Pages

Sanusi Pane dalam Melankolisme Sastra Indonesia



Dunia sastra memang sudah terkenal dari zaman ke zaman. Banyak novel maupun roman atau puisi yang telah beredar dan menjadi kisah sepanjang hidup. Dan banyak pula dari itu yang menggambarkan kebiasaan atau adat dari suatu daerah. Sebut saja roman Siti Nurbaya karangan Marah Rusli yang menggambarkan suatu adat tentang kawin paksa yang berasal dari daerahnya Sumatera barat. Roman yang menceritakan seorang gadis yang karena adat istiadat harus kawin secara paksa. Sang pengarangpun dengan sangat professional mengarang naskah itu sehingga arti dan tujuan yang dimaksud mudah dipahami dan dimengerti. Mungkin itu sekilas roman dari angkatan 20-an yang telah kita dengar bahkan baca berulang-ulang.
Sedikit mengulas tentang sastra, disisni mungkin kita mengetahui karya-karyanya tapi kita tidak mengetahui siapa pengarangnya. Dari ulasan yang akan kami sajikan sekarang, saya mencoba menyajikan apa dan siapa yang telah turut menghias baik dunia sastra kita dari dulu sampai sekarang. Dan juga kita berkeinginan supaya dunia sastra kita terus berkembang dan menghasilkan sesuatu yang betul-betul bermanfaat. Data yang disajikan ini merupakan penelitian dari biografi pengarang yang dikerjakan oleh staf Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, khususnya oleh para peneliti Bidang Sastra Indonesia dan Daerah. Juga data yang disajikan kali ini didapat dari data perpustakaan Pusat Dokumentasi sang kritikus sastra Hans Bague Jassin maupun yang sudah dibukukan seperti Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia 1920-1950 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1997).
Seperti yang kita ketahui, dizamannya kurun waktu angkatan 20-an lahir banyak pengarang handal berasal dari daerah Sumatra Barat. Seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Aman Datuk Mudjoindo dan lain-lain. Ada juga pengarang yang berasal dari daerah Sumatra Utara seperti Merari Siregar atau yang lainnya. Nah kali ini kami akan menyajikan biografi seorang pengarang yang berasal dari daerah Sulawesi. Tepatnya dia berasal dari Muara Sipongi, Tapanuli Selatan yang lahir pada tanggal 14 november 1905. pengarang satu ini juga merupakan kakak dari pengarang yang telah berhasil menelurkan roman yang berjudul belenggu ( Armijn Pane ). Siapa dia kalau bukan Sanusi Pane.
Kalau kita melihat sisi latar belakang kelurganya, kita teringat polemiknya dengan Sutan Takdir Alisyahbana (pujangga baru, april 1937) tentang kehidupan dinegara barat yang berusaha keras untuk bisa menaklukan alam yang berakibat timbulnya paham materialisme dan individualisme. Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan yang terjadi di daerah timur yang alamnya tidak sekeras di daerah barat. Dari pandangan seperti itulah, Sanusi Pane mencoraki karya-karyanya. Keseharian Sanusi Pane pun bias dikatakan sebagai orang yang perendah. Itu karena dia tidak suka untuk membanggakan apa-apa yang telah ia perbuat. Bahkan Sanusi pane pun mengatakan dirinya bukan bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa saat diwawancarai oleh J.U. Nasution yang saat itu ingin memburu dan menulis karya karangannya (nasution 1963). Yang lebih mengagetkan lagi dari kepribdian Sanusi Pane disini ialah penolakannya pada saat presiden Soekarno ingin memberikan Satya Lencana Kebudayaan kepadanya. Penolakan itu bukan tidak beralasan. Seperti yang terkutip, “Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbang sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apapun untuk apa-apa yang sudah aku kerjakan. Karena itu adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa”. Demikian alasana penolakannya untuk menerima penghargaan dari presiden pertama RI itu.
Sebagaimana kebudayaan Hindu, rupanya Sanusi Pane juga sangat menyerap arti dari pembelajaran agama itu. Terbukti dengan penolakannya terhadap penghargaan itu yang dianggap hanya bersifat jasmani dan jika manusia tidak bias melepaskan keduniawiannya, maka ia tidak akan mencapai kebahagian sejati dialam baka nanti. Artinya disini, dunia hanya berda dalam kehidupan maya belaka, bahkan secara eksrim, dunia ini jahat dan karena itu manusia harus berjuang untuk melepaskan belenggu. Sama seperti umat hindu lainnya, mungkin Sanusi Pane beranggapan bahwa dunia ini adalah maya dan untuk apa semua umat berlomba menguasai dunia yang hanya penuh dengan kesemuan belaka. Mereka (umat Hindu) menganggap bahwa ruh manusia didunia ini diciptakan dari ruh dunia, ruh yang universal dan akan meresap