Pages

Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

BUDAYA SEBAGAI BASIS DEMOKRASI INDONESIA

Rangkuman Diskusi Kebangsaan; Refleksi Akhir Tahun

Secara Idiologis;

1. Filosofi dasar Indonesia merdeka termasuk sistem demokrasi yang dibangun adalah berdasarkan sila ke empat (ke- IV) Pancasila yaitu Kerakyatan Yang Di Pimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan.

2. Esensi sistem demokrasi yang harus di anut di Indonesia yaitu berdasarkan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sendiri yang tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945.

3. Model demokrasi berdasarkan transaksi dan penghitungan suara atau voting merupakan bentuk nyata dari sistem demokrasi liberal dan ini harus kita tolak.

4. Demokrasi liberal bersifat individualistik, materialistik, pragmatisme dan bercirikan transaksional disertai paham internasionalisme sebagai acuan dalam pengelolaan penyelenggara negara yang mengakibatkan merugikan negara dan rakyat Indonesia.

5. Demokrasi liberal yang dibangun rezim reformis telah menjadi monster yang sangat mengerikan karena bangsa ini akhirnya kehilangan jati dirinya dan tercerabut dari akar budayanya sendiri.

6. Demokrasi liberal tidak memiliki identitas kebangsaan karena paham yang di kembangkannya melalui Globalisme dan Internasionalisme yang pada hakekatnya adalah penjelmaan politik penjajahan gaya baru imperialisme dan kapitalisme modern (lanjut).

7. Demokrasi transaksional adalah bagian dari demokrasi liberal yang lebih mementingkan pihak asing dan tidak pro rakyat sehingga kepentingan nasional di korbankan untuk memenuhi kebutuhan dan pesanan pihak asing, sementara kepentingan rakyat telah dikorbankan hanya demi mengejar demokrasi semu dan pencitraan yang dibangun dengan kemunafikan dan kebohongan.

8. Demokrasi kepartaian (dengan sistem perolehan 50 + 1) membawa bangsa ini terseret jauh kedalam sistem demokrasi liberal.

9. Demokrasi liberal selanjutnya mendidik masyarakat serta pemimpinnya menuju watak hedonis materialistis.

10. Kita harus mengikuti dan mentaati kembali Pancasila dan UUD 1945 (yg asli) karena itu merupakan sari-sari kebudayaan tanah air (local wisdom) yang bertolak dari akar budaya bangsa kita sendiri.


Secara Politis;

1. Rezim reformasi sebagai kepanjangan tangan kaum neo liberalisme internasional sudah berhasil menghancurkan idiologi negara Pancasila dan sistem ketatanegaraan, mengontrol dan mengendalikan sistem fiskal dan moneter serta mengontrol sistem pertahanan dan keamanan negara.

2. Mengingat bahwa nilai-nilai luhur budaya dan kearifan kebangsaan sudah mulai di hancurkan oleh kekuasaan subversi global melalui tangan-tangan kekuasaan rezim neoliberalisme orde reformasi sekarang ini, maka mari Selamatkan Indonesia sekarang juga.

3. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai simbol pusat kebudayaan Jawa dan kebudayaan Nusantara harus tetap di jaga dan di lestarikan.

4. Keistimewaan DIY sesungguhnya merupakan isi dari salah satu inti keanekaragaman budaya bangsa dalam untaian Bhineka Tunggal Ika untuk menumbuhkembangkan spirit etno-nasionalisme, pluralisme dan mutikulturalisme.

5. Isu demokratisasi melalui RUUK Yogyakarta dan sebagainya adalah pintu masuk untuk menghancurkan kearifan budaya lokal dan pranata sosial bangsa Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai luhur budaya bangsa sendiri yang sudah terbangun lama sejak Indonesia Merdeka.

6. Jangan gadaikan entitas dan identitas bangsa Indonesia dengan cara demokrasi transaksional dengan model pemilihan langsung karena hal tersebut tidak selaras dengan peradaban sosial masyarakat yang menganut paham Musyawarah Mufakat (bukan Liberal)


Secara Kebudayaan;

1. Budaya adalah hasil buah budi menusia yang luhur dan bermanfaat.

2. Budaya manusia akan berperan dalam membentuk karakter seorang manusia, selanjutnya membentuk kepribadian budaya bangsanya.

3. Konsep bernegara dan bermasyarakat dalam suatu komunitas budaya haruslah berpangkal pada akar budaya.

4. Dasar falsafah Pancasila adalah salah satu hasil budaya yang patut disyukuri, dijaga dan di taati karena keseluruhan isi dan intinya merupakan penggalian dari akar budaya yang sudah bercokol lama di sanubari masyarakat sejak beribu tahun yang lalu.

5. Pancasila merupakan hasil olah konsentrisitas budaya manusia Indonesia yang digali dari akar budaya sendiri sehingga mampu menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

6. Erosi terhadap jiwa Pancasila akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

7. Pertahankan budaya asli Indonesia sebagai karakter dan jatidiri bangsa Indonesia sendiri dalam peranan pembudayaan Pancasila.


Melki Hartomi AS
Persatuan Pemuda Tamansiswa
Penanggungjawab Kegiatan
Continue Reading...

WARTAWAN DEMO ' MENGGERUDUK MARKAS KOREM '


Yogyakarta - Puluhan wartawan dari berbagai media cetak maupun elektronik di Yogyakarta, berkumpul di Gedung DPRD DIY (04/05/2010). Ini tidak seperti biasanya ketika mereka meliput pemberitaan dari DPRD DIY. Tapi kali ini mereka bersiap-siap mendatangi Markas Korem, terkait masalah refresifitas yang dilakukan Letnan Satu Rizal W, seorang aparat militer kepada fotograper Koran Tempo Arif Wibowo ketika peliputan kedatangan Wapres Boediono di gedung Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) kemarin. Setelah selesai mempersiapkan berbagai perlengkapan aksi, massa aksi para wartawan ini kemudian langsung meluncur ke Markas Komando Daerah Militer IV/Diponegoro, Komando Resor Militer 072/Pamungkas. Tetapi sesampai di sana, mereka hanya disambut oleh beberapa tentara saja yang sedang bertugas menjaga markasnya. Mereka juga tidak bisa bertemu dengan Komandan Korem serta aparat yang terlibat langsung dalam tindakan refresif tersebut. Karena menurut penjelasan, Komandan Korem sedang berada di Semarang.
Para wartawan kemudian sontak meneriakkan berbagai kecaman dan tuntutan-tuntutan. Mereka menuntut Lettu Rizal W bertanggungjawab serta minta maaf kepada semua wartawan, kepada institusi pers yang sama-sama di lindungi oleh undang-undang. Salah seorang personil mengatakan bahwa Lettu Rizal W tidak berada di markas ini. Tetapi berada di markas Komando Kavaleri Militer IV/Diponegoro, Kompi Kavaleri Panser-2 di Demak Ijo. Para wartawan pun akhirnya meluncur kesana dengan sepeda motornya masing-masing. Sampai di Markas tersebut, terlihat keadaan tenang-tenang saja. Hampir tidak ada kegiatan berarti yang ditemui. Sama seperti markas sebelumnya, mereka juga disambut oleh beberapa personil saja. Sekali lagi penjelasan kepala penerangan Korem mengatakan bahwa Komandannya belum datang dan sedang berada dalam perjalanan menuju markas untuk menemui para wartawan tersebut.



Sambil menunggu, para wartawan duduk-duduk bersantai sambil bercengkrama satu sama lainnya. Dan tak berapa lama, Komandan Korem (Danrem) datang. Para wartawan langsung berdiri dan berkumpul mengerumuninya untuk mempertanyakan pertanggungjawaban terhadap refresifitas yang dilakukan personilnya terhadap fotograper Koran Tempo kemarin sewaktu di UGM. Danrem dalam penjelasannya mengatakan bahwa beliau benar-benar tidak tahu kenapa kejadian tersebut bisa terjadi. Soalnya beliau di hari itu fokus kepada keamanan wapres dan infrastuktur UGM. “ Siang malam saya selalu koordinasi dengan mahasiswa tentang sistem pengamanan VVIP (ring I, II, III). Saya berharap Jogja bisa jadi contoh. Tapi saya kaget dengar kejadian kemarin. Saya minta maaf dan berjanji itu adalah kejadian yang pertama dan terakhir. Semalam juga saya telah datang dan silaturahmi ke kantor Koran Tempo sampai tengah malam “ ungkap Danrem menyesali tindakan anak buahnya.
Dalam press release nya, aksi solidaritas wartawan ini membawa 5 tuntutan diantaranya mengecam keras tindakan anarkis yang dilakukan Lettu Rizal karena tindakan itu tidak sejalan dengan amanat Sapta Marga dan sumpah Prajurit, UU No 34 tahun 2004 tentang TNI dan Kode Etik Perwira. Kedua bahwa tindakan dan ucapan yang dilakukan Lettu Rizal tidak mencerminkan prilaku seorang perwira yang harus menjunjung tinggi sopan santun dan etika. Ketiga, tindakan refresif tersebut juga dapat di kategorikan sebagai upaya menghambat tugas pers sebagaimana yang diatur dalam pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) UU No 40 tahun 1999 tentang pers. Keempat, bahwa berdasarkan pasal 18 UU No 40 Tahun 1999, diamanatkan setiap orang yang secara sadar melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalang-halangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) tersebut, di pidana dengan penjara paling lama 2 tahun dan atau denda paling banyak lima rarus juta rupiah. Dan kelima, tuntutan para wartawan tersebut ialah menuntut Panglima Kodam IV Diponegoro berkenan mengadakan pembinaan sekaligus sosialisasi di jajaran prajurit terhadap keberadaan UU No 40 tahun 1999 tentang pers yang pada intinya kemerdekaan pers di jamin dan dilindungi konstitusi.



Tidak hanya itu, mereka juga menuntut agar Lettu Rizal W meminta maaf secara langsung kepada para wartawan. Dan tak berapa lama pelaku datang dan langsung menemui para wartawan tersebut. Tak banyak yang di katakan pria dengan kepala pelontos ini.. Dan intinya dia (Lettu Rizal W –red), menyesali perbuatan yang telah dilakukannya kemarin kepada fotograper Koran Tempo. “ Saya mohon maaf atas kejadian kemarin. Itu mungkin karena saya khilaf dan kemungkinan juga karena saya terlalu capek “ Ungkapnya. Danrem pun juga mengakui bahwa memang pihaknya salah dan berharap itu tidak akan terjadi lagi. Setelah selesai mendengar pengakuan maaf Danrem tersebut, massa wartawan pun bubar dengan sendirinya.

Sebelumnya....

