Pages

Tampilkan postingan dengan label SASTRA dan BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA dan BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Festival Seni Budaya; Dimeriahkan Rentak Selatan dari BENGKULU


Yogyakarta sebagai salah satu propinsi di Indonesia yang mempunyai banyak pilihan tempat belajar, masih menjadi magnet bagi masyarakat luar propinsi bahkan luar negeri untuk datang ke kota ini. Banyaknya pilihan tempat belajar dari berbagai jenjang pendidikan yang disediakan, memungkinkan Yogyakarta ditingali dari berbagai masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, tentu saja dengan segala seni, budaya dan adat masing-masing. Dengan adanya keragaman perbedaan budaya inilah, kegiatan Festival Seni Budaya (FSB) “ THE 7TH DINAMIT” ini dilakukan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyalurkan minat dan bakat generasi muda kearah yang lebih positif dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia serta dapat memperkenalkan seni budaya daerah masing-masing.

Demikian yang disampaikan Ichsan Yusran sebagai ketua panitia FSB. Bertempat di auditorium Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ‘Veteran’ Yogyakarta, acara rutin yang diadakan anak-anak fakultas pertambangan UPN ‘Veteran’ ini, diikuti oleh 20 peserta perwakilan termasuk perwakilan propinsi Bengkulu lewat Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Propinsi Bengkulu –Yogyakarta (6/3/11). Dalam mengikuti FSB ini, Bengkulu membawakan sebuah tarian yaitu Tari Rentak Selatan. Menurut Melki AS, sebagai penanggungjawab, tarian ini adalah tari kombinasi yang di kembangkan baru dari percampuran tari tradisional Bengkulu, tari andun dan tari persembahan. ‘Roh’ nya tari ini menurut beliau tetap terjaga. Kalau biasanya tari tersebut di laksanakan dalam pesta perkawinan dan penyambutan tamu agung saja, sekarang dengan adanya kombinasi baru ini, bisa di pakai ke dalam pergaulan anak muda sebagai ekspresi kegembiraan. Jadi seni menurutnya haruslah mengakomodir dan selalu membaca zamannya. Dikatakannya lagi bahwa pelestarian terhadap aset seni dan budaya seperti tarian tradisional tetap harus di jaga. Karena itulah sesungguhnya kekayaan bangsa ini yang tidak ternilai harganya.

Seperti menjaga ke khas-an melayu, sebelum Rentak Selatan di mulai, auditorium UPN ‘Veteran” di guyur dengan sederet pantun. Tepuk riuh penoton semakin marak setiap bait per bait pantun tersebut di bacakan. Kemudian setelah itu, barulah di tampilkannya Tarian Rentak Selatan. Memang ada sedikit kendala dalam sound system yang di sediakan, tetapi tidak menyurutkan langkah untuk selalu menampilkan performa yang terbaik. Dan tepuk tangan penonton tetap membahana tatkala Tari Rentak Selatan usai di pentas kan.

“Kami memang sudah lama mempersiapkan diri sebelum mengikuti FSB ini. Kami dan adik-adik kami ini selalu berlatih giat setiap hari nya. Modernisasi memang menantang di depan mata, tetapi bagi kami, wajib hukumnya untuk terus melestarikan seni, adat dan budaya daerah. Melalui FSB ini, setidaknya kami mencoba menunjukan kepada publik bahwa Bengkulu masih ada, Bengkulu masih kuat menjaga seni budaya nya. Dan juga dengan mengikuti setiap ajang festival atau gelar seni budaya ini, kami mau menunjukkan eksistensi kami sebagai penerus dan mempromosikan Bengkulu itu sendiri. Memang kendala fasilitas dan finansial menjadi berat bagi kami untuk bisa memperkenalkan daerah, tapi tetap kami berusaha agar daerah kami bisa di lihat dan di dengar orang. Dalam FSB kali inipun, semua kostum dan perlengkapannya harus kami sewa dengan mengajak setiap keluarga besar disini untuk menyumbang secara swadaya dan sukarela seikhlasnya. Dan alhamdulillah, tercapai juga walaupun tidak jadi juara (berdasarkan polling, tervaforit ke-3). “ Melki AS menambahkan dengan antusias.

Ditambahkannya pula bahwa dengan adanya kegiatan ini, adalah merupakan jembatan komunikasi dengan sesama, baik antar persatuan daerah se-Indonesia di Yogyakarta maupun daerah asal. “ Makanya saya mengharap sekali semua generasi muda kami (Bengkulu) harus banyak-banyak bekerja mempromosikan daerah. Patokannya, kami tidak ingin menunggu pemerintah daerah yang selalu lambat dan terkesan tidak ada geliat untuk mengenalkan aset seni budaya dalam rangka memajukan daerah, tapi kami langsung saja memulainya. Kalau di pikir-pikir juga, ini merupakan refreshing otak karena hampir setiap hari kami mendengar kebohongan publik yang dilakukan pemerintahan daerah. Seperti belum lama ini, bahwa ada bantuan bagi mahasiswa Bengkulu di Yogyakarta terkait bencana merapi. Padahal hal itu sudah di muat di koran lokal, tetapi lagi-lagi hasilnya nihil. Mungkin saja bantuan itu ada, tapi keburu di tangkap ‘tikus kepala hitam’ yang selalu haus dan rakus. Itu beneran lho, info itu kami dapatkan dari banyak kawan-kawan disini. Artinya apa, artinya adanya pembohongan publik serta penipuan secara besar-besaran yang dilakukan mereka (pemerintahan daerah-red). Makanya dengan adanya kegiatan postif seperti ini, kami berharap otak pun bisa positif juga. Tidak selalu memikirkan hal-hal buruk terus walalupun itu nyata terjadi. Kami berharap juga, dengan adanya hal positif seperti ini, pemerintahan daerah juga bisa mensupport lebih lagi. Tidak cukup hanya dengan menyemangati thok, tapi berikanlah fasilitas atau apapun semacamnya agar promo daerah ini semakin berlanjut. Jangan hanya sibuk mengurus perut saja, tapi uruslah rakyat dan majukan daerah. Salah satunya sudah enak, yaitu sudah ada Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Propinsi Bengkulu Yogyakarta ini yang bisa di manfaatkan sebagai miniaturnya daerah untuk pengembangan daerah lewat promosi segala hal “ ungkap Melki AS.
Continue Reading...

SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX : ”PELOPOR DEMOKRASI BUDAYA”


Teks Pidato Penobatan :

”Dat de taak die op mij rust, moeilijk en zwaar is, daar ben ik mij tenvolle van bewust, vooral waar het hier gaat de Westerse en de Oosterse geest tot elkaar te brengen, deze beide tot een harmonische samenwerking te doen overgaan zonder de laatste haar karakter doen verliezen. Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik in de allereerste plaats Javaan. Zo zal de adat, zo deze niet remmend werkt op de ontwikkeling, een voorname plaats blijven innemen in de traditierijke Keraton. Moge ik eindigen met de belofte dat ik de belangen van Land en Volk zal behartigen naar mijn beste weten en kunnen”
”Sepenuhnya saya menyadari bahwa tugas yang ada dipundak saya adalah sulit dan berat, terlebih-lebih karena ini menyangkut mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerja sama dalam suasana harmonis, tanpa yang Timur harus kehilangan kepribadiannya. Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa. Maka selama tak menghambat kemajuan, adat akan tetap menduduki tempat yang utama dalam Keraton yang kaya akan tradisi ini. Izinkanlah saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji semoga saya dapat bekerja untuk memenuhi kepentingan Nusa dan Bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya” (Pidato Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pada saat dinobatkan sebagai Raja Yogyakarta, tanggal 18 Maret 1940)
Teks pidato diatas sengaja disajikan secara utuh agar dipahami maknanya dan dapat direfleksikan kembali tentang bagaimana suasana kebatinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada saat itu. Sebagaimana diungkapkan dalam pidato yang singkat, padat namun cukup visioneer telah mencakup dan menggambarkan pandangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengenai posisi dirinya, kraton, pemerintahan kolonial, adat – istiadat, tradisi barat serta nasib masa depan nusa, bangsa dan negaranya.
Sebelum Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hemangku Buwono IX sudah merumuskan kebijakan yang menyangkut hubungan antar dua peradaban, yaitu mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerja sama dalam suasana harmonis, tanpa yang timur harus kehilangan kepribadiannya. Sebagian besar masyarakat Yogyakarta generasi 45 sampai dengan generasi 66 sangat memahami sejarah perjalanan dan karir politik BRM Dorojatun (nama kecil Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebelum dinobatkan menjadi raja), dimana masa kecilnya hingga studi tingkat doktoralnya di fakultas Indologi, Rijks Universiteit, Leiden, Belanda.
Akan tetapi aneksasi kolonial dan pendidikannya di negeri Belanda tidak mempengaruhi jiwa dan kepribadiannya, sehingga pernyataan : ”Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa” ditegaskan kembali dalam pidato penobatan sebagai raja yang cukup sakral dan dihadapan para pejabat pemerintahan kerajaan Belanda yang dinilai sangat fenomenal.
Masa sulit yang menentukan Kemerdekaan RI :

Pada tahun 1940 sampai dengan tahun 1945 adalah masa – masa yang sangat sulit bagi dirinya, dalam usia yang relatif masih sangat muda sudah harus berhadapan dengan seorang Gubernur yang memiliki keahlian sebagai antropologi Jawa, bernama DR. Lucien Adam dan mewakili/atas nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Peristiwa penobatan sebagai raja bukanlah sebagai kemenangan bagi Sultan, namun justru sebagai momentum strategis Belanda untuk memperpanjang kontrak politiknya dalam memperlemah posisi pemerintah kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat.
Bargaining position yang tidak seimbang ini sangat menggelisahkan Sultan Yogyakarta yang baru saja dinobatkan, karena perjanjian (overeenkomst) antara pemerintah Hindia Belanda dengan Kesultanan Yogyakarta yang harus ditanda tangani pada tanggal 18 Maret 1940 sangat merugikan pihak Kasultanan. Dalam buku Tahta untuk Rakyat (Atmakusumah, dkk), cukup lama Sri Sultan mempertimbangkan hal yang cukup dilematis ini, namun karena mendengar bisikan hati sanubari yang paling dalam maka dibubuhkanlah tanda-tangan sebagai tanda persetujuan kontrak politik dengan keyakinan bahwa tidak akan lama lagi Belanda meninggalkan Yogyakarta.
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 telah mengubah sejarah dan membuka lembaran baru bagi Indonesia, setelah mendengar Ki Hajar Dewantoro berkeliling naik sepeda mengumumkan dengan suka-cita Kemerdekaan RI Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII pada tanggal 18 Agustus 1945 mengirimkan surat kawat kepada Pjs. Presiden Soekarno sebagai ungkapan rasa syukur dan ucapan selamat atas upaya perjuangan kemerdekaan, kemudian mendapat balasan dan disusul kemudian dengan mengirimkan Amanat pada tanggal 5 September 1945 yang bunyinya :
Kami Hamengku Buwono IX, Sultan Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat menyatakan :
Pertama, bahwa Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia. Kedua, bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat mulai saat ini ada ditangan kami dan kekuasaan – kekuasaan lainnya kami pegang seluruhnya. Ketiga, bahwa perhubungan antara Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia, bersifat langsung dan Kami bertanggung-jawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.
Pada tanggal 30 Oktober 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII secara bersama – sama mengirimkan amanat serupa dengan menekankan adanya pembentukan Badan Pekerja yaitu Badan Legislatif (Badan Pembikin Undang-undang) untuk mengatur jalannya pemerintahan dimasa-masa yang akan datang. Secara Bottom-Up pada tanggal 6 Desember 1945, Negeri Kasultanan Yogyakarta dan Praja Pakualaman Daerah Istimewa Negara Republik Indonesia mengeluarkan Maklumat No. 7 tentang Pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Kelurahan yang ditanda tangani oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Paduka Paku Alam VIII sebagai Wakil Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sdr. Moh Saleh sebagai Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah empat bulan kemudian menyusun Maklumat No. 14 yang mengatur tentang Dewan Perwakilan Rakyat Kelurahan dan Majlis Permusyawaratan Desa.

Pelopor Demokrasi di Indonesia :

Refleksi sejarah diatas menggambarkan bahwa seorang Sultan yang dilahirkan dan dibesarkan ditengah – tengah adat tradisi yang sangat ketat (monarkhi), masih sempat memikirkan proses demokratisasi dari level desa/kelurahan, kota/kabupaten, propinsi hingga pemerintah pusat, sehingga wajar apabila seorang pengamat politik Amerika bernama Harry J Benda menyatakan bahwa sejak jaman awal kerajaan Nusantara tidak pernah ada demokrasi, kecuali sejak tahun 1949 dan setelah dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dalam peran sejarah kemudian, Sri Sultan turut serta membidani lahirnya universitas Gajahmada dari pagelaran Kraton Yogyakarta, lahirnya TNI dari Alun – alun utara, memfasilitasi Seminar Pancasila I di Sasana Hinggil Dwi Abad, mendirikan Pramuka, Membuat selokan Mataram utk menyelamatkan rakyat dari romusha, membiayai pemindahan ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, menyelamatkan NKRI dari badai federalisme dan memfasilitasi Gedung Agung Yogyakarta untuk ibukota serta membagikan gulden miliknya untuk menggaji para pejabat negara saat itu.