kembali dengan ruh dunia itu. Disanalah kebahagiaan akan tercapai bila manusia berhasil melepaskan diri dengan hal-hal yang bersifat materi. Tampaknya agama Hindu sangat masuk kedalam sanubri Sanusi Pane yang semula dilahirkan dari kalangan islam. Ini terbukti dengan terciptanya Himpunn Mahasiswa Islam (HMI) yang dipelopori oleh kakaknya Prof. Drs. Lafran Pane. Tetuntunya sangat bertentangan sekali ketik Sanusi Pane berwasiat ketika ia akan meninggal agar di perabukan layaknya pujangga-pujangga Hindu dahulu dan permintaanya tentulah tidak disetujui karena melanggar hukum agama sebagaimana yang telah diembannya dan keluarga sejak lahir. Didalam kehidupanya juga, Sanusi Pane pernah pantang makan daging sebagaimana orang Hindu yang menganggap bahwa kita harus menyayangi sesama tanpa terkecuali dengan binatang dan konsekwensi dari rasa sayang itu tadi ialah tidak boleh memakan dagingnya. Dalam ajaran Hindu juga membawanya untuk tidak banyak menuntuk kehidupan duniawi. Dia hanya cukup dengan kehidupan biasa. Asalakan masih bisa makan cukup. Sampai pada waktu dia bekerja dibalai pustakapun, tingkatan jenjang atau jabatan yng pernah ditawarkan ditampik begitu saja tanpa jawaban sampai dia pensiun. Sanusi Pane selama bekerja juga enggan untuk diantar dan dijemput. Dia lebih memilih berjalan kaki saja.
Melihat latar belakang pendidikannya pun, Sanusi Pane mengawalinya di Hollands Inlandse School (HIS) di padang Sidempuan dan Tanjungbalai. Setelah itu ia melanjutkan ke Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga, kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreit Lager Onderwijs (MULO) di padang dan Jakarta. Setamat dari MULO tahun 1922, kemudian ia masuk sekolah pendidikan Guru yang pada saat itu bernama Kweekschool di gunung sahari, Jakarta sampai tamat tahun 1925dan langsung diangkat menjadi Guru disekolahan tersebut. Pekerjaan mengajar itu dilakoninya lebih kurang selama enam tahun sampai tahun 1931. selain itu, Sanusi pane merupakan salah satu pendiri majalah Pudjangga Baroe sebagai pembantu utama. Dan dia juga pernah bekerja juga di Balai Pustaka. Selama hidupnya, Sanusi Pane juga pernah kuliah di Rechtshogeschool atau perguruan tinggi kehakiman selama satu tahun.
Memang ketenaran Sang Sanusi pane semasa hidupnya kurang terkenal seperti adiknya Armijn Pane. Tapi, menurut nasution juga, Sanusi Pane merupakan penulis drama terbesar sebelum perang pada masa itu atau pada masa angkatan pujangga baru. Diselang menulis drama, Sanusi Pane juga terkenal sebagai penulis puisi. Pada masa gerakan pujangga baru, pandangan orang terhadap kebudayaan bangsa Indonesia pada umumnya ada perubahan yang cukup mencolok dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. Perbedaan pandangan kebudayaan itu menimbulkan polemic yang cukup seru dan melibatkan beberapa tokoh kenamaan seperti Ki Hadjar Dewantara, Purbatjaraka, Sutomo, M Amir, Adinegoro, Sutan Takdir Alisyahbana dan Sanusi Pane sendiri. Karangan yang muncul dalam polemic para ahli kebudayaan itu kemudian dikumpulkan oleh Achdiat Karta Miharja (1977) dan menjadi sebuah buku yang berjudul Polemik Kebudayaan.
Didalam hidupnya, Sanusi Pane juga menyukai ketenangan dan kedamaian. Ini menjelma di dalam karyanya baik puisi maupun drama. Itulah yang menyebabkan dia mendapat julukan sebagai pengarang romantic. Sanusi Pane mamandang bahwa lam tidak hanya sebagai lambing tapi juga sebagai objek pengubahan sajak-sajaknya yang mendendangkan alam seperti “sawah, teja, dan menumbuk padi”. Keindahan sawah menyemtuh kalbu sang pujangga. Padi yang sedang menguningmalambai-lambai. Suara suling petni sejuk terdengar mendamaikan hati.sekelompok anak bercanda ria, berkejar-kejaran karena kegirangan mandi disungai yang airnya jernih.langit cerah dan brewarna biru menandakan kedamaian dan ketenangan. Dikejauhan tampak seekor burung elang melayang-layangdiudara menikmati alamnan permai. Suara berdesik dari dedaunan yang berbisik merdu karena terbuai angin nan lembut. Sayup-sayup terdengar kokok ayam menambah kedamaian jiwa yang mendengarnya.
