Pages

Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan

Belajar Dari ‘IDIOT’ nya India


Bandel dan membangkang bukanlah hal yang harus selalu kita maknai salah. Justru dengan kebandelan dan keberanian membangkang (yang positif), bisa melahirkan suatu sistem dan tata cara baru dalam menggapai maksud mengejar impian.

..........

Ditengah ketidakjelasan maksud dan orientasi pendidikan yang hanya melahirkan manusia-manusia robotis dan copian masalah lalu, ada baikknya pemikiran-pemikiran baru menjadi kewajiban untuk memenuhi syarat perkembangan dan kemajuan dimasa yang akan datang dengan merubah pola pendidikannya yang kaku menjadi lebih dinamis dan egaliter. India mencoba menggambarkan betapa kaku nya pola pendidikan yang hanya menuruti segala perintah, ucapan maupun bacaan yang ada, dan kemudian menjadi jawaban yang sesungguh dan terjiplak sama persis dengan aslinya. Orientasinya kemudian hanya mengejar, mengharap dan melahirkan nilai besar lalu mendapat pekerjaan yang ditawarkan orang lain, tanpa mencoba untuk berpikir belajar yang lebih menarik, mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan bahkan bila perlu menciptakan lapangan kerja sendiri secara mandiri dengan modal keahlian pada diri masing-masing.
Adalah tiga mahasiswa yang bersahabat tapi berbeda asal; Ranchodas Chanchad (Aamir Khan), Raju (Sharman Joshi) dan Farhan (R. Madhavan) memilih untuk melakukan pembangkangan, meskipun awalnya ada getir ketakutan terhadap sanksi kampus tempat mereka belajar. Pembangkangan ini dilakukan karena kesadaran mereka bahwa ada sisi lainnya dari pendidikan yang harus diasah oleh mahasiswa. Tidak melulu memaksakan kehendak yang pada dasarnya tidak sesuai dengan keahlian.
Dalam film ini, sutradara Rajkumar Hirani mengajak kita melihat tiga sisi pendidikan. Pertama adalah bagaimana pendidikan itu seharusnya berproses. Kedua adalah bagaimana sistem yang seharusnya dijalankan dalam pendidikan, dan ketiga adalah bagaimana orientasi dari pendidikan itu sendiri..
Bermula dari diterimanya ketiga orang ini menjadi mahasiswa di Imperial College of Engineering (ICE), salah satu universitas teknik terkenal di India. Dari awal sistem yang dilaksanakan di ICE bertentangan dengan konsep kemanusiaan, dimana penyambutan terhadap mahasiswa baru di godok dengan cara yang memalukan (sengaja di buat malu) diantara sesama mahasiswa yang dilakukan oleh seniornya. Setiap yang telah resmi diterima sebagai mahasiswa ICE di telanjangi dan menuruti kehendak senior tanpa boleh membantah. Sampai akhirnya datang Rancho, panggilan Ranchodas, yang tidak mau menuruti tradisi tersebut dan memilih masuk ke kamar (mess) yang telah dipersiapkan oleh pihak kampus. Sontak kebengalan Rancho ini membuat seniornya marah dan memanggil serta memaksa dan mengancam untuk mengencingi kamarnya selama satu semester kalau tetap tidak mau mengikuti acara penyambutan. Dengan tidak kehabisan akal, Rancho mengerjai balik seniornya tersebut dengan menyambung berbagai rangkaian listik di sendok makan, menyambungnya dengan kayu dan menjalarkannya lewat bawah pintu dan kemudian ketika seniornya kencing di depan pintunya, dengan langsung aliran listrik yang menyentuh sendok tersebut menyengat sampai ke badan orang yang terhubungkan (seperti pelajaran IPA kelas 2 SD).
Besoknya mereka juga di sambut oleh Virru Sahastrabuddi (Boman Irani), Rektor ICE yang biasa dipanggil sebagai ‘Virus’ (mengambil nama awal ditambah satu hurup nama belakang awal) oleh para mahasiswa. Pepatah sang rektor Virus adalah bahwa “ Hidup adalah sebuah perlombaan. Jika tidak cukup cepat, maka akan di injak-injak”. Sehingga kemudian yang ada adalah kompetisi para pengekor ilmu pengetahuan dengan memindahkan semua pelajaran seperti aslinya. Virus sendiri adalah seorang Rektor yang kolot, ortodok, keras kepala dan tak punya belas kasihan. Dikatakan begitu karena pemaksaan kehendaknya yang sepihak tanpa mempertimbangkan aspek psikologis manusia. Karenanya tidak heran kalau mahasiswa bunuh diri, termasuk Raju Rastogi yang pernah mengalami karena tertekan oleh peraturan yang ada dan ‘atur-atur an’ yang diada-adakan. Sehingga akhirnya Virus menjadi musuh bersama dari para mahasiswanya.
Prinsip sang rektor Virus, ini sejalan dengan prinsip hidup Chattur Ramalingam. Oleh karena itu, Virus senang dengannya karena dia adalah seorang penurut dan tidak pernah membantah sekalipun rektor salah. Bahkan Chattur selalu didelegasikan sebagai wakil mahasiswa dalam berpidato termasuk dalam berpidato di peringatan hari guru. Chattur adalah sesosok mahasiswa aneh yang belajar dengan cara menghapalkan seluruh kata-kata yang ada di dalam buku. Dia termasuk tipikal mahasiswa yang pintar karena daya ingatnya yang kuat. Tetapi ia bodoh karena tidak pernah memahami apa yang telah dipelajari dan dihapalkannya. Bahkan, dia juga menghalalkan segala cara untuk meningkatkan prestasi yang dibanggakannya. Baginya, didalam belajar dan mengejar sebuah nilai untuk kelulusan, maka hanya ada dua cara yaitu, tingkatkan nilai kita atau turunkan nilai orang. Makanya dia berusaha mengalihkan perhatian orang lain ketika ujian datang. Dari ulahnya inilah, makanya dia dijuki ‘silencer’ oleh Rancho dan lainnya.
