Pages

Catatan Dari Bumi Dewata; Ciwidey


Mungkin ini mula perjalanan yang melelahkan dari Yogyakarta menuju Bandung. Setelah berhari-hari melakukan penggalangan dana, akhirnya harapan yang di nanti sampai juga. Dengan tema “ Jawa Barat Menangis; Selamatkan Mereka “, perjalanan dimulai meski tanpa persiapan yang berarti. Hanya bermodalkan semangat, sedikit bekal untuk mengganjal perut dan beberapa potong pakaian, rombongan relawan pun meluncur.

Menuju Bandung; Paris Van Java

Mendung mulai menggelayut di taman langit, ketika rombongan akan memulai perjalanan. Tampak awan menghitam mulai berselimut dengan perlahan tapi pasti. ‘Mendung tak berarti akan turun hujan’ kata sebuah lagu, tetapi hari itu, mendung memang akan segera menumpahkan materialnya. Setelah mengurus segala hal terkait keberangkatan, dan memohon izin instansi, rombongan mulai berkemas-kemas. Dan setelah memastikan kendaraan yang akan membawa rombongan menuju Bandung, dengan hanya diantar oleh sesama mahasiswa, rombongan pun beranjak ke mobil dan langsung bergerak menuju tujuan.
Dalam perjalanan, tak banyak yang di bicarakan. Mungkin karena berangkatnya agak siang-an, jadi mulai terasa hasrat kantuk di setiap peserta. Hanya sesekali saja keluar celetukan-celetukan agak membanyol dari beberapa rekan. Ki Darso, sang supir, pun juga tak banyak bicara. Beliau terlihat fokus pada job diskription nya yaitu menyetir sampai ke tujuan. Meskipun mendung telah menebal, tetapi hujan belum tumpah. Setelah keluar dari Yogyakarta, gerimis mulai mengusik perjalanan ini. Perlahan tapi yakin, gerimis berubah menjadi hujan. Pelan. Pelan. Pelan. Dan kemudian menjadi deras. Sampai di Kebumen (salah satu kabupaten di Jawa Tengah), mentari juga enggan menemani dan memilih untuk bersembunyi di balik singasananya. Awan kemerahan mulai tampak sebagai penanda akan datangnya malam. Dari jauh, terdengar juga suara pengajian memanggil mengalun-alun dari beberapa masjid yang kami lalui.

‘ kira-kira kita akan makan dimana malam ini pak ‘ tanyaku pada Ki Darso.
‘ mungkin nanti di Karanganyar aja ‘ jawab Ki Darso datar
‘ tapi sepertinya sebentar lagi akan maghrib, bagaimana kalau kita mencari masjid dahulu, kemudian baru makan. Soalnya waktu magrib kan sangat singkat sekali ‘ tanyaku lagi.
‘ ya gak apa-apa, nanti kalau ada masjid kita akan rehat sejenak sambil menunaikan shalat ‘ jawab Ki Darso

Setelah beberapa waktu, suara azan tampak sudah memanggil. Beberapa kali sebenarnya masjid yang kami lalui terlewatkan. Sampai akhirnya di sebuah kota Banyumas, kami menemukan sebuah mushola kecil di pinggir jalan. Itu pun juga agak terlewatkan sedikit. Tetapi Ki Darso sesegera mungkin memutar balik mobil dan berhenti di mushola itu. Rombongan pun turun dan bersiap untuk berwudhu, pen-suci-an diri dalam tradisi islam sebelum menunaikan sholat. Di mushola kecil itu, tampak orang-orang sudah siap untuk melakukan sholat secara berjamaah. Disebelah kanan adalah tempat untuk laki-laki, dan disebelah kiri, dengan hanya bertutupkan sebuah tirai tipis, jamaah perempuan pun telah siap juga untuk melaksanakan sholat.



Setelah melepas sholat, kami pun kembali bergerak lagi. Sebelumnya, mobil yang membawa kami tidak ada kekurangan sesuatu apapun. Menurut Ki Darso, sebelum berangkat tadi, ban mobil sudah di ganti. Begitupun dengan oli dan sebagainya. Tetapi didalam perjalanan, ternyata lampu mobil untuk jarak pendek mendadak tidak berfungsi. Hanya lampu jarak jauh saja yang bisa menyala. Tampak Ki Darso berulang kali memindahkan dan mematikan lampu jarak jauh itu. Karena menurutnya, bisa saja lampu itu di nyalakan terus, tetapi kasihan dengan pengendara lainnya. Karena jarak sorotnya yang sangat jauh sehingga mungkin menyebabkan pengendara lain silau ketika berpapasan. Saya dan rombongan tidak mengerti akan hal ini. Mungkin ini hanya ada dalam kamus etika para supir.
Tidak berselang lama, kami berhenti di sebuah warung makan di pinggir jalan. Setelah memarkirkan mobil, rombongan turun dan Ki Darso juga kelihatan sedang memeriksa lampu mobil. Tidak lama, beliaupun juga masuk ke rumah makan itu. Satu persatu kami pun mengambil makan sesuai selera karena memang cacing didalam perut sudah berontak minta di isi lambungnya. Dan ketika usai menyeruput teh manis, kami pun kembali bergerak melaju. Selama dalam perjalanan, rombongan pun hening. Sempat saya bertanya kenapa tape mobilnya tidak di nyalakan. Tapi kata Ki Darso, suaranya sangat jelek. Jadi lebih baik tidak usah aja daripada mengganggu telinga. Tak banyak yang dapat kami lihat selama perjalanan itu karena memang tak banyak yang tampak. Itu karena keberangkatan kami sudah menjelang sore dan perjalanan ke Bandung lebih banyak di habiskan pada malam hari. Hanya hujan yang selalu setia menyertai perjalanan ini. Tiba-tiba, lampu jarak pendek mobil terganggu lagi. Kembali akhirnya Ki Darso memarkirkan mobil ke pinggiran untuk mengecek nya lagi. Setelah di coba beberapa lama, menurut beliau tidak ada masalah dengan saklar/sekring nya. Cuma beliau juga tidak tahu kenapa lampu jarak pendek itu bisa tidak berfungsi. Saya pun sempat menyaksikan ada beberapa sekring yang coba di uji cobakan Ki Darso. Dan semuanya terlihat menyala. Tetapi memang aneh kenapa lampu jarak pendek itu tidak mau menyala. Sampai akhirnya dengan sebuah obeng kecil, Ki Darso memutar sekrup di dekat lampu itu. Dan setelah menurunkan jarak pancaran lampu yang jauh menjadi pendek, kami kembali berangkat.



Malam semakin pekat ketika mobil terus meluncur. Sesekali terlihat segerombolan orang duduk atau kongkow-kongkow di pinggir jalan atau di warung-warung. Rombongan tampaknya tak kuasa menahan kantuk dan ada beberapa rekan yang akhirnya tertidur. Hanya saya, supir dan seorang teman yang duduk di sampingnya yang masih melek. Perjalanan ini memang melelahkan sekaligus mengasyikan. Disuatu simpang, kami di bingungkan dengan rambu alternatif yang tulisan simbolnya seperti terkikis. Mungkin ini ulah tangan yang tidak bertanggungjawab yang coba ingin menyesatkan pengendara. Tapi berbekal pengalam sedikit (maklum beberapa dari kami berasal dari sumatera, jadi sedikit hapal jalan yang biasa di lalui), akhirnya kami mengambil jalur umumnya yang biasa di gunakan. Kira-kira pukul setengah tiga dini hari (02.30 WIB), kami mulai memasuki pinggiran Bandung. Mobil semakin bertambah kecepatannya karena masuk jalan tol. Dan setelah sedikit mengingat dimana kami akan bersinggah, kemudian kami mengambil jalur Bandung kota. Setelah melewati gerbang tol, ternyata kamipun sempat bingung dan mencoba bertanya dengan beberapa supir taksi. Dengan gaya penjelajah jalanan, kami di instruksikan untuk mengambil jalan ke DAGO. Begitupun ketika kembali kami bertanya dengan salah seorang pekerja warnet, beliaupun menunjuk Dago juga. Didalam perjalanan, tampak banyak waria sedang beraksi. Sekilas terlihat seperti cewek betulan dan ternyata setelah diamati dan gaya nyeleneh yang mereka tunjukan, kami sadar bahwa yang sedang berkeliaran di jalan itu adalah waria. Kami pun tertawa terbahak menyaksikan hal itu. Maklum, bukannya mengejek, tapi karena lucu aja melihat eksen nyentriknya itu. Dan setelah sampai di Dago, kami pun kembali menanyakan alamat yang di berikan untuk tempat persinggahan. Anehnya keterangan dari beberapa penjual dan pembeli sebuah warung koboi pinggir jalan, menunjukan hal yang berbeda dari yang ditunjukan oleh penjelajah jalanan dan penjelajah dunia maya tadi. Malah menurutnya kami telah tersalahkan oleh mereka, yang seharusnya berbeda tikungan yang harus kami ambil. Akhirnya Ki Darso kembali memutar arah mobil menuju yang di instruksikan oleh pedagang tadi itu. Dan setelah mengikuti peta tulisan yang di beri oleh salah seorang sahabat di Bandung, akhirnya sampai juga kami di persinggahan sementara tersebut. Waktu saat itu menunjukan pukul 04.00 WIB. Dari luar gerbang terlihat tulisan besar berwarna merah, TAMAN SISWA BANDUNG. Disitulah akhirnya kami berlabuh sejenak. Didalam kami langsung disambut oleh pamong (guru sekolah tersebut). Mereka antara lain Ki Bardi dan Ki Beni. Setelah mobil masuk pekarangan, rombongan bergegas turun dan menyalami pamong pamong tersebut sambil berkenalan. Sambutan hangat juga di tunjukan oleh mereka. Tanpa membuang waktu, saya dan para pamong tersebut sedikit berdiskusi mengenai teknis penyaluran bantuan yang akan di salurkan tersebut. Kami mulai membahas dari soal efektivitas mobil, barang yang akan di beli, sampai navigator ke lokasi bencana langsung. Tak terasa waktu menunjukan pukul setengah enam pagi (05.30 WIB). Setelah selesai membahas teknis itu, saya pun akhirnya melepas lelah sejenak di dalam mobil, karena tidak berselang lama, ternyata anak anak sekolah sudah mulai berdatangan. Kemudian, rombongan pun memutuskan untuk bangun, mandi dan memulai lagi perjalanan.