Melihat dari beberapa buah karyanya, nampaknya Sanusi Pane memang terlahir dengan membawa jiwa yang ke-romantisan. Sajak-sajak seperti angin, rindu, bagi kekasih, kemuning, dan bercinta, sangat kental sekali dengan nuansa romantis yang ditimbulkannya didalam jiwanya itu. Juga dalam sajak terbesarnya yang terdapat dalam Madah Kelana yakni Syiwa Nataraja merupakan kata hati pengarang yang selalu ingin menyatu dengan alam. Selain itu semua, kita msih bias menemuklan sajak-sajak lainnya yang senada seperti awan, penyanyi, pagi, damai dan bersila. Dari sajak-sajak itu jelas terlihat Sanusi Pane ingin mengajak kita semua untuk menyatu dengan alam. Dalam hal penulisan drama, seperti yang diungkapkan tadi, bahwa dia adalah penulis yang terbesar saat itu. Sanusi Pane sebagai penulis telah mampu menelorkan bebarapa drama baik dalam bahsa Indonesia maupun dalam bahasa belanda. Dramanya dalam bahasa inonesia antara lain Kertajaya, Sandyakala ning Majapahit, serta Manusia Baru. Didalam bahasa Belandapun, dia telah membuat drama dengan judul Air langga dan Enzame Garoedavlucht.
Berbicara masalah drama romantis ini, tentunya kita teringat dengan pujangga Inggris Shakespeare yang terkenal dengan cerita Romeo dan Juliet-nya. Begitupun juga dengan Sanusi pane. Dramanya tentang Kertajaya juga mengisahkan trageti dua pasang anak manusia (Dandang Gendis dan Dewi Amisani) yang akhirnya mati bersama dengan cara bunuh diri. Tapi penyelesaian drama ini sempat menjadi controversial dibanding dengan fakta sejarah. Sttuterheim menyatakan bahwa Kertajaya mengasingkan diri sebagai petapa sedangkan Krom mengatakan bahwa setelah Kertajaya kalah dalam pertempuran, dia menghilang tidak tahu kemana, apakah sudah mati atau belum. Tapi itulah keperibadian Sanusi pane sabagai seorang sastrawan timbul. Memang sastrawan bukan ahli sejarah tapi dia bebas menentukan akhir dari cerita yang dia buat. Dari cerita itulah kita bisa melihat jiwa keromantisan dari pengarang Sanusi Pane yang sangat mendorongnya untuk mengakhiri ceritanya dengan tetesan air mata.
Dorongan hati untuk terus menciptakan karya yang mengharukan yang dapat mencucurkan air mata bagi para pembaca atau penonton juga terdapat didalam dramanya yang berjudul Sandyakal Ning Majapahit. Akhir cerita ini sama sekali berbeda dengan buku yang dijadikan dasar pembuatan cerita yakni Serat Damarwulan. Kalau dicerita Serat Damarwulan diakhiri dengan happy ending, dengan berhasilnya Damarwulan membawa kepala menak jingga ke Majapahit yang menyebabkan dia mendapat hadiah dengan menikahi sang ratu. Sebaliknya dalam cerita Sanusi, dia mengakhiri ceritanya dengan tragis dimana Damarwulan dituduh sebagai penghianat dan sudah pasti tak bakal lepas dari hukuman mati. Didalam cerita Sanusi Juga, setelah kematian Damarwulan, kerajaan Majapahit diporakporandakan bala tentara dari kerajaan Bintara.
Drama Sanusi Pane yang terakhir yang berjudul manusia baru akhirnya terbit setelah tujuh tahun drama keduanya. Di dalam drama ini terlihat modernitas dari Sanusi Pane. Dia lebih menekankan pada kebahagiaan manusia baik lahir maupun batin. Disini juga dunia tidak dianggap jahat lagi yang perlu dijauhi dan dihindari sebab menghindari dunia, hidup tidak bisa dipertahankan. Didalam drama manusia baru ini, mencakup juga ide akan emansipasi wanita yang tampak diakhir cerita yang menggambarkan pemberontakan seorang perempuan yang bernama Saraswati yang rela meninggalkan tunangannya sejak kecil dan keluarganya untuk mengikuti kemana langkah Surendranath Das pergi demi cintanya, demi kemajuan bangsanya, demi kemajuan manusia, manusia baru. Cerita dalam drama ini sangat menarik sekali karena kisah dari penokohannya mirip dengan kisah yang dialami sang pengarangnya sendiri. Cerita ini mirip dengan kisah pengarangnya karena sewaktu Sanusi Pane ingin melamar bidadari pujaan hatinya, pihak kelurga perempuan meminta Boli ( mahar ) sebesar tiga ribu gulden dan Sanusi merasa sangat berat lalu dia mengajak sang bidadarinya untuk melakukan marlojong (kawin lari). Karena keduanya sama-sama mencintai, akhirnya sang mertua menyetujui dengan menurunkan mahar menjadi tiga ratus gulden yang diketahui juga setelah pernikahan bahwa uang mahar itu hasil pinjaman Sanusi. Dan akhirnya juga sang mertua yang harus membayar hutang dari mahar pernikahan Sanusi dengan Anaknya itu.
Kini Sanusi pane telah tiada. Tanggal 2 Januari 1968, ketika fajar mulai menyingsing, sang pujangga itu di panggil yang maha kuasa untuk menghadapnya selama-lamanya. Dia pergi dengan penuh kedamaian. Dia mengabdikan dirinya dengan tulus ikhlas untuk kemanusiaan. Semoga ia mendapat kebahagiaan “petala nirwana”. Sanusi Pane meninggalkan seorang istri dan enam orang anak tanpa meninggalkan kekayaan yang berupa materi sedikitpun bahkan rumahpun tak dimilikinya. Kekayaannya yang terbesar yang ditinggalkannya hanya karya-karyanya yang terus melekat disanubari setiap manusia Indonesia dan nama indah yang terukir sepanjang sejarah sastra Indonesia.(dari berbagai sumber)