Terjadinya demonstrasi yang dilakukan para wartawan di Jogja ini berawal dari kedatangan Boediono ke UGM untuk memberikan kuliah umum di balai senat UGM (03/05/2010). Di Gedung Pusat UGM, terparkir Panser TNI, dan dari pemotretan panser inilah kemudian Arif Wibowo mendapatkan perlakuan refresif yang dilakukan Lettu Rizal W. Lettu Rizal manarik kerah baju fotograper Koran Tempo tersebut sambil memaki-makinya dengan kata-kata kotor dan tidak sopan. Tak hanya itu, dengan tanpa alasan pasti, Lettu Rizal malah semakin agresif dengan memaksa Arif Wibowo menghapus hasil foto-foto yang telah di jepretkannya. Seperti dilansir dalam Koran Jawa Pos Radar Jogja, beberapa rekan Arbo (sapaan Arif Wibowo), mencoba melerai kejadian tersebut. Tetapi usaha Yoebal Rasyid, wartawan Republika dan Regina Safri, fotografer Antara tidak di gubris. Lettu Rizal malah berdalih tindakannya itu karena menjalankan perintah komandannya.

Melki AS
Continue Reading...

May Day, Buruh Menggugat


Peringatan May Day atau hari buruh se-dunia, diperingati dengan antusias di Yogyakarta. Setidaknya ada empat aliansi yang meresponnya dengan menggelar berbagai aksi. Diantaranya Front Oposisi Rakyat (FOR) Indonesia, Aliansi Masyarakat Untuk Keadilan (AMUK), Aliansi Rakyat Menggugat (ARM), dan Front Perjuangan Rakyat (FPR). Aksi yang dilakukan di titik nol Yogyakarta ini diikuti oleh ratusan peserta yang tergabung dalam berbagai sub aliansi. Berbagai yel-yel di teriakan dan berbagai tuntutan di gema kan. Umumnya tuntutan massa yang kebanyakan buruh dan mahasiswa ini menekankan pada tolak upah murah, naikan upah buruh, kebebasan berserikat kaum buruh, tolak Asean China Free Trade Agrement (ACFTA), hapus diskriminasi pekerja buruh, tolak privatisasi dan jaminan hukum bagi buruh migran.



Dalam setiap May Day, kita selalu diajak untuk berefleksi mengenai nasib kaum buruh. Kita selalu di ingatkan bahwa sampai hari ini buruh selalu saja berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Jumlah angkatan kerja tinggi, sementara nilai tawar rendah. Para pemodal memerah buruh layaknya sapi perahan. Ini tentu merupakan hal yang sangat ironis. “ Belum lagi jika kita melihat kerjasama korporasi antara pemodal dan pemerintah yang sering kali menindas buruh dengan sewenang-wenang. Kesewenangan pemerintah ini terlihat dari keengganan untuk mewujudkan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang merupakan amanat dari UU No. 40 Tahun 2004 “ demikian yang di ungkapkan Edi Susilo, koordinator AMUK Yogyakarta.
Sementara itu, FPR dalam orasinya menyimpulkan bahwa penindasan yang dialami rakyat Indonesia sekarang ini karena akibat dari bercokolnya kekuatan imperialisme asing di Indonesia yang masuk dan kokoh berdiri atas bantuan para borjuasi besar komparador yang di pimpin SBY Boediono. Tidak hanya itu, FPR juga menilai bahwa akses untuk mendapatkan pendidikan juga masih sangat susah dan mahal. Apalagi untuk kalangan yang banyak berasal dari kaum buruh dan tani.



Aksi yang sedianya dilakukan pagi hari ini, menjelang tengah hari, tak jua menyurutkan massa aksi untuk menuntaskan aksinya meskipun didera panas dan haus. Berbagai reflika pun juga turut menyertai aksi buruh ini, diantara yang paling kentara ialah reflika patung babi. Dan sebelum dibakar, patung babi tersebut disimbolkan dengan memasanginya dengan foto bergambar presiden dan wakil presiden. Sempat terjadi kemacetan tetapi tidak berselang lama setelah reflika tersebut habis terbakar, kembali polisi membuat penertiban dan kelancaran para pengendara.
Aksi buruh Yogyakarta ini berlangsung dengan damai dan tertib tanpa ada kekerasan baik dari phak kepolisian maupun dari massa aksi. Dan setelah membacakan semua tuntutan, massa aksi akhirnya membubarkan diri secara tertib pula.

Melki AS
Continue Reading...

MoU MPR RI dengan Tamansiswa



YOGYAKARTA-Bertempat di Pendopo Agung Tamansiswa, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) HM Taufik Kiemas dan Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) Ki Tyasno Sudarto, bersama-sama menandatangani nota kesepahaman (Memorandum Of Undestanding/ MoU) antara MPR RI dengan Perguruan Tamansiswa (28/04/2010). MoU ini merupakaan jalinan kerjasama antara pemerintah dengan Tamansiswa dalam menyelenggarakan kegiatan peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan sumber daya manusia dalam bidang sosialisasi empat pilar kenegaraan yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika
Adalah merupakan tanggungjawab bersama untuk memperjuangkan harapan-harapan agar bangsa ke depannya bisa jadi lebih baik. Tentunya ini membutuhkan dukungan dari semua komponen. Untuk mewujudkan tersebut sesuai supremasi konstitusi, maka di perlukan upaya nyata. Demikian yang disampaikan HM Taufik Kiemas dalam sambutannya. Lebih jauh menurutnya bahwa konsitusi negara itu bukan hal yang mudah. Maka diperlukan usaha bersama sesuai tugas dan peran masing-masing. “Dengan memahami utuh tentang konstitusi, maka pemahaman yang baik pula tentang supremasi konstitusi akan jadi lebih baik lagi” lanjutnya.
Drs. Slamet Sutrisno, M.Si dalam pengantar penandatanganan MoU mengemukakan bahwa pengkajian Pancasila memerlukan kecermatan tentang ‘apa-nya’ Pancasila, sebagai obyek material dalam suatu studi akademis. Setelah disepakati apa yang mesti di kaji, giliran ‘bagaimana-nya’ melakukan pengkajian harus menunjukan validitas dan akurasi.



“ Hal ini berkenaan dengan obyek formal atau pendekatan keilmuan, sesuatu hal yang memungkinkan kinerja pikir bisa di sebut bersifat keilmuan “ Ungkapnya.
Dalam pengantarnya, Slamet Sutrisno juga memaparkan tentang perspektif pengkajian Pancasila yang mencakup perspektif social sciences, humaniora, filsafat, ideologi dan dimana perlu ‘Mistik Pancasila’ seperti yang pernah di ungkapkan Notonegoro. Secara perspektif social sciences dan humaniora, bisa dilakukan dengan terutama metodologi non-positivistik pada berbagai ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, hukum, psikologi, ekonomi, sastra, sejarah dan cultural studies. Secara perspektif filsafat, bisa dilakukan dengan konsep trilogi yakni filsafat non-eksplisit atau filsafat tradisional, filsafat sistematis dan filsafat kritis. Dan secara perspektif mistik, seperti menyitir Notonegoro 1974, bahwa studi Pancasila boleh jadi akan merambahi ranah mistisisme dengan implikasi munculnya ‘Mistik Pancasila’. “Jauh dimasa kemudian, Notonagoro memperoleh pembenaran ilmiah pada kelahiran krisis ilmiah yang dimulai pada disiplin ilmu fisika dimana tepat di perbatasan krisis itulah muncul implikasi mistik” ungkapnya.
Sementara itu Prof. DR Gunawan M.Pd mengungkapkan bahwa Pancasila sebagai suatu konstruk simbolik yang padat dengan nilai-nilai hakiki keberadaan manusia di Indonesia pada khususnya atau di dunia pada umumnya, baik sebagai individu maupun kelompok, merupakan suatu obyek dasar pembudayaan bagi subyek budaya masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Pembudayaan Pancasila dalam konteks ini jelas menuntut upaya dan atau perjuangan yang serius, sistemik dan sistematik secara berlanjut berkesinambungan tanpa henti bagi seluruh warga bangsa Indonesia pada umumnya dan negara atau pemerintah pada khususnya. Tujuan mendasar keberadaan Pancasila adalah terwujudnya pranata masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang melindungi dan memberdayakan seluruh warga bangsa Indonesia selamanya.



“ Kalau hingga saat ini masih banyak pihak warga masyarakat Indonesia yang sangat kecewa dengan praktik-praktik kehidupan dna berkehidupan masyarakat bangsa Indonesia karena justru sangat banyak yang menyimpang atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, sangat bisa dimaklumi dan wajar adanya. Kewajaran ini tidak dimaksudkan untuk memberikan pembenaran terhadap praktik-praktik yang menyimpang atau masih masih menyimpang dari yang sesungguhnya diharapkan oleh ajaran Pancasila. Kewajaran atas kejadian tersebut mestinya lebih dilihat sebagai bukan penyebab (inisiasi dasar) melainkan sebagai akibat (inisiasi ikutan) dari sesuatu yang memang belum pada tempatnya. Akhirnya, penentu segala keberhasilan kerja bersama adalah kesadaran para pihak yang terlibat itu sendiri “ ungkap Gunawan menegaskan.



Sebelumnya, di Pendopo Agung Tamansiswa juga di adakan Seminar Nasional Pengkajian dan Pembudayaan Pancasila. Seminar ini menghadirkan dua nara sumber yakni Prof. DR. Gunawan, M.Pd (Dosen Pasca Sarjana UST) dan Heri Santoso, SS, M.Hum ( Dosen Pendidikan Pancasila UGM dan Kabid. Penelitian Pusat Studi Pancasila UGM). Seminar yang dihadri oleh 200 an guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), undangan, dan mahasiswa ini menjadi hangat dengan dicontohkannya cara-cara pengajaran Pancasila yang inovatif dan kreatif oleh Heri Santoso agar siswa tidak bosan. Karena dengan adanya inovasi terhadap pembelajaran pancasila, terbukti dapat meningkatkan kualitas perkuliahan Pancasila terhadap disiplin keilmuan mahasiswa. “Tapi tidak semua inovasi itu sesuai dengan sasaran” ujarnya menangapi pertanyaan peserta seminar.
Acara ini dihadir berbagai perwakilan dari MPR RI sendiri yang ikut serta bersama ketua, unsur Muspida Yogyakarta, Ketua DPRD Tk I Yogyakarta, Seluruh unsur Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Pinisepuh Tamansiswa, Rektor beserta Wakil Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Guru Pendidikan Kewarganegaraan, dan Persatuan Pemuda Tamansiswa (PPTs) serta Mahasiswa. Acara ini juga di tandai dengan di kukuhkannya Pusat Pengkajian dan Pembudayaan Pancasila Tamansiswa (P4Ts) beserta pengurusnya untuk periode 2009-2014 oleh Ki Tyasno Sudarto. Dan sebelum penandatanganan, terlebih dahulu semua undangan di suguhi dengan pertunjukan seni oleh murid-murid Taman Kesenian Ibu Pawiyatan yang membawakan cerita bertemakan Pancasila.

Melki AS
Continue Reading...