Ciwidey; Kabupaten di Selatan Kota Bandung

Jam menunjukan pukul tujuh pagi (07.00 WIB) ketika kami bergegas mandi dan bersiap di ruang tunggu kantor Taman Siswa Majelis Cabang Bandung tersebut. Setelah selesai semuanya, kami di hidangkan teh hangat dan beberapa kue kecil penganjal perut sebelum perjalanan di mulai. Satu persatu para pejabat Tamansiswa maupun pamong masuk dan menyalami kami. Sambutan mereka juga hangat dan ramah. Salah satu diantara mereka adalah Ki Tono, yang nanti meminjamkan mobilnya sekaligus men-supir-i-nya untuk menuju Ciwidey. Tanpa membuang-buang waktu, kami langsung bergegas setelah selesai menyeruput teh hangat dan beberapa kue tadi. Mobil pertama (Taff kepunyaan Ki Tono dna dengan di bantu Ki Bardi) meluncur lebih awal karena akan membeli beberapa keperluan yang untuk di salurkan. Setelah itu, kami dengan Ki Darso pun menyusul dengan menempatkan Ki Beni sebagai navigatornya. Di pasar Bandung, berbagai keperluan kami naikan ke mobil diantaranya Mie Instan, dan beras. Setelah selesai membeli keperluan itu, kami mantap meluncur menuju Ciwidey. Perjalanan dari kota Bandung menuju Ciwidey berselang dua jam saja. Sebelum masuk Ciwidey, kami menyempatkan untuk makan pagi disalah satu rumah makan Padang. Mobil pertama (Taff) sudah sampai duluan disana, sementara mobil kedua bersama Ki Darso, kami sempat berhenti sejenak untuk mengganti ban yang pecah. Untunglah Ki Darso membawa ban cadangan. Ban itupun dipasang dan kembali menyusul mobil pertama sambil mencari tempat penambalan. Mobil akhirnya kami pakir di salah satu SPBU didekat sana dan kami menyusul ke warung ke tempat mobil pertama berhenti. Selesai makan dan mengganti ban dalam mobil kedua, kami melanjutkan perjalanan. Disalah satu pasar di Ciwidey, kami juga menambah pembelian keperluan karena memang masih ada sisa uang yang belum di belikan. Disana terbesit di benak kenapa kita tidak membeli buku tulis. Bukankah itu akan sangat berguna untuk anak-anak di Ciwidey yang mungkin banyak buku-buku tulis mereka yang tidak bisa di gunakan lagi pasca bencana. Akhirnya buku juga menjadi salah satu barang yang kami beli untuk disalurkan juga selain gula, kopi dan lain-lain.
Jalanan di kota Ciwidey sangat mulus sehingga perjalanan terlihat lancar dan nyaman. Sampai di perempatan sebelum menajak, jalanan mulai mengecil dan hanya bisa di lalui oleh 2 mobil saja. Itupun kalau sedang berpapasan, kedua mobil harus menyerempet sampai ke tepian. Hawa dingin mulai merasuk ke sela-sela tubuh ketika mobil menanjak terus. Di sana sini terlihat berbagai pangkalan ojek yang seperti nya juga menjadi salah satu alat transportasi umum masyarakat kota kecil pekampungan Bandung Selatan itu.. Jalanan yang tadi mulus, mulai berubah menjadi jalan biasa se-ada-nya. Lubang-lubang kecil sudah mulai mengusik mobil yang tanpa sengaja rombongan pun harus mendesah dan ter lompat-lompat ketika salah satu ban mobil terperosok melewati lubang. Rumah penduduk masih terlihat masih berjejer-jejer dan suasana pedesaan mulai kental terasa. Sana sini mulai terlihat pekarangan-pekarangan yang di hias dengan jenis tumbuhan khas daerah dingin seperti stroberi dan kol. Hanya saja stroberi itu di budidayakan. Terlihat dari tanaman yang hampir ke semuanya tidak langsung di tanam di tanah, melainkan di dalam poliberk (sejenis pot untuk menanam sesuatu, tapi terbuat dari kantong plastik). Ini sama hal nya ketika kita berkunujung di sebelah berlawanannya, ya, Lembang, sebelah utara Bandung yang juga merupakan pegunungan dan ber hawa kan dingin juga. Sama persis; jenis tumbuhan yang di budidayakan masyarakatnya.
Sepanjang jalan, perkampungan-perkampungan yang tadi biasa di saksikan, sudah mulai tergantikan dengan hutan. Perkampungan sudah mulai berjarak yang antara kampung satu dan kampung lainnya terpisahkan oleh alam. Cuaca dingin terus merasuk ke dalam sukma. Tulang-tulang mulai mengilu, graham pun mulai menggeretar. Satu dua orang peserta rombongan mulai menebalkan pakaian untuk mengantisipasi kedinginan. Saya pun sangat merasakan dingin itu. Kantong kemih di perut rasanya sudah berisi dan ingin minta di muntahkan. Cuma kalau hanya untuk berhenti hanya sekedar membuangnya, sangtlah tanggung sekali. Jadi saya pun memilih untuk menahannya sampai ada tempat pemberhentian. Sepanjang jalan juga, mobil semakin menanjak terus. Kegesitan supir terlihat sangat berhati-hati. Ki Darso terlihat sangat menjaga stir nya supaya jangan sampai terjadi apa-apa dengan perjalanan ini. Begitupun juga dengan Mobil Taff didepan. Cuma karena Taff memang spesialis untuk jalanan seperti itu dan supirnya menguasai medan, jadi tidak terlampau di khawatirkan. Berulang-ulang kali juga Ki Darso me megal-megolkan (membanting-banting stir dengan tak beraturan) mobil karena memang menghindari lubang-lubang. Jalanannya juga tidak hanya berlubang lagi. Semakin menanjak, jalanan berubah menjadi kerikil-kerikil berselimut pasir-pasir.
Mobil kami dan rombongan terus saja menanjak tanpa mengenal ampun. Cuma ‘speed’ nya saja yang di kurangi. Sangatlah tidak mungkin mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dalam posisi menanjak, berbatu-batu kerikil campur pasir, jalanan yang sempit serta terkadang jurang-jurang dan tebing di pinggirnya. Kira-kira sekitar dua (2) jam-an menanjak, kami sudah melihat tanda-tanda tempat yang dituju. Diantaranya seperti yang biasa di beritakan di televisi, didengar di radio ataupun di tuliskan di koran. Kalau tadi biasa kami melihat perkampungan walaupun berjarak-jarak di dalam perjalanan, kini, kami menyaksikan hamparan hutan-hutan yang menghijau di pinggir-pinggir tetebingan (semacam gunung, tapi saya tidak bisa bersprekulasi apakah itu gunung, bukit atau hanya tebing biasa). Berulang kali juga kami seperti terhempas-hempas ketika kembali mobil terperosok melewati lubang. Sebenarnya sedikit menyebalkan, tetapi mau kata apa lagi. Itulah gambaran sebenarnya yang di saksikan dan di jalani. Ketabahan dan kesabaran memang harus di jaga karena kalau tidak, peserta rombongan pasti lebih baik memilih mundur dan kembali ke Bandung kota. Tapi alhamdullilah, kami tetap maju terus pantang pulang sebelum bantuan tersampaikan (mirip pemadam kebakaran, yang bersemboikan Pantang Pulang Sebelum Padam). Hujan pun mulai mengguyur jalanan. Sesekali airnya terpercik ke muka peserta rombongan. Meskipun sejelek apapun jalan dan medan yang dilalui, kami tetap bertekat kuat untuk harus sampai di tempat tujuan. Semakin menanjak, hawa dingin semakin mengganas merasuk jiwa. Mungkin sebagian kawan-kawan menyembunyikan persoalan yang sama dengan tidak mau membicarakannya (hasrat ingin kencing). Semua memilih untuk diam dan menerima saja keadaan dalam keterdesakan oleh karena isi mobil penuh dengan barang. Saya sendiri pun dari Ciwidey bawah sudah mulai mengangkang karena memang ada kardus besar tempat buku-buku di depan tempat duduk. Jadi mau tidak mau itu harus di jalani. Persoalan hasrat tadi, di tahankan saja lah. Cuma satu kekhawatiran bahwa jangan sampai ketika terloncat-loncat, terjadi sesuatu yang tak di sengaja (maaf; terkencing). Tapi syukur, itu tidak terjadi. Bisa bayangkan kalau itu sempat terjadi. He..he..
Sesekali dalam perjalanan, rombongan menyanyi untuk mengusir kebosanan. Beragam lagu di lantunkan, mulai dari yang lawas sampai yang terbaru. Tetapi tetap ada juga peserta yang hanya diam. Didalam perjalanan ini hamparan tanaman teh yang menghijau menjadi pemandangan utama di tengah rintiknya hujan. Tetapi satu hal yang sangat kami senangi adalah menghirup udaranya yang terasa sekali kesegarannya. Berbeda dengan menghirup nafas di Yogya ataupun ketika di Kota Bandung. Disini terasa kelegaan dan kejernihan udara yang di tawarkan alamnya yang menghijau. Sesekali juga kami menyaksikan keindahan alamnya. Kami kadang menyaksikan suasana di atas yang harus kami tempuhi dan juga kadang melihat suasana di bawah yang sudah terlewati. Hampir semua yang kami saksikan terselimuti oleh embun yang memutih. Kaca mobil yang coba saya pegang ternyata sangat dingin sekali bak terkena es Semuanya terasa elok sekali. Bak perawan, Ciwidey hampir belum tersentuh polusi. Bahkan boleh di bilang, Ciwidey adalah taman firdaus untuk hal penjagaan kotanya (Bandung yang polusi udara nya sangat tinggi, sementara Ciwidey adalah saringan dari polusi yang mengancam itu).
Setelah agak lama menanjak dengan kondisi jalan yang begitu parahnya, akhirnya kami sampai juga di tempat pemberhentian. Kira-kira tempat itu merupakan puncaknya. Disana rombongan berhenti sejenak. Langit terlihat masih menghitam karena memang keadaan sedang hujan terus. Disekeliling kami terhampar perkebunan teh yang menghijau yang menyelimuti pegunungan. Saya masih teringat bahwa tempat kami berhenti itu merupakan pertigaan jalan yang disisi kirinya ada sebuah pos penjagaan dan halte tradisional yang terbuat dari bambu dan rumbia. (mungkin itu tempat pangkalan ojek dan sebagainya). Ada beberapa orang yang terlihat disana, salah satunya seperti penjaga dan lainnya lagi seorang penduduk yang berbaju tebal sambil bertutup diantara tengkuk dan kepalanya. Karena memang sedari tadi menahan hasrat ingin kencing, saya dan beberapa rekan akhirnya mencari tempat pelepasan yang ideal. Tapi mau dimana di tempat seperti itu. Yang ada hanya hutan dan akhirnya pinggiran hutan lah yang jadi tempatnya. Lega terasa setelah beban diri telah di habiskan. Salah seorang rekan perempuan ternyata juga sama keadaannya tadi; menanggung beban diri juga. Tetapi kami bingung, karena sensitivitas perempuan sangat jauh berbeda dengan lelaki yang bisa kencing dimanapun. Sempat kami menggoda untuk menunduk di semak saja, tetapi beliau tetap ngotot mencari toilet atau sejenisnya. Tapi memang disana tolietnya adalah alam, jadi terpaksa dia tetap menahannya sampai perjalanan berikutnya kelak.
Sebelumnya saya mengira (karena seperti yang disaksikan di televisi) perkebunan teh tersebut adalah lokasi terjadinya longsor di Ciwidey yang banyak menelan korban jiwa itu. Tapi ternyata salah. Karena menurut bapak penjaga dan temannya tadi bahwa lokasi bencana itu terjadi di lokasi perkebunan teh DEWATA dan masih jauh turun lagi kebawah sekitar 15 kilometer. Dan itu bisa di tempuh sekitar dua jam perjalanan lagi. Saya sontak kaget. Masa sih masih harus menempuh perjalanan selama itu !!. Tapi mau tidak mau, memang ditempat yang di beritahu itulah tujuan kami, maka memang harus bersabar lagi. Itupun karena kondisi jalannya yang lebih parah lagi dari sebelumnya. Dan setelah rehat sejenak sambil menyaksikan langsung ‘surga’ nya Bandung tersebut, kami pun kembali berangkat. Hanya saja, kali ini kami membawa satu penumpang yang merupakan salah satu warga yang sekaligus akan mengantar langsung sampai ke tujuan. Akhirnya bertambah sesaklah mobil yang di tumpangi. Tapi demi tercapainya misi, itu tidak berarti apa-apa bagi kami. Justru kami sangat berterimakasih karena ada yang menawarkan dirinya untuk menemani perjalanan dan meng ‘kompas’ sampai ke lokasi bencana.



