sebagian dibiayai atau paling tidak dipengaruhi oleh kapitalis swasta yang mana, untuk kepentingannya, memisahkan antara pemilih dengan yang dipilih. Konsekuensinya adalah wakil rakyat tersebut kenyataannya tidak sepenuhnya melindungi kepentingan kelompok populasi yang tidak diistimewakan. Lebih jauh, sejalan dengan kondisi saat ini, kapitalis swasta tidak dapat dihindari mulai mengontrol, baik langsung maupun tidak, sumber-sumber utama dari informasi (pers, radio, pendidikan). Hal ini tentunya menjadi sangat sulit, dan bahkan dalam banyak kasus menjadi mustahil, bagi seseorang warga negara untuk dapat memperoleh kesimpulan yang obyektif dan dapat secara cermat menggunakan hak-hak politiknya.
Situasi yang terjadi dalam dunia ekonomi yang berbasiskan kepemilikan modal swasta memiliki karakteristik yang terdiri dari dua prinsip utama: Pertama, tujuan-tujuan produksi (modal) yang dimiliki oleh swasta dan pemiliknya menempatkannya sejauh ia memandang hal itu pantas. Kedua, kontrak kerja itu bebas. Tentu saja, tidak ada sesuatu yang merupakan masyarakat kapitalis murni dalam hal ini. Dalam hal tertentu, patut pula diperhatikan bahwa pekerja, melalui perjuangan politik yang panjang dan pahit, telah sukses dalam mengamankan apa yang disebut perbaikan bentuk atas “kontrak kerja bebas” bagi kategori pekerja tertentu. Tetapi secara keseluruhan, saat ini ekonomi tidak ada bedanya dengan kapitalis “murni”.
Produksi ditujukan untuk memperoleh keuntungan, bukan untuk dipakai. Tidak ada suatu ketentuan bahwa semua yang mampu dan mau bekerja dapat selalu berada di posisi untuk memperoleh pekerjaan; sebuah ‘pasukan pengangguran’ selalu saja ada. Pekerja berada dalam keadaan cemas takut kehilangan pekerjaannya. Karena pengangguran dan upah buruh yang rendah tidak dapat menyediakan pangsa pasar yang menguntungkan, produksi barang-barang konsumsi dibatasi, dan penderitaan besar adalah konsekuensinya. Perkembangan teknologi seringkali menyebabkan lebih banyak pengangguran daripada meringankan beban pekerjaan. Motif untuk keuntungan, dalam kaitannya dengan kompetisi di antara kapitalis, bertanggung jawab atas ketidakstabilan dalam akumulasi dan penggunaan modal yang pada akhirnya meningkatkan beban depresi yang parah. Kompetisi tanpa batas menjadikan penyia-nyiaan pekerjaan dan menyebabkan kepincangan kesadaran sosial individu sebagaimana telah saya uraikan sebelumnya.
Kepincangan individu ini saya anggap sebagai kejahatan terburuk dari kapitalisme. Seluruh sistem pendidikan kita menderita karena setan ini. Suatu sikap kompetisi yang berlebihan tertanam dalam benak setiap pelajar, yang diajarkan semata-mata untuk memperoleh kesuksesan sebagai persiapan untuk masa depannya. Saya yakin hanya ada satu jalan untuk menghilangkan setan jahat ini, yaitu dengan menciptakan suatu ekonomi sosialis, disertai dengan sistem pendidikan yang dapat diorientasikan untuk mencapai tujuan sosial. Dalam bentuk ekonomi, tujuan-tujuan produksi dimiliki oleh masyarakat itu sendiri dan digunakan dengan terencana. Suatu ekonomi terencana, yang menyesuaikan produksi sesuai kebutuhan masyarakat, akan membagi pekerjaan untuk diselesaikan oleh semua yang mampu bekerja dan dapat menjamin tujuan hidup seluruh manusia, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak. Pendidikan dari setiap individu, dalam rangka menambah kemampuan lahiriahnya, akan mencoba untuk mengembangkan dalam dirinya rasa tanggung jawab atas sesama umat manusia di tempat yang lebih baik dan sukses dalam masyarakat kita saat ini.
Walau demikian, ada suatu hal penting untuk diingat bahwa ekonomi yang terencana belumlah langsung menjadi sosialisme. Suatu ekonomi terencana dapat disertai dengan perbudakan individu secara lengkap. Pencapaian sosialisme membutuhkan solusi yang sangat sulit atas beberapa problem sosial politik: Bagaimana mungkin, dalam pandangan kekuatan politik dan ekonomi terpusat yang sangat berpengaruh, untuk mencegah para birokrat menjadi terlalu berkuasa dan terlalu percaya diri? Bagaimana hak-hak individu dapat dilindungi dan dengan demikian keseimbangan demokratis dengan kekuasaan birokrasi dapat dijamin?
Kejelasan akan tujuan dan permasalahan sosialisme adalah sangat signifikan dalam masa peralihan ini. Sejak, dalam kondisi saat ini, diskusi yang bebas dan tidak terbendung mengenai masalah-masalah ini telah menjadi suatu hal yang sangat tabu, saya berpendapat landasan dari majalah ini akan sangat penting bagi kepentingan publik. ****


________________________________________
Versi Online: Situs Indo-Marxist—Situs Kaum Marxist Indonesia, Februari 2002
Kontributor: Soeripto
Versi Inggris: Why Socialism?--by Albert Einstein
Continue Reading...