Tapi berhadapan dengan Rancho, Virus selalu geram dan terbakar amarah karena argumennya selalu bisa dibalikkan dengan pemahaman baru yang lebih mudah dimengerti. Karena bagi Rancho, belajar tidaklah harus selalu disatu tempat, lalu mendapatkan ijazah, mendapat nilai besar kemudian mudah di terima kerja. Baginya belajar bisa dilakukan dimana saja. Asal mau belajar, masuk dan belajarlah walaupun itu dimanapun. Dan juga didalam proses belajar, tidak perlu adanya kompetisi apalagi dengan harus menempelkan seluruh hasil perolehan mahasiswa di papan pengumuman sehabis ujian. Baginya itu tidaklah perlu karena bisa melukai perasaan seorang manusia. Makanya menjadi tak heran, ketika di usir dari kelas yang satu, dia berpindah ke kelas yang satunya lagi. Inilah yang akhirnya mengantarkannya masuk ICE sebagai pengganti Rancho yang sebenarnya.
Pernah suatu kali, seorang dosen menanyakan arti sebuah mesin kepada mahasiswa. Rancho menjawabnya dengan simple dan dengan bahasa yang sederhana. Tetapi tak disangka, dosen tersebut tidak menerima jawaban itu dan menganggapnya salah karena tidak sesuai dengan yang tertulis di buku. Kemudian Chattur menjawab pertanyaan itu dengan membacakan artinya secara oral sesuai dan sama dengan yang tertulis dibuku. Sang dosen tersenyum puas penuh kegembiraan. Rancho keberatan karena apa yang disampaikan Chattur adalah sama dengan yang disampaikannya juga, tetapi berbeda cara penyampaian dan bahasanya. Tapi kenapa harus dengan yang sama persis dengan yang ada dibuku yang dianggap paling benar. Sang dosen mengatakan bahwa yang disampaikan oleh Rancho tidak sama dengan yang tertulis dibuku. Dan juga penggunaan bahasanya juga sangat sederhana. Sementara bagi dosen, di ICE tidak digunakan bahasa-bahasa yang simple dan sederhana.
Karena ulahnya yang selalu membantah, akhirnya Rancho terpaksa dikeluarkan dari kelas. Meski dikeluarkan dari kelas, Rancho tidak pernah kehabisan akal. Ketika hendak keluar, tiba-tiba dia kembali masuk ke kelas tersebut. Dosen yang mengeluarkannya tadi mempertanyakan maksud Rancho ktersebut. Dengan sedikit berbohong ingin mengambil buku yang ketinggalan, secara spontan dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan dosen sebelum dia dikeluarkan tadi. Kali ini Rancho menjawabnya secara lengkap bahkan dengan menggunakan bahasa inggris. Dosen tersebut bingung, tidak mengerti dengan kata-kata yang dicapkan Rancho. Kemudian dia berbalik bertanya tentang apa yang dia katakan Rancho. Dengan lugas Rancho mengatakan bahwa itulah arti pertanyaan dosen tadi. Tapi bedanya kali ini dia jawab dengan sesuatu yang lebih sulit, yakni dengan bahasa inggris. Seluruh kelas sontak riuh menertawakan kelakuan sang dosen yang katanya menolak kesederhanaan, padahal yang sulit pun ternyata dia tidak mengerti. Ini merupakan salah satu kebandelan Rancho yang menentang sistem pendidikan yang kaku dengan cara mematahkan argumen, pikiran dan tata cara mengajar kolot yang masih dilakukan oleh para dosen.
Pernah juga suatu kali Chattur marah dan menantang 3 idiot Rancho, Farhan dan Raju. Beliau menantang tentang keberhasilan mereka dimasa depan. Ini bermula karena Chattur dipermalukan oleh Rancho dan Farhan. Saat itu mereka ingin menyelamatkan Raju dari cara belajar yang kolot seperti yang dilakukan Chattur. Karena sebelumnya, karena ketakutan gagal dalam ujian, Raju mengubah arah lajurnya dan mengikuti gaya belajar Chattur. Nah, tidak mau Raju seperti Chattur, tibalah saat Chattur didaulat berpidato mewakili mahasiswa dalam peringatan hari guru yang dihadiri seluruh mahasiswa, rektor dan menteri pendidikan, Chattur dikerjai oleh Rancho dan Farhan. Mereka merubah beberapa bagian teks yang menjadikan artinya sangat cabul dan jorok. Karena mereka tahu bahwa Chattur tak akan pernah tahu karena memang dia (Chattur) adalah ‘penghapal’ bukan sebagai orang yang ‘memahami’. Keruan Rektor ICE dan Menteri Pendidikan dibuat malu oleh ulah Rancho dan Farhan. Kerena didalam pidatonya, Chattur dengan lugas mengucapkan apa yang telah dihapalkannya termasuk teks yang telah diubah menjadi cabul dan jorok tersebut. Karena Chattur adalah manusia ‘penghapal’ tanpa memahami, beliau sendiri pun tidak tahu arti tersebut.
Dikesempatan lainnya, Rancho, Farhan dan Raju juga berusaha mematahkan prinsip sang rektor Virus bahwa hidup adalah perlombaan, itu tidaklah benar. Dinilah ketegangan dari film ini. Tiga mahasiswa yang dianggap idiot ini mampu menunjukkan kepada penonton bahwa tidak ada perlombaan dan sejenisnya didalam hidup. Karena perlombaan sesungguhnya menjauhkan manusia dari arti kesempurnaan. Tiga idiot yang cerdas ini menunjukkan bahwa seseorang tidak harus dipaksakan dirinya atas satu tujuan apalagi itu tujuan orang lain. Bilamana seseorang hobi bermain bola, maka anjurkanlah ia untuk menjadi seorang pemain sepakbola. Begitupun ketika seseorang menyukai fotografi, maka anjurkanlah untuk berusaha menjadi fotografer. Sampai akhirnya, salah seorang anak perempuan Virus yang sedang hamil dan saatnya melahirkan, tetapi terkendala ke rumah sakit karena hujan terus menerus yang menyebabkan jalanan banjir. Ambulance pun tak bisa datang menjemput karena mesin mati terendam air. Melihat kejadian ini, tiga idiot yang tadinya telah dikeluarkan dari ICE karena kebandelan dan pembangkangnya, tak bisa lepas melihat kesengsaraan ini. Idiot ini rupanya tahu berbelas kasih terhadap sesama sekalipun yang ditolong adalah seorang yang telah mengeluarkannya dari kampus tersebut. Dengan segenap kemampuan dan dipandu oleh Pia (Kareena Kappor), anak perempuan Virus lainnya yang bekerja di Rumah sakit, tiga idiot ini menjalankan proses persalinan. Sedang melaksanakan persalinan dengan minus pengalaman, tiba-tiba saja listrik padam dan menyebabkan kecemasan semua orang, termasuk Virus sendiri. Karena Rancho pernah berekperimen tentang listrik, maka menjadi saatnya alat yang dinamakan sesuai dengan nama sang rektor yaitu ‘virus’ digunakan dalam persalinan ini. Sementara sang rektor Virus hanya terdiam dan melihat saja tiga idiot membantu persalinan anaknya tersebut. Sampai akhirnya proses persalinan itu berhasil.