Dewata; Terselimut Zamrud, Terisolir Perkebunan

Sebenarnya sangat susah bagi saya untuk melukiskan suka duka menuju lokasi bencana. Perjalanan ini lebih rumit lagi dibanding perjalanan sebelumnya. Kecepatan kendaraan hampir sama seperti pejalan kaki. Entah mengapa medan kali ini lebih rumit lagi dibandingkan Lembang (utara Bandung yang juga pegunungan), saya sendiri tidak habis pikir. Disini jalannya lebih parah di bandingkan Lembang yang notabene jalanannya mulus. Apakah karena Lembang adalah tempat wisata yang sudah terkenal dari dahulu; karena disana ada Objek wisata Gunung Tangkuban Perahu yang sangat me-legenda, kebun strowberi serta pemandian air panas Sari Ater dan dilengkapi dengan berbagai penginapan seperti villa, cottage dan lain-lain. Sementara menuju Dewata, kondisi jalannya berbatu-batu runcing, diselimuti hutan belantara serta dihadang terjal tebing dan jurang. Untunglah sopir yang membawa kami tersebut sudah handal dalam hal seperti ini, sehingga tidak terlampau ada keluhan.
Dalam perjalanan menuju Dewata, dengan mata telanjang kami menyaksikan rindangnya pepohonan yang beriring layaknya zamrud. Memang rumit tetapi kami sangat menikmati sekali perjalanan ini. Keindahan alam dan orisinalitas nya membuat kami peserta rombongan tertegun, takjub, tidak menyangka kalau Bandung yang termasuk kota besar, padat dan banyak dikeluhkan ternyata masih menyimpan kekayaan yang tak ternilai; yaitu alam. Pemandangan itu terekam dengan sangat bagus di memori kepala. Bahkan beberapa rekan sempat bercanda ingin tinggal di sana. Karena tawaran ‘ cinta ’ nya memang sangat asri dan alami. Kami serasa sangat menyatu dengan alam. Sinar matahari susah di temukan disana karena memang terhalang oleh banyak nya pepohonan. Sepanjang perjalanan juga tak ada satu pun rumah penduduk. Ini beneran hutan belantara yang mengisolasi kampung Dewata dengan dunia luar. Tapi bukan berarti penduduk Dewata tidak bisa keluar. Mereka juga pernah keluar, cuma mungkin dengan cara berjalan kaki dan dengan mobil yang di sediakan oleh pihak perkebunan pada saat-saat tertentu.
Kalau perjalanan tadi banyak menanjaknya, sekarang perjalanan kami hampir semuanya menurun/turunan terus. Sesekali kami berpapasan dengan truk-truk yang kemungkinan juga membawa pasokan perbekalan untuk korban bencana. Dikanan kiri jalan kami juga menyaksikan adanya bantuan dari berbagai pihak seperti tiang beton pemancang listrik dan lain-lain. Sepanjang jalan juga banyak yang bisa kami lihat dan kami kagumi. Entah kenapa ada burung merpati dijalanan yang saya kira mungkin peliharaan para penduduk, tetapi menurut bapak yang asli Ciwidey tersebut bahwa itu adalah merpati liar saja. Dan itu banyak disini, tidak hanya merpati tapi juga burung-burung lainnya. Ada juga pemandangan lainnya yang sempat kami lihat seperti air terjun kecil yang kalau bisa di sentuh dan di rasakan, mungkin sangat dingin sekali. Terbesit hasrat dalam hati kalau seandainya dalam perjalanan pulang nanti, kami akan berhenti sejenak untuk mengabadikannya. Tapi seperti nya itu tak mungkin, karena perjalanan menuju lokasi bencana sudah sore, apalagi pulang nanti, pastilah malam hari.
Satu jam berlalu, lokasi tujuan belum juga sampai. Jalan berkelok semakin menambah panjangnya perjalanan ini. Tapi agak sedikit berbeda, kami sekarang berganti melewati lokasi perkebunan. Hamparan tanaman teh yang melingkari alamnya bak cincin itu terus menjadi sumber pemandangan. Bayangkan saja, hampir di tiap tanah, di lekukan tanah maupun di jurang2nya, semuanya penuh dengan tanaman hijau berdaun kecil berbatang pendek itu. Ini mungkin pemandangan yang sangat jarang sekali di saksikan. Buruknya jalan seolah tak terhirukan dengan keindahan yang di bentangkan lewat lembar tanahnya. Jalannya pun melingkar-lingkar, naik turun persis seperti ular yang sedang merayap. Bak sebuah legenda, Ciwidey merupakan bentuk sempurna penggambaran surga yang hilang. Kalau kita biasa melihat film yang menampilkan slide tentang hilangnya sebuah masa kurun tertentu, ataupun tempat yang sudah tidak pernah di jumpai tetapi di tampilkan menjadi ada, nah Ciwidey adalah keindahan yang hilang yang benar-benar nyata.
Gerimis hujan tak jua berhenti selama perjalanan ini. Seolah menyampaikan pesan bahwa alam pun menangis melihat bencana yang menimpa Ciwidey. Sejenak melihat lokasi alamnya yang bertebing-tebing, terbayang betapa berbahaya nya kalau hujan terus mengguyur. Kejadian seperti longsor mungkin saja membayang-bayangi setiap malamnya. Tiba-tiba setelah cukup melelahkan dalam menuju lokasi, penumpang yang sekaligus navigator kami ke lokasi bencana, menunjuk sesuatu tempat yang agak jauhan. Tapi terlihat ada sebagian lembaran permukaan tanah yang memerah. Ini berlainan dengan lainnya yang semuanya menghijau. Setelah kami menanyakan itu, beliau menjawab bahwa disanalah tempat terjadinya longsor itu. Kami pun tercengang, walaupun belum bisa menyaksikan lokasi itu secara lanmgsung di tempat kejadian. Di puncak-puncak bebukitan terlihat embun hampir menyelimutu seluruh dari lokasi pegunungan. Terbayang betapa dinginnya malam di lokasi ini. Kalau tidak memakai pakaian tebal seperti jaket atu sweater, mungkin kita tidak akan tahan, selain penduduk yang sudah terbiasa.



Jerit Dewata; Benarkah Bencana Alam atau Human Error..??