Titip Surat Untukmu Kawan


Salam Perjuangan,

Hai kawan, lagi ngapain kalian sekarang? Masih adakah perasaan untuk selalu mengingtku, kawanmu yang unik selama ini? Tapi aku yakin, kalian masih mengenangku. Setidaknya ingat saat kita bersama saat duduk dialun-alun utara Jogjakarta. Akh.....aku rasa kenangan itu sulit untuk kita lupakan. Apalagi malam yang dicumbui bulan dan bintang yang bersinar dengan indah seindah kalian. Semua seolah baru saja terjadi. Seperti kemarin saja. Tapi siapa yang menyangka, itu semua merupakan kenangan lama yang sudah lama berlalu. Mungkin itu yang dikatakan dengan waktu. Serasa baru, padahal sudah lama terjadi. Tapi masalah waktu seperti itu tidak perlu kita bahas lagi. Oh iya, aku ingat dengan apa yang ditulis Fatan bahwa ”waktu” itu membingungkan sekali. Begitu rumit dan susah untuk dipecahkan. Apalagi menantangnya.he..he..he.......ingat kan orang barat yang bilang waktu adalah uang. Semua kapitalis. Tapi gak usahlah untuk kita bahas disini.
Oh ya, bagaimana keadaan kalian setelah lama bebas dari kungkungan sekolah? Apakah kalian sudah mendapatkan pekerjaan atau sudah menjadi buruh baru? Hehehehe... just kidding. Aku tahu kalian tidak seperti itu. Siapa aja yang sudah memulai hidup baru sekarang? Ana dan andi sudah resmi menikah belum? He...he...he. Ttapi walaupun sekarang kita sudah berjauhan, tentunya tidak dengan hati kita toh. Begitupun dengan perasaan kita, juga idealisme yang pernah kita bangun selama ini. Yang itu lho, idealisme yang pernah kita bangun sewaktu masih bersama-sama mahasiswa dulu (walaupun sekarang aku masih !!!!.). Kalau kalian kurang ingat lagi, mungkin kalian akan ingat tentang revolusi pergerakan. Nah itu tentang orang-orang yang sering kita banggakan dahulu. ”ingat bahwa ilmuku dari sekolah kedokteran hanya bisa mengobati sedikit saja dari rakyatku. Tapi jauh dari itu, rakyat itu harus disembuhkan dari sakit yang disebabkan oleh sistem” Ernesto Che Guevara.
Nah aku rasa kalian sudah ingat kan. Atau kalau kalian belum ingat, sedikit kuberi gambaran ulang bahwa Che adalah orang yang selalu memakai baret merah dengan satu bintang ditengahnya. Aku masih ingat kok. Oh iya, ada satu hal yang bikin aku terpingkal-pingkal dengan ulah kita dahulu. Diskusi, diskusi dan diskusi. Padahal kadang sampai kelaparan. Dari sandal jepit sampai negara selalu kita bicarakan. Tapi itulah, setelah aku pelajari dan pahami, untuk menjadi aktivis harus memang begitu. Kalau tidak suka diskusi maka tidak akan bisa. Jelasnya kalau tidak banyak diskusi maka tidak akan banyak pengetahuan yang harus dikuasai. Akh... rasanya memang waktu terlalu cepat memisahkan kita padahal sekarang masih banyak lagi permasalahan yang perlu kita bicarakan bahkan bila perlu turun kejalan seperti dahulu. Bahkan masih ada yang belum sempat kita tuntaskan dalam diskusi bulanan yaitu kelanjutan dari Srintil yang menjadi Ronggeng di desa Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dari triloginya Ronggeng Dukuh Paruk. Apakah ia selamanya akan menjadi seorang ronggeng yang selalu siap melayani setiap laki-laki yang punya uang banyak?apakah ia akan selalu senang menerima setiap lembar uang yang diselipkan kedalam belahan dadanya yang montok itu atau mungkin apakah ia selalu senang karena dianugerahi pantat yang besar dan menonjol yang bisa membangkitkan gairah kaum laki-laki?
Itulah bagian yang belum sempat kita tuntaskan. Soalnya kalian terlalu cepat lulus sih. Sepertinya menjadi sarjana itu sudah seperti menginjak diatas angin. Tapi tidak apa-apa. Itu pilihan kok. Aku pun maunya seperti itu. Tapi gak tahulah. Mungkin karena kemampuan otakku yang tidak berbobot atau mungkin karena dosennya sinis dengan kritikanku. Aku ingat satu hari dalam kelas aku dimarahi dan dihina secara halus. Dosen kita yang galak itu menyebut-nyebut tentang organisasi tidak berguna lah, organisasi hanya menambah pekerjaan dan lain-lain. Tapi biarlah. Aku menganggap diri seperti kafilah dan dia........akh gak usah kusebut, kalian dah tahu. He....he....he.
Melanjutkan Srintil tadi, setelah kubacai semua, ternyata ending-nya sangat menyedihkan, kawan. Srintil memang harus mengorbral kehormatannya dan melayani semua pria berduit, tapi cinta semualanya pada Rasus menguatkan dirinya sehingga bisa terlepas dari sejarah kelam ronggeng. Apalagi setelah ia tahu bahwa Rasus sudah menjadi seorang tentara. Pada waktu itu tentara adalah aset yang paling berharga dan sangat dihormati, kawan. Srintil mendambakan sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis. Dari kesadaran ini akhirnya dia niat berhenti menjadi budak nafsu dan berhenti pula dari kegiatan me-ronggeng. Dia hanya ingin menyerahkan hidup dan matinya hanya pada Rasus. Sampai dia rela mencari Rasus kemana-mana. Tapi sayang. Itulah yang kusebut endingnya yang diselimuti kabut kemalangan seorang gadis desa. Setelah lama mencari pria yang diimpikannya sejak kecil dan setelah bertemu dengan orang yang dicari, tubuhnya terasa tidak kuat lagi. Penderitaan yang dia alami semasa pencarian melemahkan semua organ yang ada. Sehingga ajal tak kuasa menjemput dirinya yag malang. Itulah akhir perjalanan kisah Ronggeng Dukuh Paruk yang belum kita tuntaskan dahulu (semoga berguna bagi kalain yang sibuk dengan dunia luar.hehehe).
Tapi dibalik sejumput kisah yang diuraikan Ahmad Tohari itu, aku menarik satu kesimpulan bahwa kehidupan memang rumit. Serumit untuk membalik sebuah dunia dan memutar balik dari putaran semula ke arah yang berlawanan. Aneh kan. Tapi bagiku, untuk memaknai kehidupa,n tidak harus sempit seperti itu. Kehidupan juga menyenangkan bila setiap rintangan dihadapi dengan tenang dan santai. Terutama damai sepanjang waktu. Eh, ngomong-ngomong soal kehidupan, aku sangat berharap kelak kehidupan kawan-kawan bisa lebih baik lagi. Sukses dan makmur. Berhasil menjadi orang kaya. Walaupun tidak kaya harta tapi kaya pengalaman. Akupun akan belajar seperti itu. Termasuk pengalaman bersama kalian yang sudah mulai memperkaya diriku untuk meraih masa depan. Kalau masalah kaya harta,,, aku tidak bisa pastikan. Yang jelas bagiku itu bukan ukuran seperti sekarang ini. Tidak semua hal bisa diukur dengan benda-benda duniawi seperti uang. Seperti yang kita bicarakan dulu, uang terkadang menyesatkan baik penggunaannya maupun pencariannya. Itupun terjadi juga dizaman sekarang. Dengan uang yang berlimpah, seenaknya mereka pejabat negara membeli seorang perempuan atau menyuruh membunuh demi kepentingan personal individu. Pencariannya juga menghalalkan segala cara sehingga korupsi, suap dan lain-lain dijalani. Tidak hanya orang yang berjiwa biasa bahkan dilakukan kalangan agama lho.
Mereka itu mungkin tidak pernah membaca sejarah. Sehingga materi dijadikan sesembahan yang akan mengangkat harga diri mereka padahal sebenarnya harga dirinya itu bukan terangkat tapi tersimpan didalam kantong. Aku harap kalian tidak seperti itu nantinya. Kalaupun mau cari uang, carilah dengan jalan yang benar dan diridhoi tuhan. Jangan sekali-kali menyusahkan orang lain apalagi menjadi mudarat. Kalian juga harus ingat pesan Ki Hadjar dan menuruti kelakuannya seperti yang dituliskan bahwa beliau tidak sedikitpun mengkorup kekayaan negara. Itu harus kalain tanamkan. Selain itu kan kita pernah kita diskusi panjang lebar membahas tentang kehidupan.”masyarakat yang dibangun atas dasar material biasanya gagal secara moral”. Nah aku rasa kalaian lebih paham dariku tentang itu.
Ngomong soal Che, tiba-tiba aku teringat pada kegiatan sampingan yang kita sering lakukan bila malam mulai membayang. Biasanya setiap awal bulan, kita selalu mencari referensi buku-bukuan. Sampai sekarang akupun masih meneruskan hal itu sehingga koleksiku bertambah banyak. Tidak hanya koleksi buku, tapi juga koleksi ilmu pengetahuan. Siapa tahu aku bisa mengembangkannya lebih luas lagi kedepan. Kalian boleh kok kalau mau pinjam. He..he..he. Oh iya, kalian masih menyimpan bukunya Soekarno ”Dibawah Bendera Revolusi” ? Kalau kalian baca dan pahami, kejadian yang dialami bangsa ini sekarang persis seperti yang telah di ramalkan Bung Karno. Bangsa ini semakin terpuruk karena menghadapi orang yang ada di dalamnya sendiri. Itu karena pengambil kebijakan yang semuanya orang asli kita, selalu menutup mata terhadap realitas yang sebenarnya. Mereka sengaja menanamkan jejaring kapitalisme, pendidikan dibuat liberal dan aktivis yang menuntut perubahan diculik bahkan dibunuh. Mungkin kalian belum lupa dengan kejadian Trisakti tahun 1998 silam. Bahkan sekarang lebih parah lagi (mahasiswa ataupun aktivis di sogok dengan embel-embel ’bantuan Khusus Mahasiswa’). Inilah yang aku bingungkan. Kok mau berbuat sesuatu yang baik malah harus dihukum. Kemana sih otaknya pemerintah kita!!
Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang miris kawan. Kalian pasti lebih tahu. Kalian mantan aktivis juga dan sekarang telah kembali ke masyarakat. Selain itu semua, tindakan-tindakan amoral lainnya juga terjadi. Aku menyebutnya kekerasan simbolik namanya. Dimana ada payung doktrin yang melegalkan sebuah kekerasan boleh dilakukan. Dan ini dilakukan semua umat. Yach, bangsa ini seperti kaum barbar saja. Tampak modern padahal primitif. Kerusuhan terjadi dimana-mana. Mereka enggan memikirkan nasib bangsanya untuk bisa lebih baik lagi. Bahkan mereka tidak mengenal lagi dimana batas negara kita ini. Lebih kacau lagi dengan yang sekarang ialah ketidaktahuan lagi mereka tentang lagu kebangsaan. Padahal setiap warga negara kita wajib mengetahuinya. Pancasilapun entah tahu, entah tidak. Nah bagaimana mau mengadakan revolusi, reformasi kalau keadaannya seperti ini??Kalian masih ingat kan!!!jangan pula kalian lupa akan hal itu. Mereka harus disadarkan dari kemalasan mereka itu. Harus ada yang menggembleng mereka supaya mereka tahu bahwa bangsa ini di perjuangkan dengan kobaran semangat dan taburan darah para pejuang. Termasuk kakekku. Narcis kali yeee.
Harus ada yang mengajari mereka akan sejarah bangsanya. Bila perlu, kita turun tangan untuk menyadarkan mereka. Kenapa kita harus turun tangan? Itu karena mereka sangat apatis. Padahal mereka sudah mahasiswa, melek hurup tapi masih buta dengan realitasnya. Mereka hanya tahu datang, duduk mendengarkan celotehan dosen, pulang dan setelah itu mengajak pacar untuk kurungan didalam kamar. Entah apa yang dilakukan mereka, tapi seperti itulah yang sering aku lihat. Aktivitas dan kelakuan mereka sangat jauh dibandingkan dengan kita dahulu. Bila dahulu kita sering berdiskusi bahkan membentuk kelompoik diskusi yang bernama MARAYA, Mahasiswa Indonesia Raya (itu usulku Lho), sampai mengadakan aksi mulai seminar sampai turun kejalan, sekarang mereka menganggap itu kolot dan tidak perlu. Buat apa panas-panas, toh tidak didengar juga. Itu kata mereka. Sakit hatiku mendengar itu. Sebagian dari mereka juga mengatakan takut karena nanti bisa dipukul polisi. Tapi bagiku itu hanya alasan dari mereka yang pemalas saja. Mereka tidak merasakan bagaimana menghirup api nasionalisme seperti kata Bung Karno. Masa mereka takut dipukul polisi, sementara mereka selalu menggagahi pacarnya setiap hari. Itu kan menunjukan mereka tidak takut dengan tuhan. Tapi kok mereka tidak takut dengan tuhan, tapi mereka takut dengan polisi!!! Makanya aku berani bilang itu hanya alasan pemalas semata. Iya kan!!!he....he....he.....Tapi jangan pula bilang aku menjelek-jelekan generasi sekarang. Aku juga salut dengan mereka setidaknya mau beraktivitas. Mereka melakuklan hal buruk seperti ku bilang tadi itu hanya karena kurangnya seseorang untuk memahamkan mereka pada keadaan bangsanya. Itu yang terpenting. Terutama dari sekolah. Guru atau dosen. Apalagi sekarang guru juga sangat buruk citranya. Ada yang mencabuli, makasa murid melakukan hal yang tidak senonoh, korupsi buku pelajaran, ujian yang tidak murni (padahal berdasarkan hasil diskusi kelompok MARAYA ujian itu tidak pantas untuk suatu kelulusan) dan yang paling payah masih memakai konsep serta ajaran lama yang tiak sesuai dengan zaman dan keadaan. Kenapa aku berani bilang begitu karena ada sebagaian dosen kita ataupun guru yang melakukan praktik-praktik yang desainnya sudah lawas bahkan input dan output tidak jelas juga. Gawat kan.
Akh...aku rasa aku tidak pantas ngomong masalah ini dengan kalian. Nanti kalian menganggap diriku pandai be-retorika dan sebagainya. Padahal kuliah aja tidak lulus-lulus. Kalian juga sangat dan lebih mengetahuinya lagi dibandingkan dengan diriku. Ya kan. Aku tahu kok. Oh iya sebelum kuakhiri, karena jam dinding di kamar sudah menunjukan pukul setengan lima pagi, aku teringat sepenggal pesan Ki Hadjar Dewantara ”saya adalah orang Indonesia yang berjuang untuk Indonesia”. Prinsip itu merasuk dan menjadi daging dalam diriku dan menuntut untuk di teruskan. Oke.
Aku minta maaf juga bila kata-kata yang kukutip dari bukunya Ki Hadjar itu salah tulis. Mungkin karena mataku yang sudah agak kabur melihatnya. Padahal aku masih harus mengerjakan tugas dari dosen supaya bisa cepat lulus. Mereka sudah muak melihat diriku. Muak juga akan aktivitas yang aku jalankan bahkan mungkin kalau mereka punya kuasa yang besar, mereka pasti cepat-cepat men-drop out (D.O) diriku. Duh malangnya diriku yang berjuang sebatang kara. Sudah dulu ya, mataku sudah sangat berat nih. Mataku sudah merah. Merah karena terlalu lelah dan merah yang sekaligus menandakan atau menyimbolkan jiwa yang selalu berjuang untuk bangsanya yang lebih baik kedepan. Lain kali kita sambung lagi kalau aku sudah menyelesaikan tugas-tugasku. Ok. jaga terus semangat kalian untuk membangun bangsa ini. Terakhir, aku berharap suatu saat kita bisa bersama kembali dan memulai kehidupan yang lebih baik dan tenteram.
Sekian. Salam dan peluk cium untuk kesetiakawanan kita. Dari sahabat lamamu Melki AS.

Tabik...


Melki AS
Continue Reading...

Wajah Pendidikan Kita (3)