Dengan sedikit jargon yang dimasukkan sutradara melalui Rancho ‘all is well’ maka anak yang baru dilahirkan itu pun bernafas dan menendang. Melihat hal ini, hati Virus luluh dan dia berjanji untuk tidak memaksakan kehendak kepada cucunya ini. Mengingat anak lelakinya sendiri terdahulu meninggal bunuh diri karena tidak pernah kesampaian mengikuti kehendak sang ayahnya untuk menjadi teknisi handal. Karena dia lebih menyenangi sastra. Nah kali ini Virus berjanji agar cucunya terserah ingin jadi apa saja. Kalau dari lahir dia senang menendang, maka dia boleh kalau ingin menjadi pemain bola dan sebagainya. Tidak harus menjadi insinyur.
Inilah penghantar akhir dari tema film yang mengangkat tentang pendidikan ini. Meskipun ulah Rancho, Farhan dan Raju selalu bandel, tetapi selalu saja teman-temannya mengerti dan paham dengan apa yang dilakukan mereka. Rancho tidak pernah pesimis terhadap masa depan. Bahkan ditegaskannya bahwa bukannya kesusksesan yang harus dicari dari pendidikan, tetapi adalah kesempurnaan hidup. Kesempurnaan itu tidak harus dimaknai dengan kekayaan seperti yang di tampilkan oleh Chattur. Kesempurnaan itu adalah kebahagiaan didalam hidup. Makanya mengejar kebahagiaan hidup adalah dengan mengikuti arah kemampuan kita, bukannya memaksakan kehendak kemampuan yang tidak kita kuasai. Seperti Farhan yang sebenarnya keahliannya adalah fotografi. Jadi sudah seharusnya lebih menekuni kegiatan yang berhubungan dengan pemotretan atau menjadi fotografer. Begitupun dengan Raju. Rancho sendiri sesuai dengan keahliannya sehingga dia masuk kedalam sekolah teknik meskipun akhirnya bukan ijazah yang didapatkannya.
Akhirnya, dengan mengikuti apa yang menjadi kemampuan dan keahlian yang ada dalam diri sendiri, maka kesuksesan, keberhasilan dan kebahagiaan menyususl dengan sendirinya. Farhan berhasil menjadi fotografer terkenal, Raju menjadi peneliti terkenal dan Rancho sendiri menjadi pendidik dan ilmuan yang terkenal seantero dunia dengan nama Phunsuk Wangdu.
Dengan alur maju mundur, film ini menjadi tampak menarik dan berkesan. Kejelian sutradara menyemai naskah, seolah-olah membawa kita seperti membaca sekian buku yang di tulis para pakar-pakar pendidikan seperti Ki Hadjar Dewantara, Paulo Freire, Ivan Illich atau lainnya. Dan memang terbukti penegasan didalam film ini yang lebih menekankan aspek bahwa pendidikan sudah seharusnya memanusiakan manusia, memerdekakan dan membebaskan. Tak ketinggalan juga, agar tidak menjemukan penonton, film ini juga menampilkan sedikit sentuhan cinta.
Disebutkan bahwa pada akhirnya Pia bertemu kembali dengan kekasih hatinya Rancho meskipun lama tidak berjumpa dan terpisah tanpa kabar semenjak acara kelulusan berakhir. Mereka bertemu kembali karena memang telah diatur Chattur yang awalnya ingin menyombongkan diri bahwa dirinya telah mampu menjadi orang yang sukses. Chattur datang menagih janjinya dahulu tentang kesuksesan. Awalnya Chattur hanya ingin menunjukan bahwa dirinya sudah kaya. Terbukti bahwa dia lebih kaya dari Farhan dan Raju. Jadi tentang dirinya yang sudah kaya ini tak lengkap kalau Rancho tidak menyaksikannya juga. Berbekal alamat dari sekretarisnya untuk menemui seorang ilmuan terkenal dunia, Chattur menyususn rencana kesombongan ini dengan berusaha menunjukkan bahwa dirinya yang pernah dipermalukan dan dirinya yang dianggap silencer mampu lebih sukses dari ketiga idiot ini. Pengalaman demi pengalaman mereka jumpai, sampai terkuaknya sebuah rahasia bahwa Ranchodas Chancad yang kuliah di ICE, sesungguhnya bukanlah Ranchodas Chanchad yang dikenalnya. Melainkan anak seorang tuan tanah kaya. Dan Ranchodas yang dikenal mereka di ICE, sesungguhnya adalah anak seorang tukang kebun tuan tanah kaya tersebut. Karena terjadi sesuatu hal diwaktu kecil, akhirnya Chote, nama anak tukang kebun tersebut, yang kemudian berganti nama menjadi Ranchodas Chancad sewaktu kuliah di ICE dan kemudian berganti lagi menjadi Phunsuk Wangdu sang ilmuan, menjalani keinginan sang tuan tanah kaya. Dan ini diterima nya karena memang hobinya belajar terutama yang berkaitan dengan mekanika. Lalu setelah lama mencari, mereka akhirnya menemukan Rancho di tempat terpencil yang mengelolah sebuah sekolah sekaligus membuat berbagai ekperimen yang terkenal mendunia. Tak karuan suasana berubah haru biru ketika ketiga idiot ini bertemu kembali, ditambah kekasihnya Pia. Kesombongan yang dibanggkan Chattur runtuh menyaksikan bahwa ternyata ilmuan dunia yang diharapkan menandatangani kontrak kerja perusahannya ternyata adalah Rancho yang telah berganti nama Phunsuk Wangdu. Penilaiannya tentang materi saja terbantahkan dengan kenyataan bahwa itu tidaklah cukup sebagai ukuran kebahagiaan. Terbukti bahwa meskipun tanpa ijazah, Rancho mampu menjadi Ilmuwan terkenal. Kenapa Rancho tidak mendapat ijazah karena memang sedari awal tugas Rancho adalah belajar. Dia belajar agar dirinya mampu menguasai keahliannya agar bermanfaat untuk orang banyak. Ijazah memang penting, tapi menumbuhkan kualitas diri dari kemampuan diri sendiri jauh lebih penting lagi.