Melki AS
Continue Reading...

Mahasiswa UST Tumpah Ruah ke Jalan Peringati Hari Sumpah Pemuda


Sekarang saatnya untuk kembali Menegaskan Karakter Pemerintah Yang Berpihak Pada Kepentingan Rakyat. Tahun 2009 ditandai dengan refleksi 101 tahun Kebangkitan Nasional, 81 tahun Sumpah Pemuda, 11 tahun Reformasi. Refleksi tersebut sering menegaskan sekaligus menggambarkan bahwa bangsa ini masih jauh dari cita-cita menuju bangsa yang sejahtera. Review kinerja pemerintahan satu dekade yang lalu, menyisakan banyak persoalan kerakyatan. Masih segar dalam ingatan awal tahun 2008 ditandai dengan mahalnya harga kebutuhan pokok disisi lain ketersediaanya pun terbatas, tempe yang menjadi konsumsi publik ikut-ikutan naik karena harga kedelai mahal. Adalah suatu ironi ketika bangsa ini mengaku negara agraris tapi masyarakatnya kesusahan pangan dan kelaparan. Dalam situasi ini pemerintah cenderung mengandalkan impor pangan sehingga harga kebutuhan pokok menjadi tidak stabil. Kenyataan ini menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah masih jauh dari kepentingan rakyat sekaligus mengingkari realitas dan karakteristik masyarakatnya yang memang bertani.
Demikian yang dikatakan Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Sarjawiyata Tamansiswa Jogjakarta saat menggelar aksi damai peringatan Sumpah Pemuda (28/10/2009). Bonaventura, selaku Koordinator Umum dan Penanggungjawab aksi mengatakan bahwa sudah saatnya mulai dari sekarang pemuda-pemudi harus bangkit melawan. Tidak boleh lagi diam-diam saja. “ Sumpah Pemuda memang masih relevan, tapi bergeser maknanya. Sekarang bisa dilihat bagaimana pemuda-pemudi kita banyak yang apatis terhadap berbagai keadaan di negerinya. Makanya dengan moment kali ini, kami mengajak semua kawan, terutama kawan pemuda-pemudi Tamansiswa untuk memulai kebangkitan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa banyak perjuangan yang harus dilanjutkan. Banyaknya penggusuran, undang-undang yang tidak berpihak kepada rakyat, adalah salah satu yang harus diperjuangkan” ungkapnya.
Ditambahkannya bahwa naiknya harga minyak mentah dunia disikapi pemerintah dengan menaikkan harga BBM, yang justru memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di segala lapisan masyarakat. Pemerintah selalu membuat kebijakan yang tidak popular, kenapa menaikkan BBM selalu menjadi pilihan, bukankah pendapatan non-migas bisa dialokasikan dalam menutupi subsidi? Dalam hal ini pemerintah tidak mau transparan terutama transparansi pajak,artinya hampir diseluruh sektor perekonomian sudah dipajak oleh negara. Konversi minyak tanah ke gas elpiji yang dikampanyekan ternyata menambah persoalan baru bagi masyarakat, antrian gas terjadi dimana-mana, harga tidak terkontrol, bahkan masih banyak rakyat miskin yang tidak mendapatkan tabung elpiji karena terbentur birokrasi, bahkan sebagian dari tabung gas tersebut ternyat adalah impor, Ironisnya rencana kenaikan harga Elpiji tahun ini mulai didengungkan Pertamina. Pertamina Untung maka bangsa pun buntung. Meski harga BBM pernah diturunkan, namun hal tersebut bukanlah karena kabaikan pemerintah ataupun strategi ekonomi nasional, tapi karena harga Minyak Mentah dunia memang turun drastis, sehingga selayaknya memang diturunkan. Apakah kemudian harga BBM akan naik lagi mengingat harga minyak mentah dunia mulai merangkak lagi???Bila itu yang terjadi maka kesengsaraan masyarakat miskin akan semakin menganga.
Aksi damai yang digelar KBM UST ini dimulai dari kampus Kebangsaan jalan Kusumanegara menuju Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) di jalan Tamansiswa kemudian meluncur ke kantor Pos besar Yogyakarta. Aksi ini di ikuti sekitar 80 mahasiswa dengan membawa spanduk bertuliskan “ Pemuda-Pemudi Tamansiswa menggugat Negara Atas Suramnya Negeri Ini”. Sampai di MLPT, mahasiswa diterima jajaran majelis yang kebetulan sedang mengadakan seminar pendidikan. Ketua Umum MLPT, diwakili Ki Subronto mengatakan sangat mendukung aksi yang dilakukan mahasiswa. Beliau sepakat dengan ide yang diusung mahasiswa Tamansiswa ini. Beliau juga berpesan untuk melakukan aksi yang damai, tertib dan tidak mengganggu ketertiban. Setelah mendapat restu dari MLPT, mahasiswa bergerak menuju titik nol kilometer sambil terus meneriakan yel-yel penyemangat aksi.
Dalam konteks pemberantasan korupsi pun masih dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan sepihak, sama halnya dalam persoalan pendidikan UU BHP yang ditolak banyak kalangan yang dianggab memicu tejadinya liberalisasi pendidikan pada akhirnya disahkan. Sementara dibidang HAM seringnya tersendat misalnya kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Disisi lain masalah perburuhan tetap tak terselesaikan, UMR selalu saja menjadi kontravesi, UU perburuhan maupun kebijakan yang dibuat diindikasikan berpihak kepada para investor. Bahkan kazanah budaya kita yang di curi oleh Malasya pun dibiarkan begitu saja. “Atas fenomena kajian diatas, Rezim SBY-Boediono sudah seharusnya diarahkan strateginya agar kebijakan yang dilahirkan menyentuh persoalan subtansif dari persoalan masyarakat. Sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat atas tanah, air dan udara” ujar Bona.
Menurutnya lagi, sudah cukup eforia pemerintahan “ala reformasi”yang didengung-dengungkan sementara posisi negara tetap tidak mampu membawa bangsa ini dari keterpurukan dan keluar dari krisis multi demensi . Dibutuhkan keberpihakan yang jelas bagi masyarakat oleh pemerintahan SBY-Boediono, terutama melawan intervensi pemilik modal, kalau tidak, narasi bangsa ini selamanya tergantung. Baik narasi ekonomi, politik, social budaya dan semua yang mengitari arah bangsa ini.
Kami tidak peduli istiah “100 hari” kinerja kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, yang kami butuhkan adalah turunkan harga-harga kebutuhan vital masyarakat secepatnya. Serta Ciptakan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat miskin” ujarnya dengan sangat antusias
Tepat pukul sebelas siang, aksi damai yang digelar KBM UST ini berakhir setelah KorDum membacakan pernyataan sikap yang mereka sebut “Sembilan Tuntutan Rakyat” antara lain Tolak Intervensi Asing Disetiap Kebijakan, Tolak kenaikan Harga Elpiji, Naikkan Upah Buruh, Cabut UU BHP, Pendidikan Gratis untuk Rakyat, Pendidikan Merata dan Berkualitas untuk Rakyat, Selamatkan Budaya Negeri, Pengobatan Gratis untuk Rakyat, Turunkan Harga BBM, Usut Semua Pelanggaran HAM.

Melki AS
Continue Reading...