Masih Berkecamuknya Politik Kepentingan

Maksud dari pendidikan ialah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya ( K.H. Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan ). Dari uraian itu terlihat jelas bahwa pendidikan merupakan upaya untuk menjadikan manusia yang merdeka baik secara lahir maupun batinnya. Tapi tujuan itu belum selaras dengan realitanya. Upaya untuk menciptakan masyarakat yang bahagia hanyalah slogan dari penguasa negeri ini untuk mengejar kebahagiaannya sendiri. Pendidikan sengaja dijadikan lahan untuk mengejar materi semata dan hidden project golongan. Terjadinya dikotomi pendidikan dalam era orde baru masih mengakar dalam sistem pendidikan sekarang. Guru masih sebagai pemegang otorita tertinggi dan murid selalu menjadi objek atau klien. Sehingga menghasilkan generasi-generasi yang jauh dari rasa kritis, berpikir objective seta inovatif. Murid sebagai peserta didik selalu dicekoki dengan sistem serta teori yang konvensional dengan metode menghapal dan mencatat seterusnya. Sehingga bisa dipastikan hasilnyapun akan bernasib sama ketika terjadi regenerasi dari pendidik di negeri ini.
Pasal 1 ayat 1 UU Sisdiknas merumuskan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, bangsa, masyarakat dan negara. Secara jelas konsep ini penekanannya pada perkembangan anak didik supaya mampu hidup berdikari. Tapi lagi-lagi upaya untuk mewujudkan itu belum sesuai kalau melihat keadaan pendidikan sekarang. Untuk menjadikan pendidikan sebagai sesuatu yang bisa mencerdaskan, ada banyak problema yang harus dikritisi dan diselesaikan. Darmaningtyas, seorang pengamat pendidikan pernah menyebutkan bahwasannya pendidikan di tanah air sekarang ini buruk. Itu bisa ditinjau dari aspek filsafat pendidikan, ideologi pendidikan, nation and character building, ekonomi, politik, globalisasi pendidikan, humanisasi dan dehumanisasi pendidikan serta budaya. Persoalan filsafat pendidikan, menurutnya adalah masalah yang paling krusial setelah munculnya reformasi politik 1998 lalu. Ini karena munculnya berbagai kelompok kepentingan yang masing-masing ingin mengegoalkan aspirasinya agar menjadi platform di seluruh bangsa ini. Dilain pihak (interelasi antara teori dan praktek) pendidikan masa orde baru masih menyisahkan persoalan filosofis yang amat mendasar karena kebijakan orde baru yang menempatkan pendidikan untuk mengabdi kepada kepentingan kekuasaan yang akhirnya terabaikannya perkembangan manusia sebagai individu yang bebas. Citra diri manusia sebagai individu, lebur kedalam sistem politik yang sentralistik, hegemonik dan totalitarian.
Sementara itu, rumusan tujuan pendidikan nasional dalam UU No 20/2003 menurutnya juga terlalu mengandung banyak muatan yang ingin disampaikan, sehingga menjadi semakin tidak jelas. Seperti yang dicontohkannya antara rumusan UU No 4/1950, tentang undang-undang pokok sistem pengajaran dan pendidikan nasional yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Rumusan itu memang sederhana, tidak berbelit, tapi memiliki makna individual sosial dan kebangsaan yang sangat tinggi. Rumusan ini secara cerdas mengaitkan praksis pendidikan dengan tanggungjawab sosial, proses demokratisasi dan pembentukan karakter bangsa (nation and character building) karena memang dibuat oleh orang-orang cerdas sehingga hasilnyapun mencerdaskan bangsa “paparnya. Inilah yang menurut beliau seperti yang dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara.
Selain itu, beliau juga menyesalkan kewenangan pengelolaan dari desentralisasi pendidikan.karena yang terjadi dilapangan justru masih sentralisasi. Formatnya masih seragam disemua tempat (kurikulum, buku dan evaluasi). Hal itu mencerminkan bahwa desentralisasi dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut tidak sesuai dengan otonomi pendidikan sehingga secara formal memang ada desentralisasi, tapi desentral;isasi tersebut tidak secara otomatis melahirkan otonomi pendidikan. Yang terjadi adalah penyelenggaraan pendidikan tetap tidak demokratis karena masih sentralistis. Permasalahan lainnya yang turut memperburuk citra menurutnya adalah otonomi daerah yang berdasar pada UU No 22/1999 yang membatasi ruang gerak guru hanya ditingkat kabupaten atau kota yang sama, karena untuk pindah ke kabupaten atau kota belum tentu dapat diterima. Kurikulum yang ada juga tak luput dari pandangan beliau ini yang juga tergabung dalam Majelis Luhur Tamansiswa. Kurikulum yang ada menurutnya inkonsisten kalau masih menggunakan pengevaluasi berdasar ujian nasional. Karena yang menerima dampak langsungnya adalah murid yang hanya sekedar dijadikan objek dari kebijakan yang diambil.
Faktor lain yang turut menghambat proses pendidikan adalah ketersediaan fasilitas seperti ruang kelas, kinerja guru, kinerja subjek didik, buku, laboratorium, tempat praktek, manajemen sekolah, kurikulum sekolah, partisipasi orang tua, pertisipasi masyarakat, praksisi pendidikan dikeluarga, pendidikan guru dan lain-lain. Dari hal itu, hanya beberapa unsur saja yang bisa dipenuhi. Selebihnya, kerusakan gedung sekolah masih banyak dan menghambat pelaksanaan pendidikan. Inilah tugas bersama yang harus dituntaskan agar cita-cita pendidikan dapat dilaksanakan. Sinkronisasi antar guru dan murid, guru dan masyarakat serta guru dan orang tua harus selalu terjalin supaya bisa menjadi motor penggerak untuk mencerdaskan anak didik yang kemudian bisa mencerdeskan bangsa sesuai dengan amanat yang telah dimaktubkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Upaya-upaya pembaharuan yang positif dalam dunia pendidikan harus segera dilaksanakan secara komprehensif dan profesional. Ironis memang kalau melihat Sistem Pendidikan Nasional sekarang ini yang membuat anak didik sebagai kelinci percobaan para pengambil kebijakan. Selalu dijadikan objek dari politik kepentingan.

Melki AS
Continue Reading...

Wajah Pendidikan Kita (2)