Bukit memerah yang kami lihat dari atas mobil tadi adalah bagian tanah yang terkoyak karena terjadi longsor. Berita itu telah kami terima beberapa minggu yang lalu lewat televisi dan surat kabar. Di dalam pemberitaan, di kabarkan bahwa telah terjadi bencana alam yaitu longsor di salah satu perkebunan teh yang menelan puluhan nyawa. Tapi sebentar lagi kami akan melihat langsung keadaan sebenarnya dan memberikan secara langsung bantuan yang tidak seberapa jumlahnya. Memang masih sedikit agak jauh, tapi setidaknya cukup membuat kami lega karena sebentar lagi kami akan sampai di lokasi tujuan. Memasuki pukul tiga sore (15.30 WIB), mobil yang membawa kami semakin mendekat. Bahkan kami sudah bisa menyaksikan tenda-tenda pengungsi yang berjejer di salah satu lahan kosong di daerah yang agak jauh dari lokasi longsor. Karena menurut penumpang tadi bahwa lokasi sudah dikosongkan dan semua penduduk yang selamat di ungsikan di arel ge lima (G5). Saya tidak tahu artinya G5 yang dia maksud. Begitupun dengan rekan-rekan lainnya.
Setelah melewati turunan terakhir, akhirnya kami benar-benar sampai di lokasi pengungsian tersebut. Dan kami berhenti kemudian disambut beberapa orang atau mungkin petugas yang berjaga dengan lokasi tersebut. Sambutannya juga hangat meskipun gerimis masih merintik-rintik. Kami juga diminta untuk mengisi buku (sejenis buku tamu) dan saya akhirnya memberikan tanda tangan menerangkan kedatangan dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Sebenarnya di mobil juga sudah ada tulisannya, tetapi lebih afdhol lagi ketika keterangan itu di bukukan dan disaksikan oleh berbagai kalangan. Tak membuang kesempatan, rekan cewek yang sedari tadi menahan hasrat ingin buang air kecil, dengan seketika langsung menuju toilet yang sedianya mungkin disiapkan relawan-relawan lainnya untuk setiap orang yang datang. Tak berapa lama terlihat kelegaan dari nya. Kami sempat berbincang-bincang seputar keadaan dan kejadian dan sempat juga menyaksikan penduduk yang selamat dari bencana itu. Banyak penduduk tua, muda, wanita, laki-laki, kecil maupun besar berjejer-jejer menyaksikan kedatangan kami. Relawan lainnya mengatakan bahwa sebenarnya lokasi itu masih menurun sekitar tiga (3) kilometer lagi dari daerah pengungsian ini. Didekat sana juga ada posko-posko bantuan yang di dirikan oleh berbagai relawan baik yang datang dari Bandung maupun dari tempat lainnya. Setelah selesai mengisi buku tamu dan sedikit beramah tamah dengan para relawan tadi, kami memutuskan untuk menuju posko tempat menyalurkan bantuan yang kami bawa. Tak lupa kami pun sempat mendokumentasikan semua keadaan dengan sebuah kamera digital yang di pinjam dari seorang teman di Yogya. Dengan sangat hati-hati semua kami rekam walaupun harus di guyur hujan. Saya mengambil gambarnya dan seorang teman lagi menutup atas kamera dengan sesuatu agar tidak terkena air. Selesai mendokumentasikan itu semua, kami kembali meluncur menuju posko.
Sekitar setengah jam lebih perjalanan, kami akhirnya sampai di posko-posko tersebut. Didahului mobil Taff dengan Ki Bardi dan Ki Tono, kami pun menyusul turun dan menyaru dengan para relawan yang sudah ada. Kami diterima dengan senang hati oleh perwakilan relawan. Yuda, salah seorang relawan dari Dompet Dhuafah Bandung menjelaskan pada kami bahwa mereka sudah berada di lokasi ini intens sejak bencana terjadi. Cuma memang sudah sore juga sampainya karena sudah agak terlambat mendengar kabarnya. Artinya sejak hari pertama kejadian sampai sekarang mereka sudah ada dan membantu menyelamatkan penduduk dan mencari korban yang masih hilang. Menurut tuturnya lagi kepada kami bahwa sudah ada 36 korban hilang yang sudah berhasil ditemukan dan semuanya sudah meninggal. Sekarang tinggal 9 orang lagi, tapi proses pencarian sudah di hentikan sejak selasa lalu. Hati bergetar mendengar penjelasan ini. Bayangkan longsor ini sampai menelan puluhan nyawa yang notabene adalah rakyat kecil pemetik teh yang tidak banyak neko-neko. Hidup mereka sudah susah dan sekarang bertambah susah. Kita mungkin masih ingat selarik puisinya Amir Hamzah yang sangat plastis memantulkan bunyi-bunyi yang mengerikan bahkan sejak dari konsonan dan aliterasi kata-kata yang dibariskannya: ”terban hujan, ungkai badai, terendam karam, runtuh ripuk tamanmu rampak.” Dan nun di sana tampak//Manusia kecil lintang pukang//lari terbang jatuh duduk//air naik tetap terus//tumbang bungkar pokok purba//Teriak riuh redam terbelam//dalam gagap gempita guruh//kilau kilat membelah gelap//Lidah api menjulang tinggi (Majalah Tempo Edisi 22, 24-30 Juli 2006)
Bersamaan dengan kedatangan kami di lokasi posko, secara kebetulan pula pengurus perkebunan datang dengan tim ahlinya, ahli Geologi dan ahli Sipil. Tim ahli geologi kemudian menerangkan dengan semuanya termasuk kami bahwa sebenarnya bencana alam longsor di perkebunan Dewata Ciwidey ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bahkan menurutnya itu sudah terjadi sejak zaman pendudukan Belanda. “ Sejarahnya longsor dimulai dari tebing longsoran (kurva) sejak dahulu. Itu bisa kita saksikan dalam peta buatan Belanda tahun 1933 dan tempat pemukiman itu, termasuk pabrik masuk dalam jalurnya” ungkapnya sambil memperlihatkan foto-foto lama terkait daerah dan bencana di lokasi ini. Dan menurutnya juga, terkait longsor ini, dua hari sebelum kejadian memang terjadi hujan lebat. Bencana longsor ini di mulai dari lahan hutan Hujan inilah yang menyebabkan banyak material masuk dalam aliran sungai kemudian menjadi lumpur dan menyeret yang dilaluinya sehingga volumenya semakin membesar. Inilah penyebabnya menurut beliau yang katanya berpotensi bahkan menjadi bencana di lokasi ini. Nah langkah untuk mengantisipasinya adalah dengan membuat hutan itu menjadi hutan kembali dan segera membuat tanggul-tanggul sebagai penahannya. Begitupun dengan ahli sipil, beliau juga mengatakan bahwa memang ada sedikit bahu jalan yang turun dari pasca kejadian ini. Dan untuk kembali memperlancar lalu lintasnya, maka itu harus di keruk dan airnya di alirkan ke bawah. Selesai para ahli ini memberikan keterangan, pihak pengurus perkebunan pun menjamin bahwa listrik sudah bias masuk minggu depan.
Kedatangan pengurus perkebunan dan tim ahlinya ini tidak begitu lama. Mungkin hanya berkisar sekitar 10 menit-an. Kemudian mereka pergi lagi menggunakan dua mobil. Dibenak saya mulai bertanya, mungkinkah bencana ini ada keterlibatan dan keteledoran dari manusia (human error). Semuanya menjadi gamang. Sebelum menurunkan bantuan ke posko yang telah tersedia, saya sempat bertanya dengan beberapa penduduk, relawan, dan semua orang yang ada disana. Pertanyaan yang sedikit menyentil tetapi bagi saya itu sangat relevan sekali mengingat saya tidak begitu yakin bahwa bencana ini murni adalah alam. Keragu-raguan itu antara lain perihal kenapa penduduk di ungsikan di lokasi G5. Beberapa relawan dan penduduk menanggapi bahwa tempat itu merupakan tempat yang paling aman baik dari longsor maupun banjir. Nah kejanggalan saya terhadap human error ini semakin menasarkan. Kalau memang disana adalah tempat teraman untuk penduduk, pertanyannya, kenapa tidak sedari dahulu perumahan atau desa yang dibangun pihak perusahaan perkebunan teh itu di buat disana. Apalagi, tim yang berkerjasama dengan pihak perusahaan telah mengakui bahwa bencana disana memang ada sejarahnya dan tempat lokasi perkampungan penduduk yang ada memang masuk dalam jalur nya bahkan itu di perkuat dengan data berupa peta lama.
Harusnya bencana ini menurut saya tidak akan terjadi, dan kalaupun terjadi, antisipasi korban tentunya bisa diatasi kalau seandainya pihak perusahaan tidak mengabaikan sejarah. Mungkin benar apa yang dikatakan Bung Karno, meskipun berbeda maksud dan tujuan; Jasmerah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Karena memang banyak seharusnya yang bisa kita pelajari dari sejarah dan harusnya mampu pula membuat antisipasinya sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi mau bagaimana lagi, bencana sudah terjadi, dan penduduk terlanjur menjadi korban. Sekarang yang bisa dilakukan adalah bagaimana menyelamatkan yang ada dan membuat antisipasi yang akan terjadi.
Hujan masih saja tidak mau berhenti meskipun telah ber jam-jam kami dilokasi tersebut. Meskipun tidak deras, justru hujan menjadi awet sekali dan menambah kedinginan para rombongan. Satu per satu rekan-rekan naik mobil kembali. Sebelum menurunkan bantuan, Yuda kembali menerangkan kepada kami bahwa lokasi longsor (tempat kejadian bencana) tidak begitu jauh dari posko tersebut. Mungkin sekitar berjarak 700 meter dari lokasi posko ini. Dan memang kelihatannya sudah sangat dekat sekali waktu saya amati dari lokasi itu. Tak lupa pula saya menanyakan pasokan makanan serta kesiapan tim pemulihan kesehatan baik fisik maupun psikis dari penduduk Dewata. Beliau pun menjawab bahwa kalau pasokan makan dapat tercukupi karena memang banyak bantuan yang sudah mengalir ke sini. Secara kesehatan pun, beliau mengungkapkan bahwa Dinas Kesehatan Bandung sudah stand by terus di lokasi. Tidak hanya itu, disana juga didirikan ‘Trauma Healing’, semacam tempat atau penyuluhan untuk memulihkan psikologis para penduduk yang trauma pasca kejadian. Mungkin sama dengan di Yogya, ketika terjadi gempa bumi tahun 2006 lalu. Disana juga ada pusat pemulihan psikis masyarakat dengan membuat dan mendirikan ‘Trauma Centre’.
Setelah mendengarkan penjelasan dari relawan tersebut, kami menurunkan semua barang yang ada didalam mobil. Satu persatu barang itu di pindahkan ke posko oleh seluruh rekan dan dibantu pula dengan relawan lainnya serta penduduk sekitar. Tak lupa, setelah selesai menurunkan seluru barang tersebut, kami berpose bersama sebagai kenangan dan dokumentasi untuk instansi yang melisensi perjalanan kami ini. Meskipun di tengah hujan, kami bergantian berfoto-foto. Dan setelahnya, dengan beberapa rekan saja, kami menuju lokasi tempat longsor terjadi. Dari sana kami harus turun kembali. Kami turun hanya dengan satu mobil saja, menggunakan Taff bersama Ki Tono. Lainnya menunggu sambil istirahat di tenda posko. Perjalanan ke lokasi langsung memakan waktu sekitar setengah jam. Didalam perjalanan, kami menyaksikan indahnya perkebunan teh yang membentang sepanjang gunung. Tidak berselang lama, kami sampai di lokasi. Tak ada kata yang bisa kami ucapkan selain menyebut kebesaran Tuhan. Beberapa rumah seperti yang kami lihat terhantam dan bahkan ada yang tenggelam dengan tanah. Air dingin masih mengalir di tengah-tengahnya. Perkampungan itu kosong melompong. Tak ada satu pun makhluk, selain 9 orang yang masih terkubur dan belum di temukan. Beberapa lokasi kami dokumentasikan dengan cermat. Tebingnya, aliran longsornya, rumah-rumah yang terbenam, ataupun yang yang sudah rusak karena di hantam badai tsunami tanah. Melihat ini semua mengingatkan saya pada Kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa, betapa mudahnya kalau Dia ingin sesuatu dan tanpa ada yang menghalangi.
Setelah selesai mendokumentasikan semuanya, kami pun akhirnya kembali pulang menuju posko dimana rekan-rekan lainnya sudah menunggu. Didalam perjalanan, sempat juga kami berpapasan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sedang mengambil gambar lokasi yang terkena bencana. Dalam perjalanan menuju posko, kami pun terbersit untuk megambil kenang-kenangan dengan berfoto di perkebunan teh tersebut. Kenapa kami menyempatkan untuk itu, karena memang kami terpukau akan keindahan alamnya yang benar-benar elok. Beberapa kali saya meminta Ki Tono untuk berhenti sejenak hanya untuk mengambil beberapa gambar bersama rekan-rekan. Beliau pun tidak keberatan dan mempersilahkan kami membuat kenangan.