MIYABI



Memang ini bukan suatu kebetulan, tapi bukan pula suatu yang direncanakan. Senja sore di sebuah angkringan (tempat makan dan minum seadanya), saya dan beberapa orang kawan duduk santai sambil menyeruput segarnya es teh manis yang dihidangkan bakule (pedagangnya). Ngomong punya ngomong, pembicaraan pun mulai berganti dari masalah Merah menjadi masalah seseorang. Ya memang perempuan yang kami bicarakan ini sedang gencar di beritakan dan kontroversinya memang luar biasa. Miyabi, seorang aktris Jepang yang yang merupakan bintang porno ternama dan terkenal bahkan beromset milyaran setiap bulannya akan main film di Indonesia. Mungkin seantero dunia mengenal perempuan negeri sakura ini, lewat adegan-adegan porno yang piawai diperankannya. Bahkan, katanya, Miyabi-pun telah mempunyai penggemarnya (fans) berat dimana-mana. Tidak hanya didalam negeri tapi juga di luar negeri.
Perempuan berkulit sawo matang agak keputihan dengan rambut lurus sebahu tersebut memang terlihat lebih cantik. Pun di dalam akting ataupun aslinya. Mungkin karena dia-nya bukan keturunan asli negeri kimono tersebut, melainkan keturunan campuran antara Jepang, Francis dan Kanada. Dalam setiap adegan film pornonya itu, Miyabi yang masih berusia 23 tahun tersebut, bak seorang young professional worker, pandai menari-narikan tubuhnya, goyang kanan, goyang kiri, naik turun dengan keadaan sesama bugil plus setengah desahan merintih layaknya perawan pertama kali berhubungan intim. Dalam adegan lainnya, tak jarang di jumpai adegan seks Miyabi yang berbeda seperti lazimnya, misalnya oral (berhubungan seks dengan menggunakan mulut sebagai medianya). Mungkin karena berbisnis dalam film porno tersebut menjanjikan, tak ayal tak ada satupun dari lekuk tubuhnya Miyabi yang tertutupi dan tak satupun bagian tubuh nya yang tak tergunakan sehingga mampu membuat “nghess” semua yang menikmati adegan ranjangnya itu. Mulai dari leher panjangnya, dadanya, perutnya, pantatnya bahkan duburnya sampai kemaluannya. Cuma satu bagian saja yang tidak ditampakan jelas oleh produsernya, yaitu bagian kelaminnya. Sementara bagian lain terlihat dengan jelas. Mungkin karena ada aturan dalam undang-undang tentang pem-produksi-an film porno disana” seorang kawan berceletuk. “Tapi tidak juga, toh film porno yang lain, semuanya bahkan lebih jelas termasuk kelamin dan sekitarnya itu” timpal yang lain. Saya pun hanya bisa termanggu. Tapi dalam keasyikan membicarakan kepiawaia Miyabi sebagai pemeran adegan mesum tersebut, seorang teman (sedikit nyentrik penganut realis) menyeletuk, kok Miyabi ditolak? Bukankah kita menghargai hak-haknya sebagai manusia secara menyeluruh tanpa ada deskriminasi. Bukankah yang harus di tolak bangsa ini adalah penyebaran film pornonya atau sejenisnya, bukan dia-nya yang diundang dan bekerja untuk sebuah komedian? Semua diam.
Memang agak sulit celetukan seorang kawan realis satu ini. Tapi menurut saya, ada hal yang dia coba lupakan dalam mengeksplor kembali apa hakikat dari HAM itu sendiri. Menurut saya, pengertian HAM yang diuraikan kawan realis ini agaknya bergeser dari makna sesungguhnya sehingga baginya semua persoalan seolah harus terlepas dari berbagai etika, norma maupun religiusitas. HAM yang menyangkut hak dasar seseorang termasuk mendapat pekerjaan dan penghasilan yang layak, seolah terhembuskan dalam setiap kebebasan yang liberal sehingga dalam setiap kejadian, entah itu demonstrasi, membentuk serikat dan atau menyatakan pendapat dan lain-lainnya apapun caranya, bagaimanapun bentuknya tetap bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa batasan ruang waktu dan keadaan sekalipun itu meresahkan yang lain. Bagi saya pemaknaan HAM itu sendiri harus jelas apalagi menyangkut tatanan kehidupan bermasyarakat. Makna kebebasan justru tidak harus di persempit tapi harus di perluas dalam pengaplikasian ditiap kesehariannya. Artinya sekalipun bermakna bebas, bukan berarti bisa berbuat apapun, karena tetap dalam setiap kebebasan harus tunduk pada norma ataupun hukum yang teratur. Tidak bisa serta merta menyangkutkan berbagai kebebasan itu kedalam makna liar dan sesukanya (emangnya ini hutan). Apalagi, Indonesia yang selalu didengungkan dengan Ke-Timurannya, kehidupan masyarakatnya yang plural dan mejemuk yang terdiri dari bermacam-macam suku dan budaya. Tentunya jelas bangsa ini mempunyai tingkat berkebudayaan yang tinggi yang mempunyai etika ataupun norma yang beraneka ragam. Lalu pantaskah ketika kita mengatakan kebebasan itu tidak harus menurut pada tradisi, etik atapun norma yang berlaku dimasyarakat.
Lalu bagaimana pula kontroversi kedatangan Miyabi ke tanah air ini (terlepas dari strategi dan trik yang sebenarnya bukan untuk mendongkrak film di tanah air, tetapi hanya untuk mendongkrat popularitas serta pendapatan Miyabi sebagai seorang bintang film porno yang sekarang mempunyai banyak saingan di mata penggemarnya terutama penggemarnya dalam masyarakat Indonesia) ditinjau dari sudut pandang pencitraan bangsa dan kekhawatiran para generasi muda? Kiranya sebuah rumah produksi yang berniat mempekerjakan Miyabi dalam pembuatan film tersebut, harus mengkaji ulang tentang itu semua. Karena Miyabi bukanlah public figur yang selayaknya patut di contoh. Miyabi hanyalah salahseorang yang mencoba mengadu nasib di media berbeda. Artinya, ke-artis-an Miyabi boleh kita akui, tapi figurnya yang seorang pekerja pemeran film porno tidak layak dipertontonkan apalagi ditiru. Apalagi