Ambivalensi Pendidikan Kita

Pendidikan sejatinya adalah alat pembebasan dari kebodohan dan ketertindasan yang akan melahirkan manusia-manusia merdeka, bertanggung jawab dan mampu membenahi persoalan dalam realistas sosial. Karena itu, pemerintah harus menyokong penuh pendidikan yang berkualitas. Akan tetapi, yang terjadi negara ini malah sebaliknya. Berbagai kebijakan yang diambil pemerintah hanya mendukung kebutuhan politis para pemilik modal asing yang sangat tidak berpihak pada rakyat. Kurikulum pendidikan beserta produk hukum yang diterapkan masih saja mengikuti kepentingan kaum pemilik modal yang akhirnya justru meminggirkan kesempatan sebagian masyarakat untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas. Pendidikan di Indonesia hanya menjadi simbol kevakuman dan alat penindas yang telah mencerabut anak didik dari sosio kulturalnya. Sekolah-sekolah menjadi ruang komoditi dan guru seolah menjelma menjadi agen penindasan. Inilah yang akhirnya membuat bangsa ini semakin terpuruk dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Pendidikan yang diimpikan bahkan menjauh dari harapan. Usaha untuk membenahi pendidikan di tanah air kerap hanya menjadi wacana yang tidak jelas realisasinya. Bukti nyata ialah ketidakmampuan pemerintah untuk merealisasikan anggaran pendidikan yang telah dicanangkan (anggaran 20 % APBN untuk pendidikan). Pendidikan gratis hanya menjadi ilusi semata. Bahkan lebih parah lagi pendidikan di Indonesia seolah meminggirkan atau anti terhadap kaum-kaum marginal. Bagi murid yang orang tuanya miskin, jangan harap untuk mengenyam pendidikan yang berkualitas. Alih-alih memajukan dunia pendidikan, mencerdaskan generasi bangsa, malah sang anak didik dikeluarkan dari institusi tempat dia seharusnya belajar karena tidak mampu membayar sejumlah beban yang diputuskan pihak sekolah. Kasus di Jambi beberapa waktu yang lalu, yang hanya gara-gara orang tua tidak ada uang untuk membayar uang kebersihan sekolah yang dibebankan pada anaknya, sang murid harus menerima ganjaran dengan dikeluarkan dari sekolah. Ironis memang kalau menyaksikan hal seperti ini. Pendidikan nyata-nyata menjadi milik kaum kapitalis yang memang sejak lama ingin menindas dan menyengsarakan rakyat. Pendidikan tidak lagi menjadi suatu proses pencerdasan yang kemudian akan membuat masyarakat serta bangsanya merdeka lahir dan batin. Bahkan pendidikan sendiri menjadi alat untuk menindas rakyat yang berkedok politik amanah. Jadi benar dengan yang diungkapkan Paulo Freire bahwa sekolah itu menindas dan membelenggu. Rakyat dipaksa untuk membayar beban yang seharusnya tidak perlu kalau realisasi anggaran terpenuhi. Tapi siapa nyana, buku pelajaranpun ternyata menjadi lahan korupsi bagi mafia-mafia intelektual kaum terdidik. Inilah yang tanpa disadari menjadi bukti dari pelanggaran Hak Asasi Manusia untuk mendapatlan pendidikan.
Mengapa hal ini bisa terjadi, itu dikarena pendidikan didalam negeri ini masih sarat dengan kepentingan-kepentingan politis penguasa. Artinya pendidikan telah dijadikan alat penguasa untuk memperdalam kekuasaannya. Pendidikan gratis, menjadi isu kuat bagi golongan oportunis negeri ini untuk mencapai kesejahteraan secara individual. Hal ini juga tidak bisa kita lepaskan dari siapa yang di didik dan siapa yang mendidik. Peran guru dalam membimbing murid sebenarnya menjadi tonggak dari sebuah peradaban baru yang lebih inovatif dan kreatif. Artinya guru sebagai pembimbing dan bukan sebagai fasilitator semata. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa seorang guru harus benar-benar bisa menangani anak didikinya untuk berkembang sesuai dengan kodrat alamnya. Lepas dari segala ikatan, dengan suci hati, mendekati sang anak. Demikian yang diamantakan beliau dalam azaz Tamansiswannya. Dengan konsep ini, jelaslah bahwa seorang guru tidak akan memaksakan kehendak kepada murid-muridnya. Pendidikan yang memerdekakan pun dapat diwujudkan sehingga murid-murid tidak akan diperlakukan sebagai obyek pengajaran guru atau sekolah semata, seperti yang banyak terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang. Demikian yang diungkapkan Suratni dalam Seminar Nasional “Menggali Butir-Butir Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam rangka Memaknai Seabad Kebangkitan Nasional” di Puro Pakualaman, Kamis 5 Juni 2008. Sementara itu, Sunarti, yang juga seorang pensiunan guru SMAN 6 Yogyakarta menilai bahwa konsep-konsep pendidikan KHD yang dijadikan semboyan pendidikan di Indonesia semakin hari semakin terkikis. Beliau mengatakan bahwa ajaran-ajaran KHD sudah tidak lagi diterapkan disekolah-sekolah. Seperti Ing Ngarsa Sung Tulada. Sekarang justru yang terjadi banyak guru yang tidak mencontohkan sesuatu yang baik kepada murid-muridnya. Ing Madya Mangun Karsa juga tidak jelas lagi. Yang ada bahkan Ing Madya Mangun Proyek. Dan Tut Wuri Handayani yang telah berganti menjadi Tut Wuri Ambayari (Kompas, Jumat 06 Juni 2008)
Sebagai realisasinya, seharusnya guru tidak hanya pandai mengajar tapi juga pandai mendidik para murid agar mereka bisa mengembangkan daya saing dan kreatifitas yang dimilikinya. Ini yang seharusnya penerapannya dalam dunia pendidikan harus dijalankan. Bukan sebaliknya. Anak didik hanya datang kesekolah, belajar dan pulang. Keberhasilan seorang guru dalam membimbing murid-muridnya ialah bila anak dapat maju, berkembang, tidak merasa terbebani dan tanpa ada tekanan. Bukan anak yang hanya mengejar materi intelektualitas dengan meninggalkan pentingnya keseimbangan antara pengembangan pengetahuan dan karakter seseorang. Tapi masih terjadi sebaliknya pendidikan sekarang ini Akhirnya yang terjadi dalam pendidikan ialah sang anak secara fisik bersekolah, tapi secara pikiran tetap purba (hanya berganti fasilitas semata). Anak hanya akan mengulang apa yang diajarkan oleh sang guru, bukan anak yang akan mengkombinasikan serta memformulakannya kearah yang lebih baik. Inilah yang seperti diungkapkan Paulo Freire dengan pendidikan yang pengajarannya bergaya seperti bank, hanya ngomong, mencatat dan mengutip. Jadi tidak salah ketika ada yang menganggap dan mengungkapkan bahwa bangsa ini masih terjajah dan kita sebagai generasinya harus berlapang dada menyaksikan realitas yang ada.. Cuma memang berbeda dengan penjajahan sebelum proklamasi. Jadi jalan keluarnya seperti yang pernah disampaikan Ki Tyasno Sudarto adalah kembali ke budaya dan jati diri kita sendiri seperti yang pernah di ajarkan Ki Hadjar Dewantara.(Kompas, 06 Juni 2008)
Inilah yang seharusnya dicermati kembali di negara ini. Negara dengan aparaturnya dalam pendidikan harus mampu mengawal pendidikian yang terarah kedepan supaya bisa mengasilkan anak didik yang berideologi kuat dan pancasilais. Sehingga cita-cita pendidikan untuk mencerdaskan bangsa bisa tercapai dengan mulus. Pendidikan harus memulai dari awal kembali untuk menata kesemrawutan didalamnya baik arah, pedoman dan anggaran supaya pendidikan berjalan sesuai dengan rel-nya. Kondisi pendidikan yang semakin tidak jelas arahnya ini turut membuat beberapa kalangan gerah. Jauhnya pendidikan dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengenyam pendidikan memperparah bahkan memandulkan output dari pada pendiikan itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Prof. Dr. Djohar MS bahwa pendidikan sekarang ini sudah rusak. Ini karena proses yang terjadi didalamnya tidak mendidik. Hanya belajar saja. Itulah yang akhitnya menurut beliau akan menghambat. “Padahal tujuan sekolah itu adalah menciptakan manusia terdidik, berbudaya dan berperadaban. Sekarang bisa dilihat, masa manusia yang belajar tiga tahun hanya ditentukan dalam hitungan jam” ungkapnya. Lebih jauh mengomentari pendidikan sekarang ini, beliau mengatakan bahwa terjadinya hal-hal seperti ini karena tidak adanya filosofi pendidikan. Padahal kita punya konsep yang bagus, tapi malah menggunakan konsep lain. Yang namanya hukuman disiplin itu seharusnya tidak ada. Itu yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara. Tapi itu terjadi juga (hukuman dsb-red), sehingga bukan manusia merdeka dan mandiri yang dihasilkan tapi manusia yang terhukum, terbelenggu dan tergantung. Model-model ujian akhir bukan sesuatu yang mendidik. Beliau yang juga menjadi Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menegaskan bahwa beliau adalah salah seorang yang dengan amat sangat menolak RUU BHP. Beliau menganggap RUU BHP membuat pendidikan tersingkirkan oleh lembaga itu. “Lembaga asing kalau masalah kependidikan memang boleh, tapi kalau sudah masalah biaya, itu sama sekali tidak boleh. Kalau proses pendidikannya boleh, tapi kalau penyelenggarannya tidak boleh” ujarnya ketika ditemui Aspiratif di kantornya.
Sementara itu menurut dosen pendidikan Universitas Ahmad Dahlan yang sekaligus penulis buku “Pembodohan Siswa Tersistematis” Muhammad Joko Susilo, sistem Pendidikan sekarang ini memunculkan sebuah pembodohan yang terkesan struktural dan sistematis. Bahkan satu hal yang aneh menurut beliau sekarang ini ialah adanya suatu pengajaran yang layanannya khusus sehingga memunculkan sekolah-sekolah Home Schooling yang ijazahnya diakui. Inilah yang menurutnya akan mengancam lembaga formal kedepan nantinya. “Jadi kalau berbicara sistem, itu seperti lingkaran setan. Karena mau dari mana kita menyembuhkannya. Malah akhirnya capek sendiri. Upaya dari pemerintah memang tak kurang, tapi tidak berujung dan berpangkal” ujarnya ketika ditemui di kediamanannya di Lembaga Pengabdian Masyarakat UAD. Menurutnya Faktor dominan yang menimbulkan semua ini sebenarnya disebabkan oleh kebijakan yang diambil. Kebijakan yang diambil sekarang terkesan dipaksakan. LPTK yang ada di seluruh Indonesia ini menurut pengamatan beliau juga belum menghasilkan pendidik yang dibanggakan untuk mengarah ke profesional. Ini karena mereka yang masuk ke FKIP, dominannya sudah pasti diterima. Kemudian mereka dipaksakan untuk mendalami dan mengenyam kurikulum yang sudah didesain, padahal ada beberapa kurikulum yang sudah tidak relevan lagi. Tapi mau nggak mau mereka harus patuh. “Inilah keanehannya. Mungkin karena bingung arah kiblat pendidikan itu sendiri”
Keanehan beliau akan dunia pendidikan, juga merambah kedalam tataran konsep yang ada. Menurutnya, keanehan itu ialah tidak adanya kebanggaan dari pemikiran sendiri. Dituturkan beliau bahwa dari dulu kita memang tidak bangga dengan pemikiran yang luar biasa dari orang kita sendiri seperti Ki Hadjar Dewantara. Padahal, akan menjadi sangat hebat seandainya ada kombinasi antara konsep KHD dan konsepnya Ahmad Dahlan. Tapi yang mengimplementasikannnya malah singapore dan malaysia.Ujian Akhir Nasional pun juga menurut beliau bisa saja sah-sah saja kalau proses itu adalah untuk mengetahui potret batas kemampuan pendidikan Indonesia di level internasional. Tapi persoalannya, UN harus diatur sedemikian rupa. Jangan serta merta dalam waktu tiga hari, sudah bisa menentukan kelulusan. Karena pendidikan itu adalah sebuah proses yang dimuali sejak dari awal sampai dengan akhir. Kalau hanya diwakili hanya beberapa pelajaran saja, itu tandanya tidak fair dan bisa tergolong pemaksaan hak, padahal pendidikan kita tidak berangkat dari penindasan.
Menurut Prof. Dr. Suwarsih Madya P.hd selaku Kepala Dinas Pendidikan Yogyakarta yang ditemui seusai seminar Pendidikan di UST mengungkapkan bahwa, pendidikan yang ada, dari pemerintah mengakui ini harus ditingkatkan. Keadaan itu memang belum siap apalagi seperti diamanatkan dalam undang-undang no 20/2003, masih sangat jauh. Dan itu tidak bisa di bebankan pada guru saja karena semuanya itu terkait dengan politik, ekonomi dan lain-lain. Seperti desentralisasi pendidikan, itu merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan dengan proses pembelajaran oleh setiap orang. Beliau mengungkapkan bahwa membuat keputusan itu tidak gampang. Untuk diri sendiri saja susah apalagi untuk orang banyak. Dahulu kita (guru dan dosen) melaksanakan penuh, tiba-tiba sekarang disuruh otonom. Padahal membuat keputusan itu tidak gampang. Dengan perubahan pendidikan yang cepat, memang dunia pendidikan mempunyai beban yang luar biasa berat. Untuk mengatasi semuai itu, seperti yang diungkapnya bahwa itulah pentingnya kolaborasi sinergi. Tapi itu secara teoretik. Praktiknya sangat mahal dan langka.
Mengenai pro kontra tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang lagi hangat-hangatnnya, beliau tidak menanggapinya. Yang penting menurut beliau yang harus diperhatikan ialah orangnya. Karena menurut beliau yang masih belum benar itu ialah oknumnya. Tapi jikalau menurut Djohar bahwasannya pendidikan sekarang rusak, agak sedikit berbeda dengan Tri selaku kepala sekolah Taman Dewasa Tamansiswa. Beliau mengatakan bahwa pemerintah sekarang sudah kearah yang sudah bener. Tapi ada beberapa hal yang masih kurang sesuai. Seperti UN. Dikatakannya Ujian Akhir Nasional sebagai pemetaan itu boleh-boleh saja, tapi kalau UN dijadikan sebagai penentuan dari kelulusan itu tidak tepat. Dunia pendidikan pun seperti yang dituturkannya pada Aspiratif bahwa sekarang ini lagi mengalami fase kebingungan. Pendidikan yang ada sekarang justru bersifat seperti saudagar. Dalam arti, permasalahan pendidikan sama seperti mengatasi permasalahan terhadap saudagar. Misalnya harga minyak naik, lalu menaikan harga jual juga. Padahal pendidikan itu adalah proses jangka panjang. Juga seperti contoh terbaru tentang sertifikasi. Beliau menganggap ini sesuatu yang lucu dan tidak menjamin mutu. “moso orang IKIP sama lulusan IKIP sendiri tidak percaya. Masih memerlukan sertifikasi. Padahal sebenarnya itu kesalahan mereka, kenapa memilih guru itu dahulu, merekrutnya tidak bagus. Sertifikasi itu tidak menjamin karena teman praktek dilapangan banyak mengatakan bahwa banyak teman-teman kita yang curang. Jadi sekarang guru sebagai pengumpul sertifikat seperti tukang loak. Buat apa kalau hanya mengumpulkan sertifikat. Ngajar hanya ngejar sertifikat. Berbeda dengan KHD yang mengabdi secara total kepada sang anak” ungkapnya dengan tegas.
Prof. Sugeng Mardiyono, Rektor UNY yang berhasil Aspiratif temui di kantornya ketika mempertanyakan tentang pendidikan di Indonesia menanggapi bahwa semangat pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidik sudah bagus dan sudah ada usaha yang baik dari pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan. Tapi praktek dilapangannya yang kurang. Salah satu hal yang perlu dijabarkan yang namanya pendidikan itu akhirnya menghasilkan pendidikan manusia seutuhnya atau menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa secara agama. “Untuk itu semua komponen didalam pendidikan harus digarap baik cipta, karsa, hati, rasa dan raga. Nah sekarang yang banyak digarap ialah ciptanya. Sementara rasa-nya sedikit. Hatinya hampir tidak digarap. Sehingga sekarang menjadi guncang. Kalau kita mengagung-agungkan kognitif saja, mengagung-agungkan iptek saja, tentunya sangat membahayakan” ungkapnya. Masih menurut beliau bahwasannya antara iptek dan imtaq itu harus selaras. Ini supaya tidak terjadi malpraktek kemudian hari. Seperti dicontohkannya silet sebagai produknya iptek. Dikatakan, silet itu gunanya untuk mencukur brongos, tapi bisa saja salah malah untuk mencopet dan lain-sebagainya. Tapi masalahnya sekarang pendidikan kita itu belum mengarah kesana (iptek dan imtaq). Belum sebagaimana yang diharapkan. Manusia seutuhnya itu menurutnya ibarat sayur yang sedap. Jadi ada sayurnya dan ada bahan-bahannya. Komposisinya semuanya bersih. Tapi tidak sedap kalau tidak dikasih penyedap. Masalahnya sekarang ialah penyedapnya ada, tapi cara memberikannya itu yang masih jadi kendala. Bagaimana mau sedap kalau memberikan penyedap itu masih dibungkus dengan plastik. Jadi prosesnya hanya terapung-apung. “Maka itulah penting artinya untuk memasukan nilai sosial, nilai spiritual, nilai kemasyarakatan seperti yang saya terapkan pada UNY sendiri dalam perkuliahan walaupun prosesnya tergantung pada dosennya sendiri. Itu bisa dikaitkan kedalam semua pelajaran walaupun waktunya cuma lima menit” ungkapnya. Jadi maksud dari itu semua menurutnya semangat dari pemerintah sudah tinggi, tapi realisasinya belum. Terutama pada perpaduan antara Iptek dengan Imtaq. Sebagaimana itu adalah suatu incredien untuk mengahasilkan manusia seutuhnya. Dalam wawancara dengan Aspiratif, beliau juga mengungkapkan bahwa beliau membalik sebagaimana yang menurut renstra diknas tentang olah cipta, olah hati, olah rasa dan olah raga. Menurutnya yang pertama didahulukan ialah olah hati, olah cipta lalu olah rasa dan raga.
Mengenai konsep pendidikan beliau menilai bahwasannya konsep pendidikan kita sudah bagus. Artinya sudah bisa mengakomodir fleksibilitas, mengakomodir kualitas, mengakomodir pemerataan yang masyarakatnya heterogen, menghargai setiap etnik, dan membangun cipta, hati, rasa dan raga. Termasuk design maupun konseptual. Tapi lagi-lagi menurutnya, melakukan hal itu bukanlah sesuatu yang gampang. Karena itu menyangkut kemauan. “Kemauan itu sangat tergantung dengan kesadaran. Kesadaran melakukan sesuatu bahwa apa yang dilakukan manusia itu sebetulnya akan mendapat balasan dari yang maha kuasa. Kalau baik balasannya baik, kalau buruk balasannya buruk” ungkapnya.

Melki AS
Continue Reading...