DIY harus Selamatkan Demokrasi Pancasila :

Tidak terlalu berlebihan rasanya, apabila Yogyakarta menjadi pelopor demokrasi budaya (demokrasi deliberative) bagi Indondesia, saat ini proses pencerahan demokrasi di Indonesia setelah reformasi dan amandemen Undang Undang Dasar 1945 masih bergelut mencari format yang paling tepat dengan suasana ke-Indonesiaan yang berakar dari sejarah budaya Nusantara, maka memaknai ”keistimewaan” bagi Daerah Istimewa Yogyakarta sesungguhnya merupakan isi dari salah satu inti keaneka-ragaman budaya bangsa dalam untaian bhineka tunggal ika untuk menumbuh-kembangkan spirit etno-nasionalisme, pluralisme & multikulturalisme.
Paling tidak Yogyakarta telah membuktikan diri sebagai kawasan peradaban yang paling akomodatif dalam kancah perjuangan menuju masyarakat madani (civil-society), karena memang makna Ngayogyakarto Hadiningrat itu sendiri mengandung harapan, ajaran dan ajakan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya, baik didunia maupun diakherat (baladil amin rahmatan lil alamin – baldatun thoyyibatun warobun ghofur).
Sebagai penutup, Yogyakarta tercinta yang telah memiliki entitas sekaligus identitas ini jangan digadaikan atas nama berlangsungnya demokrasi transaksional karena pelaksanaan pilihan kepala daerah langsung (prosedur demokrasi) yang cenderung individualistik-kapitalistik-liberalistik tidak selaras dengan peradaban sosial masyarakat kita yang menganut faham musyawarah – mufakat (QS: 26, As-Syuroo) untuk memilih pimpinan yang amanah, jujur, adil & bertanggung-jawab (substansi demokrasi).
Yogyakarta belum melaksanakan Pilsung Gubernur DIY harus dipahami sebagai taat azas terhadap amanat sila ke IV, Pancasila (demokrasi Pancasila) yakni terus bermusyawarah untuk mencapai mufakat dalam merumuskan Rancangan Undang – undang Daerah Istimewa Yogyakarta yang sejalan dengan konstitusi negara tanpa mengabaikan amanat sejarah & para pendiri bangsa, mengingat Trilogi Demokrasi Indonesia adalah negara kekeluargaan, masyarakat gotong – royong & mengutamakan asas musyawarah mufakat untuk mencapai keadilan sosial.

Yogyakarta, 30 Desember 2010

H.HERU WAHYUKISMOYO (Penjaga Gawang KeIstimewaan Yogyakarta)
Penulis Buku Demokratisasi VS Keistimewaan DIY (jadi tesis S-2 UGM, Politik Lokal) &
Merajut Kembali Pemikiran Sri Sultan HB IX (bahan disertasi S-3 UNY, Ilmu Pendidikan)
Jl Namburan Lor 1, Kraton, Yogyakarta,  CP: 0274-372722, 0274-7474222, 081328372222
Continue Reading...

PELACUR............!!!!!!!

Melki AS



Rinai gerimis hujan malam itu sudah mulai tampak di wajah langit yang paradok. Sesekali menampakkan raut kecerahan, tapi sesekali juga merintikkan hujan walau tidak hebat. Tapi suasana malam itu agak sedikit berbeda. Keberbedaan itu memang sudah lazim bagi mereka, tapi perbedaan kali ini lebih mencolok. Disini ada Pesta, Harapan, Perjamuan Minum dan Pelacur-Pelacur itu..........!!!!!!

..... ..... ..... ..............

Jam menunjukkan kurang lebih pukul sebelas malam ketika kami (aku dan tiga orang temanku) tiba disana. Dari kejauhan semua orang sudah tahu bahwa tempat itu selalu menyedot perhatian para musang malam yang selalu menginginkan kenikmatan duniawi. Dari jauh juga aku melihat berduyun-duyun orang keluar masuk di gang yang sempit itu.
Setelah selesai parkir motor di stasiun bersejarah itu, aku pun juga turut masuk menyusuri perkampungan di tempat gang sempit tersebut.
Kalau banyak orang datang kesana dengan membawa niat yang beragam, begitupun juga kami. Disana banyak pikiran yang berkubang dalam sesaat. Beberapa menit saja mengitari gang-gang disana, banyak sekali panggilan mesra nan sayu. Panggilan tersebut terasa akrab di telinga meskipun kita belum kenal satu sama lain. Maklum, itulah keadaan Lokasisasi Pasar Kembang (Sarkem) yang ‘melegenda’ itu. Sesekali mengusir lelah, ku sulut sebatang rokok dan cessss....asap putih menyembur dari dalam mulut. Dan dengan tak hendak menunda perjamuan, singgah pulalah dan duduk santai aku di pelataran-pelataran rumah transaksi sekaligus tempat berlangsunya eksekusi pabila transaksi tersebut berhasil. Tak heran kalau kiri kanan, bolak-balik dan mondar-mandir perempuan-perempuan datang walau hanya untuk sekedar bertanya atau menjaja kan tubuhnya kepada kami semua.
Tapi satu hal pasti adalah bahwa ada yang menarik perhatian kami disana. Kami di undang untuk turut berpartisipasi dalam memeriahkan sebuah acara. Kalau biasanya aku sering di undang kawan-kawan untuk berdiskusi, sharing atau memateri dalam berbagai acara, maka di sini bukan saat nya untuk mengatakan hal-hal yang bersifat intelektual tersebut. Disini kami memang terkadang suka share, tapi lebih kepada curhat tentang pengalaman yang pernah dan sudah dialami secara awam saja. Disini juga kami tidak membicarakan agama. Itu bukan berarti kami tidak beragama. Hampir semua yang ada disini beragama. Cuma untuk membicarakan itu, rasanya tidak tepat kalau di lakukan di tempat tersebut. Karena disni tempat berkumpulnya semua golongan, bahkan mungkin yang mengaku wakil Tuhan sekalipun; datang kesini untuk mereguk kenikmatan sesaat. Selaiknya acara, di sini pun, kami berkumpul dengan banyak teman lainnya. Acara pesta kali ini bukan acara yang mungkin dianggap orang seperti terbang bebas. Tapi acara kali ini mengandung asa yang di inginkan setiap manusia di seluruh dunia ini; Ulang Tahun seorang teman perempuan yang dianggap hina dina dimata masyarakat.
Suara gaduh musik terasa sangat garang di telinga dan teriakkan demi teriakkan turut memeriahkan rumah tempat pesta tersebut. Dari luar rumah, ada beberapa perempuan-perempuan yang se-profesi dengan teman yang sedang berulang tahun tersebut, sedang asyik duduk ngobrol sambil meracik minuman. Dari dalam rumah juga ada beberapa orang pula baik laki ataupun perempuan yang sedang asyik berjoget koplo. Ada kegembiraan disana yang sedang di luapkan. Keadaan yang remang turut memanaskan suasana saat kami menjejalkan kaki di dalam. Dan disana, kami di sambut dengan hangat seperti tak ada perbedaan di antara kita. Dan memang tidak ada beda di antara kami semua. Hanya nasib dan keadaan yang membuat sekat dalam pergolakan dan perjuangan dalam mempertahankan hidup.
Tak heran bila di tempat itu banyak suguhan minuman. Apalagi tidak sulit untuk mencarinya. Soalnya hampir di setiap rumah mempunyai warung yang melayani segala macam kebutuhan malam seperti minuman, kontrasepsi, rokok dan lain sebagainya. Seorang teman masuk kedalam. Aku dan dua orang teman lainnya memilih untuk duduk di luar saja sambil ngobrol dan bercengkeramah dengan perempuan lainnya. Belum berselang lama seloki minuman di suguhkan pada kami masing-masing. Dari aroma dan baunya jelas ini adalah Bir, Vodka dan campuran lainnya yang bisa menegangkan urat syaraf. Lalu leeppp...seloki minuman langsung mereguk dalam kerongkongan. Dan kembali aku menyumut rokok untuk sedikit menetralisir rasa yang sedang berontak tersebut.

......... ....... .................

Gerimis masih saja turun sesekali saat malam semakin larut. Dari dalam rumah, musik tiada hentinya menggebrak dan merangsang seisi dan semua yang hadir untuk bergembira. Tua muda, laki perempuan, semua tenggelam dalam kebisingan tersebut. Ada yang setengah teler, ada juga yang masih sehat dan sebagainya. Sampai akhirnya suara mengalun pelan dan lama kelamaan berhenti. Ini moment panitia dan yang punya acara untuk menegaskan maksud nya.
Sementara kami diluar terus dan terus saja minum bersama dengan perempuan-perempuan tersebut. Entah sudah berapa ceret yang sudah kami habiskan. Berbicara dengan perempuan-perempuan itu, saya menyadari bahwa apa yang selama ini di klaim masyarakat, tidaklah selalu benar. Soalnya dari cara dan perilaku; mereka terbilang baik, ramah dan sangat sopan. Termasuk saat panitia mulai mengutarakan maksud dan tujuan di buatnya acara itu, kami semua bahkan mengerti bahwa ada hal yang seharusnya tawa dan pembicaraan di hentikan. Dari dalam rumah, panitia terus sibuk mengoceh dan meneriakkan kata-kata selamat bagi yang berulang tahun. Tampak dari sela kerumunan aku melihat teman perempuan yang berulang tahun tersebut agak sedikit mesem ngguyu. Dan setelah dinanti agak lama, tiba pula yang berulang tahun mengucapkan permohonannya. Disinilah saya melihat bahwa memang tidak ada perbedaan diantara kami semua. Kalau biasanya ada saudara kita, keluarga kita, teman kampus kita, teman daerah kita atau masyarakat luas lainnya sewaktu berkesempatan baik, semua meminta kemurahan Tuhan untuk selalu melimpahkan rezekinya, rahmatnya, kesehatan dan sebagainya. Begitu juga dengan teman kami disini. Meskipun pekerjaannya kotor dan hina, bukan berarti mereka tidak ingat dengan Tuhan yang Maha segalanya itu. Sekali lagi perbedaan hanyalah sebatas pekerjaan yang mereka jalani saja.
Setelah semua kata dan ucapan dirasa selesai, kini tiba puncak dari segala acara yaitu pemotongan kue. Entah dari mana mulainya tradisi seperti ini, tapi jelasnya ini sudah biasa di lakukan. Kue tersebut sudah diletakkan di atas meja beserta umur yang berulang tahun; 18.
Kue pun di bagi-bagi. Kami semua dapat sepotong seorang. Musik kembali menyala dengan garang dengan suguhan yang sama; Dangdut Koplo. Hanya musik itu yang akrab di telinga kami. Kami tidak memandang bahwa apakah lagu tersebut kampungan atau bukan, yang penting asyik. Kembali tua muda laki perempuan berjoget ria. Minuman kembali di gelar baik di dalam maupun di luar. Syaraf kembali tegang setelah agak beberapa lama berhenti minum tadi. Racikan-racikan perempuan kami di luar semakin menjadi-jadi. Seloki demi seloki kembali di tangan. Habis minum loki di isi ulang dan begitu terus terusan. Syaraf yang sudah tegang semakin menegang. Tiba-tiba tanpa di nyana, yang berulang tahun menghampiriku mengajak berjoget di dalam. Bukannya aku tak mau atau apa, tapi menghindari terjadi hal yang tidak mengenakkan, aku pun berpura-pura menolak dengan mengatakan tidak bisa berjoget. Tapi teman yang berulang tahun tersebut sepertinya tidak peduli. Dia terus mengajak, menarik, merangkulkan tangannya bahkan sedikit memeluk mengajak agar aku mau berjoget bersamanya. Ya sudahlah, meskipun kepala agak sakit akhirnya aku ikut juga ke dalam. Teriakan dan bunyi musik yang setengah koplo setengah dangdut membuat kepala dan kaki bergerak gerak. Mungkin agak ngawur, cuma tak ada seorang pun yang peduli. Hampir malam itu semua sudah setengah teler, termasuk yang berulang tahun. Kami semua bergoyang menyaru semuanya. Bau keringat dan lainnya tidak terasa lagi. Begitupun juga aku. Termasuk ketika ketiak seorang perempuan menyentuh mukaku, aku tak tahu lagi. Tahu-tahu sudah menempel saja karena memang perempuan itu kebetulan menggunakan baju seksi yang tidak punya atasan dan ketika berjoget asyik mengangkat-angkat kedua tanganya.
Semakin asyik berjoget, syaraf di kepala semakin tegang saja. Beberapa kali aku menabrak lemari dan sesekali juga aku mulai berani menarik dan memeluk-meluk pinggang perempuan-perempuan itu sambil berjoget. Aku masih ingat karena walaupun syaraf tegang tapi kesadaraan masih ada. Cuma susah di kontrol saja. Dan semakin lama semakin susah mengontrol diri. Dengan kesadaran yang tinggal ku putuskan untuk keluar saja, duduk di kursi.
Di luar, gerimis masih saja berjatuhan. Cuma sudah agak berkurang. Duduk di dekatku ada seorang perempuan dan di depan ada mbak Rita yang sedang asyik. Ngobrol punya ngobrol, perempuan di dekatku itu mengajakku berkenalan. Namanya Lily. Lily pun banyak bertanya sampai akhirnya kami bercakap layaknya kenal dekat. Dia bilang bahwa berasal dari kota S dan sudah 4 bulan berada disini. Aku pun juga bilang padanya bahwa berasal dari kota M. Percakapan kami semakin lama semakin asyik. Tiba-tiba mbak Rita sudah selesai meracik minuman dan mulai menyuguhkan lagi minuman itu kepada kami. Aku pun langsung mengambilnya. Ku lihat juga Lily. Dia menolak minuman tersebut dan berusaha untuk tidak mengambilnya. Tapi mbak Rita terus menyuguhkan. Dan sepertinya tidak ada kata tolak di suasana dan tempat seperti itu. Ku pegang pahanya sedikit sambil memberi kode Lily agar mau mengambil minuman tersebut. Lily masih saja bersikeras untuk tidak mau mengambilnya. Setelah ku kedipkan mata sedikit, akhirnya dia paham. Minuman itu diambilnya juga. Setelah minuman diambil, mbak Rita kembali ke tempat duduknya sambil menuang sendiri minuman untuknya. Lily mendekatkan mulutnya di telingaku dan membisikkan bahwa dia tidak mau meminumnya karena memang dia tidak biasa dan tidak pernah minum-minuman seperti itu. Merokokpun dia juga tidak. Aku pun paham dan kubisikkan juga bahwa biar aku yang minumnya. Setelah kutenggak punyaku, punya Lily ku sikat juga cepat-cepat agar jangan sampai mbak Rita melihatnya. Soalnya tidak enak juga kalau mbak Rita sampai melihat. Setelah itu ku berikan gelasnya dan ku bilang agar dia terus memegangnya sampai akhirnya mbak Rita sendiri yang menannyakan loki tersebut.
Tak berapa lama memang mbak Rita menanyakan loki yang di berikannya tadi. Lily memberikannya dan mengatakan sudah meminumnya. Mbak Rita kurang yakin dan beliau menengok kearahku. Aku pun juga bilang iya. Mbak Rita percaya. Lalu kembali menuangkan minuman itu berulang dan berulang kali. Setelah minuman di luar tersebut habis, baru mbak Rita masuk ke dalam ikut berjoget ria kembali. Tinggal aku dan Lily di luar. Kami bercakap terus menerus. Tak terasa gerimis sudah mulai mengganas lagi. Kami pindah tempat duduk yang agak mepet ke dinding. Karena banyak bekas botol, loki dan tumpahan minuman yang di tuangkan, memaksa kami untuk duduk berdempetan. Pembicaraan terus berlanjut sampai gerimis mulai hendak berubah menjadi hujan. Lily mengajak untuk masuk kedalam. Bukan ke dalam ruangan tempat hingar bingar musik tersebut melainkan ke dalam kamarnya. Soalnya kalau masuk ke tempat musik tersebut, sudah pasti akan di suguhin minuman kembali dan tidak bisa berbohong lagi seperti tadi. Karena memang di dalam banyak orang. Aku kaget waktu dia ngajak masuk ke kamarnya. Bukannya apa, tetapi kepala sudah semakin tidak sehat. Kontrol diri semakin berkurang. Kalau tadi sewaktu berjoget saja aku sudah hampir kehilangan kontrol, apalagi kalau di ajak ngobrol dikamar. Tapi kalau tidak ngobrol di ruang dalam (ruang musik atau kamar), maka seluruh kaki bisa kebasahan. Padahal kepala semakin terasa nyut-nyutan terus. Aku mencoba untuk mengontrol diri dengan berpura-pura ingin buang air kecil. Sewaktu badan ku angkat terasa langkah mulai goyang kiri kanan. Jalan saja sudah menyerempet-nyerempet dinding. Aku berpikir bagaimana kalau di dalam kamar. Mungkin saja terlintas hal tersebut secara tidak sadar. Karena duduk berdempetan di luar saja, kami sudah saling rangkul. Dan dia tidak marah karena memang harus berdempet dan berangkulan agar sedikit terhindar dari kebasahan.
Setelah selesai dari kamar mandi, aku keluar lagi. Langkah masih saja bergetar kiri kanan. Aku coba tegar dengan berjalan agak pelan. Di luar Lily masih terlihat duduk sambil merangkul kakinya. Aku duduk kembali di dekatnya. Cuma agak canggung untuk merangkulnya. Sampai dia sendiri yang merangkulku. Lily tetap ngotot ngajak untuk masuk dan ngobrol ke dalam kamar. Soalnya gerimis semakin deras saja. Aku bilang padanya ntar malah aku di cariin temanku. Lily secara cuek bilang bahwa mereka pasti gampang mencariku. Akhirnya naiklah kami berdua ke atas ke kamarnya. Kamarnya tidak terlalu luas dan tidak banyak perlengkapan seperti kamarku. Biasanya kalau di kamarku ada rak beserta buku-buku ku, komputer, meja serta kursinya, sementara di tempat Lily hanya ada satu meja kecil, sepotong kasur dan dua bantal serta selimut. Hanya itu saja. Kami duduk kasur tersebut sambil selonjor-selonjoran. Karena selama di luar tadi, kaki tidak bisa di selonjorkan.