Judul Film : 3 Idiots
Pemain : Aamir Khan, R. Madhavan, Sharman Joshi, Kareena Kapoor
Sutradara : Rajkumar Hirani
Durasi : 164 menit
Genre : Drama Komedi


Melki Hartomi AS
Continue Reading...

Tragedi 1965 : Sejarah Kelam Perempuan Indonesia



(Resensi Buku)

Sesudah proklamir kemerdekaan yang dibacakan dwitunggal Soekarno–Hatta tahun 1945, keadaan bangsa Indonesia tidak serta membaik dan terkontrol. Perang fisik memang berkurang, tapi pecahlah kemudian perang ideologi dikalangan elit bangsa seperti Presiden, Militer, Partai Komunis Indonesia (PKI) dan lain-lain. Pemberontakan merebak dimana-mana dan persaingan dalam penentuan arah bangsa serta perebutan kekuasaan menjadi isu yang santer dan gelap. Salah satu contohnya adalah peristiwa pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Dari peristiwa itu, sangat jelas penggambarannya bahwa apa dan siapa yang bertarung di dalamnya. Tidak lain dan apalagi kalau bukan ideologi (teori yang akan melanggengkan dan memaklumkan untuk sebuah perebutan kekuasaan). Terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa tersebut, valid atau tidaknya berbagai karangan tentang itu, tentunya menyisahkan penderitaan mendalam bagi rakyat Indonesia. Terutama rakyat yang hanya terkena imbasnya, tanpa terlibat langsung maupun tidak langsung dalam kubu atau pihak yang bertarung. Penderitaan-penderitaan itu banyak yang akhirnya menjadi suara-suara terbungkam dan hanya cerita pahit masa lalu (sejarah yang terselubung) yang traumatik ketika di bicarakan. Tapi membaca sejarah kita sekarang, kiranya perlu dilakukan pembacaan ulang dengan sumber data maupun langsung dari narasumber yang valid, dituturkan secara jujur serta di tulis dengan kematangan analisis terhadap berbagai peristiwa. Suara-suara yang tadinya terbungkam, sudah selayaknya diingat kembali dan disuarakan kepada publik demi keteraturan dan kesejajaran sejarah bangsa di masa lampau. Seperti yang coba dilakukan oleh Ita F Nadia, seorang aktivis HAM yang mencoba menuturkan dan meluruskan catatan masa lalu kaum perempuan yang kelam seputar tahun 1965.
Seperti yang tertulis dalam buku sejarah pelajaran, bahwasanya tahun 1965 adalah tahun yang menegangkan bagi bangsa Indonesia dengan merebaknya isu penggulingan presiden Soekarno dari jabatannya. Dan kemudian tahun berikutnya, Soekarno memang benar-benar terjungkal dari posisinya dan digantikan oleh Soeharto yang tak lain adalah perwira menengah dimasa pemerintahannya. Ini tentunya tidak serta merta di serahkan (Soekarno ke Soeharto), melainkan melalui proses panjang dan berbagai sabotase ataupun intrik kejam. Sabotase serta intrik yang dimaksud ialah isu rencana kudeta yang akan dilakukan Dewan Jenderal (DD) yang akhirnya terjadilah pembantaian para jenderal-jenderal yang sebelumnya disiksa, disayat-sayat, kemudian (katanya) penisnya dipotong oleh PKI dan organisasi wanita atau Gerwani. Lagi-lagi, kebenaran peristiwa itu masih remang. Dan buah dari sabotase jahat itu sudah terlanjur memakan korban yang lumayan banyak. Terutama para perempuan yang dituduh Gerwani maupun hanya disangkakan saja (karena berdasar tulisan panjang serta dokumentasi secara oral history yang dilakukan penulis, ada juga perempuan yang tidak secara langsung terlibat dalam kegiatan Gerwani, BTI ataupun PKI).
Penulis menuturkan dan menuliskan dengan baik kisah dibalik masa pahit penyiksaan perempuan ditahun 1965 tersebut. Memang tidak banyak narasumber yang bisa diangkatnya dalam buku itu, tetapi setidaknya dari beberapa orang perempuan penutur itu, cukup membukakan mata kita pada sejarah kekejaman militer maupun organisasi-organisasi pendukung Soeharto terhadap perempuan Indonesia. Seperti kisah sepuluh perempuan yang kesemuanya akhirnya harus menanggung siksa dera yang teramat sangat keji karena bergabung dengan organisasi komunis, hanya menari thok untuk acara komunis ataupun ber-suami-kan dengan seorang komunis. Mereka disiksa dengan sangat tidak manusiawi sampai mereka lebih pasrah mati ketimbang hidup. Perempuan-perempuan itu, yang dengan tiba-tiba di gelandang tentara karena disangkakan keterlibatannya dalam pembunuhan jenderal-jenderal, mengalami trauma yang tak terperikan. Mereka disiksa dengan ditelanjangi, diarak dijalanan, dimaki-maki dengan kata-kata kotor, dibilang pelacur, perempuan tak bermoral, tidak beragama dan sebagainya. Tidak hanya itu, didalam sel penjara, mereka juga mendapat pelecehan-pelecehan seksual seperti disuruh menari telanjang, diperkosa secara beramai-ramai yang dilakukan oleh oknum tentara, di setrum bagian vitalnya (seperti: puting payudara, klitorisnya bahkan sampai kedalam bagian vaginanya), serta tak jarang moncong senapan di masukan ke dalam kemaluan mereka.
“ Saya dikeluarkan dari sel, dan disuruh mandi disumur didekat sel. Sesudah mandi, saya di beri sehelai kain batik dan kemeja putih, lalu dibawa ke ruangan didekat pos penjagaan. Di ruangan itu ada satu tempat tidur dan meja kecil. Saya di suruh duduk, diberi obat dan segelas air. Saya berbaring ditempat tidur dan tertidur nyenyak. Ditengah sepi malam, tiba-tiba saya terbangun. Seketika saya menjadi sadar. Ternyata saya sudah dalam keadaan telanjang bulat. Seorang laki-laki tinggi besar sudah menindis tubuh saya dan dengan liar ia memperkosa saya. Saya merasa kesakitan luar biasa. Darah segar kembali mengalir dari vagina. Setelah merasa puas, ditinggalkannya saya terkapar tanpa daya ditempat tidur. Belum sempat mengatur nafas, sudah datang lagi laki-laki lain. Ia bertubuh kecil dan tinggi. Ia memperkosa saya dengan amat kasar, tidak peduli pada darah yang terus mengalir. Saya tidak sadar lagi, apa yang terjadi pada saya sesudah lelaki yang ketiga, seorang yang berperawakan pendek dan gemuk. Dengan berat tubuhnya ia menindis dan menindis tubuh saya sambil menggigit-gigit payudara saya yang bengkak. Saya pingsan.