Mengenang Kepahlawanan dan Keteladanan KI HADJAR DEWANTARA (5)


Museum Dewantara Kirti Griya : Saksi Sejarah yang Nyata

Selain meninggalkan ajaran hidup dan nilai-nilai luhur yang ada di tamansiswa, KHD juga meninggalkan beberapa bukti sejarah semasa perjalanan hidupnya dari zaman pra kemerdekaan sampai paska kemerdekaan. Peninggalan-peninggalan beliau itu terkumpul semua didalam sebuah bangunan Museum Dewantara Kirti Griya (DKG). Dari museum itu, sebelum tamansiswa berdiri maupun setelah tamansiswa berdiri, semua perjuangan KHD dicatat dan disimpan didalam museum. Awalnya, museum DKG merupakan rumah dari KHD sendiri setelah pemilik terakhir yang seorang janda penguasa perkebunan belanda Mas Ajeng Ramsinah menjualnya pada tanggal 14 Agustus 1935. Sebagaimana yang diungkapkan Ki Agus Purwanto, salah seorang staf dari pengelola museum, bahwasannya KHD mempunyai dua rumah, yang pertama museum sekarang dan kedua sebuah rumah yang terletak di jalan Kusumanegara 131 Mujamuju Yogyakarta (sekarang menjadi kantor rektorat kampus UST). Pembelian rumah (sebelum menjadi museum DKG) Ramsinah tersebut dibayar sebesar 3.000 gulden (drie duizend gulden) meliputi persil yang berlokasi ditempat tersebut lengkap dengan perabot rumah tangga. Pada tahun 1958 KHD dan keluarga pindah ke jalan Kusumanegara. Inilah awalnya museum DKG terbentuk.
Ki Agus mengungkapkan bahwa, sebelum KHD pindah rumah, terbersit dibenak KHD untuk menjadikan bekas tempat tinggalnya sebagai penunjang dari studi dan pendidikan. Dan KHD sendiri untuk memastikan itu, meminta rumahnya dijadikan sebuah museum sebelum beliau benar-benar berpindah tempat. Dari situ, untuk memenuhi permintaan dari KHD, maka disusunlah kepanitiaan yang terdiri dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Keluarga Besar KHD, Keluarga Besar Tamansiswa dan Sejarahwan untuk mewujudkannya. Dan bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan, dengan dibuka langsung oleh Nyi Hadjar Dewantara selaku Pimpinan Umum Persatuan Tamansiswa, tepatnya tanggal 2 Mei 1970, museum sah diresmikan untuk umum. Adapun makna dari nama Dewantara Kirti Griya ialah rumah tempat KHD bekerja. Dan dengan SengkalanMiyat Ngaluhur Trusing Budi, adalah petunjuk tahun pembukaannya pada tanggal 25 bulan sapar tahun 1902 (jawa). Makna yang terkandung didalamnya ialah para pengunjung diharapkan dapat mempelajari, meresapi, menghayati isi museum untuk selanjutnya dapat menciptakan gagasan-gagasan baru (Buku Petunjuk Museum Dewantara Kirti Griya 1985/1986 hal 06-07).
Arsitektur museum DKG adalah kombinasi antara tatanan Jawa dan Eropa. Fisiknya menunjukan corak eropa dan bentuk plafon serta atap merupakan khas jawa. Demikian yang diungkapkan Ki Agus. Museum ini menurut Agus adalah memorial. Semua perabotan dan peralatan yang pernah dipakai KHD menjadi koleksi istimewa dari DKG. Masterpiece dari museum sendiri terdiri dari meja dan kursi dan juga pakaian-pakaian termasuk pakaian sewaktu KHD dipenjara. Selain itu, ada juga mesin ketik kuno yang masih utuh yang dahulunya digunakan KHD untuk menulis. Melihat lokasi dari Museum DKH sendiri, karena letaknya bertepatan ditengan kota, maka akan memungkinkan untuk cepat dikenal oleh pengunjung yang sedang datang ke jogja. Dan museum DKG ini juga selalu buka setiap hari. Dari bentuk ruangannya, DKG terdiri dari 7 ruangan dimulai dari teras dan kamar khusus disebelahnya. Ketika masuk kedalam, akan langsung disambut oleh ruang keluarga yang paling bear. Didalam ruang keluarga tersebut, terdapat beberapa koleksi antara lain kumpulan buku-buku tersusun rapi dan didepannya ada sebuah kursi goyang dan artikel yang ditulis KHD dalam surat kabar Sinar Matahari serta sebuah cangkir kecil. Menurut Ki Agus, disanalah tempat dimana KHD sambil santai minum kopi dan mendengarkan radio. ”radionya khan bisa dibawa-bawa. Soalnya kalau ketahuyan sama belanda pasti akan ditangkap” ungkapnya. Selain itu, terdapat pula jam dindingbesar dan kuno bercorak Eropa. Didekat jam tersebut, juga ada peninggalan dari Nyi Hadjar Dewantara yaitu meja tulis dan tempat beliau engarsipkan semua tulisan dari KHD. Dan ada juga arsip Nyi Hadjar yang dikoleksi terutama tentang kodrat-kodrat wanita (etika dan adab wanita).
Berlalu dari ruang keluarga, persis disebelahnya terdapat ruang tamu utama. Meja kursi yang digunakan KHD untuk menyambut tamunya terpampang dengan jelas dan kelihat masih kokoh. Selain itu, ada juga pernyataan dari Presiden Pertama RI yang sekaligus murid dari Tmansiswa Bandung, Ir Soekarno yang menyatakan ” Ki Hadjar Dewantara adalah pendorong dan pemimpin bangsa Indonesia yang oleh Tuhan diberi karunia untuk memimpin bangsanya. Kalau dulu tak ada seorang yang bernama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara, keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia tak akan cemerlang seperti yang kita alami”. Didekat tulisan itu, terdapat juga tulisan lainnya Bung Karno (BK) yang menghimbau agar bangsa ini harus mempunyai kekuatan dan kepribadian dalam menghadapi perjuangan nasional. Jika tidak, maka selama-lamanya akan menjadi budak. Selain meja kursi tersebut, koleksi isrimewa yang ada di ruangtamu ialah sebuah proyektil mortil yang ditembakan oleh belanda dan jatuh tepat dihalaman depan pendapa tamansiswa. Tapi mortir yang ditembakkan januari 1949 tersebut tidak membawa korban. Disebelah mortir itu, terdapat juga pesawat telepon Kuno merek Kellog yang dibuat pada tahun 1927 oleh Swedia. Sampai sekarang barang itu masih terjaga dengan baik. Dibawahnya terdapat tulisan yang menerangkan bahwa dengan masih menggunakan telepon itu, nomer panggilan (kode area) untuk wilayah Jogjakarta ialah dua digit yaitu 43.



Di ruang kerja (bersebelahan dengan ruang tamu yang membentuk hurup L), terdapat koleksi berupa peci, pena lama, buku tamu dan tas yang pernah digunakan KHD. Juga satu almari besar yang penuh dengan koleksi bukunya KHD dalam bahasa belanda. Menurut Ki Agus, itu merupakan sebagian dari buku-buku KHD yang masih ada. Yang lainnya ada di perpustakaan tamansiswa. Piano kecil dan Sistem Nada Swara ciptaan KHD pada tahun 1926 membukatikan bahwa beliau suka dengan musik. Dan yang paling istimewah lainnya ialah piagam Doktor Honoris Causa yang diberikan presiden (sebutan untuk rektor zaman dahulu) Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Sardjito tanggal 19 Desember tahun 1956. dibelakang meja kerjanya terdapat lambangtamansiswa yang terrulis tahun berdiri 1922 dan sebuah radio antik radio Erres yang dibuat pada tahun 1938 oleh belanda. Didalam ruangan itu , lagi-lagi pujian dari Ir Soekarno atas jasa KHD dalam membangun negeri ini terpampang jelas. ” ....sungguh, alangkah hebatnya kalau tiap-tiap guru didalam perguruan tamansiswa itu satu per satu adalah rasul kebangunan! Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan dapat ’menurunkan’ Kebangunan kedalam jiwa sang anak”. Dan juga kutipan dari presiden Soekarno yang diambil dari pidatonya di Yogyakarta tanggal 19 Desember 1959 juga dipajang. Tulisan inilah yang membuktikan bahwa sejarah indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah KHD dan Tamasnsiwa dan sejarah bahwa Soekarno pernah berguru dengan KHD sekaligus murid dari Tamansiswa Bandung. ” saya persoonlijk, saudara-saudara, merasa bahagia dapat pada waktu saya muda ngelesot pada kakinya Ki Hadjar Dewantara. Saya termasuk pemuda-pemuda yang bahagia dapat maguru kepada orang-orang Indonesia yang besar, maguru kepada almarhum Kyai Ahmad Dahlan, maguru kepada Dr. E.F.E. Douwes Dekker, maguru kepada Cipto Mangunkusumo, maguru kepada R.M Suwardi Suryaningrat yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara”.
Setelah habis berputar diruang kerjanya, kesisi timur terdapat ruang istrirahat Ki dan Nyi Hadjar Dewantara.dimana didalam ruangan itu masih terdapat dipan tempat tidur untuk berdua lengkap dengan tirainya (kelambu), satu almari untuk perlengkapan-perlengkapan rias Nyi Hadjar dan satu lagi almari untuk menyimpan souvenir dari beberapa cabang tamansiswa. Dan, ”inilah tempat istirahat mereka ketika mereka mulai lelah dalam beraktivitas dan ini souvenir-souvenir yang diberikan tamansiswa cabang untuk Ki Hadjar ” ungkapnya sambil menunjuk ke almari yang satunya lagi. Didalam almari itu terlihat ada semacam alat musik seperti gendang dan gitar dalam ukuran mini. Dibawahnya tertulis berasal dari india. Disampingnya, sebuah benda yang bentuknya agak bulat dan berwarna hitam. Tertulis dibawahnya benda tersebut berasal dari Bengkulu tahun 1935. yang tergantung di dinding almari, berbentuk prisma juga merupakan souvenir tamansiswa cabang Tebing Tinggi tahun 1938. Dibawahnya juga ada souvenir dari bali tahun 1934 yang bernama Blencong dan Kendi, dan disampingnya, dalam ukuran yang agak besar dari semuanya, merupakan sovenir dari tamansiswa cabang Gedongtataan Lampung tahun 1938 yang berupa sepasang gading gajag dan ada gong kecil ditengahnya. Masuk kesebelahnya lagi, merupakan tempat tidur (kamar) dari anaknya Ki Hadjar. Di ruangan ini juga ada dua almari besar yang berisi pakaian-pakaian yang pernah dipakai Ki Hadjar dan almari berisikan barang pecah belah. Didalam ruangan itu, Ki Agus menuturkan bajwa disanalah Ki dan Nyi Hadjar melepas lelah. Dan ruangan yang berisikan barang pecah belah itu merupakan perlengkapan sehari-hari beliau dan juga bisa untuk membantu sesama rakyat bilamana mengadakan hajatan dan tidak mempunyai suatu wadah yang besar, maka bisa meminjam dari perlengkapannya keluarga KHD. ”semua barang itu asli porselen mas” ungkapnya jelas. Diatas tempat tidur, terpampang foto Ki dan Nyi Hadjar beserta putrinya Asti. Asti merupakan anaknya yang lahir semasa Ki Hadjar Diasingkan dinegeri Belanda.
Setelah puas mengunjungi koleksi-koleksi didalam, tak ketinggalan juga bagian luar dan sebuah kamar kecil yang penuh kenangan dari Ki hadjar Dewantara. Didalam kamar itu juga terdapat dipan kecil yang ukurannya hanya muat untuk satu orang. Dan disampingnya ada mesin ketik yang menurut Ki Agus adalah alat Ki Hadjar untuk membuat artikel-artikelnya dan arloji tua, jam tua serta buku diarinya yang tampak kelihatan usang. Disamping belakang dipan juga terdapat tiga pucuk tongkat sangga Ki Hadjar yang masih kuat dan didalam almari besar tersimpan koleksi baju semasa Ki Hadjar ditahan di Penjara Pekalongan lengkap dengan sarungnya. Di almari itupula terdapat dua pucuk sertifikat yang bernomer register 406 BII pada tahun 1924 yang menerangkan bebasnya Ki Hadjar dari tahanannya. Satu lagi yang hampir terlupakan ialah sebuah maha karya besar, sebuah lukisan tentang diri Ki Hadjar yang dibuat oleh J.J.C. Lebeau tanggal 23 Mei 1919. Di luar (teras) juga dipenuhi kenangan foto yang menampilkan berbagai gambar soekarno yang sedang bersalaman dengan Nyi Hadjar beserta beberapa pucuk piagam penghormatan yang diberikan untuk Ki Hadjar Dewantara. Tempat diluar ini menurut Ki Agus ialah tempat dimana Ki Hadjar Bekerja dan pabila waktu sudah malam, supaya tidak mengganggu istri dan anak yang mungkin sudah tidur, Ki Hadjar melanjutkan pekerjaan dan beristirajat disini. ” inilah kenangan nyata yang ditinggalkan Ki Hadjar selain ajaran hidup dan nilai-nilai luhur itu. Kami berharap, bertepatan dengan HUT ke-86 Tamansiswa ini, Museum ini bisa lebih diperhatikan lagi” ungkap Ki Agus Purwanto mengakhiri.