...... ....... ..... .....

Suara musik di bawah masih saja kedengaran sampai di atas. Dentuman koplo tersebut sesekali diikuti Lily. Rupanya ada juga lagu yang dihapalnya meskipun hanya sepotong-sepotong. Di sela sambil nyanyi-nyanyi kami terus bercakap. Kadang tentang diri sendiri, kadang juga tentang orang lain. Seingatku aku juga mennyakan tentang beberapa teman Lily yang tinggal di kamar-kamar di sana. Lily pun dengan lugas tanpa beban menjawab semua tentang mereka. Jadinya aku juga banyak tahu tentang mereka yang ada di sana. Lily juga bilang bahwa kadang seminggu dua minggu sekali dia pulang ke kota S tersebut. Kadang juga aku bertanya agak nyeleneh padanya. Tapi Lily selalu menjawabnya dengan pasti. Pernah juga aku tanya kenapa dia masuk ke area seperti ini dan baru kulihat jawabannya agak sedikit muram. Aku sedikit paham sampai kemudian dia nya sendiri menjelaskan tentang hal ikhwal terjun ke dunia seperti ini. Selama bercakap dengan Lily, aku merasakan kenikmatan tersendiri. Rupanya dia sangat asyik diajak ngobrol tentang apapun dan siapapun.
Aku merebahkan diri di kasur tersebut karena kepala semakin terasa sakit saja. Tiba-tiba Lily merebahkan dirinya juga. Jadilah kami seperti sedang asyik tidur berdua. Aku sudah mewanti-wanti agar jangan sampai terjadi hal di luar kendali. Tapi kepala rasanya berat sekali untuk diangkat. Percakapan pun sudah mulai berkurang karena habis sesuatu yang mau di bicarakan. Setidaknya tentang malam itu. Sambil berbaring aku menengadah keatas. Terasa kepala berputar-putar dan berasa perut ingin muntah. Tapi kutahan agar jangan sampai termuntah. Tiba-tiba, secara spontanitas Lily memelukku. Aku tak bisa menolak karena untuk bergerak saja susah. Dekapan Lily semakin lama semakin erat dan kurasakan dengusan nafas dari hidungnya semakin kencang terdengar. Ku buka mata, kulihat Lily terpejam. Tapi kepalanya semakin mendekat dan tangannya tak lepas dari mendekapku. Aku pun juga memejamkan mata, tapi tidak tertidur. Karena perasaan untuk tidur tidak ada sama sekali. Hanya kepala berat dan susah di angkat. Aku juga tidak mau tertidur karena pasti teman-temanku tadi pasti mengajak pulang. Seandainya aku tertidur, maka sudah bisa di tebak pasti aku akan di tinggalkan.
Ku buka lagi mata dan kulihat Lily, ternyata sesekali dia juga membuka mata menatapku. Aku berbalik badan dan menghadapkan mukaku ke mukanya sambil membisikkan sesuatu. Lily rupanya paham. Ku cium keningnya sambil kubilang apakah dia tidak marah padahal baru saja kenal. Dia mengangguk pelan sembari tangannya berusaha meraih tanganku dan mendekapkan ke tubuhnya. Habis itu entah apa yang terjadi. Akal pikiran seolah tergenang oleh minuman yang di minum tadi. Sampai terdengar suara ketokan pintu sembari memanggil-manggil namaku. Kubuka pintu dan kulihat tiga orang teman tadi sudah mengajak pulang. Pesta sudah usai dan semua sudah di bersihkan. Ku lihat Lily tidur pulas. Mau membangunkannya terasa tidak enak. Lantas kututupi dia dengan selimut agar tidak kedinginan, lalu kututup kamarnya dan aku pun melangkah pulang meski gontai. Mengingat Lily dan pulas mukanya sewaktu tidur, aku merenungi sebait liriknya lagu Titiek Puspa; “ Kadang dia menangis di dalam senyuman. Oh apa yang terjadi terjadilah. Yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya. Oh apa yang terjadi terjadilah. Yang dia mau hanyalah menyambung nyawa “. Oh Tuhan akankah................


(Yogyakarta, 05061210)
Continue Reading...

PERTEMUAN


Diskusi dengan teman-teman baru saja usai. Memang kali ini agak menjengkelkan karena yang ada hanya beberapa orang saja. Padahal notabene, anggota masih banyak yang belum pulang kampung. Juga, waktu diskusi kali ini juga molor dari waktu yang telah disepati semula. Tapi alhamdulillah, diskusi jalan dan bisa selesai juga. Entah mengerti atau tidak, pokoknya usai.
Dinding pun menunjukan pukul sembilan malam. Artinya memang sudah saatnya untuk beristirahat. Tapi mungkin itu hanya pikiran orang yang telah bekerja seperti pegawai, buruh, kuli dan sebagainya. Tidak bagiku, yang hanya luntang lantung tak tentu arah.
Baru saja mau beranjak ngaso, tiba-tiba HaPe berdering. ‘ Siapa pula gerangan, malam-malam masih aja telpon ‘ pikirku dalam hati. Ternyata setelah dilihat, rupanya dari seorang teman lama. Retno Mahesti Utami, atau yang biasa kupanggil Hesti atau Eti’. Teman yang mungkin sudah 2 tahun tidak pernah berjumpa semenjak acara wisuda yang lalu.
‘ada apa Ti’, kok tumben telpon‘ tanyaku
‘kamu dimana Mel, di UKM kah atau dimana‘ Hesti bertanya.
‘iya, aku di UKM, ada apa toh‘ jawabku dengan sedikit berbohong. Padahal waktu itu aku sedang berada di kampus lainnya. Pikirku tak apa pula di bohongin, toh juga tidak berdosa-dosa amat. Apalagi Amat aja sudah pulang kampung karena libur habis semesteran.
‘kalau bisa kau ke kampus FKIP yo. Tapi cepat, jangan lama-lama‘
‘Ada apa e, kok ndadak suruh ke FKIP. Emang ada acara apa? Bukannya sepi disana kalau malam hari‘
‘pokoknya kesini ajalah. Ditunggu‘
‘ya sudah, tunggu aja. Sebentar lagi aku kesana‘
..............

Rencana mau ngaso batal. Mau gak mau, juga karena rindu dah lama gak bertemu dengan teman lama, aku pun coba lihat kendaraan yang terparkir. Ah..ada motor Bobby masih nangkring di parkiran. Kulihat juga Bobby asyik chatting sama cewek baru kenalannya di facebook. Ah, dalam hati pakai aja motor ini, toh dia juga belum pulang kok. Malah kelihatannya semakin lama, semakin asyik chattingnya. Mudah-mudahan dia nya tidak keberatan.
Kucoba mendekati Bobby. Maksud hati ingin pinjam kuda besinya biar bisa ketemu dengan teman lama. ‘Bob, masih lama kan, pinjam dulu motor mu yo‘ pintaku pada Bobby
‘mau kemana, dah malam juga ini‘ jawab Bobby spontan. Saking asyik chatting, menjawab pun dia tidak menunjukan muka. Tangannya asyik saja menyentuh tombol-tombol keyboard komputer.
‘gak kemana-mana kok. Keluar aja sebentar cari angin. Pinjam ya‘ pintaku lagi
‘ya udah, pakai lah. Tapi jangan sembrono. Kalau ada lobang-lobang mbok ya cari jalan yang bagus. Soalnya shock breaker nya dah agak bermasalah‘
‘sip boss‘ langsung saja motor Bobby kusikat. Tak berapa lama, motor itu sudah bisa kupakai. Tinggal starter dan wuzz........berjalan sudah.