Menuju Pulang; GoodBye Dewata, Rindukan Kami Kembali

Hari semakin sore, ketika kami sampai di posko. Dan tak berselang lama, kami pun berpamitan dengan para relawan dan penduduk untuk meluncur pulang kembali ke Bandung. Dan setelah selesai bersalam-salaman, kami akhirnya meninggalkan lokasi itu. Semua rekan merasa lega karena misi telah berhasil dilakukan. Didalam perjalanan pulang menuju Bandung, tak henti kami berucap syukur. Pemandangan indah yang pernah kami lihat di awal perjalanan tadi, sekarang mulai memudar dan lambat laun mengilang di telan kelam. Entah sugesti atau apa namanya, kami merasakan perjalanan pulang ini terasa begitu cepat. Soalnya tak berapa lama, kami sampai di pertigaan awal tempat kami berhenti dan menaikkan penumpang yang menjadi navigator tadi. Disini kami pun sempat juga berhenti sejenak. Kemudian kami meluncur karena hari sudah mulai malam.
Disepanjang perjalanan pulang, terkadang kami berdiskusi kecil-kecilan terkait bencana ini. Pertanyaan tadi belum sempat tertuntaskan; apakah ini murni kejadian alam atau human error. Tapi karena memang kecapekaan, diskusi tersebut tidak berlangsung lama dan kemudian rekan-rekan memilih untuk tidur. Sampai tak terasa kami keluar dari lokasi dan masuk ke jalanan yang kondisinya mulai mulus. Dan tak lama juga kami berhenti di rumah makan di pinggir jalan. Karena memang sangat lelah, capek, menguras tenaga dan lapar yang sangat selama perjalaan yang kami lakukan hari ini. Beberapa rekan coba dibangunkan untuk mengisi perut. Kami makan sepuasnya di warung itu. Kebetulan juga sepi, jadi kami memutuskan untuk sedikit lama beristirahat disana sambil minum-minum teh hangat asli Ciwidey. Setelah dirasa cukup, kami meluncur ke Bandung. Rekan rekan semenjak naik mobil sudah saya lihat memilih tidur semuanya. Kebetulan ada ruangan yang agak leluasa di mobil karena tidak memuat barang lagi, jadi tidur pun agak terasa nyaman. Saya pun tak ketinggalan, sehingga ketika bangun saya dan rombongan kaget karena sudah berada di pekarangan Tamansiswa Bandung. Dan kemudian kami bangun, mencuci muka lalu beristirahat sejenak. Sempat saya menanyakan dengan Ki Darso, kapan rencana pulang. Beliaupun kelihatannya lelah, tetapi beliau sanggup untuk pulang malam ini juga ke Yogyakarta. Akhirnya setelah dirasa mantap untuk pulang, kami akhirnya berpamitan dengan semua yang ada di Tamansiswa Bandung tersebut.
Perjalanan pulang ke Yogya ini sebelumnya akan bersama-sama dengan Ki Bardi karena beliau memang asli sana. Tetapi karena kecapekan, beliau memutuskan untuk belum berangkat. Tapi Ki Bardi dan Ki Tono menyempatkan mengantar kami keluar Bandung. Kebetulan juga ada seorang pamong yang akan menumpang ke Yogya. Jadilah kami bersama-sama dengannya. Waktu menunjukan pukul sebelas malam (23.00 WIB), ketika kami bersalaman dan tak lupa berterimakasih atas bantuan yang di berikan Tamansiswa Bandung selama disana. Kemudian, kami meluncur meninggalkan Bandung, Paris Van Java. Karena memang masih merasa capek dan lelah, kami akhirnya memilih untuk tidur. Sampai mobil berhenti di sebuah kota di Majalengka, Ki Darso sopir kami yang begitu tabah dalam mengantar kami, sempat membeli oleh-oleh untuk rekan-rekannya di Yogya. Sebenarnya kami pun ingin membawa oleh-oleh juga, tetapi karena tertidur semuanya dan hanya beberapa rekan yang bangun, tetapi malas sekali untuk turun, jadinya tidak sempat beli apapun. Sepanjang perjalanan ini, mobil meluncur dengan lancar dan cepat sekali. Sampai ketika mentari pagi menyembul ketika saya terbangun dan mobil berhenti di sebuah rumah makan di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Disini, sebelum makan saya menyempatkan mandi karena memang belum mandi dari kemarin. Jadinya badan agak sedikit lengket, bercampur gatel-gatel. Maklum, sampai di Bandung dari Ciwidey kemarin sudah tengah malam dan cuaca dingin, jadi saya memilih untuk tidak mandi. Disini, dengan senang sekali saya mandi sepuasnya, kemudian kami secara bersamaan dengan pak sopit dan semuanya makan sepuasnya. Rombongan tampaknya menikmati sekali ini, tapi mereka tidak ada yang mandi, hanya cuci muka seadanya saja. Selesai makan, kami berleha-leha sejenak. Menurut Ki Darso, untuk sampai ke Yogya, mungkin sekitar empat jam lagi. Artinya, sebelum waktu sholat jumat tiba, kami diperkirakan sudah sampai di Yogya. Dan benar, jam sebelas siang (13/03/2010-11.30 WIB), kami akhirnya sampai kembali di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa setelah sebelumnya pamong yang ikut bersama kami tadi turun di suatu tempat. Perasaan semakin lega setelah kami menginjakan kaki kembali di kampus tercinta. Dan setelah berterimakasih atas bantuan yang di berikan Ki Darso, kami pun berpamitan dengan beliau. Beliaupun juga merasa lega dan tak lama kemudian, beliau akhirnya kembali ke kampus pusat untuk melaporkan bahwa perjalanan telah selesai dan misi telah berhasil dilakukan. Alhamdulillah, akhirnya semua berjalan lancar meskipun banyak kendala juga yang kami hadapi. Semoga dari perjalanan ini banyak membawa hikmah bagi kita semua. (Perjalanan ini dilakukan dari hari Rabu sampai Jumat, Tanggal 10-13 Maret 2010)

Melki Hartomi AS
Continue Reading...

Bung Karno Seniman Teater


Soekarno remaja menyumpal dadanya dengan dua potong roti manis. Nah, sekarang dua potong roti itu disulapnya menjadi payudara palsu yang nemplok di dadanya. Dengan bedak, lipstick dan gaun yang dikenakannya, sekarang dirinya tampak bak gadis jelita. “Untung saja di adegan itu aku tidak perlu mencium laki-laki”, kenang Bung Karno.

Masih lekat di ingatannya tentang pentas tonil yang sering diadakannya dengan teman sekolahnya. Di jaman itu belum banyak perempuan yang bersekolah. Karena itu Soekarno remaja sering terpilih memerankan wanita di setiap pentas tonil. Itu karena wajah remajanya yang karena begitu tampannya, hingga terkesan ayu seperti perempuan.
Dari serangkaian pertunjukan di panggung tonil itu, Soekarno remaja termotivasi oleh komentar-komentar bahwa dia punya bakat untuk tampil di depan umum. Dari situlah titik tolak mulainya tumbuh rasa percaya dirinya untuk meyakinkan massa melalui pidato-pidatonya. Setelah pertunjukan tonil itu, dia mulai berani tampil dengan pidatonya yang pertama di depan sebuah studie-club. Ketika itu usianya masih 16 tahun.

Oh ya, bagaimana nasib roti manis yang disumpal di dadanya tadi? Soekarno ABG tidak mau membuang-buang uangnya begitu saja hanya untuk sebuah...eh dua buah payudara palsu. Jadi begitu pentas usai, dia tak perlu menunggu lama-lama. Roti itu langsung disikatnya ludes.

Bung Karno memang bukan cuma seorang pemikir dan negarawan. Dia juga dikenal sebagai seniman. Kita sudah banyak mendengar bakat lukis Soekarno. Kesenimanan Soekarno yang lain juga tampak di bidang teater. Bukan cuma sekedar pemain tonil. Bung Karno juga beberapa kali menjadi sutradara drama dan punya perkumpulan sandiwara.

Selain itu tercatat sejumlah naskah drama yang telah ditulisnya. Di pengasingannya di Ende dan Bengkulu, Bung Karno menulis beberapa naskah dan mementaskan pertunjukan drama. Dia tidak saja bertindak sebagai penulis naskah, tapi juga sebagai sutradara, memilih dan melatih pemain, mendekorasi panggung, sekaligus sebagai manajer dan marketing pertunjukan itu.

Penulisan naskah dan pertunjukan tonil yang diolahnya itu bukan sekedar untuk mengisi waktu luang karena hidup sebagai tahanan. Tapi memang Soekarno selalu berusaha menularkan ide-ide perjuangannya kepada rakyat, di manapun dia berada. Ide-ide kemerdekaan dan kepahlawanan itu ditularkannya melalui simbolisasi cerita-cerita dan pertunjukan tonil yang dipentaskannya.
Ketika Soekarno dibuang di Ende Flores, di jaman itu belum ada bioskop. Sehingga pertunjukan tonil Soekarno yang diadakan di pastoran di paroki Santa Maria Imaculata selalu dipadati pengunjung. Nama grup teater Bung Karno itu diberi nama oleh Ibu Inggit. Namanya toneel-club Kelimutu. Ibu Inggit memberi nama itu sesuai dengan nama danau tiga warna di Flores, danau Kelimutu. Karena Ibu Inggit sangat sering mengunjungi danau itu dengan Ratna Djuami, anak angkatnya bersama Asmara Hadi, guru bahasa Inggris Ratna (kelak menjadi suami Ratna Djuami).
Patut dicatat, Soekarno leluasa mengadakan pertunjukan di paroki yang berada satu kompleks dengan gereja Katolik itu, tak terlepas dari jasa seorang pastor Belanda, yaitu Pastor Huijtink. Dengan pastor ini Bung Karno bisa menghilangkan rasa frustrasinya selama berada di pengasingan. Sebelum diasingkan dia memang biasa berdebat dengan lawan diskusi sepadan, yaitu dengan para pemikir dan pemimpin perjuangan.