Melki AS
Continue Reading...

Mengenang Kepahlawanan dan Keteladanan KI HADJAR DEWANTARA (4)


Akhir Perjalanan Sang Pahlawan

”Kalau dulu tidak ada seorang yang bernama RM. Soewardi Soeryaningrat yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara, keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia tak akan cemerlang seperti yang kita alami” Ir. Soekarno
Kata-kata itu menandai penghormatan yang sebesar-besarnya dari seorang Presiden Republik Indonesia (RI), sekaligus Panglima Besar Revolusi terhadap jasa-jasanya Ki Hadjar Dewantara. Sebagaimana diketahui, tepatnya 26 April 1959, dua tahun setelah KHD menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada, sang pahlawan nasional itu meninggalkan dunia fana ini. Sebuah kehilangan yang besar bagi Tamansiswa dan bagi Indonesia karena KHD merupakan tonggak sejarah lahirnya peradaban baru, peradaban yang berarti bagi kebebasaan bangsa ini dari penjajahan kolonial Belanda. Berita wafatnya KHD sontak membuat kaget seantero Indonesia. Bangsa Indonesia kemudian menaikan bendera setengah tiang sebagai penghormatan terakhir atas jasa-jasa besar beliau dalam kemerdekaan bangsa ini. Ribuan pelayat memadati jalanan tatkala mobil jenazah dalam perjalanan menuju makam. Semua rakyat Indonesia menangis melepaskan kepergian sang pahlawan, guru bangsa yang besar ini. Upacara militer menandai pelepasan KHD dengan tembakan salvo. Sebuah penghormatan besar kepada pahlawan besar. Dalam hidupnya, terutama hari-hari akhir dari perjalanan hidupnya, KHD seperti sudah mendapat wahyu akan panggilan kematiannya. Beliau sepertinya yakin bahwa kematian akan merenggut nyawanya sebentar lagi. Hal inilah yang diutarakannya kepada Bambang Sukowati anaknya. ”aku tidak risau akan kematianku Mbang, tapi aku risau akan kalian anak-anakku. Apakah kalian sudah siap menghadapi kenyataan hidup ini. Siap secara spiritual dan siap secara finansial” seperti yang dituturkan KHD pada Bambang Sukowati Dewantara (Ki Hadjar Dewantara, Ayahku). KHD pun juga berpesan di saat menjelang ajalnya untuk selalu bertahan dalam hidup. Berani menghadapi kenyataan dan mengerti tujuan hidup. Seperti halnya kematian, KHD melukiskan bahwa hidup dan mati sama halnya seperti sukses dan gagal yang tidak perlu ditakuti tapi harus dimengerti. Maksudnya supaya tidak menjadi budak terus menerus. Dan untuk mengerti semua itu, maka dituntut untuk menguasai realitas supaya menghantarkan ketataran Mannggaling Kawula Gusti.
”Kecuali itu Mbang, kau tak usah menulis biografiku. Kelak toh akan ada juga yang menulisnya. Bantulah mereka kalau tenagamu diperlukan. Tetapi jangan sekali-kali mempengaruhi baik pandangan atau penilaian orang. Setiap orang berhak untuk berbeda pendirian, sikap dan penilaian dengan yang lain tentang bapak ini. Janganlah beringas dan berkecil hati kalau ada yang menilai negatif atau mengkritik bapak”. Pesan ini mengisyaratkan bahwa KHD bukan seseorang yang gila akan hormat dan ini pula yang membuktikan bahwa sang pahlawan besar tidak suka mengkultuskan pribadinya untuk di puja-puji oleh semua orang. Beliau bukan orang yang paling suci, bukan orang yang paling benar dan bukan pula orang yang paling sempurna karena beliau masih menerima kritikan walaupun raganya tidak bisa bebas di dunia lagi. Cuma, beliau telah berusaha dan bekerja untuk kemajuan bangsanya. Usaha besar meskipun fisik kecil. ”apapun yang dikatakan orang atas diriku, kita wajib menerimanya. Namun kalau suatu ketika ada orang minta pendapatmu, apakah Ki Hadjar itu seseorang nasionalis, radikalis, sosialis, humanis, tradisionalis ataupun demokrat. Maka katakanlah, aku hanya seprang Indonesia biasa saja yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia” ungkap KHD pada Bambang. Selain itu, jiwa besar KHD mempengaruhi prinsipnya sebagai nasionalis sejati. Jiwa yang diharuskan untuk semua orang yang hidup dan tumbuh dalam negara ini. ”sebagai seorang pejuang, menjelang ajalku sekarang ini, sesaatpun aku tak pernah menghianati tanah airku, bangsaku, lahir maupun batin. Dan aku pun tak pernah mengkorup kekayaan rakyat dan negara. Tentu saja aku bersyukur kepada tuhan yang telah menyelamatkan setiap langkahku dan dengan tulus suci, akupun berterima kasih atas dharma ibumu dan pengorbanan kalian semua”.
Dan sampai pada kematian yang sesungguhnya, prinsip dan jiwa besar KHD selalu membuat kagum semua orang yang menilainya. Kagum akan kegigihannya dalam mempertahankan Indonesia, kagum atas patriotiknya dan kagum atas prinsipnya yang tidak ingin menyusahkan orang lain. Pesannya itulah yang menandai api jiwa yang sesungguhnya dari KHD. ” Sejak sekarang kau Mbang harus siap lahir batinmu. Sewaktu-waktu denyut nadiku akan berhenti seketika, tidak usah satu atau dua sekon, tapi untuk seterusnya. Kita harus bersyukur bahwa tuhan telah memberi isyarat secara dini dan seterang ini. Dengan itu kita diberi kemudahan untuk mempersiapkan diri secara dini pula. Aku sudah bermufakat kepada ibumu dan Ki Wardoyo bahwa berita kematianku akan diberitakan lewat radio saja. Sebagaimana layaknya masyarakat umum mempergunakan jasa ini. Dengan begitu kita tidak mengganggu teman, keluarga dengan tenaga, waktu dan pesawat teleponnya”.
Kata-kata KHD itu menandai Jiwanya yang besar dan sangat pantas untuk dihargai dalam kehidupan manusia. Menetapkannya sebagai bapak bangsa adalah suatu yang tepat. Tidak hanya itu, sebagai Guru KHD sudah mengajarkan apa yang baik menurut bangsanya.
Menjelang ditik-detik menentukan, di senja hari di sebuah padepokannya dijalan Kusumanegara (timoho), akhirnya KHD melepaskan nyawanya dengan didampingi oleh istri, anak-anaknya serta kerabat beliau yang selalu setia dengannya. Senja itupula yang menandai bahwa sang pahlawan sudah beristirahat yang terakhir kalinya untuk selama-lamanya. Amanat, pesan serta wasiat yang pernah diajarkan KHD menjelang kematian tadi menutup dari semua perjalanannya dalam menyongsong Indonesia gemilang di masa depan. Perjuangan semasa hidupnya menorehkan simpatik dari beberapa golongan. Simpatik dari semua golongan baik dari yang terkecil maupun golongan elit.
Pengaruh besar KHD dalam perjuangan pergerakan Indonesia merdeka juga berbuah manis disaat beliau akan dimakamkan. Sebelum acara pemakaman digelar, terlebih dahulu digelar upacara persembahyangan yang dilakukan di Padepokan oleh berbagai kelompok dan tokoh agama. Isak tangis ribuan pelayat mewarnai kepergian KHD. Peti jenazahnya diselubungi dengan sang Dwi Warna Merah Putih tanda telah berpulangnya sang Pahlawan Besar Bangsa ini. Dan setelah Prof. Dr. Prijono (menteri P dan K) selaku wakil dari pemerintah Indonesia menyampaikan sambutan, jenazah KHD diberangkatkan dari pendopo agung menuju pemakamannya di Taman Makam Wijaya Brata di celebang Umbulharjo. Kolonel Soeharto (presiden ke-2 RI) memimpin langsung upacara pemakaman itu.

Melki AS
Continue Reading...

Mengenang Kepahlawanan dan Keteladanan KI HADJAR DEWANTARA (3)