Jarak antara kampus FKIP dan kampus satunya lagi memang tidak terlalu jauh. Tapi perasaan juga diliputi was-was. Kira-kira ada apa. Mungkinkah ada sesuatu yang menggawatkan. Ah.....mungkin saja tidak. Aku coba berpikir positif. Tapi sesungguhnya aku pun juga mau ketemu dengan teman ini setelah lama tidak bersua. Ingin rasanya cepat-cepat sampai ke FKIP. Dan karena memang jarak nya tidak jauh, akhirnya aku sampai juga. Aku coba pandangi sekeliling kampus tersebut. Ku lihat ada beberapap orang lagi asyik bercanda sambil foto-foto di pelataran kampus.
‘mel, cepat kesini’ kulihat Hesti memanggil. Setelah mendekat aku bersalaman dengan mereka, disana ada Martha, Hesti, Vindi dan Priyo. Mereka asyik memotret kampus, memotret diri pribadi dengan kamera HaPe. Tak terbayangkan betapa riangnya hati bertemu dengan mereka.
‘gimana kabarmu, lama tak ketemu yo. Kok tambah gemuk aja Mel’ Martha menimpali.
‘baik kok. Masih seperti yang dulu. Kabarmu gimana? tanyaku pada Martha.
‘Kabarmu Ti’, tambah besar aja nih body.’ tanyaku pada Hesti. Itu karena memang tubuhnya terlihat lebih gemuk. Hampir menyayingi diriku. Tapi tetap aku belum terkalahkan.
‘baik.....’ jawab mereka bersamaan. ‘ayo Mel kita foto-foto. Lama tak bertemu rasanya sayang kalau tidak berfoto’ ajak Vindi dan Priyo.
‘wah kalian ajalah yang berfoto. Aku nanti aja. Sini aku yang ambilkan gambarnya’ balasku mengelak.
‘kayaknya gemuk tuh badan. Tidak bohay lagi nih’ tanyaku pada Vindi. Kulihat memang perutnya sekarang agak membesar. Tapi ini agak berbeda. Karena ku tahu, sejak selesai wisuda, Vindi menikah, mengajar dan sekarang ikut suami tinggal di kalimantan.
‘iya dong, namanya sudah bersuami. Masa tidak.....hmmmmm’ balasnya sambil pake kode. Ah aku tahu. Itu adalah kode bagi orang dewasa yang sudah matang. Tapi yang belum matang pun juga tahu kode tersebut kok.
‘ayolah kita foto. Disini kayaknya bagus’ Martha sambil menunjuk bacaan ruang sidang FKIP.
‘ayo berdirilah disana, biar aku yang ambil. Kau berdiri juag disana Mel’ Priyo menawarkan diri sebagai juru potret. ‘tapi nanti gantian dong’.
‘ah kalian ajalah. Itu lho sudut yang agak bagus. Bila perlu kursinya di dekatkan biar nanti bisa di naikin dan agak dekat ke tulisannya’ ujarku sambil berlagak nolak ajakan. Padahal dalam hati, nanti aku juga harus berfoto dong. Sayang sekali kalau tidak berfoto. Kapan lagi kalau tidak kali ini. Soalnya habis dari ini, mungkin lama baru bisa berjumpa lagi. Nanti Vindi pulang ke Kalimantan. Martha larut lagi dalam aktivitas mengajarnya. Hesti pulang dan ngajar juga di Gunung Kidul. Dan priyo entah kapan-kapan bisa ketemu dengan kawan satu ini. Memang ketemu secara tidak langsung sering, tapi itu cuma lewat dunia maya facebook. Ketemu langsung seperti ini sangat jarang sekali. Jadi rasanya rugi sekali kalau momen ini tidak dimanfaatkan.
Martha, Vindi, Hesti menarik kursi panjang didepan pintu tersebut. Sepertinya mereka sangat ingin sekali berfoto di depan pintu yang ada tulisan ruang sidang tersebut. Tak berapa lama memang kusi panjang tersebut berpindah posisi. ‘ayo Mel, sini cepetan’ ajak Vindi dengan gaya kocaknya seperti masih gadis dahulu.
‘iya...iya...iya....’ jawabku
‘kita atur dulu gayanya ini biar lebih menarik. Soalnya hasilnya nanti kita tag di facebook biar semua teman-teman pada tahu, biar mereka ngiri’ ujar Vindi bersemangat sambil ketawa-ketiwi.
Hah ada-ada saja kawan ini pikirku dalam hati. Sudah bersuami juga, bahkan sebentar lagi juga akan punya anak, tapi masih saja kocak, agak sedikit centil seperti dahulu.
Akhirnya kami berfoto-foto juga. Aku juga tak ketinggalan. Lama kelamaan terasa asyik. Entah karena memang sudah lama tak membuat kenang-kenangan dengan mereka ini atau karena memang sudah lama juga tak pernah berfoto baik bersama-sama maupun seorangan diri. Hampir semua sudut kampus kami jadikan lokasi pemotretan. Dari ujung selatan sampai ujung utara. Dari barat sampai ke arah timur. Cuma sayang karena malam hari, jadi susah fokus ngambil gambarnya. Tapi untung HaPe kawan yang pake kamera ini bisa diatur blitznya (pencahayaan) sehingga tempat agak gelap pun bisa jadi terang. Bahkan kalau terlalu dekat, maka muka akan kelihatan seperti memakai bedak. Karena hasilnya akan kelihatan putih karena di timpa cahaya blitz. Seperti wajah Martha ketika dia mencoba memotret dirinya sendiri, tapi terlampau dekat. Jadi deh seperti boneka. Hahaha.........
Tak ketinggalan diluar pun juga diabadikan. Padahal pencahayaan sangat-sangat terbatas sekali. Untunglah ada lampu taman. Tapi lagi-lagi tidak terlalu membantu karena ketika di foto, yang nampak hanya yang terkena seputar cahaya lampu itu saja. Sementara pencahayaan kamera kalah terang dengan cahaya lampu taman tersebut. Jadinya ketika di potret kan, hasilnya seperti peramal saja. Soalnya lampu taman tersebut berbentuk bulat dan cahayanya putih. Hasil potret foto pun menyerupai orang yang sedang meramal karena sekelilingnya gelap. Yang tampak hanya muka, dan tangan yang dekat dengan cahaya lampu. Martha, Vindi dan Priyo bergantian berfoto di tempat tersebut. Berkali-kali pula Martha mengganti posisinya, tapi hasilnya tetap sama saja. Begitupun juga dengan Priyo dan Vindi. Sementara Hesti lebih banyak duduk. Mungkin karena kecapekaan sering jongkok-jongkok, berdiri dan sebagainya waktu berfoto-foto tadi. Makanya dia hanya duduk-duduk santai saja. Tidak terlalu memusingkan yang lainnya.
Selesai berpotret ria, kemudian kami semua beristirahat. Duduk-duduk di bawah pohon kecil penghias taman sambil bercanda tentang masa lalu. Tentang dosen yang menurut anggapan Hesti mungkin sudah tidak ingat lagi dengan mantan mahasiswanya dulu (selain aku. Heheh karena memang belum ada kata selesai sampai sekarang). Tapi menurut Vindi, kalau dosen wali, mungkin masih tahu. Soalnya Miss Yuyun itu rata-rata hampir hapal semua mahasiswanya meskipun beribu-ribu banyaknya. Sambil bercanda dan tertawa-tawa, Martha sibuk melihat-lihat hasil jepretan tadi. Entah apa yang dilakukannya. Mungkin belum puas kalau belum dilihat secara jeli satu persatu.
‘astaga.........’ tiba-tiba saja Martha berucap.
‘ada apa e....kok kayaknya bingung’ tanyaku pada Martha
‘iya, ada apa Tha, kok bingung amat kelihatannya. Coba kau transfer foto itu ke HaPe ku’ kata Priyo menimpali.
‘aduh gawat. Malah fotone ke hapus semua je. Tadi salah pencet. Maunya sih nge-save biar enak ngatur dan ngelihat-lihatnya, eh malah kepencet tombol untuk menghapus’ Martha menjawab lirh.
‘lantas hilang semua po fotonya’ timpal Priyo lagi.
‘ iya....bahkan tak satu pun tersimpan’ balas Martha
Aku, Hesti dan Vindi hanya terdiam saja. Kami juga gak tahu juga pengoperasionalannya. Bahkan sewaktu mau motret saja, aku bolak-balik bertanya bagaimana cara ngambil gambarnya itu.
‘wah piye toh iki. Kok aku malah kepencet penghapusnya. Padahal foto-foto nya tadi dah banyak’ ujar Martha sambil sedikit gusar. ‘ayo lah kita foto lagi, mumpung belum terlalu malam’
Mau gak mau kami semua harus potret ulang. Sedang dua kali jepret, tiba-tiba saja HaPe ku berdering lagi. Kali ini dari Jontra. Kebetulan memang sudah ada janji dengannya dari siang tadi. Rencananya mau ke UGM bertemu dengan Gus Adit, seorang pimpinan organisasi pemuda Indonesia. Dalam sms nya Jontra mengabarkan bahwa dia menunggu di sekretariat Juang Majelis. Kubalas sms tersebut agar dia mau menungguku sebentar lagi, soalnya ada yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi tidak ada konfirmasi balik. Aku pikir bahwa dia mengerti kok.
Sementara Hesti, Martha, Priyo dan Vindi bergesit mengambil ulang berbagai sudut dan gaya foto seperti yang dilakukan tadi. Sepertinya mereka tidak mau lagi kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya.
‘Mel ayo sini, foto disini’ ajak Martha sambil menunjuk pintu dekanat.
‘cepat Mel, biar aku ambilkan. Kau duduk dibawah itu lho. Agak sedikit mundur biar gambarnya pas’ ucap Priyo.
Aku nurut saja. Soalnya aku juga tak mau ketinggalan, apalagi sampai tak ada kenangan sewaktu bertemu dengan mereka ini.
‘gimana, dah pas belum posisinya’ ujarku pada Priyo. Maksunya biar dia enak ngambil gambarnya itu.
‘agak kesamping mendekat ke kaki mereka itu’ Priyo mengatur gaya sambil menunjuk aku untuk mundur kebelakang sedikit.
‘nah kalau begini gimana’ balasku lagi
‘Nah sudah pas itu. diam ya. 3....2.....1....’ sambil menghitung mundur Priyo mulai memencet tombol ambil gambar tersebut.
‘gantian dong’ pinta Priyo
‘ya udah, sini kuambilkan’

Dengan riang kami akhirnya berfoto-foto lagi. Maklum meskipun usia menua, tapi kan belum lekang benar masa muda ini. Bahkan aku, Hesti, Priyo dan Martha belum menikah. Cuma Vindi saja yang sudah menikah.
Karena sudah di telpon, aku terpaksa tidak bisa menemani Martha, Hesti, Vindi dan Priyo lagi. Aku harus ke UGM. Kawan-kawan pemuda sudah menunggu. Tidak enak juga kalau aku tidak jadi datang. Padahal aku dan Jontra sudah mengkonfirmasi dengan kawan-kawan lainnya untuk datang. Apa jadinya padahal kami yang ngajak kalau kami sendiri yang tidak datang. Bisa-bisa kepercayaan kawan-kawan pemuda sirna. Mau tidak mau aku harus berani ngomong dengan ke-empat teman baik ini.
Meskipun sebenarnya berat juga meningglkan mereka. Soalnya memang belum kering kerinduan terobati dengan pertemuan singkat ini, kini aku harus meninggalkan mereka. Tadi Martha bilang bahwa besok pagi-pagi Vindi akan pulang ke Kalimantan. Hesti juga, walaupun tidak terlalu jauh, pulang ke Gunung Kidul, tapi kesempatan untuk kami bisa bersama-sama lagi seperti ini sangat susah karena banyaknya aktivitas yang harus dilakukan. Tapi mau bagaimana, semua sudah diatur. Kalau seandainya aku bisa membuat dan merubah-ubah peraturan sendiri seenaknya, aku pasti akan memilih untuk memundurkan pertemuan di UGM tersebut untuk bisa selalu bertemu dan berkumpul serta bercanda ria dengan empat kawan baik ini. Soalnya semenjak wisuda han, aku memang merasa sangat hampa kehilangan teman-teman baik ini. Dan aku terus berharap untuk berkumpul lagi dengan mereka. Tapi sayangnya peraturan itu tidak bisa diatur seenak-enaknya saja. Jadinya aku harus memilih mana hal yang harus didahulukan.
Sementara aku berpikir untuk menghadiri pertemuan di UGM, kulihat Martha, Hesti, Priyo dan Vindi semakin asyik saja. Ada ketidaktegaan untuk meninggalkan mereka ditengah keceriaan yang sudah langka seperti sekarang ini. Tapi mau gak mau itu harus.
‘Mel, kesinilah ayo foto lagi’ ujar Vindi
‘ya...disana itu lho’ ucapku sambil menunjuk papan pengumuman tempat biasanya dosen menempelkan semua nilai ujian semesteran. Papan pengumuman itu seperti tempat keramat bagi mahasiswa. Karena semuanya ada disana. Ada kegembiraan, tapi juga ada kesedihan. Kegembiraan ketika hasil ujian yang ditempel mendapat nilai bagus. Kesedihan bila nilai ujian terbilang jelek. Aku bahkan pernah merasa untuk memecahkan kaca papan itu dan merobek-robek semua hasil pengumuman yang tertera. Soalnya setiap kali lihat hasil pengumuman ujian, kulihat nilai-nilai ujianku hampir semua jelek. Dan ini seperti membuatku tertekan yang berlebihan. Nilai jelak yang tidak diumumkan saja sudah membuat tertekan, apalagi sempat diumumkan bahkan ditempel sehingga bisa di lihat oleh ribuan orang setiap harinya. Itu tentunya bukan membuat kesedihan lagi, tapi sudah menyakitkan hati. Pernah kadang aku berpikir, apakah perlu nilai ujian semacam ini di tempelkan. Tapi ya lagi-lagi itu hanya menjadi wacana di balik kepala keras ini.
‘woi cepatlah, nanti habis batere nya ini’ timpal Hesti melambai.
‘iya...iya.....’ jawabku sedikit pelan.
‘kenapa lambat benar kau ini’ martha menyambar pertanyaan.
‘nggak kok, kan ini sedang berjalan, tapi agak lambat. Kaki masih sedikit rasa sakit karena bekas terjatuh kemarin’ jawabku seenaknya.
‘eh, by the way, aku tidak bisa lama-lama nih. Soalnya tadi siang dah keburu ada janji sama teman. Dengarkan tadi ada bunyi sms. Itu dari dia’ pintaku.
‘wah kau mau kemana nih. Belum juga sempat seru kita ini, masa kau dah mau pergi’ timpal Priyo.
‘bukannya apa-apa, soalnya tidak enak kalau aku tidak jadi datang. Soalnya ada diskusi juga dengan kawan-kawan UGM menjelang rencana-rencana agustus ini’
‘aduh bagaimana sih, kapan lagi kita bisa seperti ini kalau bukan malam ini Mel’ ujar Martha seperti menyesali keputusanku.
‘besok-besok kan masih bisa. Aku masih di Jogja kok. Tapi untuk kali ini, aku sorry banget kawan’ ucapku lirih.
‘ya udahlah kalau memang begitu. Mudah-mudahan kita bisa kumpul lagi seperti ini besoknya’ jawab Vindi tegas.
Akhirnya setelah selesai berfoto di balik alang-alang penghias depan kantor tata usaha FKIP tersebut, aku cabut kembali ke Sekretariat Juang Majelis. Sebelum meninggalkan mereka, aku menyempatkan untuk bersalaman lagi. Itu bukan hanya salaman biasa, tetapi pengharapan hangat untuk bisa bertemu lagi kemudian hari. Semoga kita masih bisa menjaga persahabatan ini kawan. Aku berharap tidak ada yang melupakan diantara sesama kita ini. Ragawi kita memang berjauhan, tetapi hati kita tetap berdekatan. Hari ini kita bertemu kembali, dan takkan ada yang bisa memisahkan kita lagi. Pun kalau harus berpisah, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan. Aku mencintai kalian semua.

Good Luck For You Friends. Amin.


Melki HArtomi AS
Jogja, 05 Agustus 2010
Continue Reading...