Gelar Budaya Nusantara; Harmonisasi Tari Dayak dan Musik Jawa


Yogyakarta yang di kenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, dengan sifatnya yang inklusif dan dinamis, selalu menerima kehadiran budaya-budaya luar melalui dialog, interaksi dan akulturasi budaya. Dengan demikian, nilai-nilai budaya Yogyakarta selalu dapat berkembang dinamis, karena dari dalam dirinya terkandung kekuatan revitalisasi yang mendorong proses adaptasi dan universalisasi. Itu berarti, masyarakat Yogyakarta selalu welcome terhadap kehadiran budaya luar, dan sebaliknya juga tidak canggung untuk berinteraksi di pentas budaya Nusantara yang plural.
Demikian sambutan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang di bacakan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Yogyakarta malam tadi (17/03/10) di Bangsal Kepatihan Yogyakarta. Sambutan ini juga sekaligus menjadi pembuka acara Gelar Budaya Nusantara yang diadakan oleh APTISI Wilayah V DIY. Sebelumnya, menurut beliau bahwa Sultan sedianya akan menghadiri acara ini, tetapi karena ada sedikit masalah di Jakarta, beliau jadi tidak bisa datang. Beliau juga tak lupa memintakan maaf kepada yang hadir atas halangan Sri Sultan dalam acara ini.
Gelar Budaya Nusantara ini di harapkan dapat menggugah rasa empati dan rasa kemanusiaan untuk membangun peradaban bangsa. Memang, ketinggian cita rasa seni juga menunjukan tingkat peradaban suatu bangsa. Karena tanpa peradaban, tak akan ada bangsa. Hanya dengan membangun kembali cinta, kasih sayang dan perdamaian itulah, rasanya yang paling tepat, jika kita bertekad akan memulai membangun peradaban yang diikat oleh rasa persatuan sejati, sebagaimana di teladankan oleh para pejuang pendahulu kita. “ Sebagaimana saya sampaikan dalam berbagai kegiatan seni budaya, bahwa pengembangan seni tergantung bagaimana kita mampu membangkitkan inovasi dan kreativitas. Hanya jika kita mampu mengekspresikan dua kata kunci itulah, suatu gelar seni akan memiliki greget. Inovasi penting, karena merupakan pengembaraan gagasan kreatif untuk dapat menghasilkan penemuan orisinal. Inovasi dan kreativitas memang amat di perlukan bagi suatu bangsa, agar mampu berperan di dalam percaturan budaya global yang kian kompetitif. Dari gambaran itu jelaslah, bahwa Gelar Budaya Nusantara inipun harus di beri ruh baru, agar menjadi wahana penyadaraan akan arti pentingnya budaya Indonesia Baru. Disini puncak-puncak penyampaian seni yang dihasilkan dari proses kreatif para seniman dapat di peragakan di hadapan masyarakat kampus yang plural. Selain itu, dapat menjadi panggung hiburan, penyegaran dari hiruk pikuk masalah-masalah politik yang kini mulai menghangat kembali dan mewarnai kehidupan masyarakat sehari-hari “ Ungkap Sultan seperti yang di tirukan Sekda.



Acara yang berlangsung aman dan lancar ini menampilkan berbagai kreasi seni dari berbagai universitas yang ada di Yogyakarta. Antara lain, Paduan Suara dari Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Tarian Riau ‘Sekapur Sirih’ dari mahasiswa INSTIPER, Tarian ‘Legenda Reog’ dari mahasiswa STIPRAM, Tarian Nias ‘Ya’ahowu’ dari mahasiswa UKRIM, Tarian Dayak dari mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Tarian Minahasa ‘Katrili’ dari mahasiswa UKDW, Tari ‘Cenderawasih’ Papua dari mahasiswa STPMD, Tari ‘Pendet’ Bali dari mahasiswa STIE YKPN, Tari ‘Saman’ Aceh dari mahasiswa UII, dan Musik Etnik dari mahasiswa UNRIYO serta pementasan Lawak dan foto bersama sebagai penutup acara.
“ Semoga Gelar Budaya Nusantara yang saya andaikan ‘Selendang Sutera Dari Yogyakarta‘ ini, tidak hanya sekedar untuk bernostalgia, tetapi juga benar-benar dapat menjadi ‘selendang sutera‘ yang lebih merekatkan tali persaudaraan dan silahturahmi antar sesama kita, antar etnik dan antar lintas agama “ ungkap HB X mengakhiri.

(Melki AS)
Continue Reading...

Tamansiswa HUT ke-86, Harus Terbuka Pada Masyarakat (2)


Jangan Tinggalkan Abunya, Tapi Teruskan Api Perjuangannya

Tanggal 5 Juli 2008, sekitar pukul 09.00 wib, para alumni beserta segenap keluarga besar Tamansiswa bertolak dari Pendopo Agung menuju berbagai sekolah Tamansiswa terutama di daerah Cangkringan. Malamnya, sebelum acara penutupan dari rangkaian HUT ke-86 Tamansiswa ini, kembali kesenian menjadi suguhan spesial. Terlebih dahulu dengan ucapan terima kasih dari Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya acara ini. Tyasno juga berterima kasih kepada seluruh elemen yang sudah turut membantu acara ini sehingga bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Terakhir beliau berpesan bahwa kepada segenap elemen Tamansiswa agar jangan meninggalkan abunya Tamansiswa, tapi harus tetap terus menyalakan Api perjuangannya Tamansiswa supaya Tamansiswa dapat terus maju. Sorak gembira dan tepukan tangan sontak bersahutan dari area lokasi (pendopo) menyambut ucapan tersebut. Dan terakhir, Ki Priyo membacakan hasil dari pertemuan yang telah digelar selama perayaan ini, diantaranya 2 kesimpulan yang dihasilkan dari musyawarah yaitu Tamansiswa harus mulai mengoptimalkan kembali peran dan fungsinya dengan melengkapi kepengurusannya baik ditingkat pusat maupun didaaerah dan berdasar kesepakatan juga, Tamansiswa akan mendirikan sekolah keperawatan setara dengan Strata Satu (S 1) yang dikoordinir oleh DR. Inu Wicaksono di bawah koordinasi Tamansiswa. Itulah 2 kesimpulanyang harus dilakukan oleh Tamansiswa. Sebelum acara benar-benar berakhir, pertunjukan seni dilanjutkan kembali dengan menampilkan olah kreasi dari murid taman Madya Tamansiswa cabang matraman Jakarta yang membawakan tarian dengan tema ondel-ondel (kesenian tradisional Betawi). Selanjutnya diteruskan dengan pembacaan puisi oleh alumni muda taman Madya Tamansiswa Jogjakarta, Mutia Sukma yang berjudul Malam Pengusiran dan Sepasang Sajak Cinta. Sukma, yang lulusan Taman Madya 2006 ini merupakan salah seorang generasi terbaik Tamansiswa yang puisinya sering dimuat dibeberapa media baik cetak maupun dibacakan di media elektronik. Selain Sukma, perayaan penutupan ini juga menampilkan kreasi pamong Tamansiswa cabang Jakarta yang membawakan lakon dan lagu wajib Tamansiswa 50 tahun yang lalu. Dikatakan oleh koordinator bahwa tidak ada latihan yang serius dari pertunjukan spesial ini. Karena waktunya agak mendesak. Jadi terpaksa melakukan latihannya didalam Kereta Api sewaktu menuju Jogjakarta. Tapi pertunjukan itu berhasil memukau yang menonton. Apalagi ketika aksi menggelikan dengan menunggangi kuda lumping dan berlagak seperti sedang berkelahi menggunakan pedang dan tombak. Semua hadirin terhibur dan tertawa dengan dilakukannya pertunjukan oleh para senior (tua) Tamansiswa. Setelahnya, pertunjukan kolaborasi antara generasi muda dan generasi tua Tamansiswa yang membawakan tarian. Masih terlihat sama-sama gemulai baik generasi tua maupun generasi muda. Dan diakhir acara, Tyasno (MLPT) bersama istri turut menyumbangkan kebolehannya dalam hal tarik suara. Pukul 23.00 acara HUT ke-86 Tamansiswa benar-benar berakhir setelah semua yang hadir, mulai dari Majelis Luhur sampai para alumni bernyanyi bersama-sama.

Melki AS
Continue Reading...

Dies UST ke-54 : Wayang, “Semar Mbangun Khayangan”