(S. Iman Soedijat : Murid yang sangat dekat dengan KHD). Dari luar keadaan rumah itu kelihat asri dengan tumbuhnya beberapa pohon dan kembang yang menghiasi di halaman depannya. Sepintas menengok dari kejauhan, rimah itu terlihat tidak begitu besar. Setelah mulai masuk ke halaman depan, ada sebuah garasi yang berisi mobil bercorak lama dan tampak tertutup dengan terpal. Di depan pintu yang menyamping terlihat bel panggilan untuk tamu yang berkunjung. Setelah tiga kali memencet bel, seorang wanita setengah tua keluar lewat garasi. ”ada apa mas?” sahutnya. Nyi Iman Sudijat ada gak mbak? Saya dari mahasiswa Univesitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan sekaligus dari kru Aspiratif UST?” sambil menimpali pertanyaan perempuan itu tadi. ”oh tunggu sebentar ya, ibu lagi mandi”. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk menunggu, kira-kira sekitar lima belas menit berlalu, tampak seorang wanita yang sudah tua berjalan mendekat. ”oh mas yang tadi ya” sahutnya. ”iya nyi” sambil membalas ucapannya dan berjabat tangan. ”tunggu sebentar ya” perempuan mengisyaratkan untuk berganti pakaian.
Sementra perempuan tua itu berganti pakaian, disekeliling rumah tersebut terpampang beberapa lukisan dari orang-orang besar negara ini. Terpajang dari pada founding father pendiri bangsa dan tanah air Indonesia. Tepat di depan tampak poster besar yang bertuliskan “Aku tidak memikirkan benda-benda dunia ini seperti uang. Hanya orang-orang yang tidak pernah menghirup apinya nasionalisme yang dapat melibatkan dirinya dalam soal-soal biasa seperti itu. Kemerdekaan adalah makanan hidupku. Ideologi dan Idealisme adalah makanan untuk jiwaku. Aku sendiri hidup dalam kekurangan. Akan tetapi apa salahnya? Mendayungkan partaiku dan rakyatku secara bersama-sama ke pulau harapan, untuk itulah aku hidup”. Demikian tulisan yang terpampang langsung di dalam gambarnya panglima besar revolusi dan presiden pertama RI Ir Soekarno. Berhadapan dengan sedikit agak miring kesamping, juga terlihat posternya pahlawan perempuan Indonesia. Perempuan yang terkenal emansipasi wanitanya. Iya, dialah R.A Kartini. Di disamping itu, terlihat sepasang poster pahlawan sekaligus kebaggan perempuan tua tadi yang terpajang besar. Dialah yang semasa hidupnya selalu menderita guna memperjuangkan Indonesia supaya bisa terlepas dari penjajahan kolonial. Sepasang kekasih yang kemudian menjadi sepasang suami istri. Ki Hadjar Dewantara dan istrinya Nyi Hadjar Dewantara. Itulah sosok kebaggaan bagi perempuan tua yang bernama Nyi Iman Sudijat. Perempuan itu merupakan murid langsung yang menerima pelajaran secara langsung dari Ki dan Nyi Hadjar Dewantara. Sang pahlawan pendidikan, politikus, sejarahwan dan seniman besar bangsa ini.
Setelah agak beberapa lama, Nyi Iman (panggilan biasanya) keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sangat rapi dan terkesan biasa-biasa saja. Sapa hangat beliau dan untaian tangan tanda salam selalu tercipta dari perilaku kehidupan sehari-harinya dalam menyambut seseorang. Badannyapun walaupun sudah tua, masih tampak segar. Apalagi ketika beliau sehabis mandi. Dengan ramah dan sopan juga, beliau mulai bercerita. Bercerita keadaan dimana beliau mengenal Ki Hadjar Dewantara dan bagaimana Ki Hadjar mengajar anak didiknya. Seperti dikisahkannya bahwa beliau dan keluarganya begitu dekat dengan sosok Ki Hadjar Dewantara (KHD). Beliau mengenal KHD itu semenjak beliau maguru di taman guru tahun 1937-1939. mengenai sosok dari Ki Hadjar sendiri beliau mendeskripsikan bahwa secara ukuran fisik tidak begitu kekar dan orang terlihat kurus seperti biasanya. Tapi dibalik kurusnya itu, tersimpan segudang ilmu dan perjuangan untuk mencapai Indonesia merdeka. Dikisahkan lebih lanjut sewaktu beliau masih menjadi murid dari Ki Hadjar dalam satu kelas ada sekitar 35 murid yang terdiri dari 30 orang pria dan 5 orang laki-laki. Didalam kelas, Ki Hadjar mengajarkan 3 mata pelajaran yaitu pedagogik, psikologi dan kesenian akan musik baik barat maupun musik dari timur. Jikalau Ki Hadjar sudah masuk kedalam kelas semua murid diam dan menyimak semua. Didalam mengajar, menurut Nyi Iman, KHD terlihat sangat menarik dan menyenangkan. Semua pelajaran yang suit bisa disampaikan dengan halus sehingga bisa dicerna dengan gampang oleh para murid. Para murid lanjutnya sangat ditanamkan dengan jiwa merdeka, kebangsaan, nilai-nilai luhur kehidupan dan semua yang sesuai dengan kehidupan bangsa ini, bukan berjiwa budak.
’Bahkan dahulu pernah ada tamu seorang pejabat tinggi belanda. Tamu itu melihat ruangan dan kelas-kelas yang ada, kemudian dia bertanya kepada KHD mengapa dia memasang gambarnya Pangeran Diponegoro, sedangkan dia adalah pemberontak. Kenapa tidak memasang gambarnya Wilem de Zwijger?” ungkap nyi iman menirukan situasi saat itu. Dengan sangat santai, beliau melanjutkan bahwa ki hadjar menjawab pertanyaan sang belanda itu secara tenang. ”bagi anda (bangsa belanda) pangeran diponegoro adalah seorang pemberontak, tetapi bagi kami bangsa indonesia, beliau adalah seorang pahlawan. Wilem de Zwijger bagi anda bangsa belanda adalah seorang pahlawan, tapi bagi kami bangsa indonesia, dia bukan apa-apa” ungkapnya melanjutkan. Tidak hanya itu menurut Nyi Iman. Pernah sewaktu lain disaat Ki hadjar ditawan oleh belanda, beliau (KHD) juga kasih pertanyaan. Menurutnya, waktu itu KHD ditanya tentang kegiatan yang disaksikan oleh belanda yang melihat kearah tamansiswa. ”setiap malam, pemuda-pemuda/gerilyawan itu membuat onar disini. Saya lihat, mereka itu semua keluar dari halaman tamansiswa. Bagaimana caranya agar supaya mereka tidak membuat gaduh” nyi Iman menirukan. ” oh itu mudah tuan. Silahkan tuan-tuan pergi dari sini. Mereka pasti akan menghentikan aktivitasnya” lanjut nyi Iman menirukan jawaban dari KHD.
Hal itulah yang membuat Nyi Iman semakin takjub dengan kepribadian dari sosok KHD. Diapun juga menggambarkan KHD walaupun kecil tapi punya semangat besar. Apalagi ketika KHD menetang secara tegas aktivitas yag akan dilakukan belanda dengan mengadakan perayaan besar-besaran peringatan akan seratus tahunnya mereka bebas dari penjajahan prancis. kHD menilai ini tidak layak dan sangat tidak boleh dilakukan dibangsa ini, apalhi kalau dananya diambil paksa dari rakyat Indonesia yang saat itu dalam keadaan terjajah. Maka dengan itu KHD, menurut Iman Sudijat, menerbitkan tulisan dengan judul Als Ik Eens Nederlander Was (seandainya aku seorang belanda). Masih menurut Nyi Iman, akibat daripada tulisan itu, kolonial belanda merasa gusar dan terpaksa menangkap KHD. Oleh karena KHD ditangkap, temannya yang tergabung dalam tiga serangkai Dr. Ciptomangunkusumo juga membuat tulisan dengan judul ”kekuatan atau ketakutan” yang intinya juga menentang akan aktivitas belanda yang ingin dilaksanakan dan proses penangkapan KHD yang melibatkan seribu lebih personil bersenjata lengkap dari pihak belanda. Maka dari tulisan itu pula Dr. Cipto juga ditangkap oleh pihak belanda. Setelah pulang dari lawatannya ke eropa, Douwes Dekker-DD (Dr. Setyabudi) pulang ke tanah air. Dan ketika melihat teman-temannya ditangkap, dia juga membuat tulisan yang isinya menganggap KHD dan DD sang pahlawan. Merasa gusar juga dengan tuisan yang dibuat DD, akhirnya beliau juga ditangkap. Demikian juga yang diungkapkan oleh Nyi Iman diusianya yang semakin senja itu. Lanjutnya, di sidang terakhir di pengadilan Kolonial di bandung pada Agustus 1913, dimana penjatuhan vonis terhadap KHD, DD, Cipto M, pangeran Suryaningrat memerlukan hadir, diderekke oleh manantunya Ray Soelartinah Soeryaningrat. Semula putusan itu berbunyi : KHD di interneer ke pulau bangka, Cipto M di interneer ke Bandaneira dan DD ke timur Kupang. Atas kesepakatan mereka bertiga, lanjutnya, vonis dirubah menjadi externering (pengasingan diluar Indonesia) ke Nederland Belanda. Begitu palu diketuk, KHD bangkit dan menemui ayahnya untuk mohon doa restu. Sang ayahnya menurut Nyi iman memberikan salam dan berkata ”aku bangga atas perjuanganmu. Teruskan itu. Ingat, ksatria tak akan menjilat ludahnya kembali”. Kemudian KHD menemui istrinya. Sang istri memberi salam dan berucap ” tenangkan hatimu, god zij met jou” dan KHD menjawabnya dengan semangat ”Neen, god zij met ons”.
Setelah putusan itu, KHD menjalani hukuman buang ke negeri belanda selama empat tahun. Dan pada tahun 1917, masa hukuman KHD berakhir. Tapi beliau tidak segera pulang ketanah air karena terbentur masalah biaya transportasinya. Baru pada tahun 1919 beliau akhirnya bisa pulang ketanah air setelah berhasil mengumpiulkan tulisan lewat keahliannya dalam menulis artikel yang tidak hanya diterbitkan di media belanda, tapi juga di terbitkan di media-media Indonesia. Itulah kegigihannya KHD yang menurut Nyi Iman yang susah ditiru oleh orang lain. Padahal pada waktu itu kalau hanya untuk mengumpulkan uang, teman-temannya yang merasa sepenanggungan mengumpulkan uang untuk biaya pulang KHD dan istri serta dua orang anaknya sebesar 3.000 gulden. Tapi KHD menolaknya dengan halus dan mengatakan bahwasannya ia mau pulang ketanah air dengan hasil keringatnya sendiri.
Ceritera-ceritera mengenai KHD pada Aspiratif, akhirnya sampai pada akhir hayat sang pahlawan. Di mana Nyi Iman kembali mengingat bagaimana pesan KHD di akhir hayatnya. Terutama pesan pada sang istrinya Nyi Hadjar Dewantara. ” Jika nanti datang waktunya Tuhan memanggil saya, pada detik-detik terakhir bisikkanlah ditelingaku kata aan waarden. Saya ingin disembahyangkan oleh Hamka”. Ternyata dua pesan tersebut, menurut Nyi Iman, dapat terlaksana dengan baik. Sampai pada suatu sore, Iman Sudijat (suami dari Nyi Iman Sudijat) ditimbali ke padepokan KHD. Nyi iman pun juga ikut. Dan ternyata Iman Sudijat disuruh membaca Surat Yassin, didekat tempat tidur dimana KHD sudah terbaring dalam keadaan sakit. Samapi ayat yang berbunyai ”salamun chaolam mirrobi rochim” diucapkan KHD sebanyak tiga kali. Inilah yang menurut Nyi Iman bahwa KHD hapal akan urutan ayat-ayat dalam surat yassin itu. ”Kemudian KHD ngendika dengan suara yang agak lemah-”KETRIMA BANGET YA SOEDIJAT. SAIKI SAWANGEN BATUKKU”. Dengan gemetar pak Dijat melakukan itu” ungkap Nyi Iman. Kemudian, dua hari setelah itu, tepatnya 26 April 1959, KHD melepaskan nyawa dengan tenang menghadap sang ilahi dengan tenang. Itulah KHD tetaplah KHD ungkap Nyi Iman. Sulit untuk mencari bandingnya. Yang ditinggalkannya bukan harta benda yang melimpah, namun butir-butir mutiara ajaran hidup, amal perjuangan kemanusiaan demi kesalam bahagiaan bangsa dan negara inilah warisan yang paling berharga yang ditinggalkannya. Diakhir kunjungan itu, beliau yang usianya sudah memasuki kesenjaan inipun juga berharap dengan diperingatinya hari Ulang Tahun Ke 86 Tamansiswa kali ini, agar tamansiswa dikembalikan ke jati dirinya semula. Itu agar gaung dan manfaat dari ajaran luhur KHD bisa dimanfaatkan dalam kehidupan masyarakat.
Menjelang pukul lima sore, akhirnya ceritera-ceritera itu berakhir dan Aspiratif berpamitan pulang pada Nyi Iman. Ucapan salam selalu teriring dibibirnya seperti beliau menyambut Aspiratif diawal kunjungan. Begitupun ketika Aspiratif meninggalkan kediamannya yang berlokasi di jalan Teratai nomer 17 itu. Inilah salah satu ajaran KHD yang menganggap kesopan santunan dalam bermasyarakat itu sangat penting agar terjalin keharmonisan sesama umat. Sudah selayaknya tradisi yang masih relevan seperti itu selalu dijaga dan dilestarikan. Dengan dijunjungnya budaya seperti itu, niscaya dari tamansiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya benar-benar dapat menciptakan manusia yang tertib damai salam bahagia sesuai tradisi Indonesia. Memang KHD tidak bisa hidup lagi, tapi jiwa dan semangatnya akan selalu hidup dalam hati setiap orang yang menghargai jasa-jasanya. Semua orang, khususnya orang tamansiswa harus meneladani prinsip-prinsip seperti Ki Hadjar Dewantara.

Melki AS
Continue Reading...

Mengenang Kepahlawanan dan Keteladanan KI HADJAR DEWANTARA (2)