“ (Bagian ke-2, Partini : Perempuan Eks Tapol, Sampah Segala Sampah hal 62-63). Begitu yang diituturkan Partini, yang ditangkap tentara karena aktif dalam kegiatan Gerwani. Menurut beliau, keinginannya masuk gerwani karena mereka mengajarkan baca tulis pada ibu-ibu rumah tangga dan orang perempuan pada umumnya. Selain itu, mereka juga mengajarkan jahit menjahit di lingkungannya. Makanya ketika disangkakan sebagai perempuan yang terlibat dalam pembunuhan para jenderal, penyayat dan memotong penis para jenderal, Partini tidak pernah mengetahuinya. Tapi ketidaktahuan Partini tersebut, tetap membuat ia mendapat siksaan dan hukuman. Tidak hanya Partini, terdapat Rusminah dan Suparti yang tidak pernah terlibat dalam kegiatan partai komunis ataupun sayap-sayapnya, tetapi hanyalah seorang istri seorang PKI. Tapi mereka juga terkena imbas penangkapan yang membabi buta dari pihak tentara. Mereka juga di perlakukan sama seperti Partini, diperkosa beramai-ramai, di setrum, dijadikan gundik oknum tentara bahkan sering dibiarkan kedinginan karena di telanjangi siang malam, panas ataupun hujan serta sering dibiarkan kelaparan.
Bahkan karena saking berat dan pedihnya siksaan terhadap mereka, tidak heran ketika Sudarsi (bagian ke-6 hal 110) mengungkapkan keputusaasaan dan kekecewaan karena memiliki vagina dan payudara yang kesemuanya menjadi alat permainan laki-laki (tentara) dan kekuatan politik. Seperti yang banyak dituturkan narasumber di buku ini, penjaga malam atau tentara lainnya juga biasa meminta “:Bon Malam, (sebuah istilah lazim dikalangan tapol G30S yang artinya: dipinjam pada waktu malam untuk dibawa ke tempat lain bahkan tidak sedikit yang dibawa ke tempat pembunuhan entah dimana)”, untuk memenuhi nafsu seksual mereka dengan pergi kekamar yang telah disiapkan kemudian secara pasrah diperkosa secara bergilir dan bergantian sampai para tentara itu puas.
Membaca buku ini, kita memang diajak kedalam kengerian peristiwa penangkapan kaum perempuan eks tahanan politik. Penggunaan bahasa yang simple, menjadikan kita gampang dan mudah memahami alur peristiwa yang disajikan. Berbeda dengan buku lainnya, yang menyajikan peristiwa sejarah dengan banyak menggunakan bahasa yang tidak baku (secara Indonesia) karena merupakan adopsi bahasa luar ataupun sebuah terjemahan. Dalam buku ini, guna menghindari pemaknaan yang bisa terkesan ekploitasi, penulis dengan cermat juga merunut sisi pengungkapan sabotase dan intrik keji oknum tentara terhadap tahanan. Karena tidak hanya penyiksaan saja yang dituliskan, tapi juga dilengkapi dengan kesaksian narasumber yang terpaksa berbohong terhadap publik karena tidak kuat menahan siksaan. Intrik inilah yang dahulu digunakan tentara untuk menipu media dan publik dengan menanamkan fakta dan sejarah salah didalam masyarakat. Para perempuan eks tapol, seperti yang dituliskan, mau tidak mau harus menjawab “ya” dari setiap pertanyaan wartawan. Karena kalau tidak menjawab seperti kehendak tentara, maka bukan hanya disiksa, mungkin mereka akan dibunuh. Jangankan melawan perintah, mengibaskan tangan yang sedang menggerayangi tubuh mereka, tak segan tentara itu menyiksanya.
“Pada hari berikut beberapa orang menjemput dan menggiring saya ke pos tentara. Disini mereka menginterogasi saya selama dua hari tanpa henti. Selama masa interogasi, sering mereka meminta saya menari diatas meja interogasi dengan telanjang bulat. Kemudian laki-laki alat kekuasaan itu ganti berganti atau bersama sama menggerayangi bagian-bagian tubuh saya dengan semau-mau mereka. Kalau saya menolak menari atau mengibaskan tangan-tangan mereka, mereka akan menampar atau mengancam. ‘Satu kali lagi kamu menolak, satu nyawa kawanmu akan melayang’. Artinya, jika saya menolak, maka akan ada satu orang tahanan akan mereka bunuh. Kenyataan yang terjadi memang tidak terlalu jauh dari kata-kata mereka. Setiap kali saya menari dan menolak untuk mereka perlakukan tidak senonoh, beberapa tawanan akan digiring masuk keruang interogasi saya. Dan pertunjukan penyiksaan akan mereka lakukan di depan saya. Sementara itu saya harus terus menari. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan sesama tahanan itu, saya terpaksa harus terus menari telanjang sampai mereka bosan.” (bagian ke-10. Darmi: Saya Tinggal Sebatang Jasad. Hal 178). Begitulah kekejaman tentara yang dituturkan Darmi, seorang Penari Bali yang harus menanggung derita kekejaman tentara karena suami dan mertuanya seorang komunis.
Kembali ke masyarakatpun, perempuan eks tapol ini tidak serta merta bisa di terima lingkungan. Baru semenjak era 1999 mereka benar-benar bisa menghirup kebebasan yang sesungguhnya. Sebelumnya mereka selalu hidup dalam keterusiran akibat propaganda tentara dengan menyebar berita bohong bahwa mereka adalah perempuan kejam, sadis, pembunuh para jenderal, pelacur hina dan tidak bertuhan (atheis). Bahkan seperti yang dialami Darmi, tidak hanya masyarakat yang menolaknya, saudara lelakinya pun sampai ajal menjemputnya telah terlanjur menghapus namanya dalam silsilah keluarga karena termakan hasutan bohong.
Saya rasa buku ini bagus untuk dibaca semua kalangan. Dengan membaca buku ini, kita sedikit akan melihat sisi sejarah yang terlupakan di negeri ini. Dari buku ini juga, seharusnya dapat menjadi kritik otokritik bagi pemimpin negeri ini, penulis sejarah maupun departemen pendidikan untuk meluruskan kembali sejarah terutama sejarah dalam pelaksanaan pembelajaran. Tidak melulu menggunakan yang lama karena ternyata banyak yang tidak relevan yang telah di tulis dalam pemerintahan orde baru. Meskipun tanda baca di buku ini masih banyak yang kurang tepat, tetapi pengatar yang diberikan Prof. DR. Saskia E. Wieringa turut juga memberikan pencerahan untuk bagaimana melihat lebih obyektif lagi sejarah bangsa ini terutama seputar tahun 1965 tentang Gerwani, Kup 1 Oktober 1965 yang sebenarnya mempersetankan perempuan, serta trik yang dipakai Soeharto dengan menciptakan kekacauan, dengan menerapkan politik seksual termasuk propaganda dan sabotase-sabotase kejadian yang sesungguhnya.