Sajak Kemiskinan; (Cerita Yang Tak Pernah Usai)

Lihat
Lihatlah kenyataan pahit
Bara berkobar menggores nadi
Menggurat takdir semaikan masa
Dari reranting cemara yang menghitam dan kusam

Mulut mulut lebar mengangga
Teriakan kebenaan, teriakan kemiskinan
Dan cerita itu tak pernah usai
Sampai tulang keropos ditelan zaman
Sampai maut menghantar keharibaan

Tangan tangan kebenaran hanya membayang
Salamkan raga tanpa kenyataan

Mereka asyik bicara tentang kita
Sebar wacana sampai pelosok negeri
Mencari cari apa yang di cari
Menari nari di atas api suci
Hanya untuk satu impian

Mereka lupa mereka adalah petani
Mereka lupa mereka adalah nelayan dan
Mereka lupa kalau mereka adalah rakyat kecil negeri

Berjuang dari satu sisi kebenaran
Tapi menenggelamkan kebenaran lainnya
Bercerita dalam nada nada makna
Yang entah di mengerti atau tidak

Apakah ada makna di balik cerita
Ketika wacana tak mampu tegarkan massa
Karena yang di cari adalah suatu tindakan nyata
Bukan refleksi, bukan kontemplasi, bukan hanya cerita sejarah

Lihat
Lihatlah kenyataan bahwa petani itu miskin
Nelayan itu miskin dan
Rakyat masih tertindas

Masihkan kita hanya bicara
Ataukah kita hanya bercerita saja tentang mereka
Tentang yang kelaparan
Tentang yang dimiskinkan
Atau tentang yang tertindas

Melki AS
Jogjakarta, 3 April 2010; Sunyi Merenung Nasib Negeri.
Continue Reading...

Suluh Negri


Aku melawan tapi bukan aku pemberontak
Aku bertarung tapi bukan aku pendekar
Aku berjuang karena aku adalah insan
Insan yang harus bertahan
Insan yang haus akan kenyataan

Aku teracuni pikiran gila
Menyerap nafas jiwa yang merdeka
Menggenggam pucuk kepalan tangan

Aku bergelut ditengah kehidupan
Turunkan kaki turunkan tangan
Meski peluh membendung badan
Meski sengsara menerpa jiwa

Tidakkah kau ingat itu kawan
Ketika raga bergetar karena kelaparan
Dan ruh tercampakkan karena kebiadaban

Mereka tidak butuh wacana
Mereka tidak butuh cerita
Mereka tidak butuh manisnya bibir bicara, dan
Mereka tidak butuh indahnya kata-kata

Yang mereka butuhkan adalah makan
Yang mereka butuhkan adalah obat
Obat untuk raga yang sengsara
Obat untuk jiwa yang kering
Obat untuk hati yang terluka

Dan perlu kalian ingat
Bahwa mereka adalah kita
Kita adalah mereka
Satu dalam kesamaan derajat
Sama dalam kesatuan harkat

dan dengan nama Kebenaran,
Robeklah kesombongan didadamu yang penuh dengan keangkuhan
Karena tak ada guna intelektual itu,
Prestasi yang besar dan menghebohkan
Kalau rakyat masih kelaparan

Sulutlah tanganmu dengan api kebenaran
Pasanglah badanmu demi kemuliaan
Dan jadilah engkau suluh bagi negri ini.


Melki AS, Jogjakarta 03 April 2010
Continue Reading...

Kasih, Ku Damba Kau Dalam Kerinduan

Berdecaak kagum ketika ku melihati engkau
Terbayang semua kenangan masa lalu nan indah
Kita berlari
Kita bernyanyi
Bersama

Setelah sekian lama ku tinggalkan
Rindu menebal di dalam perasaan
Menyelimuti mimpi setiap malam
Menggebu asa ingin segera berjumpa

Kasihku,
Dulu kita sering berjumpa
Merajut kisah nan molek di depan cermin
Membakar asmara di dedaunan
Lantunkan lagu gambaran jiwa
Menyemilir air menerpa arus
Kita tertawa

Pantai menjadi saksi indah masa itu
Debur ombak seirama nada di hati
Di tepian riak kecil menggoda pelan
Ikan berdansa cha…cha…cha….

Tapi kini kau dimana
Parasmu menambah kerisauan malam
Hening terkekang sepi membentang
Tertusuk sukma kecil ini yang tak lekang ingatan
Dalam sketsa kecil gambar tua
Dalam lapuknya sinar sang mentari

Kasihku,
Kini ku hanya bisa memandangmu sekejap mata
Dari lembaran foto usang tua tak bercahaya
Dari paras yang mengguratkan masa-masa
Aku Bangga
Ku Bahagia

Meski kita sekarang jauh terpisah
Tapi kenangan bersama adalah anugerah
Yang tak tergantikan dari apapun
Tak pernah lekang oleh waktu
Tak tergerus air di laut

Kasihku…
Saat melihatmu hati bergetar
Kala mengenangmu hati terbakar
Aku meleleh dalam kerinduan panjang
Cair ku dalam khusyuknya sukma
Ingin mengulang masa lalu

Menangis daku kala ingat dirimu
Terhanyut daku dalam aliran tak bermuara
Mimpi menyelimuti malam-malam panjang
Menerawang kenyataan kita terpisah
Jauh….
Jauh…….
Tak terkira…..

Kasihku
Kini kita tinggal cerita
Selembar foto dan kenangan lama
Seuntai nada tak berirama

Tuhan…
Mungkinkah ada mukjizatmu untukku
Dengar satu permintaan kecil nurani terbelenggu ini
Aku ingin berjumpa, Ingin bersenda gurau
Tertawa bersama-sama lagi dengan Kekasihku
Yang tlah lama kutinggalkan
Yang tlah lama tak ter-kabarkan
Yang tlah lama kurindukan.

kasihku
Sungguh aku tak bisa lepaskan dirimu
Tinggalkan kasihmu hingga ku kembali
Hingga akhir nanti.
Hingga mati.


Melki AS, Jogja 09/02/10 (Hening Sepi Dalam Kerinduan)

(Untuk semua kekasihku yang lama kita tidak berjumpa, bersua dan bersenda gurau ria. Terimakasih Dini Destini atas kiriman fotonya. Kalianlah yang kurindukan. Kalianlah kekasihku semua. Semoga waktu kelak mempertemukan kita kembali. Amin)
Continue Reading...

Cerita Untuk Negeri;

Suara mengalun di keheningan malam
Denting gitar mendawai pecahkan kepenatan
Mengasa galau di tengah kepalsuan
Nyanyikan kasih kisah yang pilu

Semakin lama suara berdentang
Nada sumbang tak di hiraukan
Saksi luka hanyalah kebisuan

Pengamen kecil tidur di ubin toko tak beralas
Melawan dingin menyergap raga
Pikirkan nasib mungkinkah berubah

Merah matanya tanda kelelahan
Keringat mengucur di sela mimpi-mimpi
Tapi Pengamen kecil tetap bertahan

Ia tidak mengenal agama
Tidak mengenal arti pendidikan
Hanya tahu mencari nafkah
Menyambung hidup hari demi hari
Menambal nyawa yang tinggal separuh
Menanggung beban yang tidak pernah sirna

Menangis ia dalam keheningan
Tertawa dalam kepedihan hidup
Tapi
Ia bahagia
Ia sejuk bagai embun di dedaunan
Meski panas terik membakarnya
Meski hujan dingin mengguyur tubuhnya
Ia tetap bernyanyi untuk negeri

Oh……angin
Dengarkan suara sumbang ini
Kabarkan pada negeri ini sebuah kenyataan
Dan saksi tidak hanya menjadi cerita sunyi lorong yang gelap
Tidak menjadi nyanyi di kesepian remang

Pengamen kecil tidur di ubin toko tak beralas
Kau cerita untuk negeri

(Melki AS, Jogja 15/01/10; Pengamen kecil tidur di ubin toko tak beralas)
Continue Reading...

Sketsa Cinta Orang Jalanan

Gemericik air merintik hujan
Angsa kecil menari gembira
Bunga bernyanyi du…du….du…..

Pengemis tua duduk di jalan
Menanti pesan menanti berkah
Satu dua mata berbinar
Ingat nasib, ingat keluarga
Yang lama tlah di tinggalkan

Sekali pejamkan mata ia menangis
Meratap sendu rindu kampung halaman
Meski dengan asa dia bunuh sunyi
Meski rindu selimuti hati

Kelaparan menjadi semangat hidup
Bahagia di tengah guratan matahari, Kau..
Bergelut dengan selubung hujan
Kau masih berkorban
Suara kecil derita kemiskinan
Takkan pernah di hiraukan
Tinggal sepi menunggu Tuhan
Runduk..

Bocah kecil berlari telanjang dada
Nasib memakimu dan berpaling muka
Kau manyum menatap malam

Lentera redup teman tidurmu
Lorong gelap jalan takdirmu
Tapi..
Kau tak pernah menyerah
Kau akrab dengan pahit, perih dan terpuruk
Mendung malam membuka jalan untuk hidup
Membuka mimpi menyibak derita

Dan ketika
Hijau bunga menyambut pagimu
Bernyanyi kupu-kupu di rerantingan
Kau mantap menatap hidup
Setelah melewat rinai gerimis malam
Melangkahkan kaki bernyanyi menyambut mentari
Du….du…..du…………

(Melki AS, Jogja 09/01/10 ; Sketsa Cinta Orang Jalanan)
Continue Reading...

Ku Peluk Bara dalam Kekalutan

Kalut membelenggu tak bersuara
Menyimpan bara di tengah damai
Meneteskan asa panjang jalan sutera

Datang kau tawarkan impian dunia
Pergi kau tawarkan harapan hampa
Membalik fakta dari kebodohan
Membingkai rasa tinggalkan gulana

Aku terjebak ditengah jalan
Sesat dalam rimbanya pencarian
Gelap dalam terangnya binar
Tertekan dalam menyisakan penat

Kalut…………………
Semuanya remang

Aku jatuh di tikam impian
Perih meradang menusuk jiwa
Meratap dalam ketidakpastian jalan
Terbakar keinginan tak berpanjang

Bara bagai pisau bermata dua
Merah darah dekap derita dan air mata
Tapi tetap kan ku peluk cerita ini
Walau menggores luka menyayatkan hati

Jatuh daun kedalam api
Mentari jingga tiba di padangan
Tinggalkanlah budi tinggalkan hati
Hidup sendiri tak baik terkenang

Tapi satu yang kupinta
Lihat dan dengarkan suara ini

Karena derita adalah sepotong roda kecil pedati
Yang berputar dan jauh berlari
Meski berlumur dusta sepenggal derita
Bara……….
Ku peluk dikau dalam kekalutan
Ku genggam dikau meski terhinakan
Bara…….
Perhiasan hidup anak manusia

(Melki AS, Jogja 15/01/10, Bara; Sepotong Cerita Anak Manusia)
Continue Reading...

Sajak Kembara Sunyi

Terawang malam menemani kelam
Gugur senja diterpa angin
Bersimpuh ku dalam pelukan sang alam

Bersama duka ku lalui kenyataan
Dan layu lah bunga sebelum berkembang

Satu per satu gadis desa menari
Menyeringai, lugu berwarna warni
Tak kuasa mata terpejam
Dan harum aroma nafas tak seindah lamunan

Terduduk ku dalam beku nya harapan
Membisu sejuta pertanyaan
langkah gontai tak pernah berteriak
Kandas terkubur dalam bayangan
Bara pun padam tersiram luka
Terguncang
Bergetar
Diam
Mati

Dan...
Ketika jerit tak lagi di dengar
Kuntum pun kering, sepi, sunyi
Meninggalkan kenangan

Lelah ku bergelut dengan bayangan
Kembara padang tiada berujung
Rasa pun sirna terbuang di terpa gelombang

Aku ingin pulang

Aku ingin tidur
Mimpi bersenda dengan rembulan
Bernyanyi dengan bidadari-bidadari malam

Aku ingin pulang......

(Melki AS, Jogja 08/01/10; Sajak Kembara Sunyi)
Continue Reading...

Kelana Tua

Guratan wajah keriputmu masih membekas di pipi
Pekat bau matahari tak lekang dari tubuh
Kau pun tetap berdiri

Tergilas pahitnya zaman kau bertahan
Bertaruh dengan kejamnya sang asa
Berpacu dengan lincah nya putaran waktu
Kau terus berjalan

Cerita laut adalah kisahmu
Belantara liar nafas semangatmu
Badai dan ilalang selimuti kulit tipismu
Oh…..Kelana tua kecil dan kurus

Kini…..
Kegagahanmu mengarung samudera usai lah sudah
Belantara pun tak kau hiraukan lagi
Dan embun menangis melihatmu
Berteman melati setaman lemah tak berdaya
Dan cerita berganti masa
Mengubah sajak pudarkan sukma
Tinggalkan senyum kecil yang melintas dari bisunya sang nisan

Oh…….. Kelana tua……………
Senandung malam camar berdendang tak bisa kau dengarkan lagi
Langitlah tempatmu
Dalam sangkar kereta malam
Hidupmu terkurung
Tenanglah…
Tenang dalam tidur panjangmu
Dalam peluk kasih sang pemilik alam
Kau di kasihi
Kau di cintai
Dan kau kan terus dekat dalam hati ini

Bernyanyilah untuknya Tuhan
Senyumlah sebesar ketabahan yang ditaburkannya

Kelana tua….
Jangan kau sesali yang telah terjadi
Yakinlah Tuhan akan mengirim biduknya untukmu

Dan esok ketika kau buka jendela
Temukan damai dalam pembaringan
Kelana tua kecil kurus
Bapakku………

(Melki AS, Jogja 09/01/10 ; Telaga Renungan Sang Kelana Tua)
Continue Reading...

'Dan Sebelum Senja..

Samar dari jauh suara itu menyahut namaku
Suara yang berasal dari jeritan nurani terdalam
Mengisak gelak tawa menyisahkan pilu
Pelan...pelan....pelan.....
Pelan....pelan....pelan.....pelan.....
Pelan.......
Tapi sakit menusuk hati

Ku pejam mata bulat ini
tapi bayangnya selalu melambung
Kuasanya berenang menguasai akal

Oh Tuhan....tidak miriskah engkau
Aku menderita, aku sakit, aku terjerumus dalam jurang kehampaan
Aku hancur.....