Tapi setelah di Ende, dia kehilangan teman-teman berdiskusi. Padahal diskusi selalu dibutuhkannya untuk tetap mengasah ide dan pemikirannya. Nah, dengan pastor Huijtink yang dinilainya bisa mengimbanginya itu, Bung Karno ketemu lawan diskusi yang gayeng.

Ada yang mencengangkan dari salah satu naskah tonil Bung Karno. Di satu naskah drama bertitel 1945 yang ditulisnya, Bung Karno seakan punya indra keenam. Karena di naskah itu dia sudah menulis kisah tentang Indonesia merdeka Agustus 1945. Padahal naskah itu ditulis sekitar tahun 1930-an.

Mimpi Soekarno tentang kemerdekaan tampaknya sudah menjadi obsesi di alam bawah sadarnya. Sebuah mimpi mulia yang tidak berhenti diperjuangkan, pada dasarnya adalah sebuah doa. Dan doa yang dilandasi tujuan luhur, dipercaya oleh setiap orang beriman, akan membuat doa itu terkabul.

Biarpun tumbuh sebagai Islam abangan, tapi Bung Karno itu religius. Sayangnya di masa Orde Baru, ada usaha menggiring opini publik. Yaitu Soekarno dikonotasikan dengan segala yang berbau komunisme. Gagasannya tentang Nasakom dan paham Marxisme yang mewarnai pemikirannya telah secara naif dan hantam kromo diberi label “komunis”. Kalau sudah begini, orang menjadi takut ngomong tentang Bung Karno. Siapa yang berani melawan tangan besi Orde Baru kalau sudah terkena cap komunis? Cap ini terkenal sebagai senjata pembunuhan karakter paling ampuh di masa pemerintahan Orde Baru.
Salah satu naskah drama Bung Karno yang berisi obsesinya tentang kemerdekaan Indonesia, adalah naskah berjudul “Dokter Setan”. Naskah ini diilhami oleh film Frankestein yang ketika itu sedang ngetop. Kisah itu bercerita tentang Dokter Marzuki yang mampu membangkitkan mayat dengan menggunakan mesin. Mayat itu disimbolkan oleh Soekarno sebagai Indonesia yang sedang berusaha dibangkitkan dari mati surinya. Metafora yang cocok dengan apa yang diperjuangkannya.

Tercatat sebanyak 12 naskah drama yang dibuatnya selama masa pembuangannya di Ende. Naskah-naskah itu tergolong sebagai situs Bung Karno. Disayangkan belum ada pengelolaan yang baik terhadap situs Bung Karno. Karena delapan di antara naskah itu dinyatakan hilang. Di antaranya naskah Dokter Setan tadi. Naskah lainnya yang dinyatakan hilang yaitu, Rahasia Kelimutu, Rendo, Jula Gubi, KutKutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit.

Di pembuangannya di Bengkulu, Bung Karno juga mendirikan perkumpulan sandiwara Monte Carlo. Sampai sekarang di bekas rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu masih bisa dilihat lemari berisi beberapa properti perkumpulan tonil peninggalan Bung Karno, misalnya layar panggung dan kostum pemain.
Bung Karno sangat serius mengelola perkumpulan sandiwaranya. Dia sangat memperhatikan semua unsur dramaturgi dalam setiap pertunjukannya. Setting, lighting, rias, kostum, bahkan pamflet yang bisa merangsang orang membeli karcis masuk, dibuatnya semenarik mungkin. Pernah juga ditulis, tentang bagaimana sebelum pentas Bung Karno mengarak para pemain tonil (juga pakai peran primadona) dengan mobil sewaan keliling kota, untuk membuat penonton semakin penasaran.

Dalam setiap naskahnya, selalu ada pesan moral yang ingin disampaikan Bung Karno. Misalnya dalam naskah “Rainbow”, yang disusunnya di Bengkulu. Di situ Bung Karno menekankan pentingnya suatu bangsa mempelajari sejarah agar bisa menata masa depan. Di kemudian hari kita mengenal ungkapan Bung Karno yang terkenal yaitu Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Pemahaman Bung Karno tentang dramaturgi, sedikit banyak mempengaruhi caranya mempresentasikan diri di pentas politik. Dia sadar benar, bahwa lampu sorot mengarah padanya sebagai pemimpin bangsa. Karena itu dia tahu betul bagaimana memukau publik. Baik dari segi bobot pidato, mimik wajah, bahasa tubuh, semuanya mampu dipersembahkannya dengan brilyan.
Pemilihan kostumnya sebagai presiden (plus tongkat komando) adalah hasil rancangan Bung Karno sendiri. Walau bukan militer, busana bergaya militer menjadi pilihannya. Wajah terangkat, dada tegap, cara berbicara penuh percaya diri, semua yang ditampilkannya nampak bagai presentasi unsur-unsur dramaturgi. Semua itu terasa dengan sadar ditampilkannya untuk memberi citra “harga diri” sebagai bangsa yang merdeka. Sekaligus ingin mengikis habis mental rendah diri yang masih tertanam di jutaan rakyatnya.

Penampilannya secara keseluruhan seakan kompensasi dari kemarahannya yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana bangsanya ditindas dan dihisap oleh kolonialisme selama ratusan tahun dan akhirnya menjadi lembek seperti “bangsa tempe” (ini istilah Bung Karno sendiri).
Penampilan Bung Karno di panggung politik semakin memukau juga karena ditunjang bakat alamnya. Yaitu kharismanya, kejeniusan- nya, bakat kepemimpi- nan disertai semangat perjuangan membara yang tampak dari sinar matanya bagai api menyala-nyala. Sinar matanya mampu menyihir jutaan rakyat untuk bangkit menolak penindasan kolonialisme.

Jangan sekal-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Karena itu sangat sayang jika naskah-naskah drama Bung Karno yang bernilai historis tinggi terkesan kurang dipublikasikan ke generasi muda. Naskah drama import, Macbeth dan King Lear karya William Shakespeare bisa menjadi legenda dan juga dikenal luas di Indonesia. Mengherankan, naskah-naskah tonil tokoh sepenting Bung Karno malah belum ada tanda-tanda akan dipublikasikan. Yang kedengaran malah “hasil pertapaan” Bung Karno selama di pengasingan itu hilang. Arsip sepenting itu kok bisa hilang?

Jika suatu bangsa kehilangan terlalu banyak mata rantai sejarah, maka bangsa itu akan kehilangan navigasi untuk mencari arah yang tepat. Selama lebih dari 30 tahun kita sudah terlalu sering dijejali sisi negatif Soekarno. Kita tidak perlu memuja Soekarno secara berlebihan, sehingga menjadi pemuja fanatik yang tidak bisa lagi menilai secara obyektif. Sebaliknya kita juga tidak perlu begitu tinggi hati sehingga “buang muka” terhadap sisi positif seseorang. Menempatkan sisi kepahlawanan seorang tokoh secara proporsional akan menghindarkan sikap pemujaan kultus individu.

Sesungguhnya sejarah tidak memberi pelajaran muluk-muluk tentang arti kehidupan. Karena sejarah yang tidak ditutup-tutupi adalah pelajaran kehidupan itu sendiri.

Walentina Waluyanti
Nederland (Belanda), 19 Februari 2010
(Dilansir dari http://kolomkita.detik.com)
Continue Reading...

Komunisme dan Pan – Islamisme


(PIDATO TAN MALAKA)


Kamerad! Setelah mendengar pidato-pidato Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan kamerad-kamerad Eropa lainnya, serta berkenaan dengan pentingnya, untuk kita di Timur juga, masalah front persatuan, saya pikir saya harus angkat bicara, atas nama Partai Komunis Jawa, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur.

Saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal tersebut. Mungkin Jenderal Zinoviev tidak memikirkan mengenai sebuah front persatuan di Jawa; mungkin front persatuan kita adalah sesuatu yang berbeda. Tetapi keputusan dari Kongres Komunis Internasional Kedua secara praktis berarti bahwa kita harus membentuk sebuah front persatuan dengan kubu nasionalisme revolusioner. Karena, seperti yang harus kita akui, pembentukan sebuah front bersatu juga perlu di negara kita, front persatuan kita tidak bisa dibentuk dengan kaum Sosial Demokrat tetapi harus dengan kaum nasionalis revolusioner. Namun taktik yang digunakan oleh kaum nasionalis seringkali berbeda dengan taktik kita; sebagai contoh, taktik pemboikotan dan perjuangan pembebasan kaum Muslim, Pan-Islamisme. Dua hal inilah yang secara khusus saya pertimbangkan, sehingga saya bertanya begini. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boikot atau tidak? Kedua, apakah kita akan mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Bila ya, seberapa jauh kita akan terlibat?