Melki AS
Continue Reading...

Bedah Buku Ki Hadjar Dewantara “Menuju Manusia Merdeka”


“Untuk melihat kebudayaan dalam pendidikan kita perlu meneliti kembali bagaimana konsep Ki Hadjar Dewantara (KHD) karena beliau telah meletakan dasar-dasar pendidikan yang berorientasi budaya. Dalam kongres Tamansiswa yang pertama tahun 1930, KHD telah menyadarkan konsep pendidikan beralaskan garis hidup bangsanya (kulturil national) yang ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya agar dapat bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap umat manusia diseluruh dunia”.
Demikian yang disampaikan DR. Ismu Tri Parmi dalam bedah buku karya KHD “Menuju Manusia Merdeka” yang diadakan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) di Pendopo Agung Tamansiswa, Jum'at 03 Juli 2009 dalam rangka peringatan HUT ke-87 Perguruan Tamansiswa. Turut hadir juga dalam acara itu ketua MLPT Ki Tyasno Sudarto, Rektor UST Ki Prof. DR. Djohar MS, para pamong, pinisepuh dan undangan. Hadir sebagai pembicara antara lain Ki Wuryadi, Ki Indra Trenggono, Ki Sahedy Noor, Drs. Slamet Sutrisno M. Si (filsafat UGM), DR. Hajar Pamadhi MA (Hons) dari UNY dan DR. Ismu Tri Parmi serta di moderatori Ki Bronto (mantan Rektor UST).
Menurut Ismu, kalau kita perhatikan ungkapan tersebut yang telah dirumuskan hampir 79 tahun lalu, kiranya masih perlu dikaji kembali dalam mengantarkan bangsa indonesia memasuki milenium ketiga yang memerlukan perubahan paradigma barudalam menata pendidikan nasional yang selama ini telah memisahkan pendidikan dari kebudayaan. Dari rumusan tersebut, dapat dilihat butir-butir bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan bahkan kebudayaan merupakan alas atau dasar dan landasan pendidikan. Isi rumusan ini sungguh menjangkau jauh kedepan yang menyatakan bahwa bukan hanya pendidikan yang beralaskan satu aspek kebudayaan yaitu aspek intelektual namun kebudayaan sebagai satu keseluruhan yang utuh. Kebudayaan yang menjadi landasan pendidikan tersebut haruslah bersifat kebangsaan. Dengan demikian kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan yang riil yaitu budaya yang hidup didalam masyarakat kebangsaan Indonesia. Apabila kebudayaan kebangsaan Indonesia itu belum terwujud, maka ini adalah tugas pendidikan nasional untuk ikut mewujudkan kebudayaan kebangsaan yang dimaksud. “Disinilah peranan pendidikan nasional sebagai bagian dari kebudayaan nasional untuk ikut membangun kebudayaan kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu, kebudayaan merupakan dasar dari praksis pendidikan, maka bukan saja seluruh proses pendidikan berjiwakan kebudayaan nasional tapi juga seluruh unsur kebudayaan harus diperkenalkan dalam proses pendidikan. Dan pandanagan klasik Tamansiswa yang visioner, ternyata sejalan dengan pandangan-pandangan pendidikan kontemporer” imbuhnya.
Sementara itu, menurut Indra Trenggono selaku pemerhati kebudayaan dan penulis sastra bahwa esaai dan artikel karya KHD yang diterbitkan kembali dalam buku “Menuju Manusia Merdeka” mencerminkan mozaik pemikiran KHD yang berkisar pada tiga isu atau persoalan