Kerontang aku berusaha menepi
Semakin dekat tapi,
Tepian pun tak hendak aku menumpang hadir
Dan bidadari malam menanti lingkar
Menghadang jalan pupus harapan
Aku terjerembab ke dalam keputus asaan panjang

Tuhan Ilahi..............
Kau lah penolongku
Tiada kuasa aku menentang kehendakmu
Sejuta harap kenapa.....
kenapa.....
kenapa...........

Aku yakin kau tak pernah lelap
Dan aku yakin pintumu pasti banyak jalan
Untukmu
Untukku,
Untuk kami semua........
Takdir adalah keputusan

Mekar bunga karena-MU, Mati pun karena-MU
Dan, sebelum senja menyelimut
Tuhan....
Tolong Aku

Melki AS
Jogja 07/01/10, Sendiri Ku Renungi Takdirku
Continue Reading...

“Petang di Ujung Moncong Meriam Berkarat Di Pinggir Pantai’

Kepada kisah kau serahkan jasadmu
Petang membayang di ufuk barat
Di ujung moncong meriam berkarat di pinggir pantai

Ramah ilalang menyambut kedatangan
Bocah kecil botak beringus di pipi
Sambil berlari menepuk dada
Inilah sejarah
Inilah cerita

Sepoi angin berhembus menerpa pelan
Sejuk terasa damai dihati

Tapi sisa adalah sisa
Membias makna tersirat cerita
Meriam karat pun sirna
Rusak karena kepongahan dan kekuasaan sesat

Kini hanya kenangan bekas membayang
Usang dimakan hasrat kota
Dan cerita meriam berkarat berakhirlah sudah
Tanpa penantian dan perjuangan
Tanpa menjelma di dalam sukma

Kau sejarah
Kau ponggah
Ketegaranmu menatap laut
Kebengisanmu menakluk alam
Sia-sia tanpa guna

Kau kalah dengan tangan kuasa
Keangkuhanmu tak berkutik ketika orang mulai memperkosamu
Membawamu dalam Ketiadaartian

Sejenak damai pun berakhir
Membayang menatap langit
Mengingat Perjuangan dari dirimu
Yang kini mati...mati dan mati.....

Berantai hari terasa ingin bersatu
Setelah sekian lama tak berjumpa
Mengurai kisah, cinta dan manisnya bocah kecil
Menanti perjumpaan yang tertunda tertunda

Petang di ujung moncong meriam berkarat di pinggir pantai

(Melki AS, Jogja 12/01/10; Bengkulu Selatan, Kisah Kecil Bocah Ingusan)
Continue Reading...

Dari Sepucuk Surat, Kuhampiri Dirimu

Salam Sayang Selalu Padamu,

Semenjak engkau meninggalkan surat terakhirmu waktu itu, berjuta perasaan datang berhamburan. Was-was menyelimuti seluruh tubuh ini. Gemetar terasa lebih mengencang ketika surat itu kubacai kembali. Puitik memang terasa dan cukup argumentatif tentang apa yang telah engkau jelaskan. Tapi mungkin disini engkau melupakan sesuatu, Sayangku, Kekasihku tercinta. Aku sebenarnya tidak perlu menceritakannya lagi padamu, apalagi telah banyak yang telah kita ceriterakan, kita diskusikan sehingga akhirnya keputusan ini yang harus kita ambil (tapi oke lah, mungkin nanti aku-pun akan sedikit mengulas tentang apa yang sebenarnya belum engkau pahami)
Ayam mulai berkokok ketika pagi datang menyembul dari ufuk timur. Daun-daun-pun terlihat menari menantikan datangnya sang pembawa cerah. Begitupun aku melogikannya diantara kita. Entah apakah itu terpaut pada diriku atau dirimu. Tapi sebelumnya aku yakin akan ada bentuk terang yang akan coba kita bawa. Memang akhirnya semua itu nihil. Kedatangan suratmu itu telah merubah segalanya dalam diriku, dalam tiap detik detak jantungku. Tapi biarlah, mungkin ini yang namanya suratan takdir.

Ah…takdir, apa pula itu.
Apa benar takdir itu kejam seperti yang pernah di-lagukan.
Yang jelasnya hanya Tuhan yang tahu semua.

Dari awal ku melihati dirimu, terbesit aku tentang seorang tokoh perempuan yang sekaligus ibu bangsa kita ini (semoga aku tidak munafik). Ya, siapa lagi kalau bukan R.A Kartini. Seorang yang berdarah ningrat, tapi tidak mau terikat dalam kungkungan feodalisme keningratannya itu. Bisa kau bayangkan, seorang Kartini Muda yang waktu itu sebenarnya sudah terbilang enak hidupnya karena tidak akan pernah ada kekurangan yang diraihnya. Tapi siapa nyana, justru keberlebihan itulah yang menjadi kekurangan dari Kartini Muda. Beliau ingin sekali melihat dunia luar, bertemu bahkan bercakap tidak hanya dengan kalangan keluarganya saja dan hanya orang-orang tertentu. Beliau ingin sekali berbaur dengan semua orang dari semua golongan. Beliau ingin bercakap dengan pemuda-pemudi kita waktu itu. Ya, bercakap atau mungkin kalau di Indonesia-kan artinya bicara, berbicara. Beliau ingin sekali berbagi, sharing dengan siapa saja. Mungkin itu yang dibilang Habermas ataupun Georg Simmel tentang pondasi peradaban manusia di masa depan dalam teori komunikasi-nya. Sehingga Kartini mampu menjadi pelopor perubahan gender negeri ini dengan Emansipasi yang coba dirangkainya.
Mungkin engkau bertanya-tanya, siapa pula Habermas, siapa pula Georg Simmel dan apa pula teori Komunikasi itu. Tak penting kuceritakan padamu. Intinya, mereka menyimpulkan bahwa untuk keinginan dalam membangun peradaban masa depan yang baik, harus dimulai dengan membuat pondasi komunikasi secara sehat. Komunikasi yang dapat mem-pengertikan semua orang dengan penuh keterbukaan dan kejujuran. Karena diatas segala hal yang akan kita lakukan, selain niat, ada kejujuran yang harus selalu menjadi peran utamanya (tapi ini pendapatku sendiri lho, karena aku tidak ingin engkau menafsirkannya salah). Niat dan kejujuran. Itulah sebenarnya yang coba kita lakukan kemarin ketika kita mulai merajut asa. Engkau berusaha untuk jujur padaku, begitupun aku yang selalu dan selalu ingin jujur padamu. Tapi ternyata perjalanan panjang ini teramat banyak halang rintangnya. Berusaha untuk terus berjalan lurus, ternyata pun membawa dampak buruk pada hubungan kita. Bahkan kita tidak mengetahui kalau lobang besar telah siap untuk memangsa. Memangsa hubungan baik kita, memutus rajutan pondasi asa yang coba di urai.
Aku senang sebenarnya engkau telah mau jujur padaku. Terlebih lagi tentang apa yang pernah kita jalani. Mungkin engkau tidak atau bukan diciptakan untukku. Ku hargai itu semua. Aku-pun sadar dan kita pun telah sering mendiskusikan ini bukan! Bahwa cinta tidak harus memiliki karena kalau terlalu possesif, maka gelaplah semua terasa. Aku ingat sebait lirik lagunya Airsuplay yang lebih kurang bunyinya “ I can see the pain living in your eyes, and I know how hard you try, You deserve to have much more. I can feel your heart and I sympathize and I’ll never criticize all you’ve ever meant to my life”. Tapi akupun berharap sama seperti Bryan Adam, Please Forgive Me. Maukah kau memafkanku atas semua kesalahanku ini? Mungkin karena aku telah salah mengartikan dirimu, mengartikan bahasa cinta darimu. Aku memang mengakui bahwa aku terlalu masuk kedalam prinsip kecilku, bahwa apa sedang kulakukan harus diraih atau dicapai secara sempurna. Ini mungkin membawa perbedaan padamu. Sekali lagi forgive me sayangku (kalau masih boleh memanggilmu begitu). I would rather hurt myself than to ever make you cry. Biarlah prinsipku menjadi bagian diriku, dan prinsipmu menemani setiap perjalananmu.
Kita telah sama-sama membuat penegasan dan kita-pun akan menanggung resikonya sendiri-sendiri. Tapi jika engkau ingin sharing denganku, aku tidak akan menutup diri. Aku menghambakan diriku untuk suatu komunikasi. Tidak hanya engkau, bahkan siapa pun itu, aku tetap akan menemani dalam sharing-nya,. Terrmasuk engkau, Teman yang pernah kusayang. Mungkin dengan berakhirnya asa ini, membuat kita lebih khusyu pada pencapaian diri. Memang terkadang aku merindukan ketika jauh darimu. Bayangmu tidak gampang untuk dilupakan. Nama dan parasmu terlalu kuat bertengger di kepala yang keras ini. Tapi semoga ini tidak memusingkan dirimu. Memang tragis, tapi kita akan menjalani semuanya. “Manusia itu seperti aktor diatas panggung yang tanpa skenario, teks atau tuntunan peran, tapi mesti mamainkan suatu lakon entah itu apa” ungkap Jean Paul Sartre. Termasuk kita contohnya. Jadi janganlah engkau berpusing akan hal itu.
Keputusan yang kita buat memang terasa final dari cerita panjang ini. Memang awalnya dulu ketika orang bicara cinta itu adalah rasa yang suci, yang untuk mencapainya, kita benar-benar harus ikhlas dan melepaskan segala atribut yang berkaitan dengan kebendaan, yang juga hadir dari sanubari terdalam lalu terhembus pada tiap tarikan nafas, ku anggap itu semua paradoks yang besar (Big Illusion). Tapi sekarang aku merasakan hangatnya realitas yang nyata seperti yang pernah di ungkapkan Miguel de Unamuno dalam The Tragic Sense Of Life, bahwa cinta itu anaknya penipuan dan bapaknya ilusi (mungkin ini hanya protes ku saja pada cinta, tapi masih perlu di uji lagi hipotesisnya kemudian hari). Tapi ya namanya cinta, semuanya membingungkan kok. Logikanya tidak hanya muncul dalam satu layar bahkan bisa dua ataupun tiga layar secara bersamaan. Kahlil Gibran bahkan menuliskan bahwa cinta hadir tidak harus karena pendekatan yang intens sekalipun dilakukan berhari, bertahun atau berabad-abad lamanya. Ya bingung semua aku akan hal itu. Atau mungkin cinta itu suci, atau malah hanya sekedar keturunan dari sang penipu. Atau bisa jadi justru ia adalah penipu yang suci. Si suci yang suka menipu. Aku tidak tahu. Entahlah, biar waktu yang menjawab. Begitupun juga dengan cinta kita.
Sebenarnya aku terkejut ketika dalam suratmu, engkau menegaskan bahwa lebih memilih menyukai “dia” yang sedari awal menjadi temanmu, temanku, teman kita semua. Tapi tak mengapalah. Aku tidak akan mempersalahkanmu. Bukankah Kejujuran memang pahit dan Kehidupan musti kejam!! Jadi hidup sempurna harus dilalui dengan kemampuan survive (bertahan) dalam kepahitan dan kekejaman. Itu namanya gentle. Itu kenapa aku tidak ingin menyalahkanmu. Aku banyak harap, engkau tahan mengahadapinya dan aku dapat melewatinya. Biarlah cinta diantara kita menjadi buih yang terbang dibawa angin. Akhirnyapun toh tetap Tuhan yang tahu. Mungkin tidak padaku, padanya atau pada yang lain. Atau mungkin pula sekoci hatimu berlabuh pada orang lain, padanya ataupun padaku. Wallahualam.
Luka tetap akan selalu ada dan sudah menjadi bagian hidup dalam keseharian makhluk yang benafas. Apalagi makhluk nisbi seperti kita yang masih kotor dan berkeruh dalam menganyam samudra hidup. Perpisahan itu muncul didalam diri karena ketidakpuasan sehingga menimbulkan bercak cacat antara kita. Maka akhirnya ada suatu kewajaran ketika engkau meminta berpisah denganku karena terluka. Luka yang pernah terjadi padamu, padaku, pada hubungan kita, karena ada hati yang teraniaya. Ada sesama yang berbeda dan sebab itu coba ku binasakan. Dan kalau kau perlu tahu (seperti yang kubilang bahwa aku akan menjelaskannya), luka kita itu adalah luka hati yang terpaksa mengorbankan perasaan. Aku menyebutnya luka karena persoalan “hati dan perasaan” itu bukanlah sesuatu yang abstrak, tapi konkrit menyangkut tubuh, melibatkan perasaan, membangkitkan terenyuh dan juga amarah. Bukankah itu yang terjadi padamu saat ini?
Bilakah kau pernah membacai lagi novel Layla dan Majnun karangan Syaikh Nizami, kau pun akan akan bertanya-tanya. Begitupun aku. Tapi kuyakin terselip makna mendalam dalam kisah yang coba dituturkannya dalam novel tersebut. Makna yang mencoba menguak dalam hati dan perasaan manusia yang punya cinta. Cinta abadi seorang kelana korban hidup ber-kasta. Akhir cerita yang ternyata cintapun ternyata punya ruang tersendiri di hadapan sang khalik. Tentu engkau tahu itu, bagaimana cinta Layla dan Majnun yang terusik beragam rintang dan halang sampai akhirnya Qays (nama asli Majnun) yang sangat mencintai Layla ikut terbaring, mati, disamping pusara pujaan hatinya. Qays yang di bilang Majnun, yang berarti si Gila, setelah lama menderita karena cintanya yang teramat besar pada Layla memang menjadi gila setelah pertemuannya ketika Ibnu Salam, suami Layla yang terpaksakan meninggal dunia. Saking tidak kuatnya beliau menerima kebahagiaan sehingga tubuhnya bergetar dan kekuatannya melebihi kemampuan manusia biasa, sehingga padang pasir yang ada didepannya terlintasi dengan cepat dan sangat jauh. Mungkin begitu padaku hari ini, puisi yang coba dibuat Majnun, sekarang seolah menjadi wali dari perasaan kecilku ini terhadapmu. Ya, puisi yang dibuatnya di bagian akhir cerita sang pengelana. “Kesengsaraan ini milikku, kesedihan telah menyatu dalam jiwaku, kenangan tentang bibir yang begitu manis, telah membelenggu lidahku untuk mengungkap pesonanya. Saat sayap cintaku terluka dan tidak dapat terbang, burung indah mempesona yang telah lama aku cari datang dihadapanku. Sesungguhnya, engkau merangkai pesona bidadari, dan apalah artinya diriku? Aku tidak mengetahui apapun selain bayangmu. Tanpa engkau aku tiada. Khayalan telah menyatukan kita berdua. Kita melebur menjadi satu, menyatu dalam ketetapan cinta. Kita adalah dua tubuh dengan hati yang satu dan jiwa yang sama. Dua lilin dengan satu nyala api murni, semurni surga. Dari bentuk-bentuk yang sama digabung menjadi satu, dua titik menjadi satu, tiap jiwa mendukung satu sama lain”
Ya memang begitulah kiranya bayang-bayang. Selalu ada hal yang tidak tampak nyata. Cintapun membayang yang sebetulnya bukan keputusan final untuk suatu ikatan. Bisa saja sekarang cinta, besoknya benci. Ataupun sekarang cinta dan selamanya tetap cinta. Hehehe, jangan pula kau bingung, itu hanya lamunan kotorku saja. Bayang-banyangpun bisa jadi membawa keyakinan yang baik karena selalu akan ada kebaikan dibalik setiap keburukan yang kita dengar yang seolah dalam setiap kejadian (bencana secara kasarnya), adalah blessing in disguise, rahmat yang tersembunyi. Sebab bayang itu bukan selamanya suatu kegelapan semata, melainkan hanya sekadarnya. Sebab dibalik bayang itu tersembunyi terang yang sedikit terhalang. Terangku padamu ataupun terangmu padaku. Bahkan Sindhunata pernah membuat suatu kutipan bahwa bayang-bayang adalah kenyataan yang selalu menyertai kehidupan manusia. Bisa jadi bayang itu adalah lamunannya, impiannya atau cita-citanya. Tapi bisa juga bayang-bayang itu adalah kegagalannya, kesia-siannya, atau kesedihannya. Manusia tak mungkin ada tanpa bayang-bayangnya. Dimanapun ia berada, kemanapun ia mengembara, bayang-bayang itu tak mungkin lepas dari hidupnya. Makanya kenapa ku bilang bahwa sulit bagiku untuk melupakanmu, melupakan masa indah yang coba kita bangun bersama diatas ponggahnya kuasa cinta kita!!
Bayang ini juga yang mencoba menerangkan pada kita tentang arti dan kesia-siannya sebuah cinta seperti yang dialami Abelard dan Heloise. Kisah Abelard dan Heloise dalam the letter of Abelard and Heloise menunjukan pada kita bahwa dalam hidup selalu tersimpan sesuatu yang komplik, mulai dari kebahagiaan sampai kesengsaraan. Seperti kesengsaraan yang dialami mereka karena cinta. (semoga itu tidak pada kita). Mungkin kau belum sempat membacanya kemarin, karena baru saja aku mendapatkan buku itu. Cinta suci nan abadi, yang dibuat Abelard untuk Heloise, ataupun dari Heloise untuk Abelard menyiratkan bahwa keabadian cinta tidak harus menyatu selamanya. Bahkan keabadian itu, yang mereka nikmati justru lewat keterpisahan yang memilukan. Sebagaimana Abelard yang seorang guru dan Heloise sebagai muridnya menikah dalam ketersembunyian karena citra dan derajat masa itu. Namun pada akhirnya upaya bersatu yang suci ini-pun harus terlibat konspirasi yang menjatuhkan keduanya ke dalam aib yang tidak ter-peri-kan. Tapi cinta mereka tetap abadi meski harus terpisah. Justru keabadian dari keterpisahan ini, hingga akhirnya Abelard-pun mampu meninggal dalam senyum manusia sempurna. Dalam keheningan dan ketenangan apapun, cinta itu terus membara, menyeruak tanpa pernah menemukan apalagi yang diinginkan. Cinta mereka kemudian menjadi roh yang gelisah. Disatu pihak, roh itu memang murni, tapi dilain pihak juga dipenuhi keinginan dan hasrat yang tidak semurni itu karena ia juga manusiawi. Kegelisahan itu sungguh suatu kegelisahan. Namun justru kegilisahan itulah yang ikut merintis lahirnya zaman Renaissance, zaman yang penuh dengan kemanusiaan, menggantikan zaman yang terlalu keilahian.
Akupun tidak berharap kita tidak harus seperti Layla Majnun ataupun Abelard dan Heloise. Kita punya bayang sendiri yang selalu menyertai. Kisah mereka adalah rekaan sang pengarang dan kisah kita adalah sejarahnya kita. Meskipun kini harus terpisah. Keyakinanku padamu tidak akan pernah berubah. Aku yakin kau wanita tangkas, kuat menahan problema seperti Kartini, Layla atau Heloise. Entah mungkin suatu saat kita akan dipertemukan lagi atau tidak, cinta yang dulu pernah besemi diantara kita adalah corak tersendiri dari sebuh eksistensi manusia, termasuk kita. Ceritanya memang panjang dan berliku karena setelah hampir dua tahunan kita rajut, kitapun tak kuasa menahannya ketika ia akan jatuh. Tapi aku akan tetap berusaha mantap melangkahkan kaki gontai ini. Kucoba tegas seperti Sysiphus (Le Myth of Sysiphus karya Albert Camus) yang selalu bahagia meskipun terhukum harus membawa batu kepuncak tapi berulang kali juga sebelum mencapai bibir puncak, batu itu menggelinding kembali kebawah dan sysiphus tidak pernah menunjukan keputusasaannya meskipun itu absurd dilakukan. Itulah bayang yang coba aku tegakkan terus dari sepotong hati kecil ini, Sayangku.
Tak terasa karena ingin sekali aku membalas suratmu, sang terang mulai menyelinap dalam bayang redupnya rembulan. Ayam yang tadinya berkokok lantang, daun-daun yang tadinya riang menari, kini mulai terlihat melayu dan pulang ketempat seharusnya. Sekarang hanya kicauan jangkrik dan remangnya laron yang ganti menemani dalam kesendirian. Sesekali aku melihat kerlap-kerlip nya bintang dilangit. Kupandangi, sampai tak terasa mata ini berkaca. Ku usir nyamuk yang pengecut (karena mengigit dari belakang dan sembunyi-sembunyi) dengan membaca karya-karya sastra Portugis. Buku-buku sastra mereka mengulas tentang Dunia Sajak dan Ke-penyair-an. Mungkin akan berguna sedikit bagimu yang sedang memperdalam sastra. Dalam buku-buku Portugis itu, mereka menyebutkan bahwa Portugal adalah tanahnya penyair (barangkali kau belum tahu itu). Adalah Celina Bittencourt seorang penulis, pelukis dan penyair renta Brasil yang kini telah berusia 81 tahun yang tetap meneruskan keasyikan sastra Portugis yang mengurai tentang “amor atau cinta” tersebut. Oh iya, sastra Portugis dahulu berjaya dengan terkenalnya puisi ataupun sajak-sajak yang bergenre cinta sejak Luis Vas de Camoes (1524-1580), dan seteru sejarahnya Fernando Pessoa (1888-1935), sampai penyair kontemporer Alexandre Manuel O’Neil (1924-1986) dan Nuno Judice yang berjaya pada kurun 1972-an.
Mungkin kau perlu tahu, ada satu hal yang sangat kusenangi dalam membaca karya Celina. Judulnya “Acorda, Meu Amor” (Tegaskan, Sayangku). Begitulah kira-kira. Karena sedikit banyak ini mewakili perasaanku.