Metode boikot, harus saya akui, bukanlah sebuah metode Komunis, tapi hal itu adalah salah satu senjata paling tajam yang tersedia pada situasi penaklukan politik-militer di Timur. Dalam dua tahun terakhir kita telah menyaksikan keberhasilan aksi boikot rakyat Mesir 1919 melawan imperialisme Inggris, dan lagi boikot besar oleh Cina di akhir tahun 1919 dan awal tahun 1920. Gerakan boikot terbaru terjadi di India Inggris. Kita bisa melihat bahwa dalam beberapa tahun kedepan bentuk-bentuk pemboikotan lain akan digunakan di timur. Kita tahu bahwa ini bukan metode kita; ini adalah sebuah metode borjuis kecil, satu metode kepunyaan kaum borjuis nasionalis. Lebih jauh kita bisa mengatakan; bahwa pemboikotan berarti dukungan terhadap kapitalisme domestik; tetapi kita juga telah menyaksikan bahwa setelah gerakan boikot di India, kini ada 1800 pemimpin yang dipenjara, bahwa pemboikotan telah membangkitkan sebuah atmosfer yang sangat revolusioner, dan gerakan boikot ini telah memaksa pemerintahan Inggris untuk meminta bantuan militer kepada Jepang, untuk menjaga-jaga kalau gerakan ini akan berkembang menjadi sebuah pemeberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para pemimpin Mahommedan di India – Dr. Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara – pada kenyataannya adalah kaum nasionalis; kita tidak melihat sebuah pemberontakan ketika Gandhi dipenjara. Tapi rakyat di India sangat paham seperti halnya setiap kaum revolusioner disana: bahwa sebuah pemberontakan lokal hanya akan berahir dalam kekalahan, karena kita tidak punya senjata atau militer lainnya di sana, oleh karena itu masalah gerakan boikot akan, sekarang atau di hari depan, menjadi sebuah masalah yang mendesak bagi kita kaum Komunis. Baik di India maupun Jawa kita sadar bahwa banyak kaum Komunis yang cenderung ingin memproklamirkan sebuah gerakan boikot di Jawa, mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia telah lama dilupakan, atau mungkin ada semacam pelepasan mood Komunis yang besar di India yang bisa menentang semua gerakan. Bagaimanapun juga kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah kita akan mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita akan mendukung?

Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.

Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasii pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.

Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah. [Ketua: Waktu anda telah habis]

Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari .[Tepuk Tangan]

Para anggota Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut mereka, untuk menggunakan sebuah ekspresi yang popular, tetapi di hati mereka mereka masih bersama Sarekat Islam, dengan surga mereka. Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda kita lagi.

Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan kita dengan Sarekat Islam. Pada kongres kami bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Uni Soviet dan berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda mengenai agama mereka, mereka bisa melakukan ini, meskipun mereka tidak boleh melakukannya di dalam pertemuan-pertemuan tetapi di masjid-masjid.

Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim - ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim [Tepuk Tangan Meriah], karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! [Tepuk Tangan Meriah] Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami.

Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada bulan Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki pekerja kereta api di bawah kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu saja kami mendatangi mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah mengatakan bahwa di dunia ini pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! [Tepuk Tangan Meriah] Pekerja kereta api adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa]

Tapi ini tidak menyelesaikan masalah kita, jika kita pecah lagi dengan mereka kita bisa yakin bahwa para agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan argumen Pan-Islamisme mereka. Jadi masalah Pan-Islamisme adalah sebuah masalah yang sangat mendadak.

Tapi sekarang pertama-tama kita harus paham benar apa arti sesungguhnya dari kata Pan-Islamisme. Dulu, ini mempunyai sebuah makna historis dan berarti bahwa Islam harus menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan ini harus dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah [Pemimpin dari Negara Islam – Ed.], dan Sang Khalifah haruslah keturunan Arab. 400 tahun setelah meninggalnya Muhammad, kaum muslim terpisah menjadi tiga Negara besar dan oleh karena itu Perang Suci ini telah kehilangan arti pentingnya bagi semua dunia Islam. Hilang artinya bahwa, atas nama Tuhan, Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan dunia, karena Khalifah Spanyol mengatakan, aku adalah benar-benar Khalifah sesungguhnya, aku harus membawa panji [Islam], dan Khalifah Mesir mengatakan hal yang sama, serta Khalifah Baghdad berkata, Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena aku berasal dari suku Arab Quraish.

Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.

Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?

Saya akhiri pidato saya. [Tepuk Tangan Meriah]

Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda oleh pihak otoritas koloni. Setelah proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua Partai Murba (Partai Proletar)), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengorganisir kelas pekerja oposisi terhadap pemerintahan Soekarno. Pada bulan Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.
Penerjemah ; Ted Sprague, Agustus 2009
Continue Reading...

Haji Misbach: Muslim Komunis


Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Lahir di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dibesarkan sebagai putra seorang pedagang batik yang kaya raya. Bernama kecil Ahmad, setelah menikah ia berganti nama menjadi Darmodiprono. Dan usai menunaikan ibadah haji, orang mengenalnya sebagai Haji Mohamad Misbach.
Kauman, tempat Misbach dilahirkan, letaknya di sisi barat alun-alun utara, persis di depan keraton Kasunanan dekat Masjid Agung Surakarta. Di situlah tinggal para pejabat keagamaan Sunan. Ayah Misbach sendiri seorang pejabat keagamaan. Karena lingkungan yang religius itulah, pada usia sekolah ia ikut pelajaran keagamaan dari pesantren, selain di sekolah bumiputera "Ongko Loro".
Menjelang dewasa, Misbach terjun ke dunia usaha sebagai pedagang batik di Kauman mengikuti jejak ayahnya. Bisnisnya pun menanjak dan ia berhasil membuka rumah pembatikan dan sukses. Pada 1912 di Surakarta berdiri Sarekat Islam (SI). Bicara kepribadian Misbach, orang memuji keramahannya kepada setiap orang dan sikap egaliternya tak membedakan priyayi atau orang kebanyakan. Sebagai seorang haji ia lebih suka mengenakan kain kepala ala Jawa, Misbach mulai aktif terlibat dalam pergerakan pada tahun 1914, ketika ia berkecimpung dalam IJB (Indlandsche Journalisten Bond)-nya Marco. Pada tahun 1915, ia menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin, yang edisi pertamanya tertanggal 15 Januari 1915 dan kemudian menerbitkan Islam Bergerak pada tahun 1917. Surat-surat kabar ini menjadi media gerakan yang sangat populer di Surakarta dan sekitarnya.
Marco Kartodikromo, salah satu tokoh pergerakan pada saat itu berkisah tentang Misbach:

".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memaki kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut "Haji".
Apa yang tersirat dari tulisan Marco adalah populisme Misbach. Populisme seorang Haji, sekaligus pedagang yang sadar akan penindasan kolonialis Belanda dan tertarik dengan ide-ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia pada jaman itu.
Misbach langsung terjun melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat. Membentuk organisasi dan mengorganisir pemogokan ataupun rapat-rapat umum/vergadering yang dijadikan mimbar pemblejetan kolonialisme dan kapitalisme.Bulan Mei 1919 akibat pemogokan-pemogokan petani yang dipimpinnya, Misbach dan para pemimpin pergerakan lainnya di Surakarta ditangkap.
Pada 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan selama 2 tahun 3 bulan. Pada 22 Agustus 1922 dia kembali ke rumahnya di Kauman, Surakarta. Maret 1923, ia sudah muncul sebagai propagandis PKI/SI Merah dan berbicara tentang keselarasan antara paham Komunis dan Islam. Bulan Juli 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror/sabotase di Surakarta dan sekitarnya. Walaupun bukan yang pertama diasingkan tapi ia-lah orang yang pertama yang sesungguhnya berangkat ke tanah pengasingan di kawasan Hindia sendiri.
Orang menggambarkan Haji Misbach sebagai sosok yang tak segan bergaul dengan anak-anak muda penikmat klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer. Satu tulisan tentang Misbach menyebutkan, di tengah komunitas pemuda, Misbach menjadi kawan berbincang yang enak, sementara di tengah pecandu wayang orang Misbach lebih dihormati ketimbang direktur wayang orang.

"... di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama."
Takashi Shiraisi mengungkapkan perbedaan dinamika sosial Islam di Yogya dan Surakarta. Ini dikaitkan dengan persamaan dan perbedaan antara KH Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan, Misbach, seorang muslim ortodoks yang saleh, progresif, dan hidup di Surakarta.
Di Yogya, Muhammadiyah yang lahir pada 1912 di Kauman, segera menjadi sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh yang kebanyakan berlatar belakang keluarga pegawai keagamaan Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid Agung dan ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di Yogya. Dahlan sendiri sempat dipercaya menjadi chatib amin. Para penganjur Muhammadiyah umumnya anak-anak pegawai keagamaan. Kala itu birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga, kata Shiraisi, wewenang keagamaannya tidak berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar Islam, masih kalah wibawa dibandingkan para kiai yang pesantrennya bebas dari negara.
Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil menyatukan umat Islam yang terpecah-pecah. Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid, pendirian lembaga pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan umat Islam. Mereka tumbuh menjadi pesaing tangguh misionaris Kristen dan aktivis sekolah-sekolah bumiputera yang didirikan pemerintah.
Lain dengan di Surakarta. Kala itu belum ada pengaruh sekuat Dahlan dan Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta sudah ada sekolah agama modern pertama di Jawa, Madrasah Mamba'ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati Sosrodiningrat (1906) dan SI pun sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan yang progresif, kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang batik mempunyai forum yang berwibawa, Medan Moeslimin. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain tersalur. Kelompok ini menyebut diri "kaum muda Islam".
Beda pergerakan Islam Surakarta dan Yogya, di Yogya reformis tentu juga modernis, tetapi di Surakarta kaum muda Islam memang modernis tetapi belum tentu reformis. Kegiatan keislaman di Solo banyak dipengaruhi kiai progresif tapi ortodoks, seperti Kiai Arfah dan KH Adnan. Sampai suatu ketika ortodoksi yang cenderung menghindar ijtihad itu terpecah pada 1918.
Perpecahan kelompok Islam di Surakarta dipicu artikel yang dimuat dalam Djawi Hiswara, ditulis Martodharsono, seorang guru terkenal dan mantan pemimpin SI. Ketika artikel itu muncul di Surakarta tidak langsung terjadi protes, tetapi Tjokroaminoto memperluas isi artikel dan menyerukan pembelaan Islam atas pelecehan oleh Martodharsono. Seruan itu muncul di Oetoesan Hindia, sehingga bangkitlah kaum muda Islam Surakarta.
Tjokroaminoto membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM), yang mencuatkan nama Misbach sebagai mubalig vokal. Mengiringi terbentuknya TKNM, lahir perkumpulan tablig reformis bernama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV). Haji Misbach menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium. Komunitas yang dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba menjadi dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di lapangan Sriwedari, pada 24 Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an orang. Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo (penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam), dua orang kepercayaannya di TKNM. Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga wibawa Islam terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya. Inilah awal perang membela Islam dari "kaum putihan" Surakarta. Belakangan, muncul kekecewaan jamaah TKNM ketika Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada Martodharsono dan Djawi Hiswara setelah mencuatnya pertikaian menyangkut soal keuangan dengan H Hasan bin Semit. Buntutnya, Hasan bin Semit keluar dari TKNM. Beredar artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti "korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam".
Dalam situasi itu muncul Misbach menggantikan Hisamzaijni, ketua subkomite TKNM dan menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Medan Moeslimin. Artikel pertama Misbach di media ini, Seroean Kita. Dalam artikel itu Misbach menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Takashi, menulis seperti berbicara dalam forum tablig. Ia mengungkapkan pendapatnya, bergerak masuk ke dalam kutipan Al-Quran kemudian keluar lagi dari ayat itu. "Persis seperti membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran dalam pertemuan tablig."
Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian secara kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis melibatkan para pedagang batik dan generasi santri yang lebih muda. Menurut Shiraisi, ada dua perbedaan SATV dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya, sedangkan SATV adalah perhimpunan muslimin saleh yang merasa dikhianati oleh kekuasaan keagamaan, manipulasi pemerintah, dan para kapitalis non muslim. Kedua, militansi para penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa bekerja di Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati. Sedangkan militansi SATV berasal dari rasa takut untuk melakukan manipulasi, dan keinginan kuat membuktikan keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV, muslim mana pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya berarti muslim gadungan.
SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan keagamaan di Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati, tetapi "Islam lamisan", "kaum terpelajar yang berkata mana yang bijaksana yang menjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri." Dasar keyakinan SATV dengan Misbach sebagai ideolognya, "membuat agama Islam bergerak". Misbach kondang di tengah muslimin bukan sekadar karena tablignya, melainkan ia menjadi pelaku dari kata-kata keras yang dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas karena perbuatannya "menggerakkan Islam": menggelar tablig, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras penyakit hidup boros dan bermewah-mewah, dan semua bentuk penghisapan dan penindasan.