pokok yakni manusia, pendidikan dan kebudayaan. Menurutnya, pokok persoalan manusia menurut KHD manusia adalah subjek yang memiliki potensi kognitif, afektip dan psikomotorik yang harus dikembangkan secara seimbang sehingga mampu menjawab dua tantangan besar yakni tantangan alam dan tantangan kebudayaan. Tantangan alam terkait dengan cara-cara manusia untuk survive. Sedangkan tantangan kebudayaan terkait dengan cara-cara manusia untuk membangun peradaban (nilai, etika, moral, hukum, ekspresi estetik-non estetik, karya-karya budaya dan lainnya. Dalam pokok persoalan pendidikan KHD memandang pendidikan merupakan media kebudayaan yang tersistem dan harus memerdekakan manusia (subjek didik) sesuai dengan kodratnya. Bagi KHD sendiri, pendidikan hanya suatu tuntunan didalam tumbuhnya anak-anak. Dalam kontek ini, posisi pendidik (pamong) adalah fasilitator yang bertugas mulia memfasilitasi pendidikan anak terkait dengan kemapuan intelektual atau penalaran (logika), etika, estetika dan ketrampilan.
“KHD mengatakan bahwa hidup tumbuhnya anak-anak terletak diluar kecakapan kehendak kita kaum pendidik. Frase ini menegaskan pendidik adalah fasilitator yang tidak memiliki hak untuk memaksakan berbagai keingnan subjektifnya atau menjadi pemborong kebenaran (guru selalu benar dan tidak pernah salah). Pamong atau fasilitator adalah penumbuh jiwa dan potensi-potensi anak menuju pada kemandirian dan kemerdekaan. Relasi antara fasilitator dengan anak didik bukan vertikal (guru paling tahu dan menetukan) melainkan horizontal (kesetaraan posisi sebagai sama-sama subjek dalam proses belajar dan berlatih). Ini tentunya menunjukan bahwa KHD menolak feodalisme dalam pendidikan yang sesungguhnya hanya akan melahirkan jiwa budak. KHD justru lebih condong ke proses pendidikan yang egaliter, terbuka dan demokratis yang memungkinkan anak didik menemukan jiwanya yang mandiri dan merdeka. Meski egaliter, anak didik tidak harus menabrak etika didalam proses belajar dan berlatih. Sementara pendidikan yang menekankan sosialisasi cenderung mendoktrin anak didik menjadi sekadar makhluk penghapal ilmu pengetahuan atau robot yang patuh yang didalamnya tidak berlangsung internalisasi pengetahuan dan pengalamn menjadi nilai. Salah satu kegagalan pendidikan kita adalah lebih menekankan sosialisasi dari pada transformasi” ungkapnya lagi.
Dan pada pokok persoalan kebudayaan menurut Indra, KHD memandang bahwa pentingnya memaknai dan memfungsikan kebudayaan sebagai identitas kebangsaan, pembentuk kepribadian atau karakter bangsa, ukuran pencapaian peradaban bangsa dan media untuk menjawab persoalan bangsa. Pemahaman KHD tentang kebudayaa sangat visioner yang berarti bahwa kebudayaan bukan kata benda yang selesai melainkan sebuah kata kerja yang terus berproses untuk menjadi atau membentuk sosok dirinya sesuai dengan tantangan sejarah dan kemajuan serta tantangan peradaban manusia secara universal. Dalam proses membentuk sosok dirinya itu, kebudayaan bangsa terbuka bagi dialog-dialog nilai baik yang berasal dari budaya lokal maupun universal, sifat terbuka itu berarti bahwa kebudayaan bercorak plural (majemuk), tidak tunggal alias homogen dan bersifat toleran.
Didalam makalahnya yang berjudul “Merefleksi Gagasan Ki Hadjar” Ki Indra Trenggono juga menyinggung tentang keterkaitan meninggalkan etos nilai budi pekerti dengan keterpurukan bangsa sekarang ini. “Akibatnya, bangsa ini mengalami kekosongan nilai dan menjadi pengabdi materi. Bahkan kini yang semakin kabur bukan hanya nasionalisme tetapi juga identitas kultural bangsa dan martabat bangsa. Di ujung kehancuran nilai-nilai itu, akhirnya menjelma menjadi sekadar bangsa konsumen yang menyedihkan. Kini anak-anak hanya hapal jingle iklan dan lagu pop daripada lagu kebangsaan. Bahkan seorang caprespun ikut-ikutan tergoda memakai lagu iklan demi membangn citra dirinya. Nah ditengah krisis kebudayaan bangsa ini, semestinya Tamansiswa sebagai gerakan pendidikan dan kebudayaan mampu tampil menyodorkan alternatif nilai-nilai dalam semangat Ki Hadjar Dewantara” ungkapnya.