Vamos, acorda meu amor, que e curta a hora!...
Relembra, oh desvairado amor,
Cantigas e cantares que te disse
La bem distante ao nosso abraco debil
O quanto te queria e com que impeto?
Portanto acorda, amor, que que vai raiando a aurora!
Desperta, meu amor, que a curta a hora.

(Gegaslah, tegaskan sayangku, kini saatnya!...
Lihatlah, kekasih yang jauh,
Para penyanyi dan nyanyiannya selalu tentang itu
Sebaiknya jarak dan kerenggangan dienyahkan
Bilakah keinginan dan kebersamaan seiring?
Pastikan, sayang, untuk bersama wujudkan impian!
Tegaskan, sayangku, kini saatnya!)

Sangat enak bukan kalau dibacai, sampai perihnya mata ini membaca dalam remang seakan tiada berasa.
Ya kenapa aku bilang bahwa sengaja kutuliskan ini padamu, bukan hanya untuk memperdalam sastra saja, tapi seperti kubilang diawal tadi, ketegasan dan kejujuran memang sangat perlu dalam pengambilan keputusan. Begitupun ketika engkau percaya dengan keputusan kita harus berpisah.
Bilakah kau membacai bait terakhirnya, bila keinginan dan kebersamaan seiring maka akan lebih mudah menggapai impian. Maka itu aku tidak ingin menyalahkanmu dari keputusan yang telah dibuat. Karena masih sangat jauh kembara yang akan kita tempuh kemudian. Aku hanyalah salah satu contoh absurd yang mencoba masuk menemani jelajah cintamu yang luas. Dan aku yakin, suatu saat engkau akan berlabuh di dermaga yang sesungguhnya, yang penuh dengan seribu macam kembang dan kebahagiaan. Kejarlah itu, kawan, kejarlah itu sayang, kejar sampai dapat, sampai engkau benar-benar menemukan pelabuhan yang pantas untuk sebuah hatimu. Tak usah kau hiraukan daku. Aku akan menjalani pengembaraanku sendiri. Aku akan mencoba mencari dan bergelut dengan dunia kecilku ini. Biarlah paradoks ini ku tanggungkan dalam diriku. Tapi kumita padamu satu hal, tetaplah jaga komunikasi ini, meskipun kita tidak bisa membagi perasaan satu sama lain lagi. Karena dengan banyak berpola cakap, “derita dan beban akan tertangguhkan ketika ia menjelma menjadi cerita” ujar Hanna Arendt. Tidak ada yang perlu kita sesalkan dan tidak ada yang perlu kau tangisi. Pilihanmu adalah yang terbaik untukmu. Akupun senang bilamana engkau bahagia bersamanya.
Sebelum menutup suratku yang tiada guna ini, ingin sekali aku mengucapkan sesuatu padamu, “nothing gonna change my love for you”. Meski sudah terlambat karena sudah diambang perpisahan, tapi tak mengapa. Biar engkau tahu, biar semesta mencatat bahwa aku atau kita pernah memadu kasih, mereguk duniawi yang fana ini. Terakhir, ku berharap engkau tidak melupakan kata bijak “ to err is human, to forgive is divine”….kesalahan itu manusiawi tetapi memaafkan itu surgawi (Alexander Pope). Maafku ku hamburkan sebanyak-banyaknya untukmu. Sebanyak nafas yang berhembus dalam diriku. Begitupun harapku padamu tentang apa yang telah dan pernah kulakukan padamu sekalipun itu menyakiti hatimu, menyakiti perasaanmu atau bahkan fisik mungilmu. Biarlah bulan dan bintang yang menjadi saksi perjalanan cinta kita yang sepenggal ini serta sejarah yang selalu bertengger jadi teman sejatinyanya. Raihlah citamu, raihlah anganmu, dan raihlah cintamu sampai engkau benar-benar merasakan kepuasan dan kenikmatan seperti yang kau dambakan. Semoga kau bahagia selalu. Amin.

Melki Hartomi AS
Continue Reading...