Ada sesuatu yang berbeda dengan rangkaian peringatan Dies Natalis Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) ke-54 kali ini. Selain berjuang dalam Pendidikan, kali ini UST juga bergerak dalam bidang Kebudayaan. Lalu seperti apa acara Kebudayaan yang coba dilakukan dalam rangkaian peringatan ini?
Hujan masih menggerimis tatkala tamu berdatangan. Dari pojok belakang kampus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UST yang agak remang itu, tampak sekelompok orang yang berbusana batik dan berkebaya. Mereka adalah para pemain wayang (dalang, kru musik maupun sinden). Mereka terlihat sesekali berbincang-bincang antar sesama. Mungkin membincangkan lakon yang akan dibawakan nanti atau lainnya. Dilihat dari depan, terlihat sebuah panggung yang sudah di penuhin dengan beberapa tokoh wayang yang terjejer dari kiri sampai kanan. Tamu silih berganti berdatangan. Seliweran mobil maupun motor sudah mulai memadati parkiran yang tersedia. Begitupun dengan kursi-kursi yang ada. Tampak disebelah dalam diisi oleh jajaran Tamansiswa mulai dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Yayasan, Pinisepuh, Keluarga Ki Hadjar Dewantara, Senat Universitas, Rektor UST, Wakil Rektor, Dekanat dan dari jajaran dosen dan karyawan. Di sebelah luar tampak pula dipadati oleh warga sekitar maupun masyarakat yang senang dengan kebudayaan wayangan ini.
Ya, malam itu UST mengadakan acara wayangan semalam suntuk. Acara yang dilakukan sabtu malam minggu tanggal 21 Novermber 2009 ini digelar untuk menyemarakkan rangkaian Dies Natalis UST yang sekarang sudah berusia 54 tahun. Seperti yang dituturkan Ki Edi Irianto, selaku ketua panitia, acara wayangan ini dilakukan untuk tetap melestarikan ajaran Tamansiswa sebagai badan perjuangan pendidikan dan kebudayaan. Selain itu, acara wayangan semalam suntuk ini digelar sebagai wujud syukur terhadap kondisi UST sekarang ini. “ Kenapa dipilih wayang, karena wayang itu cocok untuk saat ini karena kita syukuran atas perkembangan program studi-program studi yang tumbuh dan peningkatan kuantitas mahasiswa yang semakin banyak. Selain itu, sebagai hiburan yang dipersembahkan kepada masyarakat, wayang telah dicatat oleh PBB sebagai tradisi yang harus dilindungi dan mendapatkan penghargaan. Wayang termasuk juga karya budaya internasional ” ungkap Edi.. Ki Tarto Sentono, selaku Dekan FKIP yang memprakarsai acara wayangan ini berharap UST kembali menjadi ikon pendidikan dna kebudayaan dimasa akan datang. “Kalau dahulu disini (Jalan Batikan tempat FKIP berlokasi) lebih terkenal oleh kalimambu nya, mulai dari sekarang orang akan lebih kenal lagi bahwa ada UST disini. Jadi UST kembali bisa menjadi ikon lagi” tuturnya.
Ki Prof. DR. Djohar MS, Rektor UST, juga dalam pidato pembukaannya mengatakan bahwa lakon Semar (salah satu tokoh dalam kisah pewayangan), sangat cocok dengan pamong (guru). Karena secara filosofis, baik semar maupun pamong adalah bertujuan sama yaitu membangun. Sebagai pengamat pendidikan juga, beliau tak lupa mengingatklan para pamong (guru) bahwa dalam mendidik harus mencintai semua murid,apakah dia pintar, bodoh atau lainnya dan juga guru tidak boleh memihak. “guru harus punya dedikasi dan dalam melihat anak-anak, mereka harus benar-benar mengamalkan Tut Wuri Handayani” ungkapnya.
Ditambahkan Edi, lakon “Semar Mbangun Khayangan” dalam pewayangan ini memang menampilkan tokoh Semar karena dia adalah pamong yang sangat bijaksana. “Nah dari itu, kita pengen para pamong, khususnya di UST, Tamansiswa pada umumnya bisa mengikuti sifat-sifat Semar yang menghantarkan para ksatria menuju kesuksesan hidupnya. Jadi semar adalah lambang pamong atau guru bagi para ksatria. Kemudian cerita “Semar Mbangun Khayangan”, dimaksudkan supaya guru harus membangun pribadi dirinya sendiri supaya bisa lebih baik lagi. Khayangan yang dibangun itu maksudnya adalah pribadinya sendiri” ungkapnya. Mengenai keterkaitan terhadap kondisi bangsa sekarang ini, Edi juga menambahkan bahwa memang bisa juga menjadi kritikan bagi semuanya. Karena Semar Mbangun Khayangan menceritakan tentang Negara juga. Negara yang di kuasai oleh para ksatria yang di emong oleh Semar.” Jadi kalau yang di emong ini banyak yang salah, dalam cerita ini akan diingatkan lagi oleh semar. Artinya kalau dalam Negara ini banyak yang salah, bisa di ingatkan oleh para pamong. Dan itu akan disinggungkan dalam cerita ini nanti, dimana nanti rakyat akan mengingatkan para pemimpin” tambahnya.
Ki Seno Nugroho, sebagai pimpinan rombangan wayang, mengungkapkan bahwa dipilihnya lakon ini karena didasari atas keprihatinan terhadap sosok Semar. Menurutnya, Semar itu adalah pamomong yang selalu mengawasi pendowo. Keprihatinan sosok semar ini karena ada sedikit ketidak beresan, makanya beliau bermaksud mbangun khayangan. “Khayangan disini maksudnya adalah moral dan akhlak, supaya negara bisa tenteram adil dan makmur. Mengenai permasalahan bangsa ini, lakon ini akan menggambarkan juga keprihatinan yang diwakili Semar dan harapannya nanti bisa menjadi kritik konstruktif terhadap negeri ini” imbuhnya.
Menjelang dimulainya acara, kerumunan penonton semakin memenuhi tempat, bahkan sampai diluar tenda. Mereka rela tidak mendapatkan kursi tempat duduk dan tetap berdiri demi menonton acara ini. Hujan yang tadi gerimis, seakan paham dengan keadaan dan berhenti tatkala sang dalang mulai memainkan perannya. Begitu kharismatik, sehingga penonton serasa terbuai dalam alur cerita itu. Hendro, seorang mahasiswa yang turut datang menonton pagelaran itu mengungkapkan rindu dengan kesenian wayang seperti ini. “Dahulu di tempatku setiap ada pesta pernikahan, malamnya selalu ada wayangan. Tapi sekarang sudah jarang Mas. Sekarang malah sering dangdutan. Tapi meski saya kurang paham dengan bahasanya (tapi tidak semua), tapi saya senang bisa kembali melihat pagelaran ini. bagi saya, ini menginspirasi saya untuk bisa lebih baik kemudian hari. Cerita ini bagi saya adalah kritik bagi diri sendiri untuk bisa berbuat dan berprilaku baik kepada sesama” ungkapnya.

Melki AS
Continue Reading...

Mahasiswa UST Tumpah Ruah ke Jalan Peringati Hari Sumpah Pemuda


Sekarang saatnya untuk kembali Menegaskan Karakter Pemerintah Yang Berpihak Pada Kepentingan Rakyat. Tahun 2009 ditandai dengan refleksi 101 tahun Kebangkitan Nasional, 81 tahun Sumpah Pemuda, 11 tahun Reformasi. Refleksi tersebut sering menegaskan sekaligus menggambarkan bahwa bangsa ini masih jauh dari cita-cita menuju bangsa yang sejahtera. Review kinerja pemerintahan satu dekade yang lalu, menyisakan banyak persoalan kerakyatan. Masih segar dalam ingatan awal tahun 2008 ditandai dengan mahalnya harga kebutuhan pokok disisi lain ketersediaanya pun terbatas, tempe yang menjadi konsumsi publik ikut-ikutan naik karena harga kedelai mahal. Adalah suatu ironi ketika bangsa ini mengaku negara agraris tapi masyarakatnya kesusahan pangan dan kelaparan. Dalam situasi ini pemerintah cenderung mengandalkan impor pangan sehingga harga kebutuhan pokok menjadi tidak stabil. Kenyataan ini menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah masih jauh dari kepentingan rakyat sekaligus mengingkari realitas dan karakteristik masyarakatnya yang memang bertani.
Demikian yang dikatakan Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Sarjawiyata Tamansiswa Jogjakarta saat menggelar aksi damai peringatan Sumpah Pemuda (28/10/2009). Bonaventura, selaku Koordinator Umum dan Penanggungjawab aksi mengatakan bahwa sudah saatnya mulai dari sekarang pemuda-pemudi harus bangkit melawan. Tidak boleh lagi diam-diam saja. “ Sumpah Pemuda memang masih relevan, tapi bergeser maknanya. Sekarang bisa dilihat bagaimana pemuda-pemudi kita banyak yang apatis terhadap berbagai keadaan di negerinya. Makanya dengan moment kali ini, kami mengajak semua kawan, terutama kawan pemuda-pemudi Tamansiswa untuk memulai kebangkitan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa banyak perjuangan yang harus dilanjutkan. Banyaknya penggusuran, undang-undang yang tidak berpihak kepada rakyat, adalah salah satu yang harus diperjuangkan” ungkapnya.
Ditambahkannya bahwa naiknya harga minyak mentah dunia disikapi pemerintah dengan menaikkan harga BBM, yang justru memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di segala lapisan masyarakat. Pemerintah selalu membuat kebijakan yang tidak popular, kenapa menaikkan BBM selalu menjadi pilihan, bukankah pendapatan non-migas bisa dialokasikan dalam menutupi subsidi? Dalam hal ini pemerintah tidak mau transparan terutama transparansi pajak,artinya hampir diseluruh sektor perekonomian sudah dipajak oleh negara. Konversi minyak tanah ke gas elpiji yang dikampanyekan ternyata menambah persoalan baru bagi masyarakat, antrian gas terjadi dimana-mana, harga tidak terkontrol, bahkan masih banyak rakyat miskin yang tidak mendapatkan tabung elpiji karena terbentur birokrasi, bahkan sebagian dari tabung gas tersebut ternyat adalah impor, Ironisnya rencana kenaikan harga Elpiji tahun ini mulai didengungkan Pertamina. Pertamina Untung maka bangsa pun buntung. Meski harga BBM pernah diturunkan, namun hal tersebut bukanlah karena kabaikan pemerintah ataupun strategi ekonomi nasional, tapi karena harga Minyak Mentah dunia memang turun drastis, sehingga selayaknya memang diturunkan. Apakah kemudian harga BBM akan naik lagi mengingat harga minyak mentah dunia mulai merangkak lagi???Bila itu yang terjadi maka kesengsaraan masyarakat miskin akan semakin menganga.
Aksi damai yang digelar KBM UST ini dimulai dari kampus Kebangsaan jalan Kusumanegara menuju Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) di jalan Tamansiswa kemudian meluncur ke kantor Pos besar Yogyakarta. Aksi ini di ikuti sekitar 80 mahasiswa dengan membawa spanduk bertuliskan “ Pemuda-Pemudi Tamansiswa menggugat Negara Atas Suramnya Negeri Ini”. Sampai di MLPT, mahasiswa diterima jajaran majelis yang kebetulan sedang mengadakan seminar pendidikan. Ketua Umum MLPT, diwakili Ki Subronto mengatakan sangat mendukung aksi yang dilakukan mahasiswa. Beliau sepakat dengan ide yang diusung mahasiswa Tamansiswa ini. Beliau juga berpesan untuk melakukan aksi yang damai, tertib dan tidak mengganggu ketertiban. Setelah mendapat restu dari MLPT, mahasiswa bergerak menuju titik nol kilometer sambil terus meneriakan yel-yel penyemangat aksi.
Dalam konteks pemberantasan korupsi pun masih dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan sepihak, sama halnya dalam persoalan pendidikan UU BHP yang ditolak banyak kalangan yang dianggab memicu tejadinya liberalisasi pendidikan pada akhirnya disahkan. Sementara dibidang HAM seringnya tersendat misalnya kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Disisi lain masalah perburuhan tetap tak terselesaikan, UMR selalu saja menjadi kontravesi, UU perburuhan maupun kebijakan yang dibuat diindikasikan berpihak kepada para investor. Bahkan kazanah budaya kita yang di curi oleh Malasya pun dibiarkan begitu saja. “Atas fenomena kajian diatas, Rezim SBY-Boediono sudah seharusnya diarahkan strateginya agar kebijakan yang dilahirkan menyentuh persoalan subtansif dari persoalan masyarakat. Sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat atas tanah, air dan udara” ujar Bona.
Menurutnya lagi, sudah cukup eforia pemerintahan “ala reformasi”yang didengung-dengungkan sementara posisi negara tetap tidak mampu membawa bangsa ini dari keterpurukan dan keluar dari krisis multi demensi . Dibutuhkan keberpihakan yang jelas bagi masyarakat oleh pemerintahan SBY-Boediono, terutama melawan intervensi pemilik modal, kalau tidak, narasi bangsa ini selamanya tergantung. Baik narasi ekonomi, politik, social budaya dan semua yang mengitari arah bangsa ini.
Kami tidak peduli istiah “100 hari” kinerja kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, yang kami butuhkan adalah turunkan harga-harga kebutuhan vital masyarakat secepatnya. Serta Ciptakan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat miskin” ujarnya dengan sangat antusias
Tepat pukul sebelas siang, aksi damai yang digelar KBM UST ini berakhir setelah KorDum membacakan pernyataan sikap yang mereka sebut “Sembilan Tuntutan Rakyat” antara lain Tolak Intervensi Asing Disetiap Kebijakan, Tolak kenaikan Harga Elpiji, Naikkan Upah Buruh, Cabut UU BHP, Pendidikan Gratis untuk Rakyat, Pendidikan Merata dan Berkualitas untuk Rakyat, Selamatkan Budaya Negeri, Pengobatan Gratis untuk Rakyat, Turunkan Harga BBM, Usut Semua Pelanggaran HAM.

Melki AS
Continue Reading...