dengan mendatangkannya ke Indonesia, negara yang gampang menjiplak setiap perilaku serta atribut para artis, tentunya berpengaruh besar pada kehidupan social di masyarakat dan berpengaruh juga pada harkat dan martabat bangsa. Mungkin, masih segar dalam ingatan kita beberapa waktu lalu tentang kontroversi goyang dangdut seperti Inul, Dewi Persik dan lain-lainnya. Bukan lantaran goyangan mereka yang telanjang, tapi karena goyangnya yang mayoritas menonjolkan kemontokan pantatnya dan sedikit mengeluarkan bentuk daging di dadanya yang membuat anggapan masyarakat bahwa ini tidak pantas di pertontonkan karena berimbas buruk pada generasi mudanya (terlepas dari tendensi apapun itu). Bahkan Inul Daratista, ratu goyang ngebor itu, pernah dicekal di beberapa daerah sampai ke-luar negeri. Saya pun agak setuju, karena memang trendi yang dipakai seorang entertainer dalam televisi ataupun Koran dan majalah berpengaruh besar dalam pencitraan bangsa di mata internasional dan dalam kehidupan social bermasyarakat, terutama masyarakat kita di pedesaan yang masih awam melihat artis, tingkahnya, perilakunya bahkan busananya. Lihat bagaimana ketika, goyang “asereje” yang dipopulerkan oleh Trio Las Ketchup yang unik itu, cepat sekali menularnya bahkan anak-anak di pedesaan-pun mampu menirukan gaya itu secara sempurna. Begitupun dengan goyang HOT-nya Inul atapun Dewi Persik. Goyang ngebor atau goyang patah-patah memang sebuah kreasi seni untuk memuaskan para penikmatnya, tapi bagaimana ketika kreasi seni itu di pertontonkan untuk semua jenis usia? Ada yang memaklumkan sebatas itu tidak telanjang, tapi ada pula yang marah karena khawatir. Suatu kewajaran dalam kekhawatiran karena memang tradisi masyarakat kita di pengaruhi oleh tradisi yang dijarkan oleh Islam (bukan berarti tradisi agama lainnya buruk) dan citra bangsa kita di pengaruhi adab ketimuran tersebut.
Tapi kan Miyabi tidak datang untuk bermain film secara bugil yang dapat menunjukan tubuhnya (kelaminnya dan berbagai alat vital lainnya) yang mulus itu, lalu kenapa harus kita tolak? “ujar kawan menimpali. Kesengitan kawan ini memang ada benarnya, toh Miyabi datang untuk sebuah “seni komedi” bukan film porno. Parasnya yang ayu itu pun dipercaya dapat mendatangkan ketertarikan tersendiri dimata penggemar komedi tanah air maupun mancanegara. Ya, semua itu tidak salah, cuma penempatannya saja yang kurang tepat. Indonesia bukan Jepang ataupun Negara-negara Eropa lainnya yang telah melegalkan sebuah produksi pembuatan film porno, memproduksi bintang-bintang porno kenamaan bahkan bebas memutar sesuatu yang berbau porno (entah itu filmnya ataupun aktrisnya). Indonesia terikat oleh tradisi timur yang menjunjung tinggi kesopanan dalam pergaulan hidup, jangankan untuk seorang Miyabi yang semua orang didunia pun telah mengenal karakter dan isi tubuhnya, goyang erotis saja masih dianggap tabu.
Tapi akhirnya, Miyabi-pun batal datang ke Indonesia. Bagi kalangan yang beranggapan bangsa harus dicitrakan dengan niatan yang baik, keputusan ini sangat bagus. Tapi bagi yang menganggap Miyabi adalah seorang aktris terkenal “saja”, tentunya mengundang murung dan kekesalan. Terlihat dalam wajah seorang teman ini. Beliau masih tidak habis pikir, apakah besok negara juga akan mengatur bahkan sampai mimpi onani pun harus di kawal ketat dan diperiksai. Ha.ha.ha. Ini realita dari typical masyarakat yang berbeda yang tidak harus kita permasalahkan, bahkan keragaman berpikir inilah yang harus selalu dijaga untuk membuat bangsa ini lebih menghargai etika dan aturan yang mulai di tinggalkan.(Satu pesan bagimu kawan, teruslah berpola pikir, karena hanya pikiran yang akan mendewasakan bangsa dan masyarakatnya dalam menghargai kesantunan negeri di Timur ini).
Satu kesimpulan yang coba saya eksplor sendiri (terlepas dari benar atau tidak, setuju atau tidaknya), Pertama, suatu komedi atau film tidak harus menggunakan bintang porno, kan masih banyak perempuan atau artis lainnya yang lebih kreatif dan produktif bahkan lebih cantik dari Miyabi ( itu kalau benar untuk menyemarakan film di tanah air, kalau tidak, tidak usah harus membawa bintang porno seperti itu, entah Miyabi atau yang lainnya). Kedua, segala hal yang coba kita publikasikan sebaiknya tetap menghargai tradisi dan norma masyarakatnya, karena itu akan berhubungan langsung dengan perilaku dan kebiasaan masyarakat kita yang senang meniru trendi yang modern seperti artis atau entertainer (kita tentu tidak mau, besok hari, anak-anak kita, adik-adik kita yang perempuan meniru langkah Miyabi, bermain film porno dulu baru kemudian bisa terkenal). Ketiga, seni pun tidak harus selalu menuntut kontroversi untuk terkenal, tetapi masih banyak cara membuat karya seni kita lebih berkualitas, berbobot dan santun dalam penyampaian maksud (ini terletak pada tataran ide dan kreativitas creator seni. Karena hanya ide yang berkualitas yang bernilai, sedangkan yang tidak berkualitas, tidak bernilai sama sekali. Akhirnya hanya menjadi sampah kering yang siap diterbangkan angin kemana saja). Keempat dan ini yang terpenting, kita harus selalu tetap menjaga martabat bangsa ini dimata dunia (meskipun masih banyak permasalahan di negara kita). Kita punya budaya dan kesopan-santunan yang sudah terkenal. Dan dari setiap budaya dan kespan-santunan itu, kita mencoba tetap menunjukan bahwa bangsa ini bisa dihargai dunia. Bagaimana kita mau dihargai orang lain, ketika kita tidak menghargai budaya kita sendiri.