Melki As
Continue Reading...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Pendidikan Modern


“Kalau dulu tidak ada orang yang bernama Soewardi Soeryaningrat, yang kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara, keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia niscaya tak seperti yang kita alami“ Bung Karno
Ungkapan presiden pertama RI itu tentunya beralasan jelas. Terutama dalam pergerakan menuju Indonesia merdeka. Sebagaimana dahulunya bangsa ini dikuasai penjajah yang semua penerapan dalam pemerintahannya bersifat kolonial dan menindas. Termasuk pendidikan yang dirancang dan didesain sesuai dengan kehendak penjajah yaitu kolonialisme. Disinilah akhirnya keluar pemikiran anak bangsa yang sangat brilian dan cerdas. Sebagaimana sebuah media pembebasan Ki Hadjar yang terlahir dari seorang keturunan priyayi jawa, berjuang untuk mendirikan Tamansiswa. Dengan pendidikan yang diterapkan di Tamansiswa diharapkan bisa merubah keadaan bangsa. Dari sinilah dimulai pendidikan yang merdeka. Karena dengan pendidikan itu nantinya bisa membentuk identitas serta kepribadian manusia dan bangsa.
Membaca sejarah Ki Hadjar, memang tak bisa melupakan sejarah persekolahan rakyat yang dibangunnya. Gelar sebagai bapak pendidikan nasional merupakan bukti bahwa Ki Hadjar Dewantara terlahir untuk membebaskan pendidikan Indonesia yang kala itu tidak memerdekakan manusia bahkan menindas serta membodohi. Pendidikan kolonial yang diterapkan waktu itu hanya menciptakan anak-anak makin canggung hidupnya dalam masyarakat karena mendapat pendidikan dan pengajaran yang salah. Intinya membuat sang anak kemudian ketergantuan dan tidak bisa berdiri sendiri. Inilah akhirnya Tamansiswa datang dengan menawarkan pendidikan baru sebagai alat dan syarat untuk anak-anak hidup sendiri dan berguna bagi masyarakat. Pengajaran bagi Tamansiswa berarti mendidik anak agar menjadi manusia yang merdeka batinya, merdeka pikirannya dan merdeka tenaganya. Makanya didalam Tamansiswa KHD juga tak luput memasukan fatwa sebagai panduan untuk mengadakan pendidikan. Selain Pancadarma dan Tripusat pendidikan. Terutama Fatwa pertama suci tata ngesti mulya yang berarti dengan ilmu pengetahuan kita menuju kemuliaan yang berarti dengan ilmu yang luhur dan mulia yang nanti akan menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban.
Konsep-konsep yang telah diberikan KHD dari awal ini memang masih sangat relevan untuk diterapkan kedalam dunia pendidikan sekarang. Seperti penerapan system among dan sebutan pamong untuk pengajar atau gurunya. Dengan menggunakan konsep ini niscaya tidak ada tirani ataupun dikotomi dalam pendidikan karena pamong dengan murid seperti yang dijabarkan KHD seharusnya seperti juru tani dalam berpikir, berperasaan dan bersikap. Juru tani harus menyerahkan dan mengabdikan dirinya pada kepentingan kesuburan tanamannya. Kesuburan tanaman inilah yang harus menjadi pusat perhatian dan kepentingan juru tani. Juru tani juga tidak membeda-bedakan dari mana asal tanaman itu, dari mana pupuk, dari mana asal kelengkapan atau dari mana asal ilmu pengetahuan. Namun harus dimanfaatkan segala yang menyuburkan tanaman menurut kodrat alam. Pamongpun harus punya karakter seperti juru tani, tidak membeda-bedakan anak didik, tetapi berusaha menciptakan anak didiknya itu tumbuh menjadi anak yang pintar, berjiwa merdeka dan tidak bergantung dan berharap bantuan orang lain (hal 63- 64). Itulah yang diharapkan KHD terhadap pendidikan ditanah air ini sehingga pendidikan bukan sebagai suatu pemaksaan. Inilah yang paling menyentuh dan relevan dari pandangan KHD dalam alam demokrasi. Artinya jangan memaksakan dan mematikan perkembangan alamiah sang anak didik. Akan tetapI, pendidikan harus bisa mengembangkan kemampuan dan potensi yang ada pada anak didik. Oleh sebab itu, pendidikan dengan cara pemaksaan harus diganti dengan pendidikan yang bersifat among system. Yakni system yang memerdekakan pikiran, semangat dan kreativitas anak didik (hal 71) sehingga hukuman karena murid tidak menguasai pelajaran maupun hadiah ketika ia mampu menjawab pertanyaan harus dirubah karena tidak mendidik.
Masih banyak lagi yang bisa diuraikan dari semua ajaran KHD dalam buku “Pendidikan Modern dan Relevansi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara” itu. Dengan buku yang ditulis langsung pimpinan Tamansiswa itu, kita masih bisa sedikit memetik dari ajaran serta konsep KHD. Memang tidak begitu sempurna karena buku itu tidak sepenuhnya memuat apa yang telah diajarkan KHD tapi hanya pengulangan sejarah dan perbandingan dengan teknis pendidikan sekarang. Tapi dengan adanya buku itu, cukuplah kiranya untuk membasuh otak yang kering akan ajaran serta konsep pendidikan dari salah seorang anak bangsa asli yang sekarang masih terasa relevan bilamana diterapkan dalam pendidikan modern sekarang ini. Kiranyalah bagus untuk menjadi referensi bagi akademisi maupun mahasiswa serta pemikir-pemikir pendidikan untuk mengerti kemana arah dari pendidikan seperti yang dicita-cita founding father terdahulu agar pendidikan di Indonesia benar-benar berjalan sesuai dengan harapan bangsa ini sendiri. Bukan berdasakan desain kepentingan orang lain apalagi bangsa lain.

Melki Hartomi As
Continue Reading...

Featured

 

BIDADARI KECILKU

BIDADARI KECILKU

EKSPRESI

EKSPRESI

Once Time Ago

Once Time Ago

Aspiratif CyberMedia Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template