MENPERA Resmikan ASMADEWA UST


Sebuah kabar menarik untuk semua orang karena sekarang rumah susun sewa mahasiswa sudah mulai dibangun dimana-mana. Salah satunya di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Dihadiri langsung Kementrian Perumahan Rakyat (Menpera) M. Yusuf Asyhari,maka gedung twin blok 5 lantai yang bernama ASMADEWA UST yang berlokasi di kampung Celeban RT 22/05 Yogyakarta itu pun diresmikan (17/7/2009). Menurut Ridwan Dalga, Konsultan Pengawas PT Bina Karya, pengerjaan itu (ASMADEWA) memakan waktu sekitar 6 bulan-an dan tidak ada kendala serius yang dihadapi. Selain itu,Ki Tyasno Sudarto,Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) lewat Ki Subronto menyatakan bahwa asrama mahsaiswa seperti itu baik karena masyarakat bisa ikut serta dalam mendidik para mahasiswa untuk lebih berguna kedepan. Dan sejalan dengan konsep Tamansiswa lewat Tri Sentra pendidikan yaitu Keluarga, Sekolah dan Lingkungan yang sangat ideal untuk membangun watak. “Diharapkan calon mahasiswa nanti dapat meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat agar tercipta harmonisasi antara mahasiswa dan masyarakat” ungkap Ki Bronto. Hadir dalam acara peresmian ini antara lain Menteri Perumahan Rakyat Muhamad Yusuf Asyhari beserta staff, Ki Joko Suwindi dari Komisi V DPR RI, Haryadi Suyudi (Wakil Walikota Yogyakarta), Jajaran Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Jajaran Yayasan UST, Pinisepuh Tamansiswa, Ki Prof. DR. Djohar MS (Rektor UST), Jajaran Pembantu Rektor I, II dan III, Dekanat, Dosen Karyawan (DoKar) dan para undangan. Ki Prof.DR. Djohar dalam sambutannya tak lupa menyampaikan rasa terimakasih kepada Kementrian Perumahan Rakyat yang telah bersedia membangun asrama mahasiswa ini dan pihak-pihak yang terkait dengan proses pembanunan Asmadewa termasuk warga kampung Celeban Yogyakarta. Tak lupa juga, Ki Djohar meminta maaf pada warga kalau dalam waktu pembangunan Asmadewa ini banyak mengganggu terutama karena suara pengerjaan yang bising.
Haryadi juga mengungkapkan bahwa dengan adanya rusunawa bagi mahasiswa seperti ini, dapat mereduksi kegundahan dan sangat berimbas positif bagi mahasiswa dalam pembelajarannya. “ Asrama merupakan contoh ideal bagi pemberdayaan mahasiswa dan masyarakat. Pengelolaan asrama secara terpadu dapat mengembangkan kepribadian mahasiswa”ungkapnya. Sementara itu, Menpera Yusuf Asyhari mengatakan bahwa rumah susun bagi mahasiswa seperti ini membawa banyak manfaat antara lain membantu proses KBM perguruan tinggi. Dengan tercukupinya asrama tentunya akan sangat membantu meningkatkan kualitas bagi mahasiswa. “Dengan asrama ada di perkampungan akan juga membawa dampak baik dari sosiocultural-nya tapi tetap tidak boleh ekslusif. Asrama UST akan bisa menjadi percontohan dalam kehidupan antara mahasiswa dan masyarakat” ungkapnya mengakhiri sambutan.
Dari luar, tak ketinggalan Yacobus Sunaryo, SekretarisYayasan yang sekaligus pemrakarsa Asmadewa ini berharap bisa menarik minat para mahasiswa untuk datang ke Yogja dan khususnya bisa masuk ke UST. Selain itu, dengan adanya Asmadewa, mahasiswa dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan ekstra mahasiswa Menurutnya, masih akan ada lagi hal yang akan dilakukan setelah peresmian ini antara lain dengan mengisi fasilitas didalamnya seperti kesenian,olahraga, jurnalistik dan lain-lain.
Dalam peresmian ini juga, undangan dan lainnya termasuk masyarakat dihibur dengan kesenian khas Jawa seperti Jatilan dan nyanyian dari kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UST. “Kami berharap dengan adanya Asmadewa ini, bisa membawa kemajuan dikampung ini, bisa menjaga keamanan secara bersama dan bisa meningkatkan perekonomian kearah yang lebih baik lagi. Warung-warung di kampung bisa jualan lagi dan tentunya bisa laris” ungkap Ny. Anjar dan Ny. Suroto, warga setempat secara bersamaan. Mudah-mudahan saja. (Melki AS)
Continue Reading...

HAUL ke-87 Perguruan Tamansiswa


Dalam rangka memperingati hari jadi Tamansiswa yang ke-87 (03 Juli 1922-03 Juli 2009), Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) mengadakan serangkaian acara yang digelar di Pendopo Agung Tamansiswa jalan Tamansiswa Yogyakarta. Ki. R. Bambang Widodo selaku ketua panitia pelaksana dalam pelaporannya mengungkapkan bahwa ada serentetan acara yang sudah digelar maupun yang baru akan digelar. Antara lain ialah ziarah wisata ke makan pendiri Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara dan Jenderal Besar Soedirman yang dilaksanakan tanggal 20 Juni 2009 yang diikuti 100 siswa/siswi taman Madya/Taman Karya Madya Ibu Pawiyatan dan Tamansiswa cabang jetis serta SMA taruna Nusantara. Selanjutnya, 25 Juni 2009 bekerjasama dengan Dinas Sosial DIY,mengadakan workshop Bimbingan Pelestarian Nilai-Nilai Kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial bagi pamong yang diikuti oleh 60 pamong se-DIY dan Jateng. Malam kamis, 02 Juli 2009, mengadakan refleksi dan pentas Prestasi seni di pendopo Agung Tamansiswa. Besoknya, 03 Juli 2009,diadakan upacara bendera dan bedah buku karya Ki Hadjar Dewantara “Menuju Manusia Merdeka” di Pendopo Agung Tamansiswa. Dan, terakhir, minggu 05 Juli 2009, diadakan gerak jalan sehat dengan start dan finish di Pendopo Agung Tamansiswa.
Dengan dihadiri ratusan orang terdiri dari para pamong Tamansiswa, siswa/siswi Tamansiswa, mahasiswa Tamansiswa, tamu undangan, para pinisepuh dan jajaran majelis Luhur Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto selaku Ketua Umum MLPT menyampaikan orasinya. Dalam pidato orasinya kali ini, Tyasno mengungkapkan bahwa perkembangan dan pengaajaran di Indonesia berlangsung sangat cepat dan progresif. Pemerintah sering melakukan perubahan sistem diknas yang kadang aplikasinya tidak sesuai dengan kondisi di perguruan. Namun konsep KHD masih sangat relevan untuk kalangan pendidikan dimanapun berada.
Tyasno juga menyinggung sistem ujian nasional (UNAS), yang sebelumnya dalam malam “refleksi dan pentas prestasi seni” coba dibandingkannya antara peraturan yang dibuat pemerintah yang hanya mengembangkan kemampuan intelektualitas saja dengan yang dilakukan oleh Tamansiswa. “Ujian nasional sekarang dinilai dari pelajaran-pelajaran itu saja, dan kalau anak tidak bisa menyelesaikannya, berarti sang anak tidak lulus. Padahal itu hanya mengembangkan intelektualitas semata. Tamansiswa tidak seperti itu. Tamansiswa juga melihat budi pekerti sang anak. Dan evaluasi belajar untuk sang anak sesuai dengan konsep KHD bahwa yang paling tepat melakukan ialah pamong pengajar masing-masing. Lalu dengan adanya sistem UNAS yang baru ini, tentunya akan menimbulkan kesulitan bagi pamong/guru dan peserta didik” ungkapnya.
Masih menurut beliau bahwa perubahan sistem diknas sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai kondisi objektif di lapangan. Beliau juga kurang sepaham dengan teori lama yang mengatakan bahwa sang anak diibaratkan seperti lembaran putih bersih. Itu karena akan menimbulkan kecenderungan penyeragaman dalam memberikan pendidikan. Padahal, konsep KHD mengatakan bahwa sang anak sejak lahir secara kodrat illahiah telah membawa sifat dan bakat bawaan. Dan talenta ini yang perlu dikembangkan secara Tut Wuri Handayani. “ Beberapa cabang Tamansiswa ada yang mengikuti pendidikan inklusi yang di programkan oleh pemerintah. Pendidikan kognitif yang tidak diimbangi pendidikan afektif cenderung memberi pendidikan yang tidak sesuai dengan potensi sang anak. Bila pendidik salah dalam memberikan arahan pada peserta didik, maka deviasi sifat ini akan melekat sepanjang hayat siswa, sehingga potensi pribadinya tidak dapat berkembang maksimal. Makanya Pendidikan dan Pengajaran di Tamansiswa diberi muatan khusus berupa pendidikan budi pekerti, pendidikan ketamansiswaan dan pendidikan wawasan nusantara (kebangsaan)” ujarnya tegas.
Sebelumnya, dalam Refleksi dan Pentas Prestasi Seni tanggal 02 Juli 2009 yang diadakan di pendopo Agung Tamansiswa, beliau melontarkan akan betapa pentingnya pendidikan budi pekerti yang akan membentuk karakter (watak) bulatnya jiwa manusia. Baginya, mengutip pemikiran KHD, orang-orang yang mempunyai budi pekerti, senantiasa memikirkan dan merasakan serta memakai ukuran, timbangan dan dasar yang pasti dan tetap.
“Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bertujuan memberi tuntunan dalam perkembangan tubuh dan jiwa sang anak agar mendapatkan kemajuan dalam kehidupan lahir dan batin menuju adab kemanusiaan. Adab kemanusiaan berarti keluhuran dan kehalusan budi manusia yaitu kesanggupan dan kemampuannya akan kewajiban menuntut kecerdasan, keluhuran dan kehalusan budi pekerti bagi dirinya. Manusia-manusia yang beradab membentuk masyarakat satu lingkungan alam dan menciptakan kebudayaan bersama yang bercorak khusus dan pasti” ungkapnya.
Menurutnya, pelajaran kesenian dengan norma estetika dan etika sangat membantu memperhalus budi pekerti dan mempertajam kecerdasan batin yang selanjutnya dapat membentuk watak sang anak. Kesenian yang dapat memberi konsumsi jiwa yang positif adalah kesenian yang mengandung keindahan serta lengkap. Pelajaran kesenian dalam sistem among sering mempergunakan metode ‘dolanan” (kinder spellen) agar peserta didik dapat menghayati pelajaran. “makanya, sejak lahirnya perguruan Tamansiswa, mata pelajaran kesenian merupakan mata pelajaran intra kurikuler karena sangat membantu pembentukan watak” tegasnya.
Dalam kesempatan ini juga, Ki Tyasno sempat menyinggung tentang bahayanya globalisme. Baginya globalisme akan membawa ajaran serta ideologi yang bersifat materialisme yang tentunya akan berpihak pada kapitalisme dan liberalisme. Dan itu sangat bertentangan dengan jiwa asli yang ada di Tamansiswa.
Mengakhiri pidatonya di hari jadi Tamansiswa, Tyasno berpesan untuk terus selalu mem-peka-kan wawasan kebangsaan dengan mempertahankan keutuhan NKRI. “ Sedumuk bathuk senyari bumi, den labuhi tumekeng pati (sejengkal tanah air harus dibela dengan jiwa dan raga kita)”. Beliau juga menambahkan untuk untuk mempergunakan hak pilih sebaik-baiknya dalam pilpres kali ini. “ Pilihlah pimpinan negaramu yang tepat, yang dapat menyalurkan aspirasi seluruh rakyat Indonesia, yang dapat membela rakyat kecil, yang mampu meningkatkan derajat bangsa setingkat dengan bangsa lain. Pilihlah presiden yang dapat menyalurkan aspirasi serta cita-cita luhur perguruan Tamansiswa. Sedang Tamansiswa sebagai institusi tidak dibenarkan berpihak pada salah satu kontestan pilpres” ungkapnya mengakhiri.
Dalam peringatan kali ini, disuguhkan berbagai kreasi prestasi dari anak-anak didik Tamansiswa antara lain penampilan seni Tari Bali yang dibawakan oleh siswi Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa. Selain itu ada juga pertunjukan seni Dolanan Anak “Soyang” yang dibawakan oleh siswa siswi Taman Muda Ibu Pawiyatan (juara II Tk. Kota Yogyakarta dan Juara III tingkat Provinsi DIY), geguritan oleh siswi Taman Dewasa Tamansiswa ( juara I tingkat kota Yogyakarta) dan teater TEMA oleh siswa siswi Taman Madya Ibu Pawiyatan ( juara I tingkat Provinsi DIY) serta penampilan musik klasik yang dibawakan oleh mahasiswa mahasiswi dari Unit Kegiatan Seni Mahasiswa Musik Dewantara (UKM MD) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Melki As
Continue Reading...