Melki Hartomi AS
Continue Reading...

UANG RAKYAT DI RAMPOK PELANTIKAN DPR RI 2009-2014


Anjing, bangsat, bajingan, dan tidak tahu diri. Sangat tidak masuk akal untuk suatu pelantikan saja, uang rakyat DIRAMPOK secara tidak tanggung-tanggung. Bayangkan saja, belum menjalani masa kerjanya, anggota dewan terpilih sudah mau menghambur-hamburkan uang rakyat. Biaya pelantikan DPR RI 2009-2014 yang hampir mencapai 75,61 Milliar rupiah sesungguhnya adalah menghina rakyat Indonesia dengan terang-terangan. Tidak ada logika yang bisa dimaklumkan atas besarnya biaya itu dilihat dari permasalahan di masyarakat yang sangat senjang sekali. Hampir setiap hari kita melihat rakyat antri minyak, setiap hari juga rakyat mengantri untuk mendapatkan beras, air bersih, bahkan berdasarkan survey terakhir, 50 % rakyat Indonesia (sekitar 100 juta jiwa) hidup dibawah garis kemiskinan. Ini membuat mereka akhirnya susah untuk mendapatkan akses sekolah, susah berobat dan lain-lain. Masih saja pemerintahan kita menari diatas penderitaan jutaan rakyatnya dengan memboroskan uang mereka. Ini tentunya preseden buruk bagi pencitraan awal pemerintahan terbaru terutama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI). Kualitas diri calon terpilih di pertaruhkan dari masalah ini. Seharusnya penghambura-hamburan uang rakyat ini dikritisi dengan tajam oleh semua elemen termasuk DPR RI. Karena ini akan merujuk pada kualitas kinerja “Dewan” ke depan. Bukannya malah ikut enak-enakan menerima fasilitas yang diberikan Negara yang dengan sengaja dan tidak sengaja telah menginjak hati rakyat. Visi dan misi anggota dewan terpilih terbukti ketika ada kritis untuk menekan ini semua (biaya pelantikan dan kinerja yang total kemudian hari). Karena sangat tidak egaliter dan seimbang ketika banyak rakyat yang tidak bisa makan dan hanya tinggal di bawah kolong jembatan, tapi pelantikan anggota dewan terpilih dibiayai dengan sangat tinggi, ditempatkan di hotel mewah serta mendapat jas, batik serta fasilitas lainnya dari Negara yang seharusnya tidak musti perlu seperti itu.
Masih hangat dan basah di mata kita bahwa bagaimana calon anggota dewan yang terpilih sekarang, sewaktu kampanye kemarin terlihat seperti me-rakyat dan care dengan permasalahan. Tapi ternyata itu semua bohong besar para pelaku sandiwara anggota DPR RI yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan semata. Bagaimana akhirnya mereka akan memegang teguh amanat rakyat yang diwakilinya, sementara dari awal kelihatan belangnya yang asli. Tak lebih dan tak kurang seperti perampok. Permasalahan ini seharusnya tidak harus terjadi mengingat banyak masalah yang mendera bangsa ini. Seharusnya uang rakyat yang ada di kantong-kantong negara itu disalurkan ke tempat yang semestinya, yang dapat mengentaskan kemiskinan, mengurangi beban hidup karena banyaknya bencana, ataupun perbaikan fasilitas fisik atau non fisik penunjang kemajuan bangsa seperti perbaikan jalan, rumah, fasilitas kesehatan, sekolah dan banyak lagi.
Kasus beberapa dekade belakangan ini menunjukan bahwa bangsa ini masih membutuhkan banyak perubahan dan perbaikan dalam segala bidang. Setiap hari kita melihat bagaimana fasilitas jalan-jalan, listrik dan lainnya yang ada di daerah ataupun jauh dari kota masih belum terurus dan diperhatikan. Contohnya bisa kita lihat di Irian Jaya, Sulawesi, Bengkulu dan lain-lain. Begitupun sekolah-sekolah yang ada. Hampir setiap mata memandang, kita melihat bagaimana banyaknya sekolahan di negeri ini hampir tidak layak pakai lagi untuk suatu pengajaran dan pendidikan, disamping masih banyak generasi bangsa yang tidak bersekolah. Selain itu, susahnya berobat juga masih banyak terjadi di negeri (yang katanya kaya) ini. Lihatlah kasus nyata di lapangan, betapa orang miskin lebih banyak memilih mati daripada berobat di rumah sakit karena tidak kuat untuk membayar biayanya. Kasus kelaparan juga melanda negeri ini, dimana rakyat lebih gampang mencari surga daripada mencari sesuap nasi. Pengemis, peminta-minta, gelandangan, yang kita jumpai di jalan-jalan bukan semata-mata karena mereka malas bekerja, tetapi memang ekonomi di negeri ini susah untuk dicari yang akhirnya susah bagi mereka untuk bisa hidup normal seperti yang lainnya yaitu makan, minum, belajar dan berobat secara mudah dan efisien. Tentunya permasalahan biaya pelantikan anggota DPR RI periode 2009-2014 ini mengejutkan sekaligus sangat mengenaskan mengingat permasalahan diatas. Apalagi baru saja kita menyaksikan saudara kita di Jawa Barat sedang terkena musibah yang tentunya sangat membutuhkan bantuan biaya yang besar dan cepat.
Lalu masihkan kita akan berdiam melihat ketidakwajaran ini terjadi? Anggota dewan terpilih seharusnya perwujudan dan perpanjangan tangan rakyat yang yang telah mempercayainya. Dan seharusnya juga “mereka” diharapkan benar-benar mampu mengentaskan permasalahan yang ada. Bukannya menambah masalah dengan menghamburkan uang rakyat. Ini sama saja dengan mengencingi rakyat yang telah rela memilihnya. Lalu seperti inikan balasannya untuk rakyat padahal belum dibuktikan dengan kerja yang konkrit? Wallahualam.
Citra anggota dewan seperti ini sekarang juga tidak bisa kita lepaskan dengan partai politik pengusungnya. Mereka (anggota DPR RI) yang diam saja terhadap ini, menunjukan bahwa inilah “citra partai” nya. Kita mengenal partai di negeri ini beragam mulai dari beraliran atau berideologi nsaionalis, agamis atau lainnya, ternyata dalam menurusi masalah rakyat, “partaipun juga pandai berbohong”. Inilah pula yang akhirnya menunjukan kualitas partai yang tak lebih sebagai aliran praktis yang memang di dirikan dengan ideology sera visi dan misi yang tidak jelas. Kenapa saya katakan bohong, karena jelas-jelas mereka tidak mampu mengeluarkan buktinya bahwa mereka peduli dengan umat (rakyat) ataupun peduli dengan bangsanya. Partai agama, juga sangat munafik dan hipokrit karena hanya berdakwa selagi punya maksud seperti pemilihan calon legislative, eksekutif ataupun lainnya. Mereka mampu bicara mengenai semua permasalahan umat maupun bangsa bahkan mereka sangat ahli sekali sampai merencanakan berbagai formula untuk memperbaikinya. Tapi ketika rencananya lolos, maka semuanya tinggal semu. Apakah parpol dan orang seperti ini yang akan kita anut?
Begitupun dengan parpol berideologi nasionalis, sama saja bohongnya. Semua partai di negeri ini setali tiga uang. Mereka yang juga mengusung perubahan juga kelu untuk berkata dan sengaja menutup mata dan telinga ketika menyaksikan kesenjangan dinegeri ini. Perubahan yang coba di janjikan juga menjadi janji kosong belaka. Mereka pun diam saja ketika mendengar besarnya biaya pelantikan dewan terpilih ini yang seharusnya tidak perlu.
Mulai dari sekarang, saya menyerukan kepada kawan semuanya agar bersama kita menjegal pelantikan dewan yang menelan biaya yang tidak tanggung-tanggung besanya ini. Hanya ada dua pilihan bagi mereka yaitu Pertama, dilantik dengan cara biasa dan sederhana sesuai dengan kehendak rakyat atau Kedua, tidak ada pelantikan. Dari sekarang juga kita semua perlu was-was dan tidak usah percaya lagi dengan partai politik dan anggota DPR RI terpilih karena kualitasnya serta kedoknya sudah kelihatan dengan terang dan jelas (BURUK). Dan bila itu (pelantikan dengan biaya besar) masih terjadi juga, kita harus berani angkat suara dan turun kejalan-jalan guna menutup dan membakar kantor dewan PT Senayan Indah tersebut dan menggantikannya dengan Kantor Perwakilan Rakyat yang sesungguh-sungguhnya untuk menjalankan amanah rakyat. Bahkan kita harus berani angkat senjata bila ini benar-benar terjadi karena reformasi kita telah gagal. Kita tidak perlu takut karena Tuhan hanya akan bersama dengan kita serta orang-orang yang benar dan berani. Bukannya dengan para intelektual-intelektual penipu yang dalam berbagai balutan busana busuknya itu. Sesungguhnya kekuatan bangsa ini terletak pada kita, rakyatnya. Vok populi vok dei (Suara Rakyat Suara Tuhan).
Salam