Titip Surat Untukmu Kawan


Salam Perjuangan,

Hai kawan, lagi ngapain kalian sekarang? Masih adakah perasaan untuk selalu mengingtku, kawanmu yang unik selama ini? Tapi aku yakin, kalian masih mengenangku. Setidaknya ingat saat kita bersama saat duduk dialun-alun utara Jogjakarta. Akh.....aku rasa kenangan itu sulit untuk kita lupakan. Apalagi malam yang dicumbui bulan dan bintang yang bersinar dengan indah seindah kalian. Semua seolah baru saja terjadi. Seperti kemarin saja. Tapi siapa yang menyangka, itu semua merupakan kenangan lama yang sudah lama berlalu. Mungkin itu yang dikatakan dengan waktu. Serasa baru, padahal sudah lama terjadi. Tapi masalah waktu seperti itu tidak perlu kita bahas lagi. Oh iya, aku ingat dengan apa yang ditulis Fatan bahwa ”waktu” itu membingungkan sekali. Begitu rumit dan susah untuk dipecahkan. Apalagi menantangnya.he..he..he.......ingat kan orang barat yang bilang waktu adalah uang. Semua kapitalis. Tapi gak usahlah untuk kita bahas disini.
Oh ya, bagaimana keadaan kalian setelah lama bebas dari kungkungan sekolah? Apakah kalian sudah mendapatkan pekerjaan atau sudah menjadi buruh baru? Hehehehe... just kidding. Aku tahu kalian tidak seperti itu. Siapa aja yang sudah memulai hidup baru sekarang? Ana dan andi sudah resmi menikah belum? He...he...he. Ttapi walaupun sekarang kita sudah berjauhan, tentunya tidak dengan hati kita toh. Begitupun dengan perasaan kita, juga idealisme yang pernah kita bangun selama ini. Yang itu lho, idealisme yang pernah kita bangun sewaktu masih bersama-sama mahasiswa dulu (walaupun sekarang aku masih !!!!.). Kalau kalian kurang ingat lagi, mungkin kalian akan ingat tentang revolusi pergerakan. Nah itu tentang orang-orang yang sering kita banggakan dahulu. ”ingat bahwa ilmuku dari sekolah kedokteran hanya bisa mengobati sedikit saja dari rakyatku. Tapi jauh dari itu, rakyat itu harus disembuhkan dari sakit yang disebabkan oleh sistem” Ernesto Che Guevara.
Nah aku rasa kalian sudah ingat kan. Atau kalau kalian belum ingat, sedikit kuberi gambaran ulang bahwa Che adalah orang yang selalu memakai baret merah dengan satu bintang ditengahnya. Aku masih ingat kok. Oh iya, ada satu hal yang bikin aku terpingkal-pingkal dengan ulah kita dahulu. Diskusi, diskusi dan diskusi. Padahal kadang sampai kelaparan. Dari sandal jepit sampai negara selalu kita bicarakan. Tapi itulah, setelah aku pelajari dan pahami, untuk menjadi aktivis harus memang begitu. Kalau tidak suka diskusi maka tidak akan bisa. Jelasnya kalau tidak banyak diskusi maka tidak akan banyak pengetahuan yang harus dikuasai. Akh... rasanya memang waktu terlalu cepat memisahkan kita padahal sekarang masih banyak lagi permasalahan yang perlu kita bicarakan bahkan bila perlu turun kejalan seperti dahulu. Bahkan masih ada yang belum sempat kita tuntaskan dalam diskusi bulanan yaitu kelanjutan dari Srintil yang menjadi Ronggeng di desa Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dari triloginya Ronggeng Dukuh Paruk. Apakah ia selamanya akan menjadi seorang ronggeng yang selalu siap melayani setiap laki-laki yang punya uang banyak?apakah ia akan selalu senang menerima setiap lembar uang yang diselipkan kedalam belahan dadanya yang montok itu atau mungkin apakah ia selalu senang karena dianugerahi pantat yang besar dan menonjol yang bisa membangkitkan gairah kaum laki-laki?
Itulah bagian yang belum sempat kita tuntaskan. Soalnya kalian terlalu cepat lulus sih. Sepertinya menjadi sarjana itu sudah seperti menginjak diatas angin. Tapi tidak apa-apa. Itu pilihan kok. Aku pun maunya seperti itu. Tapi gak tahulah. Mungkin karena kemampuan otakku yang tidak berbobot atau mungkin karena dosennya sinis dengan kritikanku. Aku ingat satu hari dalam kelas aku dimarahi dan dihina secara halus. Dosen kita yang galak itu menyebut-nyebut tentang organisasi tidak berguna lah, organisasi hanya menambah pekerjaan dan lain-lain. Tapi biarlah. Aku menganggap diri seperti kafilah dan dia........akh gak usah kusebut, kalian dah tahu. He....he....he.
Melanjutkan Srintil tadi, setelah kubacai semua, ternyata ending-nya sangat menyedihkan, kawan. Srintil memang harus mengorbral kehormatannya dan melayani semua pria berduit, tapi cinta semualanya pada Rasus menguatkan dirinya sehingga bisa terlepas dari sejarah kelam ronggeng. Apalagi setelah ia tahu bahwa Rasus sudah menjadi seorang tentara. Pada waktu itu tentara adalah aset yang paling berharga dan sangat dihormati, kawan. Srintil mendambakan sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis. Dari kesadaran ini akhirnya dia niat berhenti menjadi budak nafsu dan berhenti pula dari kegiatan me-ronggeng. Dia hanya ingin menyerahkan hidup dan matinya hanya pada Rasus. Sampai dia rela mencari Rasus kemana-mana. Tapi sayang. Itulah yang kusebut endingnya yang diselimuti kabut kemalangan seorang gadis desa. Setelah lama mencari pria yang diimpikannya sejak kecil dan setelah bertemu dengan orang yang dicari, tubuhnya terasa tidak kuat lagi. Penderitaan yang dia alami semasa pencarian melemahkan semua organ yang ada. Sehingga ajal tak kuasa menjemput dirinya yag malang. Itulah akhir perjalanan kisah Ronggeng Dukuh Paruk yang belum kita tuntaskan dahulu (semoga berguna bagi kalain yang sibuk dengan dunia luar.hehehe).
Tapi dibalik sejumput kisah yang diuraikan Ahmad Tohari itu, aku menarik satu kesimpulan bahwa kehidupan memang rumit. Serumit untuk membalik sebuah dunia dan memutar balik dari putaran semula ke arah yang berlawanan. Aneh kan. Tapi bagiku, untuk memaknai kehidupa,n tidak harus sempit seperti itu. Kehidupan juga menyenangkan bila setiap rintangan dihadapi dengan tenang dan santai. Terutama damai sepanjang waktu. Eh, ngomong-ngomong soal kehidupan, aku sangat berharap kelak kehidupan kawan-kawan bisa lebih baik lagi. Sukses dan makmur. Berhasil menjadi orang kaya. Walaupun tidak kaya harta tapi kaya pengalaman. Akupun akan belajar seperti itu. Termasuk pengalaman bersama kalian yang sudah mulai memperkaya diriku untuk meraih masa depan. Kalau masalah kaya harta,,, aku tidak bisa pastikan. Yang jelas bagiku itu bukan ukuran seperti sekarang ini. Tidak semua hal bisa diukur dengan benda-benda duniawi seperti uang. Seperti yang kita bicarakan dulu, uang terkadang menyesatkan baik penggunaannya maupun pencariannya. Itupun terjadi juga dizaman sekarang. Dengan uang yang berlimpah, seenaknya mereka pejabat negara membeli seorang perempuan atau menyuruh membunuh demi kepentingan personal individu. Pencariannya juga menghalalkan segala cara sehingga korupsi, suap dan lain-lain dijalani. Tidak hanya orang yang berjiwa biasa bahkan dilakukan kalangan agama lho.
Mereka itu mungkin tidak pernah membaca sejarah. Sehingga materi dijadikan sesembahan yang akan mengangkat harga diri mereka padahal sebenarnya harga dirinya itu bukan terangkat tapi tersimpan didalam kantong. Aku harap kalian tidak seperti itu nantinya. Kalaupun mau cari uang, carilah dengan jalan yang benar dan diridhoi tuhan. Jangan sekali-kali menyusahkan orang lain apalagi menjadi mudarat. Kalian juga harus ingat pesan Ki Hadjar dan menuruti kelakuannya seperti yang dituliskan bahwa beliau tidak sedikitpun mengkorup kekayaan negara. Itu harus kalain tanamkan. Selain itu kan kita pernah kita diskusi panjang lebar membahas tentang kehidupan.”masyarakat yang dibangun atas dasar material biasanya gagal secara moral”. Nah aku rasa kalaian lebih paham dariku tentang itu.
Ngomong soal Che, tiba-tiba aku teringat pada kegiatan sampingan yang kita sering lakukan bila malam mulai membayang. Biasanya setiap awal bulan, kita selalu mencari referensi buku-bukuan. Sampai sekarang akupun masih meneruskan hal itu sehingga koleksiku bertambah banyak. Tidak hanya koleksi buku, tapi juga koleksi ilmu pengetahuan. Siapa tahu aku bisa mengembangkannya lebih luas lagi kedepan. Kalian boleh kok kalau mau pinjam. He..he..he. Oh iya, kalian masih menyimpan bukunya Soekarno ”Dibawah Bendera Revolusi” ? Kalau kalian baca dan pahami, kejadian yang dialami bangsa ini sekarang persis seperti yang telah di ramalkan Bung Karno. Bangsa ini semakin terpuruk karena menghadapi orang yang ada di dalamnya sendiri. Itu karena pengambil kebijakan yang semuanya orang asli kita, selalu menutup mata terhadap realitas yang sebenarnya. Mereka sengaja menanamkan jejaring kapitalisme, pendidikan dibuat liberal dan aktivis yang menuntut perubahan diculik bahkan dibunuh. Mungkin kalian belum lupa dengan kejadian Trisakti tahun 1998 silam. Bahkan sekarang lebih parah lagi (mahasiswa ataupun aktivis di sogok dengan embel-embel ’bantuan Khusus Mahasiswa’). Inilah yang aku bingungkan. Kok mau berbuat sesuatu yang baik malah harus dihukum. Kemana sih otaknya pemerintah kita!!
Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang miris kawan. Kalian pasti lebih tahu. Kalian mantan aktivis juga dan sekarang telah kembali ke masyarakat. Selain itu semua, tindakan-tindakan amoral lainnya juga terjadi. Aku menyebutnya kekerasan simbolik namanya. Dimana ada payung doktrin yang melegalkan sebuah kekerasan boleh dilakukan. Dan ini dilakukan semua umat. Yach, bangsa ini seperti kaum barbar saja. Tampak modern padahal primitif. Kerusuhan terjadi dimana-mana. Mereka enggan memikirkan nasib bangsanya untuk bisa lebih baik lagi. Bahkan mereka tidak mengenal lagi dimana batas negara kita ini. Lebih kacau lagi dengan yang sekarang ialah ketidaktahuan lagi mereka tentang lagu kebangsaan. Padahal setiap warga negara kita wajib mengetahuinya. Pancasilapun entah tahu, entah tidak. Nah bagaimana mau mengadakan revolusi, reformasi kalau keadaannya seperti ini??Kalian masih ingat kan!!!jangan pula kalian lupa akan hal itu. Mereka harus disadarkan dari kemalasan mereka itu. Harus ada yang menggembleng mereka supaya mereka tahu bahwa bangsa ini di perjuangkan dengan kobaran semangat dan taburan darah para pejuang. Termasuk kakekku. Narcis kali yeee.
Harus ada yang mengajari mereka akan sejarah bangsanya. Bila perlu, kita turun tangan untuk menyadarkan mereka. Kenapa kita harus turun tangan? Itu karena mereka sangat apatis. Padahal mereka sudah mahasiswa, melek hurup tapi masih buta dengan realitasnya. Mereka hanya tahu datang, duduk mendengarkan celotehan dosen, pulang dan setelah itu mengajak pacar untuk kurungan didalam kamar. Entah apa yang dilakukan mereka, tapi seperti itulah yang sering aku lihat. Aktivitas dan kelakuan mereka sangat jauh dibandingkan dengan kita dahulu. Bila dahulu kita sering berdiskusi bahkan membentuk kelompoik diskusi yang bernama MARAYA, Mahasiswa Indonesia Raya (itu usulku Lho), sampai mengadakan aksi mulai seminar sampai turun kejalan, sekarang mereka menganggap itu kolot dan tidak perlu. Buat apa panas-panas, toh tidak didengar juga. Itu kata mereka. Sakit hatiku mendengar itu. Sebagian dari mereka juga mengatakan takut karena nanti bisa dipukul polisi. Tapi bagiku itu hanya alasan dari mereka yang pemalas saja. Mereka tidak merasakan bagaimana menghirup api nasionalisme seperti kata Bung Karno. Masa mereka takut dipukul polisi, sementara mereka selalu menggagahi pacarnya setiap hari. Itu kan menunjukan mereka tidak takut dengan tuhan. Tapi kok mereka tidak takut dengan tuhan, tapi mereka takut dengan polisi!!! Makanya aku berani bilang itu hanya alasan pemalas semata. Iya kan!!!he....he....he.....Tapi jangan pula bilang aku menjelek-jelekan generasi sekarang. Aku juga salut dengan mereka setidaknya mau beraktivitas. Mereka melakuklan hal buruk seperti ku bilang tadi itu hanya karena kurangnya seseorang untuk memahamkan mereka pada keadaan bangsanya. Itu yang terpenting. Terutama dari sekolah. Guru atau dosen. Apalagi sekarang guru juga sangat buruk citranya. Ada yang mencabuli, makasa murid melakukan hal yang tidak senonoh, korupsi buku pelajaran, ujian yang tidak murni (padahal berdasarkan hasil diskusi kelompok MARAYA ujian itu tidak pantas untuk suatu kelulusan) dan yang paling payah masih memakai konsep serta ajaran lama yang tiak sesuai dengan zaman dan keadaan. Kenapa aku berani bilang begitu karena ada sebagaian dosen kita ataupun guru yang melakukan praktik-praktik yang desainnya sudah lawas bahkan input dan output tidak jelas juga. Gawat kan.
Akh...aku rasa aku tidak pantas ngomong masalah ini dengan kalian. Nanti kalian menganggap diriku pandai be-retorika dan sebagainya. Padahal kuliah aja tidak lulus-lulus. Kalian juga sangat dan lebih mengetahuinya lagi dibandingkan dengan diriku. Ya kan. Aku tahu kok. Oh iya sebelum kuakhiri, karena jam dinding di kamar sudah menunjukan pukul setengan lima pagi, aku teringat sepenggal pesan Ki Hadjar Dewantara ”saya adalah orang Indonesia yang berjuang untuk Indonesia”. Prinsip itu merasuk dan menjadi daging dalam diriku dan menuntut untuk di teruskan. Oke.
Aku minta maaf juga bila kata-kata yang kukutip dari bukunya Ki Hadjar itu salah tulis. Mungkin karena mataku yang sudah agak kabur melihatnya. Padahal aku masih harus mengerjakan tugas dari dosen supaya bisa cepat lulus. Mereka sudah muak melihat diriku. Muak juga akan aktivitas yang aku jalankan bahkan mungkin kalau mereka punya kuasa yang besar, mereka pasti cepat-cepat men-drop out (D.O) diriku. Duh malangnya diriku yang berjuang sebatang kara. Sudah dulu ya, mataku sudah sangat berat nih. Mataku sudah merah. Merah karena terlalu lelah dan merah yang sekaligus menandakan atau menyimbolkan jiwa yang selalu berjuang untuk bangsanya yang lebih baik kedepan. Lain kali kita sambung lagi kalau aku sudah menyelesaikan tugas-tugasku. Ok. jaga terus semangat kalian untuk membangun bangsa ini. Terakhir, aku berharap suatu saat kita bisa bersama kembali dan memulai kehidupan yang lebih baik dan tenteram.
Sekian. Salam dan peluk cium untuk kesetiakawanan kita. Dari sahabat lamamu Melki AS.

Tabik...


Melki AS
Continue Reading...

Featured

 

BIDADARI KECILKU

BIDADARI KECILKU

EKSPRESI

EKSPRESI

Once Time Ago

Once Time Ago

Aspiratif CyberMedia Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template