Tamansiswa HUT ke-86, Harus Terbuka Pada Masyarakat (1)


Seiring dengan moment Juli 2008, keluarga besar tamansiswa kembali menggelar perayaan dalam rangka memperingati hari kelahiran Tamansiswa yang jatuh pada tanggal 3 Juli. Perayaan hari ulang tahun tamansiswa kali ini dilaksanakan di pendopo agung tamansiswa dan berlangsung selama satu minggu dengan rangkaian acara yang berbeda. Dalam rangkaian acara yang disusun, terlebih dahulu kegiatan yang dilaksanakan dengan mengunjungi makam Taman Wijaya Brata, dimana disana terdapat makam dari Founding Father, guru besar bangsa ini Ki Hadjar Dewantara dan Nyi Hadjar Dewantara serta beberapa keluarga besar Tamansiswa. Acara yang dilakukan berlangsung sejak tanggal 30 juni dengan mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendiri Tamansiswa ini diikuti juga oleh 3 perwakilan dari beberapa cabang Tamansiswa yang ada di daerah-daerah. Setelah mengunjungi Taman Makam Wijaya Brata, malamnya tanggal 2 Juli 2008, diadakan sarasehan dan tirakatan untuk mengenang kembali sejarah Tamansiswa dan perjuangannya. Sedianya acara ini akan dihadirkan Sri Paku Alam ke IX sebagai nara sumber, akan tetapi digantikan oleh KRMT Prof DR. Sutomo dari puro pakualaman Jogja dan juga Nyi Iman Soedijat selaku murid langsung Ki Hadjar Dewantara (KHD) tetapi digantikan dengan Ki Sunarno dari perwakilan Tamansiswa Jakarta. Sebelum acara sarasehan ini dimulai, terlebih dahulu Ki Tyasno Sudarto, selaku Pimpinan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) membuka acara. Disampaikan beliau bahwasannya memang usia daripada Tamansiswa ini sudah tua. Banyak romantika tapi pada dirinya Tamansiswa tidak pernah melepaskan perjuangannya untuk bangsa Indonesia. Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa Tamansiswa merupakan satu-satunya perguruan yang tidak pernah memisahkan antara pendidikan, kebangsaan dan kebudayaan.
Tyasno juga menekankan ditengah arus globalisasi yang sangat deras dan era kapitalis ini, sudah menjadi tantangan bagi Tamansiswa untuk selalu mempertahankannya. Dan untuk mengatasi ini semua, dan dari sinilah kita harus mengembalikannya kepada nilai-nilai luhur yang pernah diajarkan oleh KHD. Menurutnya, Tamansiswa tidak hanya bisa mempertahankan nilai-nilai luhur itu, tapi juga harus bisa menjadi tauladan bagi masyarakat. Ini supaya apa yang dicita-citakan untuk menciptakan manusia merdeka seutuhnya dapat tercapai. Selain itu, pimpinan MLPT yang sekaligus Jenderal ini mengemukanan supaya Tamansiswa harus mulai membuka diri terhadap masyarakat biar mereka dapat merasakan kehadiran dan manfaat dari Perguruan ini. Beliau juga menyinggung mengenai perubahan manajemen ditubuh Tamansiwa. Menurutnya, manajemen yang konvensional dan tradisional harus dikembangkan lagi menjadi manajeman yang bersih, mandiri dan benar agar bisa mencari keuntungan bagi Tamansiswa (profit). ”untuk berkembang menjadi lebih baik, tentu dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Oleh karena itu pengembangan bisnis yang masih sejalan dengan nilai luhur Tamansiswa harus dimaksimalkan. Misalnya dengan membangun berbagai fasilitas seperti percetakan modern, toko buku yang complete dan rumah sakit” demikian yang disampaikannya dalam sarasehan tersebut. Selain itu, beliau juga berpesan kepada seluruh Tamansiswa, tidak hanya yang hadir dan datang dalam perayaan tersebut tapi juga untuk warga Tamansiswa yang tidak sempat datang untuk selalu menjaga solidaritas diantara sesama dan pamong Tamansiswa harus bisa menjadi contoh bagi semuanya seperti keteladanan yang diajarkan oleh KHD.
Sejalan degan keterbukan Tamansiswa yang diungkapkan Ki Tyasno Sudarto, Sulasikin Murpratomo, mantan menteri negara Urusan Peranan Wanita (UPW) Kabinet presiden Soeharto juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, Tamansiswa sudah seharusnya membuka diri agar masyarakat merasakan manfaat dari pada ajaran luhur yang pernah disampaikan Ki Hadjar. Tidak hanya itu, berkenaan dengan tema HUT ”Kita Kembalikan Jati Diri Dengan Nurani dan Kobarkan Api Semangat Kebangsaan Indonesia” yang dilaksanakan tanggal 3 juli lalu, beliau juga mengomentarinya. Menurutnya, sebenarnya bukan mengembalikan, tapi merevitalisasi kembali sesuai dengan nurani. Selain itu beliau juga sangat bangga dengan usaha yang tertera didalam tema yang diusung yaitu kobarkan api semangat kebangsaan Indonesia. Sudah seharusnya disaat keadaan bangsa seperti ini, dari Tamansiswa mulai mengobarkan kembali api semangat kebangsaan itu. Dengan diadakannya perayaan kebangkitan Tamansiswa ini, diusianya yang sudah semakin senja, masih tampak kegembiraan dan kebanggaan yang dipancarkan dari raut wajahnya. Semangat untuk hadir dalam acara ini mengingkatnya bahwasannya beliau masih menjadi bagian dari keluarga besar Tamansiswa. Beliau juga sangat menjunjung tinggi apa yang diajarkan KHD dan beliau juga merasakan manfaat dari pada ajaran itu sendiri. Sementara itu, Priyo Dwiarso yang juga pengurus majelis luhur tamansiswa mengungkapkan bahwa Tamansiswa tidak boleh hanya menjadi simbol semata tapi harus kembali ke badan perjuangannya semula yaitu perjuangan pembangunan di masyarakat, makanya Tamansiswa tidak boleh hanya bergerak di kegiatan-kegiatan yang bersifat formal saja.
Ini tentunya senada dengan apa yang diucapkan Tyasno semula bahwasannya Tamansiswa harus kembali ke jati dirinya dalam arti luas. Tidak hanya usaha persekolahan tapi sebagai badan perjuangan. Disini juga Tyasno juga berpesan mengenai kaderisasi ditubuh Tamansiswa. ”Supaya eksistensi Tamansiswa tetap terjaga, Tamansiswa harus melakukan kaderisasi untuk mengganti peran para aktivis yang sudah tua. Organisasi Tamansiswa harus berani terbuka ke masyarakat dan melakukan diversifikasi usaha yang mendukung akan perjuangannya” ungkapnya. Acara yang dilaksanakan pagi hari ini juga dibarengi dengan dialog interaktif keluarga besar Tamansiswa. Dialog antara pamong dengan majelis luhur, dialog antara alumni dengan majelis luhur, dialog antara alumni dengan pamong dan dialog antara pamong sesama pamong. Dalam sesi diaolog, Ki Soeharto, perwakilan Tamansiswa Pematang Siantar Padang Sumatera Barat mengemukakan keluhannya bahwa ada kelunturan terhadap kebangsaan ini sendiri. Beliau mencontohkan bahwa bagaimana kacaunya generasi sekarang yang tidak mengetahui lagi wilayah Indonesia sendiri. Kemudian menurutnya, sumpah pemuda juga mengalami kelunturan dan wawasan kebangsaan sudah tidak begitu jelas kembali. Inilah yang seharusnya, bukan lagi harus bapak-bapak yang mempertanyakan hal semacam ini menurut Sulasiken Murpratomo. Sudah seharusnya sesama anak muda untuk mempertanyakan hal ini. Kenapa ini terjadi seperti ini. ”Harusnya yang mempertannyakan itu ya anak muda seperti kalian sekarang” ungkapnya pada Aspiratif. Dengan adanya sharing sesama keluarga besar Tamansiswa, Tyasno kembali menegaskan akan pentingnya memahami azas trikon. Terutama konvergensi. Menurutnya, hal yang terjadi seperti diungkapkan oleh Ki Soeharto itu karena pengaruh globalisasi yang besar terhadap bangsa ini. ”Masuknya budaya barat yang kurang tersaring akhirnya melanda kita. Melanda bangsa kita. Inilah dengan adanya azas konvergensi yang ada dalam konsep trikon yang diajarkan Ki Hadjar, akan menjadi penyaring, akan menjadi filter bagi budaya-budaya asing yang akan masuk ke Indonesia” paparnya.
Ki Prof. DR. Wuryadi, ketua III majelis luhur yang membidangi bagian pendidikan juga menambahkan permasalahan yang harus di pecahkan bangsa ini. ”Ini karena masalah pokok Tamansiswa adalah masalah pendidikan” ungkapnya. Dalam masalah pendidikan, beliau mengemukakan bahwa Tamansiswa sudah menolak akan ujian nasional yang dilakukan selama ini. Ini selaras dengan yang diajarkan Ki Hadjar yang melarang memberikan tekanan kepada anak didik. Tamansiswa lewat majelis luhur, seperti yang diungkapkan Ki Wuryadi menolak model ujian nasional imi karena Ki Hadjar sendiri melarang untuk mengkultuskan Ujian itu karena ujian hanya akan memberikan tekanan pada sang anak. Ujian juga menurutnya bukan untuk menentukan lulus atau tidak lulus seseorang. Karena kalau ujian sudah menentukan seperti itu, maka malapetaka pada pendidikan itu sendiri. Karena masyarakat tidak percaya lagi dengan guru. Tidak hanya ujian nasional yang di komentari oleh Prof. Wuryadi, beliau juga mengomentari akan standarisasi nilai yang diterapkan sekolah-sekolah. Setelah ujian memberikan tekanan, standarisasi turut memberikan kungkungan pada sang anak. Inilah yang ditentang oleh Ki Hadjar dan bertentangan dengan azaz ke tujuh. Tapi kalau ujian hanya untuk melihat peringkat kemampuan dari sang anak itu tidak apa-apa. Tapi yang paling jelas dan tegas, beliau menyarankan bahwasannya apa yang dilakukan itu harus menyokong kepentingan untuk kemajuan bangsanya. ”Baik tidak baik tergantung dengan kepentingan bangsanya” paparnya
Didalam acara dialog interaktif itu, hadir juga sebagai panelis Ki Joko yang merupakan keluarga besar Tamansiswa dan anggota komisi III DPR-RI. Cuma tidak banyak yang disampaikan Joko dalam acara itu. Beliau hanya bercerita setelah puluhan tahun, akhirnya beliau juga bisa duduk didepan seperti Ki Hadjar Dewantara puluhan tahun silam. Hal itu sudah lama diimpikannya dan baru sekarang bisa terrealisasikan. Sedikit yang dipaparkan Joko dalam acara itu seputar Tamansiswa, selebihnya beliau bercerita mengenai aktivitasnya di komisi III yang lagi sibuk.
Malamnya, masih dalam rangka perayaan HUT 86 Tamansiswa, semua peserta dan panitia serta keluarga besar Tamansiswa beserta masyarakat dihibur dengan kesenian yang dibawakan oleh murid-murid taman kesenian Tamansiswa. Didalam acara itu ditampilkan teatrikal koreodrama tentang Ki Hadjar Dewantara. Lebih kurang berdasarkan pantauan aspiratif, sekitar 100 orang lebih memadati acara itu. Acara yang merupakan asuhan Ki Priyo Dwiarso dan disutradari oleh Ki Wahyana Giri MC itu terkesan menarik dan sangat menggugah dari setiap yang menyaksikan. Dimana diceriterakan dalam teatrikalnya yang menggambarkan keadaan sebelum Ki Hadjar Dewantara lahir, masa kecilnya, masa perjuangannya sampai akhirnya beliau tiada. Selain menampilkan teatrikal, terlihat juga dalam screen yang besar film dokumentasi dari kehidupan Ki Hadjar Dewantara. Banyak penonton yang terpingkal-pingkal menyaksikan adegan yang dimainkan oleh anak kecil murid taman kesenian itu. Selain dari pembawaannya yang terbilang lucu, talent mereka sudah terasah dengan baik. Dari teatrikal itu juga bisa disaksikan bagaimana pahitnya bangsa Indonesia terutama rakyat kelas bawah dengan masuk dan bercokol nya penjajah di tanah air ini. Kolonial belanda selalu memaksa rakyat dan perempuan-perempuan diperlakukan seenaknya untuk dijadikan budak. Acara ini kelihatan lebih manis dengan menampilkan juga kolaborasi dengan Kelompok Sastra Kalimambu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (KSK FKIP UST) yang berperan sebagai rakyat dan sebagian berperan sebagi penjajah. Setelah hari kian beranjak malam, dengan berakhirnya deskripsi tentang Ki Hadjar Dewantara dan naiknya seorang orang Tamansiswa Bandung menjadi Presiden RI (Ir Soekarno), acara pun juga berakhir dengan penutup pesan bahwa ajaran Ki Hadjar merupakan warisan yang harus selalu diamalkan dan dijaga untuk kemajuan bersama seluruh umat. Diakhir penutupan malam kesenian, penonton juga dihibur dengan penyanyi cilik bintang Akademi Fantasi Indosiar (AFI Indosiar) yang membawakan lagu munajat cinta dari grup band The Rock. Ki Tyasno Sudarto pun juga memberikan suara emasnya lewat lagu kebangsaan dan terakhir menyanyikan lagu syukur secara bersamaan antara keluarga besar Tamansiswa beserta masyarakat.
Jumat 5 Juli 2008, kegiatan perayaan HUT Tamansiswa dilanjutkan dengan pertemuan akbar alumni Tamansiswa yang berkumpul dipendopo agung dan akan berjalan menengok sekolah-sekolah Tamansiswa yang ada di Jogjakarta. Tampak dalam temu alumni ini Nyi Mudjono dan Nyi Iman Soedijat yang merupakan murid langsung dari Ki Hadjar Dewantara. Walaupun kondisi badan yang tidak memungkinkan, tapi tampak dari binar mata keduanya akan kebanggaan mereka terhadap Tamansiswa yang masih bisa eksis sampai sekarang. Terlihat juga semangat dari keduannya yang seakan-akan tidak pernah pudar mengenang Tamansiswa dalam perjalanan hidupnya. Sebelum pertemuan dimulai, beberapa alumni sudah tampak bergembira dengan hiburan yang disajikan oleh murid-murid taman dewasa. Seperti yang aspiratif saksikan, alumni dan segenap keluarga besar tamansiswa disuguhi dengan pertunjukan drum band murid-murid taman dewasa yang membawakan lagu mars Tamansiswa dengan khikmat. Semuanya pun juga tampak meresapi alunan itu dengan Khidmat. Termasuk Nyi Mudjono dan Nyi Iman Soedijat. Setelah itu, pertunjukan dilakukan oleh murid-murid SMA Tamansiswa Sukabumi yang membawakan aksi barongsai. Masyarakat diluar tampak berkerumun menyaksikan pertunjukan itu dan Ki Tyasno untuk menghimbau agar mereka masuk untuk menikmati kesenian yang ditunjukan tidak hanya untuk kalangan Tamansiswa tapi juga untuk masyarakat. Pertunjukan itu membikin geli semua yang menyaksikan. Apalagi menyaksikan aksi barongsai yang cekatan dalam lompat-melompat. Permainan indah nan cantik itu berkat latihn yang akurat dan telaten dari murid-murid Tamansiswa. Diakhir permainan, tawa penonton kembali meledak ketika menyaksikan berbagai element dari tamansiswa mulai dari MLPT sampai jajaran dosen memberikan angpao untuk singa barongsai itu. Ki Tyasno, Ki Joko, Nyi Mudjono dan lainnya tampak semangat dan senang memberikan angpao kepada barongsai yang telah menghibur mereka semua.