(KHD dan Konsep Pendidikan Tamansiswa). Semenjak didirikannya, Tamansiswa memegang peranan penting dalam memajukan bangsa ini terutama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Dengan berlandasakan pada badan perjuangan dan pembangunan, tamanasiswa berusaha untuk menciptakan iklimyang sesuai di masyarakat agar terbentuk suatu sistem pendidikan yang betul-betulberorientasi pada perkembangan sang anak didik. Terutama untuk mewujudkan masyarakat yang medeka baik lahir maupun batinnya. Tidak terjajah dan tidak mengalami tekanan lagi. Tamansiswa sat itu betul-betul menjadi obat daripada sakitnya sistem pendidikan yang diberikan kolonial karena di tamansiswa dengan mengusung rasa kebangsaan yang tinggi, tamansiswa menampung semua golongan yang ada di indonesia untuk bersekolah da belajar. Hal inilah yang akhirnya dikhawatirkan oleh belanda sehingga membuat tamansiswa terseok dalam perjalananya. Tapi setelah terbebas dari segala rintangan, tamansiswa kembali bangkit dan dengan gencar melaksanakan tujuan dan cita-cita semula tanpa harus terhambat lagi.
Sebagaimana termaktub dalam ajarannya, tujuan penbdidikan di tamansiswa ialah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, merdeka lahir dan batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketrampilan serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertangguingjawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Konsep-konsep yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara dalam Tamansiswanya, sejalan dengan konsep luar tentang kognitif, afektif dan psokomotorik. Hanya saja berbeda dengan Tamasniswa yang kental dengan nuansa jawa dan indonesianya yaitu dengan menggunakan konsep Tringa, ngerti, ngeroso dan ngelakoni. Tapi walaupun berbeda bunyi, kedua konsep itu sejalan dengan tujuan yang sama untuk menciptakan dan meningkatkan pengetahuan anak tentang apa yang dipelajarinya, meningkatkan pemahaman tentang apa yang diketahuinya serta meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan apa yang telah dipelajarinya semula. Untuk melaksanakan ini semua, Tamansiswa menyelenggarakannya lewat tri pusat pendidikan, yaitu dilingkungan keluarga, perguruan dan masyarakat yang kesemua saling koordinasi satu dengan yang lainnya. Dari tri pusat pendidikan inilah yang nantinya melahirkan output yang kelak bisa diandalkan dan kompetitif menghadapi persaingan dengan dunia luar.
Selain itu, dalam Pendidikan Tamansiswa terkenal dengan ciri khas Pancadharmanya yang bersandar pada kodrat alam, kebudayaan, kemerdekaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Kodrat Alam yang dimaksud ialah sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa mengandung arti bahwa pada hakikatnya manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa adalah satu dengan alam semesta ini. Karena itu manusia akan mengalami kebahagiaan jika ia menyelaraskan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan. Kemerdekaan ialah sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia yang memberikan kepadanya hak untuk mengatur hidupnya sendiri (Zelfbeschikkingsrecht) dengan selalu mengingat syarat tertib damainya hidup bermasyarakat. Karena itu, kemerdekaan diri harus diartikan sebagai swadisiplin atas dasar nilai hidup yang luhur, baik hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan harus menjadi dasar untuk mengembangkan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana keseimbangan dan keselarasan dengan kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan ialah keharusan untuk memelihara nilai dan bentuk kebudayaan nasional. Dalam memelihara kebudayaan nasional itu yang pertama dan terutama ialah membawa kebudayaan nasional kearah kemajuan dunia. Untuk kepentingan hidup rakyat lahir dan batin sesuai dengan perkembangan alam dan zamannya. Kebangsaan ialah adanya rasa satu bangsa dalam suka dan duka, serta kehendak untuk mencapai kebahagiaan hidup lahir batin seluruh bangsa. Dasar kebangsaan tidak boleh bertentangan dengan dasar kemanusiaan, bahkan harus menjadi sifat, bentuk, dan laku kemanusiaan yang nyata, dan karena itu tidak mengandung rasa permusuhan terhadap bangsa-bangsa lain. Kemanusiaan ialah darma tiap manusia yang timbul dari keluhuran akal budinya. Keluhuran akal budi menimbulkan rasa dan laku cinta kasih terhadap sesama manusia dan terhadap makhluk Tuhan Yang Maha Esa seluruhnya, yang bersifat keyakinan akan adanya hukum kemajuan yang meliputi alam semesta. Karena itu, rasa dan laku cinta kasih harus tampak pula sebagai tekad untuk berjuang melawan segala sesuatu yang merintangi kemajuan yang selaras dengan kehendak alam.
Didalam Tamansiswa sendiri, sistem pengajaran pun dibuat lebih statis dengan memakai sistem among. Dan para pengajar dalam Tamansiswa disebut dengan sebutan pamong. Ini bertujuan supaya ada kedekatan emosional antara anak didik dengan pendidik. Sistem among sendiri berarti suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dengan adanya sistem among seperti ini, maka jelaslah bahwasannya fokus dalam pendidikan di Tamansiswa terletak pada sang anak didik (student centred) dimana didalam sistem ini menekankan pada perkembangan anak didik, bukan berdasarkan rancangan yang disusun oleh pendidik seperti yang sudah banyak terjadi sekarang. Jadi dengan adanya sistem among ini, kemampuan sang anak untuk mengembangkan potensi dirinya diserahkan kepada dirinya sendiri dan pendidik bertugas menjadi pembimbing yang akan mengingatkan anak didiknya bilamana terjadi kekeliruan dan kesalahn. Bukan sebagai monster yang akan memasksakan kehendak kepadaanak didik. Sehingga dengan sistem among seperti ini, output yang dihasilkan ialah manusia yang benar-benar merdeka. Tidak hanya melek hurup, tapi juga melek terhadap realita yang ada. Tidak hanya pandai mambaca aksara, tapi juga pandai membaca gambaran bangsanya kedepan yang lebih baik.

Melki AS
Continue Reading...

Mengenang Kepahlawanan dan Keteladanan KI HADJAR DEWANTARA (1)


Bulan juli merupakan moment yang bersejarah bagi keluarga tamansiswa dimana bulan ini adalah bulan kelahiran daripada tamansiswa yang semuala bernama institut tamansiswa. Sebagaimana mengenang bulan ini sebagai hari kelahiran tamansiswa, tentunya kita akan teringat dengan seorang tokoh besar, pahlawan nasional pendiri tamansiswa dan juga bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hari kelahirnya inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Melihat namanya yang begitu kental dengan nuansa jawa, Ki Hadjar Dewantara merupakan orang dalam yang berasal dari keturunan keluarga kraton Yogyakarta. Ki Hadjar merupakan cucu langsung dari Paku Alam ke III. Ada alasan yang menjadikan Soewardi Soeryaningrat mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara yaitu supaya beliau dekat dengan masyarakat baik secara fisik maupun batin.
Semasa kecil Soewardi selalu dihadapkan dengan keadaan bangsa yag tidak pernah harmonis dan selalu terjajah. Sehingga dari sanalah Soewardi berusaha membebaskan rakyat dari segala bentuk penjajahan. Setelah menamatkan sekolah di ELS (sekolah dasar belanda), kemudian beliau melanjutkannya ke sekolah kedokteran bumiputera STOVIA. Tapi sayang, disekolah ini karena kondisi badan yang tidak memungkinkan, Soewardi terpaksa harus berhenti. Setelah itu, dengan dibekali kemampuan jurnalistik, beliau mulai mengembangkan bakatnya itu dengan menulis artikel dan menjadi wartawan di surat kabar Sedyatomo, de ekpres, pusara dan lain-lain. Tidak hanya itu, selain menjadi wartawan Soewardi muda juga sudah berkecimpung dalam dunia politik dengan menjabat seksi propoganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.
Mereka bertiga dengan semangat yang menggebu untuk nasionalisme kemudian berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda. Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra ini melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Soewardi dengan tulisannya langsung mengkritik pemerintah kolonial belanda dengan tulisan yang tajam dan pedas berjudul andai aku seorang belanda yang isinya mengecam daripada perbuatan belanda yang memaksa dan memeras rakyat demi membiayai kepentingan mereka. Dan tulisan itu di muat dalam surat kabar de ekpress. "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu”. Begitulah, pesan singkat dan halus yang dilancarkan Soewardi terhadap belanda. Dibalik halus dan sopan dalam penyampaian tersebut, tersirat dengan keras dan tajam memukul pihak belanda sehingga Soewardi harus menerima sebuah hukuman yang sangat tidak adil. Menurutnya, dengan diselenggarakannya perayaan itu membuktikan bahwa bangsa indonesia tidak lain hanya pantas menjadi budak semata. Padahal bangsa Indonesia mempunyai harga diri dan sangat menjunjung semangat nasionalisme. Semangat untuk berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) tanpa tekanan dari pihak manapun. ”Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun".
Dengan dilancarkannya tulisan seperti itulah akhirnya membawa Soewardi kedalam sebuah hukuman yaitu pembuangan. Dimana dengan terbitnya tulisan itu, Soewardi terpaksa harus menjauh dari tanah jawa dan diasingkan ke pulau bangka. Merasakan ketidak adilan yang diterima rekan seperjuangannya, Dowwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo akhirnya juga menerbitkan tulisan senada yang sama-sama mengecam kelakuan Belanda terhadap bangsa Indonesia dan juga mengecam kelakuan Belanda terhadap Soewardi. Tapi karena itu juga, mereka berdua pun juga menjalani hukuman yang sama tapi tempat berbeda. Setelah menjalanai proses hukum, ketiganya berniat untuk diasingkan ke satu tempat untuk banyak belajar yaitu ke negeri Belanda. Kesempatan di negeri itu dipergunakan Soewardi dan kawan-kawan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga setelah beberapa lama mendalami ilmu disana, beliau akhirnyya berhasil memperoleh Europeesche Akte dan kemudian kembali ke tanah air di tahun 1918. Sekembalinya Soewardi ketanah air , beliau mencurahkan perhatiannya ke dalam bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. disinilah pula beliau mulai mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara (KHD). Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Pendidikan tamansiswa dimakdsudkannya sebagai upaya untuk menciptakan manusia yang merdeka baik lahir maupun batinnya. Merdeka secara lahir bermaksud bebas tanpa ada penindasan dan penjajahan dan merdeka secara batin bermaksud bebas dari segala bentuk tekanan.
Tapi lagi-lagi hambatan demi hambatan selalu saja merintangi perjalaan KHD. Tidak hanya sebelum ia kembali ketanah air dan mendirikan partai politik, setelah mendirikan Tamansiswa pun, beliau masih terkena hambatan lainnya. Berdirinya Tamansiswa sebagai sekolah rakyat kontan tidak membuat pemerintah koonial Belanda senang. Malahan kolonial Belanda menganggap Tamansiswa sebagai ancaman terhadap mereka sehingga pada tanggal 1 oktober 1931, pemerintan kolonial Belanda mengeluarkan undang-undang sekolah liar yang dikenal dengan nama ordonansi sekolah liar. Tamansiswa dianggap dapat mengganggu stabilitas dari pemerintahan kolonial mereka. Inilah yang membuktikan bahwasannya bangsa Belanda waktu itu betul-betul ingin menyerap habis Indonesia sampai ke tulang-tulangnya. Setelah mematahkan perlawanan lewat pergerakan, sistem pendidikannyapun ingin dipatahkan supaya bangsa ini tetap bodoh dan mudah untuk dikendalikan mereka. Tapi berkat kegigihan KHD mempertahankan Tamansiswa, akhirnya ordonansi sekolah liar itupun berhasil dicabut.
Setelah ordonansi sekolah liar itu dicabut, kegiatan-kegiatan didalam Tamansiswa kembali berjalan normal. Sementara masih mengelolah Tamansiswa, KHD juga masih sering meluangkan waktunya untuk tetap menulis. Tapi corak dari pada tulisannya sedikit berubah menjadi pendidikan dan kebudayaan. Tapi tetap menekankan pada pemahaman nasionalistiknya. Pemahaman yang dikhusukan untuk selalu mencintai dan menyelamatkan bangsa ini. Indonesia. Bahkan melalui tulisan-tulisan yang dibuatnya, KHD berhasil meletakkan dasar-dasar dari pendidikan nasional bangsa ini.
Berkat kegigihannya dalam memajukan dunia pendidikan di tanah air, setelah Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya, atas jasa-jasanya dalam memajukan pendidikan dan kebudayaan tanah air, pada tahun 1957 KHD di hadiahi gelar kehormatan yaitu Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada. Dan lewat surat keputusan presiden nomor 305 tahun 1959, KHD diitetapkan sebagai pahlawan nasional pergerakan Indonesia. Tepatnya tanggal 28 November 1959. Hari kelahirannya pun 2 Mei juga menjadi peringatan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Dan Ki Hadjar Dewantara sendiri dalam perjalannya juga pernah dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan Indonesia yang pertama. Tapi sayang, belum lama Ki Hadjar mendapat penghargaan tersebut, dua tahun setelah itu, tanggal 28 April 1959 Ki Hadjar Dewantara menghaadap sang illahi. Tapi walaupun Ki Hadjar Dewantar sudah tidak ada lagi, tapi semangat dan cita-cita beliau masih terjaga dan harus selalu dilestarikan supaya tercipta atmosfir yang selalu positif dan benar-benar menghindarkan bangsa ini dari kekacauan dan intervensi bangsa asing. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa) dan ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Itulah peninggalan dari Ki Hadjar Dewantara yang selalu dan harus diamalkan bangsa ini supaya bisa terus maju kedepan.

Melki AS
Continue Reading...

Featured

 

BIDADARI KECILKU

BIDADARI KECILKU

EKSPRESI

EKSPRESI

Once Time Ago

Once Time Ago

Aspiratif CyberMedia Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template