"Jangan takut, jangan kawatir"
Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat diyakini menjadi antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat akan dihadapinya melalui artikel di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang aktivis organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda adalah jalan yang akan dilawan dengan gigih. Maka kelompok yang anti politik, anti pemogokan, secara tegas dianggapnya berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919. Isinya menohok kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerja-paksakan mereka, memberi upah kecil, membebani pajak. Residen Surakarta digugat, Paku Buwono X digugat karena ikut-ikutan menindas. Retorika khas Misbach, muncul dalam kartun itu sebagai "suara dari luar dunia petani". Bunyinya, "Jangan takut, jangan kawatir". Kalimat ini memicu kesadaran dan keberanian petani untuk mogok. Ekstremitas sikap Misbach membuat ia ditangkap, 7 Mei 1919, setelah melakukan belasan pertemuan kring (subkelompok petani perkebunan). Tapi akhirnya Misbach dibebaskan pada 22 Oktober sebagai kemenangan penting Sarekat Hindia (SH), organisasi para bumiputera.
Misbach menegaskan kepada rakyat "jangan takut dihukum, dibuang, digantung", seraya memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan kapitalis, ia meyakini paham komunis. Misbach mengagumi Karl Marx, dia sempat menulis artikel Islamisme dan Komunisme di pengasingan. Marx di mata Misbach berjasa membela rakyat miskin, mencela kapitalisme sebagai biang kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Agama pun dirusak oleh kapitalisme sehingga kapitalisme harus dilawan dengan historis materialisme.
Misbach kecewa terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak tegas membela kaum dhuafa. Berjuang melawan kapitalisme tak membuat Misbach tidak menegakkan Islam. Baginya, perlawanan terhadap kapitalis dan pengikutnya sama dengan berjuang melawan setan. Misbach pun ketika CSI (Central Sarekat Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, memilih ikut Perserikatan Kommunist di Indie (PKI), bahkan mendirikan PKI afdeling Surakarta.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa, Misbach tetap dipercaya sebagai otaknya. Misbach ditangkap. Dalam pengusutan sejumlah fakta memberatkannya meskipun belakangan para saksi mengaku memberi kesaksian palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang yang "ditangkap" bersama Misbach. Hardjosumarto sendiri juga mengaku menyebarkan pamflet bergambar palu arit dan tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan mengebom Mangkunegaran.
Namun Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia dibuang ke Manokwari, Papua, beserta dengan istri dan tiga anaknya. Selama penahanan di Semarang, tak seorang pun diizinkan menjenguknya. Misbach hanya dibolehkan membaca Al-Qur’an. Di pengasingan, selain mengirim laporan perjalanannya, Misbach juga menyusun artikel berseri "Islamisme dan Komunisme".
Medan Moeslimin kemudian memuat artikel Misbach tersebut,
“…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.”
Ditengah ganasnya alam di tempat pembuangannya Misbach terserang malaria dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya.****

Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Continue Reading...

Iwan Fals, Penyanyi Jalanan & Jerit Kemanusian


Siapa yang tak mengenal sosok Iwan Fals? musisi sekaligus penyanyi yang lantang dengan lirik lagu-lagunya. Berbagai kritik politik dan social menjadi cirri khas dalam setiap penampilannya. Lagunya demikian dicintai dan menjadi favorit orang-orang di berbagai kalangan. Tapi pernahkah anda melihat dia berbicara panjang tentang kehidupannya di balik semua nyanyiannya? Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961; umur 48 tahun) adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.
Lewat lagu-lagunya, ia 'memotret' suasana sosial kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang, serta kehidupan dunia pada umumnya, dan kehidupan itu sendiri. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Namun demikian, Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga sejumlah pencipta lain.
Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.
Bagaimana masa kecil Iwan Fals? Mengapa seorang anak tentara, menjadi “pemberontak” dengan lagu-lagunya yang membuat merah telinga para pejabat dan aparat? Iwan lahir dari Lies (ibu) dan mempunyai ayah Haryoso almarhum (kolonel Anumerta).
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda. Iwan memulai karirnya dari seorang pengamen sejak masa SMP. Bahkan ketika di SMP, Iwan pernah menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah. Seorang tukang bengkel di Bandung sempat menjadi “manajernya” dan mencarikan Iwan panggung-panggung di berbagai hajatan atau acara sekolahan. Dan dari urusan ngamen inilah kemudian “sang manajer” memiliki ide mudah untuk menamai penyanyinya “Iwan Fals”. Siapa tukang bengkel itu dan bagaimana reaksinya saat Iwan menerima kertas berisi sepotong lirik yang pernah ia ciptakan bersama “sang manajer” dulu? Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul, namun album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen. Album ini sekarang menjadi buruan para kolektor serta fans fanatik Iwan Fals.
Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records, tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.
Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Ia kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Saat acara Manasuka Siaran Niaga disiarkan di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.
Dikenal sebagai salah seorang seniman garda terdepan melawan penindasan yang dilakukan rejim represif Soeharto pada dekade 80-an, namun penyanyi folk legendaris Iwan Fals secara terbuka menyatakan terimakasih dan kekagumannya kepada Orde Baru pimpinan Presiden Ke-2 RI, Soeharto. “Saya terus terang berterimakasih kepada Orde Baru karena mereka berjasa ikut melahirkan lagu-lagu seperti `Guru Oemar Bakrie`, `Wakil Rakyat`, `Bento`, `Bongkar` dan sebagainya. Kalau nggak ada Orde Baru, nggak ada yang namanya Iwan Fals. Saya berterimakasih untuk itu. Tapi ini tidak berarti saya setuju dengan segala tindakannya selama berkuasa,” jelas Iwan ketika melakukan proses taping untuk acara Kick Andy di Metro TV pada Rabu (27/1) malam. Tapi, selama Orde Baru pula, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal karirnya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Pada kenyataannya Iwan Fals adalah salah seorang “korban” penindasan Soeharto. Di tahun 1989 Tur 100 Kota untuk mempromosikan album Mata Dewa miliknya dibatalkan secara sepihak oleh aparat kemananan tanpa alasan yang jelas. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas. Belakangan Iwan Fals juga mengakui kalau pada saat itu dia sendiri juga tidak tertarik untuk memasukkan lagu-lagu ini ke dalam album.
Rekaman lagu-lagu yang tidak dipasarkan tersebut kemudian sempat diputar di sebuah stasiun radio yang sekarang sudah tidak mengudara lagi. Iwan Fals juga pernah menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam beberapa konser musik, yang mengakibatkan dia berulang kali harus berurusan dengan pihak keamanan dengan alasan lirik lagu yang dinyanyikan dapat mengganggu stabilitas Negara. Beberapa konser musiknya pada tahun 80-an juga sempat disabotase dengan cara memadamkan aliran listrik dan pernah juga dibubarkan secara paksa hanya karena Iwan Fals membawakan lirik lagu yang menyindir penguasa saat itu.
Pada bulan April tahun 1984 Iwan Fals harus berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan dan diinterogasi selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lirik lagu Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Sejak kejadian itu, Iwan Fals dan keluarganya sering mendapatkan terror. Hanya segelintir fans fanatik Iwan Fals yang masih menyimpan rekaman lagu-lagu ini, dan sekarang menjadi koleksi yang sangat berharga.
Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hitsBento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang didukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.
Setelah kontrak dengan SWAMI yang menghasilkan dua album (SWAMI dan SWAMI II) berakhir, dan disela Kantata (yang menghasilkan Kantata Takwa dan Kantata Samsara), Iwan Fals masih meluncurkan album-album solo maupun bersama kelompok seperti album Dalbo yang dikerjakan bersama sebagian mantan personil SWAMI.
Sejak meluncurnya album Suara Hati pada 2002, Iwan Fals telah memiliki kelompok musisi pengiring yang tetap dan selalu menyertai dalam setiap pengerjaan album maupun konser. Menariknya, dalam seluruh alat musik yang digunakan baik oleh Iwan fals maupun bandnya pada setiap penampilan di depan publik tidak pernah terlihat merek maupun logo. Seluruh identitas tersebut selalu ditutupi atau dihilangkan. Pada panggung yang menjadi dunianya, Iwan Fals tidak pernah mengizinkan ada logo atau tulisan sponsor terpampang untuk menjaga idealismenya yang tidak mau dianggap menjadi wakil dari produk tertentu.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesiaatau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke manca Negara. (Melki AS)

(Dari berbagai sumber)
Continue Reading...

Featured

 

BIDADARI KECILKU

BIDADARI KECILKU

EKSPRESI

EKSPRESI

Once Time Ago

Once Time Ago

Aspiratif CyberMedia Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template