Melki AS
Continue Reading...

Fakultas Ekonomi Berbenah

Agar pelayanan kepada mahasiswa bisa lebih profesional, maka diadakan lah perbaikan dan penambahan fasilitas di kantor Tata Usaha Fakultas Ekonomi (TU FE-red) UST, ungkap wakil dekan FE Ki I B Nyoman Udayana ketika ditemui wartawan LPPM Aspiratif di ruangannya. Sejalan dengan beliau, dekan FE, Nyi Dra Suharti juga mengungkapkan bahwa pembangunan fasilitas ini sebagai salah satu bentuk perbaikan eksternal dan internal yang harus dilakukan agar bisa membedakan antara FE UST dengan FE PT lainnya. Perbaikan serta penambahan fasilitas ini sudah dimulai dari beberapa pekan yang lalu. Penanganannya pun ditangani langsung oleh oleh tim khusus yang dibentuk oleh FE sendiri, yang melibatkan beberapa dosen maupun karyawannya. Mengenai dana yang digunakan dalam perbaikan, seperti yang diungkapkannya pada Aspiratif (19/02/08) bahwa semuanya murni berasal dari dana FE. “Dana ini adalah hasil kerja keras semua pihak, baik dekanat, dosen dan karyawan. Dan semuanya ini hanya untuk mahasiswa“ sambungnya. Di akhir wawancara, beliau juga mengatakan bahwa selain melakukan perbaikan dan penambahan fasilitas, agar bisa mencetak sarjana yang betul-betul siap kerja dan mandiri, FE juga berencana akan mengadakan perombakan kurikulum. Seperti apa hasilnya, kita nantikan saja!!

Laporan : Shakti
Continue Reading...

Mencetak Jurnalis Muda Profesional

Didalam tatanan Negara yang menganut sistem demokrasi seperti bangsa kita sekarang ini, sudah bukan ancaman lagi bagi wartawan dalam turut serta menegakan pilar demokrasi (baca ; the fourth estate) walaupun masih ada beberapa orang yang terkena dampak dari berita yang diturunkannya. Ini berbeda ketika rezim orde baru masih berkuasa dan bercokol kuat dalam negeri ini. Sekilas kita menengok kebelakang, wartawan yang melakukan peliputan sering kali diancam ataupun menjadi sasaran aparat (baca ; pukul, tendang dll-red) ketika sedang memburu berita. Bahkan tidak tanggung-tanggung, kerap kali penerbitan yang terkait dibredel atau wartawannya dibunuh. Seperti kasus Udin (wartawan harian Bernas Jogja-red), yang terpaksa meregang nyawa karena pemberitaan. Walaupun belum ada bukti konkrit dari Tim Pencari Fakta, tapi animo masyarakat seolah meyakinkan bahwa itu berkenaan dengan pemberitaan yang sedang coba ditelusuri beliau.
Tapi sejak tumbangnya rezim ORBA tahun 1998, pers seolah sudah mendapatkan angin kebebasan, yang sempat dicekal pada saat sebelumnya. Pers sudah tidak takut lagi akan ancaman pembredelan oleh pemerintah tentang pemberitaan. Para wartawan atau jurnalis dapat sedikit tenang dalam melakukan peliputan. Penyampaian informasi baik positif maupun negatif yang dilakukan oknum atau instansi bisa cepat diketahui masyarakat. Dari sinilah pers bangkit kembali sebagai control terhadap kebijakan pemerintah serta wahana penyampaian aspirasi kaum marginal ketataran atas (baca : wakil-wakil rakyat-red). Semenjak ini pula lah, banyak keluar harian-harian ataupun tabloid atau majalah di dalam masyarakat umum maupun di lingkungan civitas akademika (kampus). Banyak kesempatan terbuka untuk menjadi jurnalis (apalagi jurnalis yang pure bekerja dengan hati nurani yang untuk membela kaum kaum marginal). Tapi apakah untuk menjadi Jurnalis itu gampang?. Memang kerja seorang wartawan, reporter atau seorang jurnalis ialah memburu berita yang akan disajikan untuk khalayak ramai. Tapi tidak semudah itu.
Berangkat dari sinilah akhirnya Pers Kampus LPM PENDAPA Tamansiswa UST mengadakan acara Pendidikan dan Pelatihan Dasar (DIKLATSAR) Jurnalistik ke-XX yang dilakukan di Wisma Hanoman di pantai Parangtritis mulai tanggal 11-13 Januari 2008 dengan mengusung tema “Mewujudkan Pers Mahasiswa Menuju Kematangan Demokrasi”. Acara Diklatsar Jurnalistik ini menurut Edi Susilo selaku Pimpinan Umum LPM PENDAPA UST diadakan karena selain untuk mencetak jurnalis-jurnalis pemula yang mumpuni serta profesional, juga untuk kembali menghidupkan riak kehidupan akademik di kampus UST. “Dengan adanya diklatsar jurnaslistik ini dihatapkan dapat menumbuh kembangkan budaya menulis dikampus”ujarnya. “Minimnya tulisan ilmiah dari para mahasiswa maupun pamong di UST menyebabkan diklat Jurnalistik tingkat dasar ke XX ini lebih awal dilaksanakan, Target utama LPM PENDAPA sendiri lebih ditentukan untuk kalangan civitas akademika UST selain juga mengajak peserta dari luar kampus baik swasta maupun negeri dan sekolahan-sekolahan setaraf SMU/SMK yang mau belajar tentang jurnalistik” imbuhnya lagi.
Acara DIKLARSAR ke-XX ini diikuti lebih kurang oleh 50-an mahasiswa diantaranya dari internal LPM Pendapa (anggota-red) dan mahasiswa umum Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Selain itu, Diklatsar ini juga diikuti oleh mahasiswa dan Pers kampus lain seperti mahasiswa jurusan Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) yang tergabung dalam LPM Profesi, mahasiswa jurusan hukum UII yang tergabung dalam LPM Keadilan dan juga mahasiswa jurusan psikologi universitas Wangsa Manggala (UNWAMA) yang juga tergabung dalam LPM Cakrawala. Tidak hanya itu, acara Diklatsar Jurnalistik ini juga menarik minat dari kalangan siswa Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMTI) Yogyakarta.
Didalam acara ini panitia menghadirkan beberapa pembicara yang sudah malang melintang didunia jurnalistik. Diantaranya Asril Sutan Marajo (wartawan SKH Suara merdeka) yang membawakan materi tentang Kode Etik Jurnalistik (KEJ) Indonesia, Drs. Jayadi Kastari (wartawan SKH Kedaulatan Rakyat) yang membawakan tema Penulisan Berita, Try Suparyanto S.Pd (wartawan SKH Bernas Jogja dan juga sebagai wakil Komisi Penyiaran Indonesia Daerah-KPID Yogyakarta) yang membawakan tema tentang Penulisan Opini dan Artikel, Bambang MBK (Aliansi Jurnalis Independent-AJI Jogja) yang membawakan tema tentang Analisa Sosial, Wahyana Giri MC (wartawan Dagang Post) yang membawakan tema tentang penulisan Resensi. Selain itu, panitia juga menghadirkan pembicara dari SKH Tempo Bernarda Rurit yang membawakan tema tentang Teknik Investigasi, Manajemen Redaksi yang dibawakan Aminudin (wartawan SKH Media Indonesia), Bahasa Jurnalistik yang dibawakan oleh YB. Margantoro (wartawan SKH Bernas Jogja), Teknik Wawancara yang dibawakan oleh Zahratul Jannah (wartawan ANTV), layout dan artistik yang dibawakan oleh Kurniawan (Percetakan Grafindo) dan Fotografi yang dibawakan oleh Wawan (fotographer SKH Kompas) serta Manajemen Perusahaan yang turut dibawakan oleh Teguh Prayitno (LPM Balaitung UGM).