Yogyakarta, 13 September 2009


Melki Hartomi AS
(Penanggungjawab KOMUNITAS LENTERA INDONESIA)
Continue Reading...

MENPERA Resmikan ASMADEWA UST


Sebuah kabar menarik untuk semua orang karena sekarang rumah susun sewa mahasiswa sudah mulai dibangun dimana-mana. Salah satunya di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Dihadiri langsung Kementrian Perumahan Rakyat (Menpera) M. Yusuf Asyhari,maka gedung twin blok 5 lantai yang bernama ASMADEWA UST yang berlokasi di kampung Celeban RT 22/05 Yogyakarta itu pun diresmikan (17/7/2009). Menurut Ridwan Dalga, Konsultan Pengawas PT Bina Karya, pengerjaan itu (ASMADEWA) memakan waktu sekitar 6 bulan-an dan tidak ada kendala serius yang dihadapi. Selain itu,Ki Tyasno Sudarto,Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa (MLPT) lewat Ki Subronto menyatakan bahwa asrama mahsaiswa seperti itu baik karena masyarakat bisa ikut serta dalam mendidik para mahasiswa untuk lebih berguna kedepan. Dan sejalan dengan konsep Tamansiswa lewat Tri Sentra pendidikan yaitu Keluarga, Sekolah dan Lingkungan yang sangat ideal untuk membangun watak. “Diharapkan calon mahasiswa nanti dapat meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat agar tercipta harmonisasi antara mahasiswa dan masyarakat” ungkap Ki Bronto. Hadir dalam acara peresmian ini antara lain Menteri Perumahan Rakyat Muhamad Yusuf Asyhari beserta staff, Ki Joko Suwindi dari Komisi V DPR RI, Haryadi Suyudi (Wakil Walikota Yogyakarta), Jajaran Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Jajaran Yayasan UST, Pinisepuh Tamansiswa, Ki Prof. DR. Djohar MS (Rektor UST), Jajaran Pembantu Rektor I, II dan III, Dekanat, Dosen Karyawan (DoKar) dan para undangan. Ki Prof.DR. Djohar dalam sambutannya tak lupa menyampaikan rasa terimakasih kepada Kementrian Perumahan Rakyat yang telah bersedia membangun asrama mahasiswa ini dan pihak-pihak yang terkait dengan proses pembanunan Asmadewa termasuk warga kampung Celeban Yogyakarta. Tak lupa juga, Ki Djohar meminta maaf pada warga kalau dalam waktu pembangunan Asmadewa ini banyak mengganggu terutama karena suara pengerjaan yang bising.
Haryadi juga mengungkapkan bahwa dengan adanya rusunawa bagi mahasiswa seperti ini, dapat mereduksi kegundahan dan sangat berimbas positif bagi mahasiswa dalam pembelajarannya. “ Asrama merupakan contoh ideal bagi pemberdayaan mahasiswa dan masyarakat. Pengelolaan asrama secara terpadu dapat mengembangkan kepribadian mahasiswa”ungkapnya. Sementara itu, Menpera Yusuf Asyhari mengatakan bahwa rumah susun bagi mahasiswa seperti ini membawa banyak manfaat antara lain membantu proses KBM perguruan tinggi. Dengan tercukupinya asrama tentunya akan sangat membantu meningkatkan kualitas bagi mahasiswa. “Dengan asrama ada di perkampungan akan juga membawa dampak baik dari sosiocultural-nya tapi tetap tidak boleh ekslusif. Asrama UST akan bisa menjadi percontohan dalam kehidupan antara mahasiswa dan masyarakat” ungkapnya mengakhiri sambutan.
Dari luar, tak ketinggalan Yacobus Sunaryo, SekretarisYayasan yang sekaligus pemrakarsa Asmadewa ini berharap bisa menarik minat para mahasiswa untuk datang ke Yogja dan khususnya bisa masuk ke UST. Selain itu, dengan adanya Asmadewa, mahasiswa dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan ekstra mahasiswa Menurutnya, masih akan ada lagi hal yang akan dilakukan setelah peresmian ini antara lain dengan mengisi fasilitas didalamnya seperti kesenian,olahraga, jurnalistik dan lain-lain.
Dalam peresmian ini juga, undangan dan lainnya termasuk masyarakat dihibur dengan kesenian khas Jawa seperti Jatilan dan nyanyian dari kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UST. “Kami berharap dengan adanya Asmadewa ini, bisa membawa kemajuan dikampung ini, bisa menjaga keamanan secara bersama dan bisa meningkatkan perekonomian kearah yang lebih baik lagi. Warung-warung di kampung bisa jualan lagi dan tentunya bisa laris” ungkap Ny. Anjar dan Ny. Suroto, warga setempat secara bersamaan. Mudah-mudahan saja. (Melki AS)
Continue Reading...

Featured

 

BIDADARI KECILKU

BIDADARI KECILKU

EKSPRESI

EKSPRESI

Once Time Ago

Once Time Ago

Aspiratif CyberMedia Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template