Pentingnya Mempelajari Jurnalistik
Seorang jurnalis yang idealis harus mempunyai basic yang lebih dibandingkan lainnya. Seperti analisa social, kepekaan terhadap situasi kondisi yang sedang dihadapi maupun lainnya. Disamping itu, seorang jurnalis juga harus mengerti aturan yang dipakai dan diterapkan dalam membuat berita. Seperti Kode Etik Jurnalistik, jenis-jenis berita, tahapan-tahapan dalam menulis berita atau aritkel dan bagaimana cara yang efektif dalam memburu berita.
Mengapa para jurnalis harus akrab dengan Kode Etik Jurnalitik? Karena KEJ merupakan kitab dalam menjalankan tugas jurnalistik. Sebagaimana telah diatur didalamnya tentang sikap-sikap etis seorang wartawan, cara melakukan tugas jurnalistik yang benar serta KEJ juga merupakan alat perlingdungan terhadap wartawan ataupun jurnalis yang melakukan kesalahan dalam prosesi tugas jurnalistiknya (Asril Sutan Marajo, KEJ Indonesia/2006 dan PWI,Parangtritis, Jumat 11-13 januari 2008). Dengan adanya KEJ ini, kehati-hatian jurnalis dalam membuat berita akan tetap terjaga, karena berita harus bersih dari manipulasi. Artinya, berita memang harus berimbang (cover both side) tanpa ada rekayasa dari pihak manapun (manipulasi).
Seperti yang lazim diketahui bahwa ada beberapa jenis teknis penulisan berita yang bisa dibuat oleh seorang jurnalis antara lain straight News (berita ringkas), Hard News (berita keras), Soft News (berita ringan), Feature (berita kisah) dan reportase (berita laporan).
Menurut Drs. Jayadi Kastari (wartawan Kedaulatan Rakyat-KR), berita merupakan sajian pers jurnalistik yang paling lazim untuk Koran harian. Bahan bakunya berupa peristiwa, fakta dan data yang kesemuanya merupakan kumpulan fakta objective dengan rumusan 5 W + 1 H (what, where, when, who, why dan how). Cara mengetahui Nilai Berita (kelayakan) untuk bisa dipublikasikan, seperti yang dikutif dari makalahnya adalah dengan memenuhi beberapa unsur seperti Significance (penting) yang berarti peristiwa yang mempengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang menimbulkan akibat langsung kepada kehidupan pembaca, Magnitude (besar) yang berarti peristiwa yang menyangkut angka-angka (jumlah atau besaran) yang sangat berarti bagi kehidupan orang banyak, Timelines (baru) yang berarti peristiwa yang menyangkut hal baru saat terjadi atau baru diketemukan, Proximity (dekat), yang berarti peristiwa yang dekat dengan pembaca, baik dari segi jarak (geografis) maupun dari segi emosional, prominence (tenar), yang berarti peristiwa yang menyangkut tokoh tempat atau sesuatu (tempat, benda) yang sangat dikenal pembaca dan yang terakhir Human interest (manusiawi), peristiwa yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca dan ini juga bisa menyangkut orang biasa dalam situasi yang luar biasa. Masih menurut beliau bahwa sebelum menentukan penulisan berita, layak direnungkan dahulu bahwa berita dengan peristiwa. Peristiwa dengan jalan cerita. Karena tiap peristiwa mengandung nilai beritanya sendiri. Untuk itu sebelum menulis berita perlu dicermati langkah langkan untuk memudahkan penggarapan antara lain Menemukan peristiwa dan jalan cerita, cek dan ricek jalan cerita, menentukan sudut berita, menemukan lead atau intro tulisan kemudian baru menulis berita dengan ragamnya.
Sementara itu, modal dasar dalam menulis menurut Tri Suparyanto S.Pd (wakil ketua KPID Jogja) didalam acara yang sama bahwa pertama-tama ialah harus banyak membaca, banyak diskusi, seminar, sarasehan, lokakarya, workshop, harus ada kemauan yang besar dalam menulis, motivasi menulis dan selalu memperbesar kemampuan melihat dan mengamati fenomena, trend, bahasa tulisan dan bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik menurut beliau ialah bahasa yang biasa digunakan wartawan di media massa. Dan ciri khas yang menonjol dalam bahasa jurnalistik ialah komunikatif. Artinya langsung pada pokok masalah dan mudah dipahami, ringkas atau hemat kata, jelas, mudah dipahami, tertib, patuh aturan dan norma penulisan karya jurnalistik, singkat terstruktur (SPO) dan yang terakhir, menarik. Hal yang harus dihindari ialah pemborosan kata, pemakaian singkatan, dan ungkapan-ungkapan yang klise.
Dalam penggunaan bahasa, seorang jurnalis juga harus berhati-hati. Penggunaan bahasa yang tidak baik membuat fakta yang ingin disajikan menjadi tidak jelas. Ada tiga aspek dalam bahasa jurnalistik (termasuk kalimat jurnalistik) yang tidak bisa dipisahkan yaitu Penguasaan Materi yang dikemukakan, kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan teknik penyajian (LP3Y,1990). Menurut YB Margantoro, sebenarnya bahasa Jurnalistik sama dengan bahasa Indonesia pada Umumnya. Hanya saja, pengembangan bahasa pers lebih mengarah pada sikap publisistik, yang mudah dimengerti untuk umum. Namun prinsip bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap harus dipegang. Masih menurut beliau bahwa (seperti yang disarikannya dari siklat Jurnalistik bernas) membagi empat unsure yang harus diperhatikan dalam merangkai bahasa Jurnalistik. Unsure itu tergabung dalam akronim “MENJERIT” yaitu Menarik, Jelas, Ringkas dan Tertib.
Selain itu semua, masih banyak lagi yang mesti dipelajri dalam ranah Jurnalistik. Seperti manajemen keredaksian, penulisan berita berbentuk feature, fotograpi maupun cara ataupun moda dalam menginvestigasi berita. Hal inilah yang dituturkan kembali oleh Edi Susilo (PU Pendapa-red) bahwa kalau memang ingin menjadi seorang Jurnalis itu harus banyak belajar. “Inilah tujuan nya kita mendatangkan beragam pembicara dengan beragam materi, supaya kita bisa memetik hasilnya dan dapat mengimplementasikannya kedalam dunia kerja (Jurnalistik baik pers mahasiswa maupun pers lainnya seperti media cetak dan elektronik)” imbunya lagi. Disamping itu, guna mengatasi boring peserta Diklat, pemberian materi tidak hanya disampaikan didalam ruangan saja. Ada suatu ketika, peserta Diklat diajak untuk belakar diluar ruangan. Seperti pemberian materi penulisan resensi oleh Wahyana Giri MC yang dilakukan di Pendopo Parangtritis. Sejenak dapat dilihat peserta Diklat agak sedikit rilek.
Mengenai Diklat Jurnalistik ke XX ini, menurut Rona Neysa Dewi, peserta yang berasal dari LPM Profesi FTI UII bahwa acara ini sangat mengasyikan. Karena selain mendapatkan ilmu yang berguna bagi kinerja jurnalistik, bisa juga untuk mengenal teman-teman yang mempunyai kesamaan hobi. Apalagi di acara ini juga mendatangkan pembicara yang familiar dan mantap serta diikuti dengan praktek penulisan bulletin. “saya terkesan sekali dengan kawan-kawan LPM Pendapa yang telah memfasilitasi kita untuk menimbah lebih dalam ilmu jurnalistik. Ditambah dengan praktek, semua itu membuat ilmu yang kita dapatkan langsung diterapkan sehingga sangat mengena dengan sasaran” imbuhnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Diyan Dwi Ratnawati, peserta yang berasal dari LPM Cakrawala Unwama. “selain itu semua, di acara ini kita juga di janjikan sertifikat oleh panitia. Gimana gak enak. Sudah acaranya sangat ekonomis sekali, materinya sangat berbobot dan dapat sertifikat lagi. “Apalagi saya adalah salah seorang mahasiswa FKIP, yang dituntut harus bisa menulis” ungkap Fajar Tatag, peserta yang berasal dari FKIP UST. “apalagi jikalau nanti saya berminat menjadi guru, ini merupakan kredit point tertentu bagi saya” ungkapnya lagi sambil sedikit tertawa.

by : Melki As
Continue Reading...

Featured

 

BIDADARI KECILKU

BIDADARI KECILKU

EKSPRESI

EKSPRESI

Once Time Ago

Once Time Ago

Aspiratif CyberMedia Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template